
Devan menghampiri Zahra, mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra. "Benar itu Ra? "tanya Devan.Berharap Zahra mengatakan tidak.
"Iy-iya...itu karna aku tidak memiliki pilihan lain" jawab Zahra gugup.Mukanya menunduk ketakutan bila Devan marah kepadanya.
"*Bukankah Friska membenciku karena aku memecatnya? kenapa dia membebaskanku begitu saja? tidak mungkin maksudnya agar Zahra meninggalkanku...pasti ada maksud lain* "Devan membatin.
Dia masih curiga kepada Friska.Devan yakin, Friska memanfaatkan Ini semua agar bisa membalas dendam pada Zahra.
"Zahra...ikut aku ke ruangan" kata Devan ingin berbicara empat mata dengan Zahra.
"Tapi\_"
"Jangan membantah! "Devan terpaksa membentak Zahra.Dia ingin membuat Friska merasa berhasil dengan rencananya.
Zahra hanya pasrah apapun yang Devan lakukan.Ini semua memang kesalahannya.Zahra mengekor di belakang Devan mengikuti Devan ke ruangan kerjanya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan duduk di kursi. "Kenapa kamu ceroboh sekali Ra? " tanya Devan.
Mata Devan terlihat sayu menatap Zahra.Dia benar-benar tidak bisa memarahi wanita yang benar-benar sangat dicintainya itu.
"Maafkan aku Mas..." jawab Zahra.
Zahra tau meminta maaf saja tidak akan merubah semua yang sudah terjadi.Tapi setidaknya, dengan meminta maaf Zahra masih ada kesempatan memperbaiki semuanya.
"Bodohnya aku mengapa aku tidak bisa marah kepadamu... meskipun aku tahu kecerobohanmu ini akan menyakitiku"sahut Devan.
Zahra masih saja menunduk.Bibirnya bungkam, tidak bisa mengatakan sepatah katapun kepada Devan.
"Sudah! kini aku tidak akan berbuat apa-apa lagi...hanya bisa ikhlas jika kamu meninggalkanku" tukas Devan.
Devan terpaksa melakukan ini kepada Zahra.Dirinya tidak ingin siapapun tahu rencananya termasuk Zahra.
"*Maafkan aku Zahra...cinta kita memang begitu rumit, tapi aku akan terus berjuang melewati ini semua...aku akan terus mendukungmu dari belakang* " batin Devan.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
__ADS_1
Zahra menyeka air matanya.Dia harus terlihat baik-baik saja di depan semua orang.Friska tersenyum sumringah.
Friska tau, kelemahan Zahra adalah Devan.Jika Devan sampai membencinya, maka Zahra tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.
"Bagaimana Zahra? apakah kamu mau meninggalkan Devan? " tanya Friska penasaran dengan jawaban Zahra.
"Iya! puas kamu! tinggalkan aku sendiri! "bentak Zahra sudah tidak tahan dengan ulah Friska.
Friska tersenyum simpul.Kemudian, berlalu meninggalkan Zahra sendirian di ruangannya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Ara masuk ke ruangan Zahra.Tanpa bertanya lagi, dia memeluk sahabatnya itu. "Kamu yang sabar ya Ra...kamu dan pak Devan pasti bisa melewati semua ini" ucap Ara memberi support pada Zahra.
Pertahanan Zahra runtuh di pelukan Ara.Perlahan, air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya pecah juga. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Ar..." pekik Zahra.
Ara melepas pelukannya, menyeka setiap air mata Zahra yang jatuh menetes.
"Kamu pasti menemukan yang lebih baik dari Devan Ra..percayalah, semua akan indah pada waktunya" ucapan Ara sedikit membuat hati Zahra tenang.
"Terima kasih Ar...disaat aku terpuruk begini, kamu masih datang menenangkan diriku..." ujar Zahra.
"Kamu pikir aku datang disaat ada butuhnya doang? " tanya Ara mengerucutkan bibirnya.
"Oh iya! nanti sore ikut aku yuk...katanya mau ketemu sama Putri...anakku, siapa tau ada cowok yang kecantol sama kamu" ajak Ara membawa Zahra jalan-jalan bersama agar tidak merasa galau terus.
"Maksudnya ngejodohin nih? "tanya Zahra memutar kedua bola matanya malas.
