
"Aku tidak bisa Ma, pokoknya, aku tidak ingin berurusan lagi dengannya, dia harus kembalikan semuanya! " ketus Gino.
"Baiklah, aku kembalikan Dana investasimu Gino! " jawab Devan, Gino tersenyum simpul mendengar ucapan Devan.
Devan pergi ke kamarnya, ia duduk di tepi ranjang tempat tidurnya sambil memijit pelipisnya "Haruskah aku bekerja sama dengan Alex dan tinggalkan Zahra? bagaimana jika dia marah nanti? " devan membatin sambil merebahkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga hari setelah kematian ayahnya, Devan kembali bekerja di kantor dengan perjanjian yang sudah dia buat dengan Alex. "Pak, saya turut berduka cita atas kepergian pak Jefri, " ucap Abi.
Devan hanya membalas ucapan Abi dengan anggukan kepalanya, tanpa mengucap apapun, Devan melewati Abi begitu saja menuju ke ruangannya.
"Pak Devan, " panggil Ara, menghampirinya ingin mengatakan sesuatu kepada Devan.
"Ara, saya sibuk, tolong jangan ganggu," tukas Devan menjawab panggilan Ara,
Ara memaklumi semua ini.Wajar, bosnya itu sudah tiga hari tak datang ke kantor, pasti kerjaannya begitu menumpuk sekali.
Mendengar Devan kembali bekerja, Zahra terlihat semangat bekerja hari ini, wajahnya tampak terlihat sumringah.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, semua di sibukkan dengan pekerjaannya masing-masing "Ah iya, ini proposal yang belum ada tanda tangan, " celetuk Zahra, melihat berkas di dalam map biru di meja kerjanya.
Zahra beranjak berdiri dan keluar ruangan menuju ruangan Devan.
...*...
"Masuk! " teriak Devan setelah Zahra mengetuk pintu, Zahra memutar sebuah gagang pintu, bergegas masuk ruangan Devan.
"Ini, proposal yang belum kamu tanda tangani, " kata Zahra memberikan proposal yang di buatnya kepada Devan.
Devan mengambil ballpoint, membubuhkan tanda tangan pada proposal itu "Ini, " Devan memberikannya lagi proposal yang sudah di tanda tangani itu pada Zahra.
"Mas.., nanti aku mau ajak\_, " ucap Zahra terjeda.
"Aku sibuk! " Devan menyela ucapan Zahra.
"Kenapa Mas Devan berubah menjadi dingin kembali ya, apa aku berbuat salah, " batin Zahra, merasa sikap Devan sangat berubah pada Zahra.
Devan melirik Zahra sejenak, ada sedikit perasaan bersalah mengabaikan Zahra "Ngapain kamu masih berdiri disitu! "bentak Devan.
__ADS_1
"Kamu membentakku Mas? " tanya Zahra, baru kali ini dia di bentak tunangannya.
Devan memalingkan mukanya. "Lebih baik kamu pergi daripada aku perlakukan lebih parah dari ini! "ketus Devan, sikapnya harus benar-benar terlihat berubah 360° pada Zahra agar Zahra sukarela menjauhinya.
Zahra terdiam menatap Devan yang sama sekali enggan menolehnya "Aku pergi dulu, " pamit Zahra, bergegas pergi meninggalkan ruangan Devan.
Devan menatap kepergian Zahra, dia tahu Zahra kecewa padanya karena telah bentak dia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zahra berpapasan dengan Ara di depan ruangannya. "Zahra, kenapa kamu nangis? " tanya Ara.
Zahra hanya terdiam tak sanggup harus menjawab apa, dia juga tak tahu mengapa sikap Devan berubah 360° padanya.
Ara mengajak Zahra duduk terlebih dahulu, agar lebih leluasa bercerita kepadanya. "Ada apa sebenarnya Ra? kenapa kamu nangis? " tanya Ara.
Zahra menceritakan semuanya pada Ara, tentang perubahan sikap Devan padanya. "Kok dia jadi begitu lagi sama kamu Ra? apa kamu berbuat salah kepadanya? " tanya Ara.
"Kok aku merasa aneh ya.., hanya dalam tiga hari sikap pak bos berubah kepadamu, " tukas Ara, merasa ada yang tidak beres di balik sikap Devan.
"Aku nggak tau Ar, udahlah! aku balik kerja dulu, " pamit Zahra beranjak menuju ruangan kerjanya
...----------------...
Jarum jam menunjuk ke angka dua belas, semua karyawan kantor ramai berkumpul di kantin.Suasana kantin di hebohkan dengan kehadiran Devan menggandeng Viola.
"Siapa dia pak? cantik sekali, serasi dengan bapak, " tanya Arfin, staff Divisi Accounting di kantor itu, bertanya sekaligus memuji Viola.
