
Devan mengemudikan mobilnya mengantar Zahra pulang,sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan antara Devan maupun Zahra, keduanya Fokus pada pikiran masing-masing.
Devan melirik Zahra sejenak, entah mengapa dia canggung menanyakan pria itu ke Zahra, Devan takut Zahra mengira dirinya curiga.
"**Kok mas Devan diem aja ya, apa dia marah sama aku**, " batin Zahra, dia merasa tidak enak hati Devan terus diam kepadanya.
"**Apa yang harus ku katakan kepadanya, bagaimana jika dia marah kalo tau membahas seberapa jauh hubungan masa lalu Zahra dengan pria tadi**, " umpat Devan dalam hati sambil curi pandang ke Zahra.
Zahra menatap Devan dari pantulan kaca cermin kecil yang ada di atas mobil. "Ada apa Mas? kok kamu ngeliatin aku kayak gitu? " tanya Zahra, tanpa menoleh sedikitpun ke Devan.
Devan terhentak. "Eum, gak apa-apa kok cuma pengen lihat kamu aja, " jawab Devan.
"Ada yang ingin kamu tanyakan padaku? " tanya Zahra lagi, mengajak Devan ngobrol santai agar mereka tidak canggung terus.
"Yakin? " Zahra memastikan lagi.
"Hmm, iya yakin, " jawab Devan berkilah, dia tak ingin bertengkar lagi dengan Zahra, cukup sudah akhir-akhir ini dirinya dan Zahra lewati banyak masalah.
"Kamu pasti mau tanya soal Miko ya, " celetuk Zahra, tiba-tiba.
Devan menatap Zahra lekat-lekat. "Kok kamu bisa tahu? " tanya Devan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Mas, kita sudah berkomitmen ..., apa salahnya sih jika kita saling terbuka, baiklah aku jawab, Miko mantan pacar aku sejak SMA dulu, kami berhubungan selama lima tahun, putusnya karena kedua orang tuaku tidak merestui hubungan kita berdua..., karena mama dan papa Miko saat itu bermasalah dengan dengan kedua orang tuaku, " jawab Zahra.
"Apa Kamu masih mengharapkannya Ra? kan kamu dengan dia putusnya baik-baik? " tanya Devan, pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Devan.
Zahra mengulum senyum ke Devan. "Bagi aku, masa lalu tetaplah masa lalu Mas, jika waktu tidak bisa di putar kembali, kenapa aku harus mengharap masa lalu, semua kisahku dengannya akan jadi pelajaran, agar tidak salah dalam memilih pasangan, masa lalu itu tidak bisa di putar kembali Mas, apalagi di jilat trus di celupin kayak oreo, " jawab Zahra.
Devan tertawa dan membelai kepala Zahra. "Kamu ini, bisa aja, " tukas Devan.
Devan menghentikan mobilnya di depan rumah Zahra. "Aku turun dulu ya Mas, " pamit Zahra, Devan membalasnya dengan anggukan kepala.
Zahra terus berdiri menatap Devan yang sedang melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Zahra, setelah mobil Devan berlalu dan hilang dari pandangan, Zahra masuk ke dalam rumah.
...----------------...
__ADS_1
Miko ternyata sudah ada di depan rumah Zahra sedari tadi, dia mengikuti mobil Devan dari belakang.
"Siapa dia? " tanya Miko.
"Kenapa aku harus menjawabnya, toh juga bukan urusanmu juga! " ketus Zahra, dirinya paling tidak suka di buntuti seperti ini.
"Jelas penting Mbul, aku harus tau siapa dia! " bentak Miko.
Zahra terpancing emosinya, Miko ternyata masih saja sama egoisnya seperti dahulu. "Emang apa urusannya denganmu Miko! aku sudah bilang lupakan saja aku, hubungan kita sudah berakhir! " Zahra membalas bentakan Miko.
"Aku tidak menganggap hubungan kita berakhir Zahra! kedua orang tuamu pasti merestui kita! " bentak Miko.
