
Devan masuk ruangan Zahra, Devan menitikkan air mata tidak berhenti mengucapkan sepatah kata maaf untuk Zahra. "Maafkan saya Ra .., " ucap Devan.
"Sudahlah Mas, saya memaafkan Mas, saya tahu Mas tidak bersalah, Miko lah yang bersalah, " ucap Zahra, dia ingin berbagi kesedihannya dengan Devan.
Devan melepas pelukan Zahra, dia memegang kedua pipi Zahra dengan lembut "Jadi, Miko yang membuat papamu sampai meninggal Ra?darimana kamu tahu? " tanya Devan, tak percaya apa yang dikatakan Zahra.
"Iya Mas aku tahu dari CCTV kompleks, secara kan, papa yang melarang keras aku untuk berhubungan dengan dia .., ternyata papaku benar, Miko bukan orang yang baik untuk diriku, " jawab Zahra.
Miris sekali hati Devan, melihat Zahra. Beruntung Miko tidak ada disini, jika dia muncul, mungkin Devan sudah hajar dia tanpa ampun.
"Maafkan aku Mas, " imbuh Zahra, lagi-lagi menunduk sedih.
"Maaf, maaf untuk apa? " tanya Devan menautkan kedua alisnya.
"Perusahaan di ambang kebangkrutan, aku tidak berhasil memenjarakan Miko, klien tidak percaya lagi untuk bekerjasama dengan kita, aku membebaskan kamu ini dengan syarat Mas, " jawab Zahra.
"Apa syarat itu Ra? " tanya Devan, begitu penasaran.
Zahra menghela nafas panjang. "Aku harus meninggalkanmu, " jawab Zahra menunduk dengan perasaan bersalah, tidak tau apakah dia mampu atau tidak hidup tanpa Devan, tunangannya itu.
Devan memegang kedua tangan Zahra.Dirinya mengulum senyum ke arah Zahra, tak ada kemarahan di benak Devan, dia mengerti Zahra melakukan ini, demi membebaskan dirinya.
"Kita akan hadapi bersama ya sayang.., jangan khawatir, selagi aku masih ada bersamamu, aku akan selalu menjagamu" ucap Devan, berusaha setenang mungkin di depan Zahra walau pikirannya di gempur rasa panik yang luar biasa hebat.
"Kamu nggak marah Mas? " tanya Zahra, begitu polosnya.
"Nggak sayang, untuk apa aku marah, tidak semua permasalahan bisa di atasi dengan kemarahan memangnya dengan marah bisa mengatasi kesalahan, tidak juga kan, lebih baik masalah ini, kita selesaikan bersama, " jawab Devan mengelus pundak Zahra.
Zahra bersyukur memiliki pria seperti Devan, dia selalu mengerti tentang dirinya, tidak pernah mengeluh sedikitpun atas kesalahan yang sudah di perbuat nya.
"Eh, Pak Devan sudah kembali ternyata," sapa Abi, setelah bosnya masuk penjara, perusahaan sudah mengalami banyak masalah.
"Iya bi, saya dengar perusahaan sedang ada masalah? " tanya Devan.
"Betul pak, seperti yang bapak ketahui, banyak klien yang membatalkan kerjasama dengan kita, saya sampai tidak tahu cara mengatasinya pak, " jawab Abi.
"Kamu tenanglah, saya sudah ada disini, biar saya yang menghandle ini untuk membantu Zahra memenjarakan Miko, " tukas Devan.
Abi menatap Zahra, dia mengedipkan mata pertanda isyarat agar Zahra menyerahkan semua masalah ini pada Devan.
Devan mengajak Abi ke ruangannya untuk membicarakan hal ini.Devan segera berlalu pergi dari ruang kerja Zahra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bi, apakah CCTV komplek itu masih ada? " tanya Devan, berusaha menggali informasi.
"Tergantung pemiliknya Pak, jika pemiliknya masih menyimpannya, mungkin ada, " jawab Abi.
__ADS_1
"Baiklah, saya minta kamu temui ketua RT di kompleks itu. Jika memang rekaman CCTV itu masih ada, copy ke flashdisk ini, saya juga ingin memenjarakan Miko dengan tuduhan pencemaran nama baik terhadap perusahaan saya, " pinta Devan, dirinya tidak akan biarkan pria jahat itu berkeliaran bebas.
"Baik Pak, " tukas Abi, dia segera lakukan yang Devan suruh.
...----------------...
Abi kembali ke kantor dengan raut muka lesu, kekecewaan tergambar jelas di mukanya.
"Ada apa bi? " tanya Devan.
"CCTV di kompleks itu rusak pak, kata pemiliknya sih, tersambar petir..., filenya kena hapus semua, " jawab Abi.
"Aargh! " Devan menggeram, tangannya mengepal kuat.
Devan memijit pelipisnya, pening memikirkan semua ini.Kaki Devan merasa menginjak sesuatu di bawah mejanya, dia kembali menghentakkan kakinya, benda itu semakin terasa.
