ZAHRANA

ZAHRANA
kepulangan Devan


__ADS_3

 Devan pulang mendadak dari luar negeri setelah di telfon Ara jika di kantornya sedang banyak masalah, pak Jefri sangatlah terkejut putranya pulang mendadak sekali hari ini.


 "Pa, ada masalah apa di kantor? kok nggak cerita ke Devan? siapa tau Devan bisa bantu," tanya Devan terlihat khawatir sekali dengan keadaan kantor.


"Nggak apa-apa nak, ini hanya masalah kecil," jawab Pak Jefri tak ingin membuat putranya terlalu khawatir berlebihan.


  "Ck, Papa bohong! setiap ada masalah pasti bilang nggak apa-apa, emang aku anak kecil.., bisa di bohongi gitu aja, "rutuk Devan kesal pada papanya.


  Abi muncul dari luar rumah Devan, "Eh pak Devan, kok pulang? emangnya pendidikannya udah selesai? " tanya Abi, berbasa-basi pada Devan.


 "Tau nih Papa, Ara bilang kantor sedang ada masalah, tapi di tanya jawabnya gak apa-apa, " jawab Devan mengerucutkan bibirnya.


 "Perusahaan terancam bangkrut Pak, karna bang Alex begitu saja membatalkan kontrak kerjasama kita di bulan lalu, " tukas Abi, terpaksa memberitahu Devan.Siapa tahu, