
Kali ini, tanpa menunda lagi, Zahra tidak akan menunda lagi untuk menunjukkan semuanya pada Devan, Zahra takut jika nantinya ada yang hancurkan buktinya lagi disaat dirinya lengah
"Ada apa lagi Zahra kamu kesini? " tanya Devan menyilang kedua tangannya di depan dada, berpura-pura sok sinis di depan Zahra, berlagak sok angkuh.
"Mungkin, ini saatnya anda mengetahui semua bukti yang sudah saya dapatkan dalam dua hari, " jawab Zahra, tersenyum miring.Kali ini, ia akan membuat Devan tak berkutik seketika itu juga mendengarnya.
"Apa? dua hari? bagaimana bisa? " Devan menelan salivanya, heran bagaimana Zahra bisa mendapatkan semua bukti hanya dalam dua hari.
Zahra memutar bola mata jengah. Orang yang dulu sangat di cintainya, kini membuat dia muak.Benar kata pepatah, cinta itu saling berlandaskan kepercayaan.Jika dalam cinta sudah tak ada lagi saling percaya, bagaimana bisa mempertahankan arti sebuah cinta lagi.
Zahra meletakkan ponselnya di atas meja kerja Devan "Bapak Devan yang paling terhormat, anda bilang saya selingkuh ..., silahkan anda lihat sendiri.siapa yang menjebak dan di jebak disini, " tukas Zahra.
Devan melihat rekaman CCTV pada saat malam perayaan pesta di ponsel Zahra. "Jadi, Friska dan Hilda yang menjebak kamu?" tanya Devan, apa yang ia lihat sungguh di luar dari dugaannya.
Zahra tersenyum simpul "Akhirnya ..., anda paham juga kalau saya di jebak.Bukannya saya sudah bilang pak, kebohongan tidak akan bisa selamanya menutupi kebenaran, " jawab Zahra.Entah, dia harus merasa senang atau sedih karena di tuduh seperti itu oleh Devan.
Senang, karna Devan telah mengetahui semuanya.Sedih, karna Devan tak percaya padanya dan gegabah dalam mengakhiri hubungan yang sudah terjalin sejauh ini.
Zahra berbalik badan, ia akan keluar dari ruangan Devan, urusannya telah selesai "Tunggu! " panggil Devan.Langkah Zahra terhenti, membiarkan Devan menghampiri dirinya
Tangan kekar Devan melingkar di pinggul Zahra, ia memeluk Zahra dari belakang "Maaf, maaf untuk semuanya, " ucap Devan, tanpa di sadari bulir bening dari matanya menetes menyesali semua perbuatannya itu.
Zahra merasa punggungnya basah karna air mata Devan, "Lepas mas! jangan seperti ini, " ucap Zahra, ia juga tidak tega melihat Devan menangis, hatinya ikut merasa sedih melihat Devan sedih, tapi nasi sudah menjadi bubur, Devan sudah akhiri hubungan dengan dirinya.
"Apa kamu akan memaafkan mas? mas janji akan memecat mereka berdua, " tanya Devan, berharap Zahra akan luluh untuk memaafkan dirinya, hanya itu saja.
__ADS_1
"Kalau soal maaf,aku sudah memaafkan. Tapi kalau untuk kembali, aku perlu waktu untuk mempertimbangkannya, " jawab Zahra, dia juga tak mau jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya, bahkan lebih parah.
Devan melepas pelukannya, dia meminta Abi segera mengumpulkan semua karyawan. Devan mengaitkan tangan ke tangan Zahra. Namun, Zahra segera melepaskannya, dia masih kesal dan sangat kecewa.
"Aku bukan masa lalu mu mas, yang hanya bisa mengkhianatimu, " batin Zahra, tanpa berkata sepatah katapun berjalan mendahului Devan, dia tidak boleh mengeluarkan air mata sedikitpun di depan mantan kekasihnya itu.
Devan tercengang melihat Zahra melepas pegangan tangannya, Devan hanya pasrah. Dia juga bersalah menuduh Zahra selingkuh.
...****************...
