
Devan meminta Dita untuk datang ke kantor hari ini juga. "Pak, apa bapak yakin rencana kita akan berhasil? " tanya Abi tidak begitu yakin jika rencananya ini akan berhasil
ia tahu Dita bukanlah orang sembarangan yang bisa begitu mudah di permainkan, dia juga bisa nekat melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan
Abi hanya bisa berharap rencananya dan juga Devan bisa berhasil agar Dita merasa jera tidak mengganggu Zahra lagi untuk selamanya
"Kamu tenang saja, semua sudah saya atur, " jawab Devan sembari tersenyum miring, ia tak pernah sejahat ini sebelum-sebelumnya
Dirinya terpaksa melakukan ini semua agar Dita mau meminta maaf pada Zahra, dan mengakui, bahwa Devan bukanlah tunangan Dita lagi, dan Devan tida sama sekali tidak ada bukan alasan Dita membuat pak Ardi koma.
Sesampai di pintu kantor, anak buah Devan bergerak cepat membungkam Dita hingga pingsan.
mereka membawa Dita ke dalam sebuah gedung kosong bekas bangunan mall milik keluarga Devan sesuai rencana yang di fikirkan Devan.
Dita di dudukkan di kursi, kedua tangannya di ikat beserta kedua kakinya. "Dimana aku ini? Kenapa tangan dan kakiku terikat? "tanya Dita, kebingungan sekali, siapa yang berani menculiknya seperti ini
"Oh, kamu sudah sadar ya, "celetuk Devan muncul dari belakang di ikuti Abi "Devan, lepaskan aku, "pekik Dita terus memohon untuk di lepaskan.
"Tidak dit, kamu harus merasakan apa yang di rasakan ayahnya Zahra, " tukas Devan, ia memberi isyarat untuk menjungkirkan Dita sedikit, agak dia tahu bagaimana rasanya di jatuhkan dari atas gedung.
"Van! jangan Van! " teriak Dita. Devan sama sekali tak hiraukan Dita, ia terus meminta orang suruhannya menjungkirkan Dita terus tanpa memberinya ampun sama sekali.
"Ini akibatnya kamu bermain dengan Zahra, kini giliranku yang akan bermain denganmu, " tukas Devan tersenyum simpul, Dita tidak menyangka Devan bisa seganas ini kepadanya jika sedang dalam keadaan marah.
"Cukup pak! " suara teriakan seseorang yang nyaring terdengar di samping Devan "Zahra_ " ucap Devan kebingungan melihat Zahra ada disini, bagaimana ia tahu semua ini, sampai dia menyusul kesini
"Hentikan pak! " kata Zahra menghampiri mereka "Kenapa kamu tau jika saya ada disini? " tanya Devan penasaran sekali
"Saya di beritahu Ara kalau Mbak Dita di culik, bapak kenapa lakukan ini? jika bapak balas kejahatan Mbak Dita dengan cara seperti ini, apa bedanya bapak dengan Mbak Dita?" tanya Zahra, dia tak ingin Devan gegabah dalam melakukan sesuatu yang akan membuat dia sendiri menyesal nantinya.
__ADS_1
"Terbuat dari apa hati kamu Zahra, dia sudah menjahati kamu, tapi kamu tetap memaafkan dia, " jawab Devan
"Saya bukan orang jahat pak, saya juga yakin bapak juga punya hati, " tukas Zahra, dia tahu Devan memang sedang marah kepada Dita, tapi bukan berarti Devan ada niat untuk mencelakai Dita
"Saya memang punya hati Ra, tapi jika ada yang menyakiti orang yang saya cintai, saya tidak akan toleransi lagi, lepaskan dia! "' pinta Devan pada anak buahnya, mereka melepas Dita, karena permintaan Zahra.
Dita berlari ke arah Zahra dan memeluknya "Terima kasih Ra, saya janji akan bantu kamu jelaskan semuanya, "ucap Dita, dia bersyukur ada Zahra yang menyelamatkannya dari kemarahan Devan, jika tidak ada Zahra mungkin dirinya tidak akan di lepaskan oleh Devan saat ini.
