
Gino gegas berlari menuju parkiran, tanpa alas kaki Gino mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia harus bertemu mamanya sekarang juga.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Sampailah Gino di sebuah halaman luas depan kediaman milik mamanya. Air mata Gino terus bercucuran seolah tidak ingin berhenti untuk menetes.
Hatinya hancur, begitu durhakanya dia membenci ibu kandungnya sendiri. Gino mengetuk pintu rumah itu perlahan.
'Ceklek!' seseorang membuka pintu dari dalam. Melihat bu Alika yang keluar, Gino langsung sujud di kaki mamanya memohon maaf.
"Ma... maafin Gino ya... sudah begitu Jahan membenci Mama selama ini dan membuat suami Mama meninggal, " ucap Gino menangis di kaki mamanya.
Tidak ada seorang ibu yang tega membiarkan sang putra berlutut seperti itu. Bu Alika membantu Gino bangun dan berdiri.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Mama sama sekali tidak pernah mendendam sama kamu Nak, " tukas bu Alika membelai bahu Gino.
Sepasang mata melihat mereka dari belakang.Ya, itu adalah Devan, dirinya berharap kelak Gino bisa menjadi putra yang baik untuk menggantikannya menjaga sang mama.
"Terima kasih Ma, ibu sekarang sudah tiada Ma, " kata Gino memberitahu.
Bagaimanapun, bu Misha adalah adik kandung bu Alika terlepas dari dendamnya di masa lalu.
"Apa!. " Teriak Bu Alika, baru saja kembali bersama putra pertamanya sudah di beri kabar kurang mengenakkan hati.
Bu Alika bersiap menuju rumah orang tuanya di kampung melihat adiknya untuk yang terakhir kali.
Devan mengikuti mobil Gino dari belakang, "Aaargh! pusing sekali! " ringis Devan kesakitan sembari memegang kepalanya.
Devan teringat sejak pagi tadi belum meminum obat, di rogohnya kantong saku mencari obat.
Devan meminum obat itu langsung tanpa seteguk air, tidak peduli pahit menerjang tenggorokannya, yang penting pusing di kepalanya hilang.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Suasana rumah Gino sudah ramai, banyak pelayat berdatangan satu persatu.Gino mengajak mamanya masuk.
" Alika, "
__ADS_1
Kedatangan bu Alika di sambut pertama kalinya oleh Nek Dena, nenek dari Devan dan Gino.
Bu Alika tidak percaya apa yang di lihat di depan matanya, sang ibu yang dulu ikut menentang pernikahannya dengan pak jefri, kini hadir menyambut ramah kedatangannya
Nek Dena perlahan berdiri mendekati bu Alika dengan mata berkaca-kaca melihat putri pertamanya kembali di hadapannya.
"Alika... sudah sekian lama kamu pergi meninggalkan ibu sendiri, jangan pergi lagi nak... Misha sudah tiada, siapa yang akan menemani ibu disini Nak, " tukas Nek Dena membelai lembut pipi bu Alika.
Perkataan sang ibu tentu saja membuat bu Alika terpukul, sudah membantah perkataan orang tuanya, kini membiarkan nek Dena hidup sendiri.
Bu Alika berjongkok di depan Nek Dena, "Bu... Maafkan Alika...Alika punya seorang putra satu-satunya, suami Alika meninggal Bu... Alika tidak bisa menemani ibu disini. "
Bu Alika membelai lembut punggung tangan Nek Dena yang sudah renta termakan usia, sebuah penyesalan muncul di hati bu Alika tidak bisa menemani ibunya selama ini
Sifat egois dan ambisius bu Alika untuk menikah dengan almarhum pak Jefri dulu, membuat bu Alika semakin jauh dari ibu yang sudah melahirkannya.
Bu Alika masuk ke rumah Gino bergabung dengan para pelayat yang sedang membaca surah yasin untuk almarhumah bu Misha
"*Misha... ku maafkan semua kesalahanmu, selamat jalan adikku... semoga selalu engkau tenang berada di pangkuan sang pencipta*, " batin bu Alika.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Prosesi pemakaman bu Misha usai di laksanakan, semua warga yang turut membantu pulang ke rumah masing-masing.
Bu Alika pamit pulang kepada Nek Dena, "Bu... Alika pulang dulu ya, kapan-kapan Alika akan datang kembali kesini, " pamit Bu Alika kepada Nek Dena dengan sangat berat hati.
"Van, ayo salaman dulu dengan nenekmu, " pinta Bu Alika kepada Devan.
Devan mencium punggung tangan Nek Dena.lalu kemudian, berjalan menuju mobil.
'Bruk! ' Devan tiba-tiba saja terhuyung jatuh, membuat Gino dan bu Alika tersentak kaget. Gino membopong Devan ke dalam mobil, lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
\=\=\=\=oooOooo\=\=\=
Devan langsung di tangani Dokter begitu sampai di rumah sakit. Gino mondar-mandir di depan ruang UGD.Raut mukanya panik takut terjadi apa-apa pada Devan.
Melihat dokter keluar dari ruangan UGD, Gino bergegas menghampirinya, "Gimana keadaannya dok? " tanya Gino berharap jika Devan akan baik-baik saja.
"Sel kanker otaknya sudah merusak organ tubuhnya, di harapkan untuk segera lakukan kemoterapi, " jawab Dokter.
"Maksud dokter apa dok? " tanya Gino belum mengerti sama sekali ucapan Dokter.
__ADS_1
"Pasien mengidap penyakit kanker otak, sek kankernya bisa menyebar dengan cepat jika tidak di lakukan kemoterapi, " jawab Dokter.
Dokter segera berlalu memeriksa pasien lainnya.Sedangkan Gino, masih termenung sendiri di kursi tunggu.Tidak di sangka Devan memukul beban berat sendirian, tanpa ada orang yang mengetahuinya.
\=\=\=oooOooo\=\=\=
Gino masuk perlahan melangkah masuk ke ruang UGD, di tatapnya Devan yang sedang terbaring lemah tidak berdaya di brankar.
Hati Gino seketika merasa perih, sesak, sakit melihat saudaranya itu berjuang sendiri melawan penyakitnya.
Mengapa Gino harus membencinya, Devan juga tidak ada kaitannya sama sekali dengan masalah ini.Andai saja dapat memilih, biarkan Gino yang terbaring lemah menggantikan Devan untuk menebus semua dosa dan kesalahannya.
Air mata Gino menitik begitu saja membasahi pipi, hatinya bergetar melihat begitu bencinya Gino pada Devan tanpa bukti yang begitu jelas.
Apa yang harus Gino lakukan sekarang? memutar waktu kembali? Jelas itu tidak mungkin, hanya penyesalan yang Gino rasakan sekarang.
"Gino... " panggil Devan lirih setelah membuka matanya.
Merasa terpanggil oleh Devan, Gino mendekat hampiri Devan, "Iya... ada apa? kamu butuh sesuatu? " tanya Gino siaga jika Devan sewaktu-waktu membutuhkannya.
Devan hanya tersenyum, seolah-olah sudah melupakan semua rasa sakitnya, "Tolong, jangan beritahu mama soal penyakitku... aku takug mama khawatir melihat kondisiku, " jawab Devan memegang lembut tangan Gino.
"Sekeras apapun kamu menyembunyikan penyakit ini dari mama... cepat atau lambat mama akan mengetahuinya juga ... " tukas Gino menatap Devan dengan tatapan sendu.
"Aku tidak ingin melihat mama menangis sekarang Gino... biarlah nanti mama mengetahui sendiri setelah aku tiada, " timpal Devan pasrah dengan cobaan yang menimpanya.
"Apa yang kamu katakan itu! jika tidak bisa berjuang demi dirimu sendiri, berjuanglah demi mama dan Zahra! apa kamu sudah tidak menyayangi mereka? apa kamu tidak ingin menikahi Zahra dan membuatnya bahagia? " tanya Gino tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Zahra layak bahagia, tapi bukan bersamaku... " ucap Devan lirih.
"Zahra bahagia hanya ketika dia bersamamu, " sahut Gino.
__ADS_1
Devan terdiam membisu mendengar perkataan Gino
_Bersambung_