Semua karyawan berkumpul di lobi kantor, mereka kebingungan.Tumben sekali, Devan meminta mereka semua berkumpul disitu.
"Ar, kok tumben ya, pak bos nyuruh kumpul disini? ada pembagian sembako kah? " tanya Lia dengan nada bercanda, di sambut gelak tawa dari para staf karyawan yang lainnya.
"Kamu bisa aja deh Li ..., ini kantor, bukan balai desa, " timpal Mbak Ella, cekikikan juga mendengar lawakan Lia. Beda dengan Friska dan Hilda, yang sedari tadi berkeringat basah.
"Baiklah, saya tidak akan basa-basi lagi. Maksud dan tujuan saya mengumpulkan kalian semua adalah ingin memecat Friska dan Hilda, " kata Devan mengumumkan soal pemecatan Friska dan Hilda pada semua staf dan karyawan.
"Kenapa mereka di pecat pak? " tanya Mbak Ella, tak menyangka jika Devan akan memecat kedua temannya itu, semua mata tertuju pada Mbak Ella.
Tanpa menjawab pertanyaan Mbak Ella, Devan memutar sebuah rekaman video menggunakan LCD proyektor, agar semua bisa melihat kejahatan apa yang di lakukan Friska dan Hilda.
"Tega banget kamu Fris, hil! memfitnah Zahra, sampai dia di pecat dari kantor ini! padahal, ini kesalahan kalian! " bentak Ara, ikutan kesal pada Friska dan Hilda ingin mencabik-cabik muka keduanya saat itu juga
"Kalian nggak punya hati nurani! bagus sekali jika kalian pergi dari kantor ini! " timpal Lia yang lama-lama geregetan juga dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Saya sebagai senior disini, malu banget! Punya junior egois dan jahat seperti kalian di kantor ini! " Mbak Ella ikut menghujat mereka berdua, semua di kantor itu menyalahkan Friska dan Hilda.
...----------------...
Friska dan Hilda segera mengemasi barang mereka di ruangannya, "Ini semua gara-gara kamu hil! " Friska menyalahkan hilda, andai saja dia tak mengikuti ide gila Hilda, dia tak mungkin ikut di pecat.
"Kok jadi aku yang di salahin! kamu yang nggak bener melakukannya! " bentak Hilda tidak terima dirinya di salahkan begitu saja.
Ara dan Lia masuk ke ruangannya, tertawa geli melihat pertengkaran mereka berdua "Udah, gak usah salah-salahan! kalian sama aja! " tukas Ara membuat mereka tertunduk malu.
"Tau nih! daripada saling menyalahkan, mending beresin aja barang kalian! " timpal Lia, membuat telinga Friska dan Hilda makin panas mendengar sindiran dan makian dari teman-temannya.
Friska menatap Doni yang baru duduk di mejanya dengan tatapan memelas, berharap Doni luluh dan mau membantunya agar tidak di pecat.
Reaksi Doni malah sungguh di luar dugaan Friska, Doni malah sama sekali enggan untuk menatap Friska.Kejahatan yang di lakukan Friska terhadap Zahra membuat Doni hilang respect pada Friska.
Friska dan Hilda bergegas pergi dari kantor, mereka berpapasan dengan Zahra.Bukannya malu, mereka malah mlengos ke arah Zahra.
Tidak pernah takut, Zahra justru tersenyum lebar, melihat reaksi mereka berdua ketika berpapasan dengannya "Mbak- mbak yang cantik ..., mau saya antarkan sampai rumah mbak? " tanya Zahra, dengan nada agak sedikit meledek.
"Nggak perlu! nggak usah sok baik sama kita! " jawab Friska tak terima di ledek Zahra, Friska semakin benci melihat senyuman Zahra
"Ya udah, aku kan cuma menawarkan saja, " timpal Zahra, Friska malah mengepalkan tangannya.
Hilda mendelik kaget, di tariknya tangan Friska "Ayo! jangan cari masalah lagi! " tukas Hilda, sebelum kemarahan Friska meledak.
__ADS_1
_Bersambung_