Devan menunduk penasaran, benda apa yang di injaknya tadi. "*Flashdisk? flashdisk siapa ini*? " Devan bertanya-tanya dalam hati, dia mengambil Flashdisk itu, memasangnya di laptop.
"Ada apa Pak? " tanya Abi.
Abi berdiri di sebelah Devan. "Ada video sepertinya bi, " jawab Devan, tangannya memegang mouse yang mengarah ke video itu.
Devan memutar video itu dan mengamatinya.Abi dan Devan ikut terkejut melihat video itu. "Pak, ini kan video rekaman CCTV yang Zahra cari, " timpal Abi.
Devan tersenyum. "Bi, ini bisa kita jadikan bukti ke polisi.
"Tunggu Pak! jika to the point rasanya, Miko ada potensi untuk kabur pak, gimana kalo kita laporkan diam-diam, agar dia tidak menyangka kita melaporkannya ke polisi, " usul Abi.
Devan tampak berfikir sejenak. "Hmm, bagus juga idemu bi, kita bikin dia kejutan terindah yang tidak akan pernah dia lupakan, " ucap Devan, setuju usul Abi.
...****************...
Devan menuju kantor Miko. "Maaf Pak, anda siapa? " tanya Budi, satpam penjaga di kantor Miko.
Devan menunjukkan kartu namanya, mata Budi membulat sempurna, kantor itu kedatangan Ceo dari perusahaan Arprana.
"Bu-bukannya saya dengar kemarin bapak di penjara? kenapa Pak Devan disini? " tanya Budi.
Devan menyilangkan tangannya di depan dada. "Saya di penjara akibat ulah bosmu itu! sekarang, saya akan melaporkan balik dia atas tuduhan pencemaran nama baik perusahaan saya! " jawab Devan ketus dan sinis.
__ADS_1
Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Budi persilahkan Devan masuk.
......................
"Hay Pak Miko Rahelza syahputra, apa kabar dirimu? " tanya Devan membaca tulisan di papan nama Miko.
Miko terkesiap kaget melihat Devan datang ke kantornya. "Dev-devan\_, " ucap Miko gugup
"Santai saja Pak, saya kesini bukan untuk memarahi anda, " timpal Devan membenarkan dasi Miko.
Miko berusaha untuk menegakkan tubuhnya yang hampir terhuyung menghindari Devan.
"Ada perlu apa kemari? " tanya Miko.
Devan melirik Miko, ia tersenyum menyeringai, devan duduk mengangkat kakinya ke meja kerja Miko.
"Kenapa takut sekali? apa karna saya ini mantan napi? " tanya Devan.
Abi juga ada disitu merekam pembicaraan Devan dan Miko diam-diam dari kejauhan , dia bersama polisi sekarang.
Miko tertawa terbahak-bahak "Bukan anda yang membunuh pak Ardi, tapi saya,kasihan sekali ya .., anda menggantikan posisi saya di penjara, waaah! saya berterima kasih sekali," tukas Miko.
"Anda juga kan, yang mencemarkan nama baik perusahaan saya? " tanya Devan.
"Betul sekali.., dan Anda sendiri tidak punya bukti-bukti untuk melaporkan saya ke polisi, " jawab Miko, percaya diri sekali jika Devan tidak berkutik.
Devan tertawa. "Kata siapa saya tidak bisa melaporkan anda ke polisi.., " tukas Devan, dengan satu tepukan tangan saja, Abi dan tiga anggota polisi muncul, salah satu polisi itu memborgol kedua tangan Miko.
"Apa-apaan ini! " bentak Miko.
"Asal anda tahu, semua yang anda bilang ke saya tadi, di dengar sendiri oleh polisi ini, " sahut Devan.
Miko masih berusaha memberontak. "Lepaskan saya, itu tidak benar! " teriak Miko berusaha memberontak.
"Buktinya ada disini..., "tukas Devan mengangkat tangannya yang sedang memegang Flashdisk.
Miko diam, tidak bisa berkata sepatah kata apapun.Tangannya sudah terlanjur di borgol, dia hanya memberontak minta di lepaskan.
"Bawa Dia pak! " pinta Devan.
Polisi menyeret Miko ke mobil dan membawanya ke kantor.
Friska melihat Miko sedang di bawa polisi. "Ada apa ini, kenapa Miko dibawa polisi, " batin Friska, dia segera mengejar mobil polisi itu, lalu mengikutinya.
Akankah Friska berhasil menyelamatkan Miko? ikuti terus ya,
hay semuanya..., apa kabar nih? lama banget nggak menyapa, makasih ya, buat para readers yang udah membaca novel ini sampai bab ini, terima kasih tak terkira dari Author, tanpa kalian, Author ini bukanlah siapa-siapa..., mohon dukungannya ya, dengan like dan komen. Terima kasih 😊🙏
__ADS_1
"