Zahra tidak suka djodoh-jodohkan.Baginya, tidak ada yang mampu menggantikan Devan seorang yang sudah lama menghuni di dalam hati.
"Bercanda Ra...iya, aku tau kok kalo tidak ada yang bisa menggantikan posisi pak Devan dalam hatimu... " jawab Ara.
"Aku yakin Ar...ini hanya ujian cinta yang harus aku hadapi, agar cintaku dan cinta mas Devan lebih kuat lagi" sahut Zahra.
Ara tersenyum. "Gitu kek dari tadi"timpal Ara.Dia yakin pasti Devan dan Zahra sanggup melewati ini.
"Ok! nanti sore jangan lupa ajak Lia juga"tukas Zahra mengingatkan.
Ara menganggukkan kepalanya.Dia segera berlalu dari ruangan Zahra.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Eh...ini Putri anak kamu ya? "tanya Zahra membelai lembut pipi Putri.
__ADS_1
"Iya..cantik nggak" jawab Ara menggendong Putri yang baru berusia tiga tahun.
"Cantik..nggak seperti mamanya " sahut Zahra sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Ara memutar kedua bola mata jengah. "Ada-ada aja kamu..aku yang melahirkannya malah di bilang tidak persis" tukas Ara.
"Hehe...iya maaf, bercanda aku"ucap Zahra.
Devan yang sedari tadi mengikuti Zahra dan Ara dari belakang, ikut senang karena Zahra bisa tersenyum kembali tanpa dirinya.
Zahra meraba tengkuknya. "Kok aku merasa ada yang mengikuti kita ya...sedari tadi" ujarnya.
"Ngawur Ah! mana ada hantu sore-sore begini! "Ara merasa ketakutan mendengar ucapan Zahra.
"Nggak, tapi beneran Ar...aku sedari tadi merasa ada langkah kaki yang ikutin kita"Zahra berusaha meyakinkan Ara jika sedari tadi memang ada langkah kaki yang mengikuti mereka berdua.
"Udah ah! aku mau pulang aja kalo gitu.." pamit Ara.Dia bergegas menggendong putri membawanya pulang.
"Gawat...jika sampai ketahuan Zahra, bisa hancur rencanaku untuk membantu dia"Devan membatin sambil terus bersembunyi.
Pandangan Zahra menyapu seisi taman.Matanya awas menelisik siapa yang mengikutinya.
Tak ada seorangpun disana, Zahra memutuskan untuk pulang saja.
\=\=\=\#\#\#\=\=\=
Devan keluar dari persembunyiannya.Dia bernafas lega karena Zahra tidak curiga sedikitpun kepadanya.
Devan duduk bersandar di bangku taman.Masih teringat jelas di fikiran Devan bagaimana sedihnya Zahra saat mengakui semuanya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian menghadapi ini semua Ra... " umpat Devan dalam hati.Dirinya tidak akan pernah menyerah sedikitpun untuk membantu Zahra.
Mata Devan terus mengamati ramainya lalu lalang kendaraan.Devan terkesiap kaget melihat Friska sedang tergesa-gesa.Entah, mau kemana dia.
"Friska...mau kemana dia? aku harus mengikutinya" gumam Devan beranjak dari tempat duduknya.Lalu kemudian, mengikuti Friska.
Devan tidak ingin kehilangan jejak Friska.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Langkah Friska terhenti di kantor polisi. "Kantor polisi? Mau ngapain dia? "gumam Devan bertanya-tanya.
'Puk!' seseorang memukul bahu Devan dari belakang "Anda siapa?kenapa anda bisa mengendap-endap seperti itu? "tanya salah satu polisi yang bertugas.
"Ti-tidak Pak....saya lagi main petak umpet" jawab Devan.
Dia beralasan agar polisi itu tidak curiga kepadanya.
Sang polisi itu hanya menggaruk kepalanya. "Nggak ada kerjaan apa...main petak umpet di depan kantor polisi " celetuknya.
"Udah tau lagi ngumpet! masihdi tanya! " Devan hanya bisa membatin dalam hati.
__ADS_1
"Maaf pak saya mau permisi dulu...banyak urusan" pamit Devan mencari tempat yang aman lagi untuk bersembunyi.
Mampukah Devan menggagalkan Miko dan Friska untuk membalas dendam pada Zahra? Ikuti terus ya! Terima kasih 😊🙏