
Sepulang kerja, Zahra mencoba hubungi Devan.Baru di tinggal sehari, Zahra begitu sangat merindukannya.Apalagi, tiga tahun.
Devan: Sayang, akhirnya kamu nelpon juga
Zahra: Sayang apanya, pergi nggak pamitan!
Devan:Iya maaf, habisnya mendadak banget
Zahra:Mas lagi ngapain disana? rame banget
Devan: Lagi ngumpul bareng teman? Kenapa?
Zahra: Nggak apa-apa sih, cuma tanya aja
Devan: Jaga hati, awas kalau macem-macem
Zahra: yang ngomong gitu harusnya aku Mas,
Devan: iya, Mas disini jaga hati buat kamu
Zahra: gombal! orang mantannya bule semua
Devan:Tapi kan seriusnya cuma sama kamu
Zahra: udah ah! aku mau tidur dulu, ngantuk!
Devan: iya, selamat malam ya sayang doain,
Zahra:doain? doain apaan tuh Mas?
Devan: ya doain biar cepat pulang sayang,
Zahra: kalau itu mah setiap hari juga Mas
Devan: ya udah, sana tidur! nanti kemalaman
Zahra: Ya udah, aku tidur dulu deh Mas,
sambungan telvon pun terputus.Zahra tersenyum sendiri, rasa rindunya kepada Devan terobati sudah.Cinta memang aneh, mendengar suaranya saja sudah bahagia.
...****************...
__ADS_1
Alex mengikuti Zahra dari rumah sampai kantor, ia tersenyum menyeringai menatap Zahra dari kejauhan Kamu akan jadi milikku Zahra, " batin Alex, tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta Zahra dengan
Di dalam kantor, tampak pak Jefri sedang serius membicarakan sesuatu "Bagaimana dong bi, kita harus bicarakan ini semuanya dengan kakakmu .., dia tidak boleh gitu aja membatalkan kontrak kerjasama kita, " kata Pak Jefri.
"Baiklah Pak, nanti saya bicarakan dengan Abang saya, " ujar Abi menghela nafas agak panjang, tidak menyangka abangnya berani ini memutuskan kontrak kerjanya begitu saja.
Zahra ikut bergabung dengan pak Jefri dan juga Abi "Ada apa ini Pak? Kelihatan serius sekali? " tanya Zahra kepada pak Jefri ada masalah apa di kantor sampai seserius itu
Pak Jefri menoleh Zahra dengan wajah yang sumringah "Kebetulan ada kamu Ra, saya minta tolong kamu sebagai Asisten, tolong datang ke kantor Alex bujuk dia supaya tidak memutuskan kontrak "mohon Pak Jefri
Zahra terperangah kaget bukan main, "Jadi, Alex membatalkan kontraknya..., itu artinya aku harus ke kantor Alex "batin Zahra, dia malas sekali jika harus menemui Alex di kantornya.
"Baiklah Pak, saya usahakan nanti menemui Alex " Zahra mengiyakan permintaan pak Jefri untuk membujuk Alex dengan cara apapun.
...----------------...
Jarum jam menunjuk ke angka 9, Zahra bergegas berangkat ke kantor Alex bersama dengan Ara. "Akhirnya kamu datang juga, " sapa Alex
"Diam kamu! kalau bukan permintaan papa Devan, aku tidak akan sudi menginjakkan kaki disini! " ketus Zahra, Alex hanya tersenyum miring.
Alex berbalik menatap Zahra "Jangan ketus denganku, aku tidak menyukainya ..., katakan saja apa maksud kedatanganmu kesini, " kata Alex menatap Zahra dengan tatapan begitu sinis.
"Aku kesini ingin kamu melanjutkan kontrak kerjasama dengan perusahaan keluarga Arprana" timpal Zahra, tak yakin Alex akan setuju begitu saja.
"Baik, asal kamu mau menikah denganku dan tinggalkan Devan, " sahut Alex, ajukan syarat pada Zahra dan yakin Zahra menyetujuinya.
Kedua mata Zahra membulat sempurna, ia tak menyangka Alex akan berbuat selicik ini untuk bisa mendapatkannya "Jika aku nolak, bagaimana nasib karyawan lain disana," batin Zahra kebingungan
Rasanya bagai buah simalakama bagi Zahra, bagaimana mungkin dia mengorbankan salah satu di antara keduanya. Jika mengorbankan perusahaan, bukan nasib Zahra saja yang di pertaruhkan.Namun, juga nasib karyawan lainnya.