Zahra tersenyum simpul. "Sudah terlambat, aku sudah bertunangan dengan orang lain, " jawab Zahra menyilang kedua tangannya di depan dada.
"Sebelum janur kuning melengkung, aku akan mendapatkan cintamu kembali! " timpal Miko, matanya memerah memendam amarah.
"Sampai kapanpun, kamu hanya masa laluku, jangan harap bisa kembali mendapatkan cintaku! " ketus Zahra, muak sekali keegoisan Miko tidak pernah berubah.
Benar kata kedua orang tua Zahra, Miko adalah type pria egois, sama seperti sifat kedua orang tuanya dulu.
"Miko! ngapain kamu berani kesini lagi! mana pake bentak putri saya lagi! " bentak Pak Ardi yang muncul dari dalam.
"Aku sudah bertunangan Miko! Lebih baik kamu pergi dari sini! " usir Zahra masih tetap bersembunyi di balik punggung pak Ardi.
Pak Ardi menggelengkan kepalanya, heran denga sifat Miko "Kamu gak dengar anak saya ngomong apa? apa kamu ini tuli? pergi sana! atau mau saya lempar vas bunga ini ke muka kamu! " ancam Pak Ardi ikut kesal melihat Miko yang begitu bebal.
Dengan berat hati, Miko Pun pergi meninggalkan rumah Zahra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pa, aku takut sama dia, " ucap Zahra.
Pak Ardi mengelus bahu Zahra. "Kamu tenang saja nak, ada Papa disini yang akan melindungi kamu, " tukas Pak Ardi.
Zahra memeluk pak Ardi, memang benar kata orang, ayah itu adalah cinta pertama anak perempuannya.
__ADS_1
Zahra bersamaan masuk ke dalam rumah bersama papanya. "Ada apa yah? " tanya Bu Alika tampak khawatir dengan Zahra.
"Nggak kok Ma, tadi Miko kesini ngejar Zahra, " jawab Pak Ardi.
"Miko? mau ngapain lagi tuh anak? " tanya Bu Alika.
Pak Ardi mengerdikkan bahunya. "Tidak tau," ujar Pak Ardi.
......................
Pagi hari pak Ardi ingin bertemu temannya untuk membicarakan bisnis yang sedang di bangun. "Papa pergi dulu ya Ma, " pamit pak Ardi kepada istrinya.
"Iya yah, hati-hati, "ucap Bu Alika mencium tangan Pak Ardi.
Pak Ardi berjalan menuju ke sebuah Cafe yang tak jauh dari rumahnya, temannya itu kebetulan sudah menunggu disana.
Tampak dari kejauhan, Miko bersiap gas motornya "Jika kamu penghalangku untuk bersama Zahra, kamu harus ku habisi sekarang juga tua Bangka! " batin Miko geram.
Miko tancap gas setelah Pak Ardi berada di tengah jalan tiba-tiba 'Braak! ' 'sriiit' pak Ardi tertabrak motor Miko, Devan yang berada di depan rumah Zahra, terkejut pak Ardi di tabrak oleh seseorang, dia beranjak turun dari mobil dan menghampiri pak Ardi.
"Pa, bangun pa, " ucap Devan, darah terus mengucur keluar membuat tangan Devan ikut terkena Darah.
"Papaaa! " teriak Zahra berlari ke arah papanya.
"Mas! kamu apakan papaku! " bentak Zahra.
"A-aku tidak tahu Ra, " sahut Devan.
"Kamu kan Mas, yang nabrak Papaku! " bentak Zahra meneteskan air mata.
"Sudahlah, bukan waktunya kita berdebat, ayo bawa papa ke rumah sakit, " tukas Devan.
Devan di bantu warga membawa pak Ardi ke rumah sakit
...----------------...
Zahra mondar-mandir menunggu dokter keluar, Devan menghampiri Zahra dan memegang tangannya. "Papamu pasti baik-baik saja, " ucap Devan.
Zahra menepis tangan Devan "Ini semua gara-gara kamu Mas! kalau sampai papa kenapa-napa, aku tidak akan memaafkanmu! " bentak Zahra.
__ADS_1
Devan hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa.