
Sejak pagi, Zahra sudah di sibukkan dengan membuat proposal kerja, ia tidak tahu jika ada Meeting yang begitu urgent dan mendadak hari ini
"Cie! tumben rajin banget sih mbaknya nih, mentang-mentang ada calon mertua, jadinya super rajin, " canda Ara.
Ara memang suka jahil dan menggoda Zahra.Namun sikapnya tetap baik, selalu menjadi garda terdepan yang siap untuk membela Zahra.
"Ck! bisa aja kamu Ar, jam sepuluh nanti ada meeting mendadak, Abi baru saja bilang ke aku, " tukas Zahra yang masih fokus mengetik di laptopnya.
Ara terdiam menatap Zahra "Pak Jefri udah ngasih tau Abi kemarin, Abi juga udah bilang ke kita.., kamu nya aja yang masih menggalau jauh dari Devan, jadinya gak denger," kata Ara,
Zahra melirik Ara sejenak, "Ah iya, kamu ada benarnya juga ..., ternyata rindu itu kayak besi ya, " timpal Zahra.
Ara menautkan kedua alisnya "Besi? ada apa dengan besi? " tanya Ara kebingungan, dia numpang duduk di sofa ruangan Zahra mumpung belum jam masuk kantor.
"Terlalu berat," jawab Zahra dengan nada bercanda untuk menghilangkan rasa penat di pikirannya, penat memikirkan Devan dan juga penat memikirkan pekerjaan yang belum juga selesai
Ara tersenyum lebar "Ciyaaah, udah pinter ngegombal kamu sekarang.., jangan rindu, rindu itu berat, biar mas Devan aja, " ujar Ara, menirukan gaya bicara Dilan.
"Haha, ada-ada aja kamu Ar, " sahut Zahra tersenyum simpul mendengar candaan dari Ara, dia senang memiliki sahabat seperti Ara, selalu ada menghibur disaat kesepian sedang melanda.
__ADS_1
Ara melirik arloji di tangannya "Ra, udah jam masuk kantor nih ..., aku balik dulu ya, " pamit Ara beranjak berdiri dari duduknya.
"Iya, ntar di omelin lagi sama pak Doni, " ucap Zahra
"Daah, semangat Ra! walau pujaan hati masih tak kunjung kembali, tapi uang tetap harus di cari, " ujar Ara masih sempat-sempatnya dia memberi semangat.
Zahra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ara, "Uang bukan segalanya Ar, tapi segalanya juga butuh uang, " sahut Zahra.
Ara mengacungkan kedua jempolnya pada Zahra "Cakep! " ujar Ara, Zahra membalasnya dengan senyuman.Arapun keluar dari ruang kerja Zahra
****************
"Aku ada kontrak kerjasama dengan kantor ini, ",jawab Alex, menatap Zahra dari ujung kaki sampai atas kepala.
Zahra melanjutkan langkahnya, "Tunggu! " Alex menarik tangan Zahra, menghalanginya untuk pergi.
Zahra berbalik arah. "Ada apa? " tanya Zahra menatap Alex yang sedang berdiri di belakangnya, dia tampak sangat gugup bicara dengan Alex.
__ADS_1
"Tidak, hanya ingin bicara lebih lama lagi dengan kamu, " jawab Alex tanpa melepaskan tangan Zahra, ia begitu menyukai wanita yang ada di depannya itu, istrinya tak semenarik Zahra.
Zahra menepis pegangan tangan Alex, dia terlalu risih dengan sikap Alex yang agak agresif itu. "Devan kemana? " tanya Alex.
"Devan sedang melanjutkan pendidikan ke Singapore, tiga tahun lagi dia pulang, " jawab Zahra, mencoba menciptakan jarak agar tidak lagi terlalu dekat dengan Alex, ia berusaha menjaga hatinya.
"Jadi kamu di tinggal sendiri? kasihan banget sih kamu ..., kenapa gak kamu tinggalin aja sih dia? mendingan nikahnya sama aku aja? " tanya Alex mencoba memprovokasi Zahra.
'Plak' satu tamparan mendarat di pipi Alex. "Jangan mencoba memprovokasi ku! walau nanti aku tidak berjodoh dengannya, aku tidak akan menikah dengan lelaki yang tak cukup satu istri sepertimu! " bentak Zahra tersulut emosi.
"Abang! " panggil Abi dari kejauhan, dirinya segera menghampiri Alex.Zahra melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka berdua
"Apa kabar bi? Abang kesini ada meeting dengan pak Jefri, " tanya Alex berbasa-basi pada Abi agar tidak mencurigai tingkahnya.
"Baik bang .., aku tadi ke toilet tapi kebetulan ngeliat abang disini, jadi ku hampiri saja, " jawab Abi, abangb
__ADS_1