
Setelah menebus obat di apotik, Devan beranjak pulang.Perkataan Dokter Edi, cobaan datang silih berganti, sedikit demi sedikit menghancurkan impian Devan untuk bisa menua bersama Zahra.
Devan menitikkan air matanya, sungguh tidak sanggup menerima kenyataan, dia juga tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mamanya jika tahu semua ini.
"*Maafkan Devan ma...sepertinya Devan tidak bisa lama menemani mama di dunia ini*.... " ucap Devan merasakan gemuruh dalam hatinya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan menghentikan mobilnya tepat di depan rumahnya, dia menghela napas sejenak, lalu beranjak turun dari mobil.
"Devan, gimana nak? apa kata dokter? " tanya Bu Alika menyambut Devan dengan berbagai pertanyaan.
Devan berusaha tersenyum. "Mama tenang aja Ma... Devan baik-baik aja kok, " jawab Devan berkilah tidak ingin membuat orang yang sudah melahirkannya itu khawatir.
"Yakin? "
"Iya Ma, " jawab Devan agak sedikit kalut di tatap seperti itu oleh mamanya.
"Syukurlah kalau begitu, Mama mengkhawatirkan keadaanmu... kali ini, kamulah satu-satunya yang Mama punya, " ucap Bu Alika bernapas lega mendengar jawaban Devan.
"Ya sudah Ma, Devan mau istirahat dulu... besok Devan harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang perlu di selesaikan, " pamit Devan berlalu meninggalkan mamanya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan duduk termenung di balkon kamarnya memandangi bintang yang begitu indahnya menghiasi langit yang gelap.
Suasana dingin dan terangnya lampu perkotaan ikut menghiasi malam yang begitu indah, mata Devan tidak bisa berpaling dari indahnya bintang,
"Tuhan...andaikan aku boleh meminta, aku ingin di beri kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, untuk membahagiakan orang-orang yang ku sayangi sebelum aku tiada nanti, " batin Devan membaringkan tubuhnya di lantai balkon.
Perlahan, mata Devan terpejam dengan sendirinya terbawa dinginnya suasana malam.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Sinar mentari pagi menyilaukan mata Devan, membuat Devan mengerjapkan matanya.
"Ah! ternyata aku ketiduran disini, " gumam Devan beranjak bangun dan segera mandi, dia harus pergi ke kantor pagi ini.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
"Pagi Ma, " sapa Devan yang baru saja turun dari kamarnya.
"Kamu beneran mau ke kantor hari ini Van? " tanya Bu Alika, tidak tega membiarkan putranya yang masih sakit harus pergi ke kantor.
"Iya Ma... Devan udah mendingan kok, " jawab Devan duduk di samping mamanya menikmati roti tawar yang sudah di olesi selai.
__ADS_1
"Lain kali, kamu jangan terlalu capek, Mama tidak mau kamu sakit lagi, " pesan Bu Alika kepada putranya.
"Iya Ma, tidak perlu khawatir... Devan bisa jaga diri kok. " Devan menenangkan bu Alika.
Devan segera menyelesaikan sarapannya, "Ma, Devan berangkat dulu ya... " pamit Devan mencium punggung tangan Bu Alika.
"Hati-hati Van, " ucap Bu Alika.
Devan berlalu meninggalkan dapur, dia beranjak menuju garasi mobil.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan memarkirkan mobilnya di parkiran kantor, dia bergegas masuk ke dalam untuk menuju ruangannya.
Devan tidak sengaja berpapasan dengan Zahra di lobi kantor, "Loh Pak Devan, bukannya bapak kemarin sakit... kok udah kerja lagi? " tanya Zahra menautkan kedua alisnya.
"Saya harus kerja Ra, saya ingin mama tetap hidup berkecukupan setelah kita menikah nanti, " jawab Devan, kekuatan fisik tidak ada apa-apanya jika menyangkut orang yang di sayangi.
"*Aku hanya berharap ada keajaiban, agar pernikahan kita tetap te**rwujud*. "Devan membatin, tidak ingin berharap banyak soal pernikahannya dengan Zahra.
Zahra hanya tersenyum malu, dia juga tidak sabar menanti hari yang paling bahagia itu.
Devan berlalu meninggalkan Zahra menuju ruangannya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Tampak Gino di depan ruangan Devan, tadinya dia ingin menemui Lia.Niat itu Gino urungkan karena melihat Devan sedang minum sesuatu.
"Devan, minum obat apa kamu? " tanya Gino menghampiri Devan dengan tatapan nanar.
"Ah tidak, ini cuma minum obat sakit kepala, " jawab Devan.
'Plak' obat itu tidak sengaja jatuh, Gino gegas mengambilnya tidak sengaja membaca petunjuk obat itu.
