ZAHRANA

ZAHRANA
Balas Budi


__ADS_3

 Merasa suaminya memandang begitu lekat, Zahra menghentikan makannya "Mas! " gertak Zahra membuat pria yang berada di depannya itu merasa kaget.


   "Iya sayang, ada apa? " gertakan Zahra membuyarkan semua lamunan Devan.


   "Kamu bukannya makan malah bengong! awas kesambet loh! " jawab Zahra, mulutnya masih penuh ia paksa untuk bicara.


    "Iya... aku cuma nostalgia dari awal kamu lempar aku pakai sepatu hingga sekarang kamu jadi istriku, " timpal Devan, tersenyum masam.


   Zahra juga ikut senyum-senyum sendiri, mengingat awal dia bertemu Devan, bahkan sepatu itu masih Zahra simpan sampai sekarang.


    "Ciyaah! pengantin baru senyum-senyum sendiri udah punya momongan ya! " teriak Gino, mereka yang hanyut dalam imajinasi masing-masing tersentak kaget.


   "Gino... Darimana kamu dapat akses masuk ke apartemen ini? " tanya Devan tercengang melihat Gino sudah berada di apartemennya.


   "Akses masuk gimana... orang pintunya aja tidak di tutup, ya aku langsung masuk aja, ada yang salah, " jawab Gino dengan entengnya.


    Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Oh ya lupa, ada apa kamu kesini? " Lagi, Devan bertanya kepada adik tirinya, apa maksud kedatangannya.


    "Nih, mama nitipin ini ke kamu, " Gino memberikan paper bag yang sedari tadi di tentengnya ke Devan.


   Devan penasaran, di bukanya paperbag itu, mata Devan membelalak melihat isi dalam paperbag "Tespack, " ucap Devan lirih.


   "Apa isinya Mas? " Zahra ikut penasaran apa isi di dalam paperbag itu.


   "Tau nih mama! kurang kerjaan banget! bawain makanan kek! buah kek! atau apalah gitu, ini malah bawain testpack! " cerocos Devan memutar bola matanya jengah.


   Gino dan Zahra spontan tertawa terbahak-bahak, "Mungkin itu kode keras dari mama kali Mas, kalau mama pengen cepat punya cucu, " timpal Zahra.


       "Ck! dasar mama! orangnya gak sabaran banget, " decak Devan, sedikit kesal pada mamanya.


    "Wey! jangan ngomongin anak di depanku, masih polos nih! " teriak Gino.


    "Polas-polos hidungmu! makanya buruan nikah! biar tau enaknya hidup berumah tangga! " protes Devan menyilang kedua tangannya.


    "Modalnya ada, tapi calonnya tidak ada, " sahut Gino, muncul lagi di dalam benaknya perasaan bersalah karena telah menduakan Lia.


           \=\=\=oooOooo\=\=\=\=


    Sore hari, Devan sudah rapi kembali kemeja berbalut jas hitam di luar, "Sayang! aku pergi dulu ya, " pamit Devan sedikit berteriak, agar Zahra yang di dapur mendengarnya.


    "Mau kemana lagi Mas? " tanya Zahra, melihat suaminya sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


  "Aku ada meeting mendadak sama klien, cuma sebentar kok, lagipula bareng Abi..." jawabnya sembari memakai dasi.

__ADS_1


    Zahra mencium punggung tangan suaminya itu, "Hati-hati Mas, " pungkasnya lirih.


   Devan menganggukkan kepalanya, kemudian ia berlalu keluar dari apartemennya.


          \=\=\=\=oooOooo\=\=\=


    Devan dan Abi sedang fokus membahas proyek penting bersama klien, meeting kali ini berada di restoran yang tidak jauh dari kantor.


   Devan menjelajahi setiap sudut ruangan tersebut, terputar kembali memori di pikiran Devan, bagaimana dulu dia mengungkapkan cinta kepada wanita yang telah mengisi kekosongan hatinya setelah di khianati Dita.


    Sebua senyuman merekah di bibir Devan, kisah cintanya bersama Zahra membawa banyak kenangan indah yang telah mereka ukir bersama.


1 jam kemudian...


    Meeting telah selesai, Devan dan Abi memutuskan untuk pulang. Sebelum beranjak pulang, Devan menerima telepon dari temannya yang ada di luar negeri.


    Devan beranjak berdiri, terus saja melangkah keluar cafe tanpa disadari, sebuah truk melintas saat Devan hendak menyebrangi jalan.


    "Awaaas! " seorang wanita berperawakan tinggi, kulit putih serta brambut pirang lari menyelamatkan Devan.


'Dugh! '


   Tubuh Devan terpental ke tepi jalan, sedangkan wanita itu sudah terbaring lemah di aspal jalan dengan kepala berlumuran darah. Devan gegas menghampiri wanita itu.


    "Tolong bantu saya bawa wanita ini ke rumah sakit! " pinta Devan kepada Abi.


  Abi di bantu beberapa warga membopong wanita itu ke rumah sakit.


           \=\=\=oooOooo\=\=\=\=


   "Dok? Gimana keadaan anak saya? " tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari wanita yang sudah menyelamatkan Devan tadi.


    "Keadaan anak ibu baik-baik saja tapi... karena benturan yang sangat keras, terjadi patah tulang, kami terpaksa mengamputasi kedua kaki anak ibu, " jawab dokter.


   Ibu itu langsung ambruk mendengar ucapan dari dokter, "Maaf, kalo begitu saya permisi dulu, " pamit sang dokter berlalu.


pergi.


Devan perlahan mendekati ibu itu, "Maaf... gara-gara saya anak anda jadi lumpuh, saya akan tanggung jawab atas semuanya. "


   Dengan ketulusan hati, Devan meminta maaf dan berjanji menanggung biaya rumah sakit. Tatapan ibu itu mendadak nyalang, di tariknya kerah baju Devan.


"Jadi kamu penyebab semua ini! hey pria tampan! uangmu tidak akan bisa mengembalikan kedua kaki anak saya! "

__ADS_1


Sang ibu terus membentak meluapkan amarahnya pada Devan.


    "Apa yang harus saya lakukan... untuk menebus dosa dan kesalahan saya? " tanya Devan, bagaimanapun wanita itu telah menyelamatkan hidup Devan.


      Ibu itu tampak berpikir sejenak, pandangannya menjelajahi Devan dari atas hingga bawah.


   "Nikahi anak saya! " ceplos ibu itu, tanpa bertanya Devan sudah menikah atau belum.


   Abi yang mendengar itu ikut kaget, pasalnya Devan sudah memiliki istri, tidak ada istri yang mau dan rela di madu suaminya.


   "Tapi..., "


  "Jika kamu tidak mau, saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum! " sela ibu itu, sorot matanya tajam penuh kemarahan.


   "Baiklah, saya akan menikahi putri anda, " kata Devan, hanya pasrah menuruti permintaan ibu tersebut.


"Apa? pak Devan mau menikahi dia... Trus, Zahra bagaimana, dia kan istri pak Devan... " batin Abi, tidak bisa membayangkan bagaimana jika Zahra sampai tau Devan menikahi orang lain.


    Ibu dari wanita itu, masuk ke ruang UGD.


    Abi perlahan mengikuti Devan dan mendekatinya, "Pak, bapak yakin mau menikahi dia... terus, Zahra bagaimana? " tanya Abi lirih takut terdengar orang.


"Saya juga bingung bi, Saya mencintai Zahra, tapi saya juga tidak bisa lari dari tanggung jawab, jika saya di penjara lagi, bagaimana nasib perusahaan bi... "



Jujur saja, Abi agak sedikit kecewa dengan perkataan Devan, dia lebih mementingkan perusahaan di banding cinta sejatinya.



"Jadi menurut Bapak, perusahaan jauh lebih penting daripada Zahra? " tanya Abi sedikit mengeluarkan unek-uneknya.


"Bagi saya, keduanya begitu penting dari hidup saya... saya tidak ingin menyakiti Zahra, juga tidak ingin perusahaan saya bangkrut, " jawab Devan.


Devan mengusap wajahnya dengan kasar, tidak pernah menyangka sebelumnya di hadapkan pada pilihan sesulit ini.


"Ya... saya hanya berharap Pak, anda tidak akan menyakiti Zahra untuk ke sekian kalinya Pak... perempuan akan tiba-tiba pergi jika memang sudah terlanjur sakit hatinya, " pesan menohok Abi membuat Devan tercengang.


Benar kata Abi, Devan selama ini terlalu banyak menyakitk Zahra, tidak ada sedikitpun niatan Zahra untuk hengkang dari hidupnya


Devan takut jika Zahra tahu dia menikah lagi, maka kesalahannya tidak akan bisa di maafkan lagi, hati Devan gelisah sejak tadi, pikirannya bingung harus berbuat apa.


Apakah Devan akan benar-benar menikahi wanita yang menolongnya? Ikuti terus ya! Terima kasih 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2