ZAHRANA

ZAHRANA
sebuah peringatan


__ADS_3

Hilda menghampiri Friska yang sedang merenung di ruangannya "Merenung aja, kerjain nih! "gertak Hilda, Friska terkejut melihat Hilda sudah ada di depannya.


"Iya-iya! ngagetin aja bisanya, "tukas Friska, ia begitu tak semangat untuk bekerja di hari ini hatinya masih terluka mendengar orang yang dicintainya ternyata sudah tunangan dengan orang lain


Hilda tau bagaimana perasaan Friska, dia sangat iba "Udahlah Fris, nggak usah di pikir, Zahra memang bermuka dua, udah nikung kamu, " ujar Hilda, menghasut Friska agar membenci Zahra, ia memanfaatkan momen ini.


"Udahlah hil, aku udah ikhlas kok, "kata Friska mencoba memendam perasaannya untuk Devan, walau hatinya tetap saja sesak.


"Yakin? "tanya Hilda, Friska membalasnya dengan anggukan.Hilda merasa gagal buat Friska jadi membenci Zahra, Ia tidak akan pernah menyerah untuk menghancurkan Zahra.


Dita mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu, dirinya gelengkan kepalanya.Tak habis pikir, ada orang bermuka dua seperti Hilda "Aku tidak akan biarkan mereka sakiti Zahra, " batin Dita, ia akan berusaha keras membantu Zahra.

__ADS_1


Dita melanjutkan langkah ke ruangan Zahra. "Mbak Dita? ngapain kesini?" tanya Zahra, Dita celingukan kesana-kemari takut kedengaran orang lain, Zahra menautkan kedua alisnya melihat tingkah Dita yang seola menghindari sesuatu.


"Ra, kamu harus hati-hati, jangan pernah sekalipun mudah percaya dengan orang di kantor ini, takut ada musuh dalam selimut, " ucap Dita, ia tak ingin ada yang menjatuhkan Zahra.


Zahra mengernyitkan dahi, tak percaya dengan apa yang di katakan Dita barusan. "Maksud Mbak? " tanya Zahra, dirinya tak mengerti siapa yang disebut musuh dalam selimut itu.


Dita urungkan niatnya untuk jelaskan semua pada Zahra, biarkan nanti Zahra akan ngerti dengan sendirinya "Pokoknya, kamu harus berhati-hati, " ucap Dita, menepuk bahu Zahra.


Waktu menunjuk ke angka 12, semua staf dan karyawan berkumpul di kantin.Friska mendelik melihat Devan dan Zahra makan siang bersama.Hatinya panas, di makan api cemburu.


Hilda tersenyum miring, ia menghampiri Friska yang sepertinya kepanasan melihat Devan dan Zahra makan siang bersamaan "Kenapa Fris, kok kusut gitu? " tanya Hilda,

__ADS_1


ia sebenarnya tahu jika Friska cemburu pada Zahra, itu hanya alasan dia agar Friska mudah terpancing olehnya "Panas," jawab Friska, dia memang kepanasan melihat keromantisan Devan dan Zahra


"Minum air dingin dong Fris .. , kalo panas, "ujar Hilda, menyindir Friska agar hatinya jadi semakin bertambah panas.Hilda yakin, Friska pasti akan merebut Devan dari Zahra nanti.


Friska memutar bola matanya jengah, ia menyesap secangkir kopi di atas mejanya "Bukan badanku yang panas, tapi hatiku, " jawab Friska, menghela nafas panjang.


Hilda tersenyum menyeringai, dugaannya selalu benar dan tepat. "Makanya, jadi orang jangan terlalu ikhlas, apa mereka juga paham dengan perasaanmu saat ini, "celetuk Hilda, memprovokasi Friska agar terpengaruh.


"Nggak! aku nggak mau lagi terlalu baik sama Zahra! dia tidak berperasaan! " bentak Friska. Hilda tersenyum lebar Friska terpengaruh juga dengan hasutannya, dia memanfaatkan Friska untuk menghancurkan Zahra, tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


Hilda menepuk bahu Friska, "Aku akan membantumu mendapatkan pak Devan kembali Fris, " kata Hilda, ia sudah lama punya niat menyingkirkan Zahra dari awal pertama kali Zahra bekerja di kantor ini.

__ADS_1


Hay semuanya, maaf telat up, seharusnya bab ini di up kemarin.Berhubung waktunya gak sempat, jadi punya sekarang, terima kasih buat yang sudah baca hingga bab ini, semoga selalu di beri kesehatan buat readers semua terima kasih 😊🙏


__ADS_2