"Saya sudah memaafkan Mbak, jauh sebelum Mbak minta maaf ke saya, "kata Zahra tersenyum tulus, Zahra tidak ingin mendendam kepada siapapun juga.
.
"Tepati janji kamu jika kamu tulus minta maaf ke Zahra, tanggung semua biaya rumah sakit dan pengobatannya"timpal Devan melirik Dita, dia masih kesal karna perbuatan Dita, hubungan Devan dan Zahra tidak di restui oleh Bu Nita.
"Pak_" tukas Zahra, menatap nyalang ke arah Devan, tak ingin Devan terlalu kejam ke Dita walaupun Dita juga bersalah kepadanya.
"Udah Ra, gak apa-apa, izinkan saya menemui mamamu di rumah sakit" izin Dita "Baiklah, " ujar Zahra setuju untuk pertemukan Dita dengan mamanya
.
"Yuk ikuti mereka, saya belum percaya sama Dita" ajak Devan, Abi mengekor di belakang Devan.Taxi yang di tumpangi Zahra dan Dita terhenti di rumah sakit, Mereka berdua turun mengikuti Dita dan Zahra
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita ikut masuk pak? " tanya Abi, Devan anggukkan kepalanya. Zahra masuk ke ruangan rawat inap ayahnya di ikuti Dita
Abi ingin ikut masuk ke dalam juga.Tapi, Devan menghentikannya "Kita tunggu sini, "kata Devan, Abipun duduk di kursi tunggu bersama Devan, memantau dari luar jika Zahra bertindak jahat lagi
"Zahra! ngapain kamu membawa dia kesini! "bentak Bu Nita geram karna Zahra datang bersama Dita, orang yang sudah membuat ayahnya koma itu
__ADS_1
"Sabar dulu Ma, ada yang mau Mbak Dita bicarakan sama Mama"ujar Zahra, menenangkan mamanya agar tidak marah dulu.
Dita berlutut di kaki bu Nita. "Tante, maafkan saya sudah mencelakai suami Tante .. saya janji akan menanggung semua biaya rumah sakit dan pengobatan suami Tante," ucap Dita, dengan tulus meminta maaf pada bu Nita, kali ini benar-benar hingga Dita menitikka air mata
Bu Nita melirik pak Ardi yang terbaring lemah di brankar, pak Ardi mengedipkan matanya, tak ada gunanya lagi mendendam, dendam tidak akan menyelesaikan sebuah permasalahan yang ada hanya menimbulkan masalah baru.
"Karna suami saya sudah memaafkan kamu saya juga memaafkan, " tukas Bu Nita. Zahra girang menatap ayahnya sadar dari komanya, tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini bagi Zahra selain sadarnya sang ayah dari koma
"Ayah sudah sadar Ma? " tanya Zahra, bu Nita mengangguk tersenyum, Zahra memeluk ayahnya, pak Ardi hanya bisa terdiam di peluk Zahra, dia tahu putrinya begitu khawatir kepadanya.
..
"Makasih ya Tante, " ucap Dita, ia tersenyum dan menghampiri pak Ardi yang ikut membalas senyumannya.
"Terima kasih banyak Om, " ucap Dita, dia bahagia sekali kedua orang tua Zahra sudah memaafkannya.
"Oh iya, ada satu hal lagi, "lanjut Dita
"Apa lagi? "tanya Bu Nita.
"Devan sebenarnya bukan tunangan saya, dia mantan saya, " jawab Dita, bu Nita kaget mendengar pengakuan dari Dita barusan.
"Benar itu Ra? " tanya Bu Nita.
"Ya Ma. kalau dia tunangan orang, gak mungkin Zahra mau sama dia, " jawab Zahra, Dita hanya tsenyum tipis.
"Lebih baik Tante cepat nikahin mereka, nanti keburu Devan suka sama perempuan lain, " celetuk Dita, Zahra menyenggol lengan Dita.
"Apaan sih Mbak, saya kan mau fokus kerja dulu, " timpal Zahra, pipinya merah merona menahan malu
__ADS_1
"Cieeee, malu, " goda Dita
_Bersambung_