"*Obat kanker...Devan mengidap kanker*, " umpat Gino dalam hati.
Devan segera merampas obat itu dari Gino sebelum Gino membaca lebih jauh lagi
"Apa maksud kedatanganmu kesini? " tanya Devan mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, aku kesini hanya ingin mengajakmu kerjasama, walaupun papamu sudah membunuh ayahku, tapi aku tidak sejahat itu merebut hakmu, " jawab Gino memberikan sebuah berkas ke Devan.
"Papaku sudah meninggal, bukankah itu sudah impas... " celetuk Devan membuka isi map yang di berikan Gino.
__ADS_1
"Ya, tentu saja... aku juga tidak sengaja membuat penyakit jantung papamu kambuh, aku terlalu emosi saat itu, aku minta maaf, "
ucap Gino
Tidak ada raut penyesalan sedikitpun di wajahnya.Seolah, permintaan maaf itu hanya sekedar formalitas saja.
"Maafmu tidak akan membuat papaku hidup lagi Gino, begitu juga dendamku... aku mau bekerjasama denganmu, " timpal Devan menandatangani surat kontrak kerjasama itu.
Devan memberikan kembali map itu kepada Gino, "Aku harap kamu suatu saat bisa menjadi sandaran mama, " ucap Devan, mungkin jika dirinya tiada hanya Gino yang bisa menjaga mamanya.
Gino buru-buru pulang setelah mendapat telvon dari teman dekatnya jika bu Misha pingsan dan sekarang ada di rumah sakit.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Gino mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ingin segera sampai di rumah sakit.
turun dari mobil, Gino bergegas menuju ruangan ibunya sesuai petunjuk teman dekatnya itu.
Dengan tangan gemetar dan lemas, Gino masuk ke ruangan bu Misha.
Melihat kondisi ibu angkatnya yang terbaring lemah, mata Gino berkaca-kaca batinnya menyeruak tidak sanggup di tinggalkan orang yang sudah merawatnya dari kecil.
Gino memegang tangan ibu angkatnya itu perlahan, air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya, wanita yang terbaring itu seketika membuka matanya di pegang Gino.
"Gino..." panggil Bu Misha lirih.
Gino tersentak, kemudian mendekat perlahan, "Iya Bu... Gino disini, " ucap Gino.
"Ibu sepertinya harus menyusul suami ibu... maafkan ibu nak, ibu selama ini berbohong kepadamu...."Bu Misha menatap Gino dengan tatapan sayu.
"Maksud ibu? " tanya Gino mengernyit kebingungan.
"Irfan adalah mantan kekasih ibu dulu, ibu begitu sakit hati pada mamamu karena Irfan menikahi mamamu, kecelakaan ayahmu... itu semua ibu yang buat, agar kamu membenci mamamu sendiri, " jawab Bu Misha suaranya memekik seperti tercekat di tenggorokan.
"Jadi, ini semua rencana ibu? bukan niat pak Jefri? " tanya Gino menelisik lebih jauh.
Bu Misha menggeleng, "Bukan Nak, ibu yang menyabotase mobilnya agar menabrak ayahmu, " jawab Bu Misha.
Penyesalan muncul di hati Gino mengetahui fakta sebenarnya, andai saja saat itu dia mendengarkan penjelasan pak Jefri, mungkin pak Jefri tidak akan terkena serangan jantung.
"Kenapa ibu tega membuatku membenci orang yang sudah melahirkanku Bu! hanya karena dendam ibu, aku jadi membenci orang yang tidak bersalah! " tukas Gino air matanya deras membasahi wajahnya.
"Maafkan ibu Gino... ibu harap, kamu jangan pernah membenci mamamu ataupun Devan lagi, sampaikan maaf ibu kepada Alika, adikku sendiri. " kata Bu Misha berpesan pada Gino.
Gino melihat Bu Misha seperti kesulitan bernapas, dadanya naik turun tanpa terkendali, mata Bu Misha terus mengarah ke atas, "Dokter! tolong ibu saya Dok! " teriak Gino dengan panik memanggil Dokter.
Dokter pun masuk memeriksa Bu Misha yang sudah memejamkan matanya.
Tak berselang lama, Dokter itu menatap ke arah suster yang berada di sebelah kiri bu Misha, membuat Gino semakin resah dan gelisah.
Dokter mendekatkan jari tangannya ke hidung bu Misha memeriksa napasnya, tangan dokter itu beralih memeriksa nadi bu Misha.
"Maaf, ibu anda sudah tiada, " kata dokter itu.
__ADS_1
'Bruk' Gino lemas dan terjatuh di lantai, tidak menyangka jika bu Misha benar-benar pergi meninggalkannya.
Apakah Gino akan meminta maaf pada Devan dan mamanya? Ikuti terus ya! terima kasih 😊🙏