"Baiklah aku setuju, asalkan kamu tetap lanjutkan kerjasama kontrak kerja dengan perusahaan milik Arprana, "kata Zahra, ia merelakan cintanya untuk membantu perusahaan
Tak apa jika dirinya kehilangan Devan, daripada karyawan lain mempertaruhkan nasibnya.Banyak karyawan yang ingin menafkahi anak istri dari hasil bekerja di kantor itu.Zahra juga tidak mau egois.
Alex menyeringai, ia mengambil selembar kertas yang sudah di persiapkan "Silahkan tanda tangan di berkas ini, " tukas Alex memberikan ballpoint kepada Zahra.
Zahra mengernyit "Apa ini? " tanya Zahra mengambil berkas yang di berikan Alex.
"Itu surat perjanjian, bahwa kamu setuju menjadi istri kedua dan tidak akan pernah tinggalkan aku.Kecuali, aku sendiri yang menginginkan cerai darimu, " jawab Alex.
Zahra geram sekali, ingin menampar Alex saat itu juga, ia melempar surat itu ke muka Devan dengan kasar, Zahra berbalik ingin pergi dari kantor Alex "Apa kamu yakin tidak ingin memberi kabar bahagia pada pak Jefri Arprana? " tanya Alex.
__ADS_1
Langkah Zahra terhenti seketika, tangannya mengepal kuat, ingin melayangkan bogem pada Alex "Pintar sekali kamu ya, dengan memanfaatkan kantor itu, kamu pikir bisa menikahiku? jelas saja tidak! " ketus Zahra.
Zahra bergegas keluar dari ruang kerja Alex dan pergi dari kantor Alex. "Aaaarghh! kenapa bisa gagal semuanya! " racau Alex hancurkan barang-barang di meja kerjanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ara melihat Zahra keluar terburu-buru dari kantor Alex, ikut mengejarnya, "Ra, tunggu! " panggil Ara, berlari mengejar Zahra keluar
Zahra menghentikan langkahnya. "Kamu kenapa sih? kok keluar-keluar ngamuk gitu? di apain emang sama Alex sampai naik darah gitu? " tanya Ara, mengatur deru nafasnya.
"Gimana gak naik darah, Alex mau lanjutkan kontraknya dengan kantor kita, asal aku mau nikah dengannya, " jawab Zahra kesal, sebal, rasanya ingin mencakar muka orang saat itu juga.
Ara mendelik kaget "Apa maksudnya dia Ra? bukannya Abi bilang dia sudah punya Istri, kenapa dia ingin sekali menikahimu? " tanya Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal
Zahra memutar bola matanya jengah. "Entah, aku pusing memikirkannya, "jawab Zahra memijit pelipisnya, pening sekali rasanya.
"Ya sudah, ayo kita kembali, " ajak Ara merangkul sahabatnya itu, mengajaknya kembali ke kantor.
"Kasihan Zahra harus menanggung semua ini, mana Devan belum kembali, " umpat Ara dalam hati, menatap Zahra dengan tatapan penuh iba.
......................
"Maaf, saya tidak berhasil membujuk Alex Pak, " ucap Zahra menghadap pak Jefri di ruangannya dengan perasaan gugup sekali.
Pak Jefri mengangguk "Tidak apa-apa Ra, saya mengerti, " tukas pak Jefri tersenyum paksa,tak ingin memperlihatkan perasaan kecewanya pada Zahra.
Pak Jefri kembali memanggil Abi kembali ke ruangannya. "Ada apa pak? " tanya Abi,
"Silahkan duduk Bi, saya ingin sekali bicara denganmu," pinta Pak Jefri, Abipun menurut, ia duduk tepat di hadapan pak Jefri.
"Apa kita rasa Devan harus tahu masalah ini? " tanya Pak Jefri meminta pendapat dari Abi.Sepertinya pak Jefri sudah menyerah.
"Jangan Pak, nanti malah mengganggu pendidikan pak Devan, " jawab Abi, tak ingin pendidikan Devan terganggu hanya karna masalah kantor.
"Tapi kamu yakin bisa untuk membujuk abangmu? " tanya Pak Jefri, Abi membalas dengan anggukkan kepala, ia mengenal sifat abangnya itu, pasti bisa membujuknya lagi.
_bersambung_
__ADS_1