"Dia, calon istri saya, " jawab Devan, senyum paksa ke arah Viola.
"What? calon istri? rupanya dia udah batalin pertunangannya tanpa sepengetahuan kamu Ra," celetuk Ara.
Bukan hanya Ara saja yang kaget, Zahra juga tak kalah kaget dengan Ara "Kamu benar Ar, inilah alasan dia berubah padaku.., dia lebih memilih Viola yang udah lama dia suka daripada diriku, " jawab Zahra, membenarkan perkataan Ara.
Zahra menghela nafas panjang menatap cincin pertunangan yang masih tersemat di jari manisnya sebelah kiri, "Kenapa juga aku harus bertahan dengan cincin ini, semua ini sudah tidak ada artinya lagi baginya," umpat Zahra dalam hati,
Terbayang jelas di benak Zahra momen saat ketika Devan melamarnya, hatinya remuk berkeping-keping menerima kenyataan bahwa orang yang di cintainya tega mengkhianati.
__ADS_1
Zahra segera berdiri tak sanggup melihat Devan berduaan mesra dengan Viola di depan matanya. "Ayok Ar, aku udah selesai makan, semuanya udah aku bayar, " ajak Zahra.
Ara menganggukkan kepala, dia juga ikut berdiri dan mengikuti Zahra keluar dari kantin.
Zahra dan Ara pergi dari kantin melewati Devan dan Viola.Devan hanya melirik Zahra yang tak lagi menatapnya.
"Mas Devan, ayo kita makan, " ajak Viola, terus mengapit lengan Devan, senang karena Devan mengakui dirinya sebagai tunangannya meski harus berpura-pura saja.
"Apaan sih! lepas! kita cuma pura-pura saja, " kata Devan, melepas apitan tangan Viola.
Viola mencebikkan bibirnya, dia sebal Devan sama sekali tak membalas perasaannya.
......................
Jam pulang kantor tiba, Zahra mengemas barangnya untuk segera pulang.
"Tunggu! " panggil Devan dari kejauhan.
Zahra menghentikan langkahnya. "Ada apa lagi Pak, memanggil saya.., saya rasa mulai sekarang kita harus menjaga batasan pak, tidak baik juga bila Asisten terlalu dekat dengan bosnya, " celetuk Zahra, menyindir Devan.
Devan mengernyitkan dahi. "Apa maksud kamu? "tanya Devan.
"Maksud saya.., bukankah benar ya pak, seorang bawahan itu harus menjaga batasan dengan bosnya.Lagipula, saya sadar diri, saya bukan orang yang pantas untuk anda pak, " jawab Zahra, berjalan melewati Devan lebih dahulu.
"Tidak akan pernah ada batasan untuk hati kita Ra, akupun disini juga masih sangat mencintai kamu ..., hanya saja, keadaan yang memaksaku untuk menjauh sementara dari dirimu, " batin Devan, menatap wanita yang di cintainya itu pergi meninggalkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Alex datang ke rumah Zahra. "Alex ngapain kamu kesini? " tanya Zahra yang sedang melamun di teras rumah.
"Aku ingin mengajakmu menikah Ra, kamu tahu kan..., Ulfania tidak bisa memiliki anak, itu sebabnya aku ingin menikahimu.Lagipula, Devan sudah memiliki Viola dan memilih menikah dengannya bukan? " tanya Alex.
Mata Zahra membulat sempurna, "Kamu tahu darimana jika Devan ingin menikahi Viola? " tanya Zahra.
"Devan memintaku kesini untuk menikahi kamu agar kamu tidak sakit hati melihat Viola dan Devan berduaan, " jawab Alex.
"**Untuk apa Devan memintaku untuk menikahi pria obsesi ini, apa ini alasan dia menikahi Viola.., lihat saja pak Devan, aku juga bisa membuat hatimu semakin panas**, " batin Zahra.
"Ok! aku setuju, asalkan jangan sampai kau menyentuhku! jika tidak, aku akan batalkan pernikahan kita, " tukas Zahra.
"Baik, " jawab Alex, Zahra tersenyum simpul, dia bisa memanfaatkan Alex untuk membuat Devan cemburu.
_Bersambung_
__ADS_1
Hay semuanya..., untuk bab kali ini aku bikin sama dulu ya judulnya, kemarin authornya lagi oleng, jadi bikin judulnya gak sesuai, maaf banget ya.., terima kasih buat semuanya yang udah baca novel ini sampai bab ini, semoga para readers sekalian di beri kesehatan dan panjang umur, jangan lupa like dan komentarnya ya..., untuk kritik dan saran yang mendukung, terima kasih 😊🙏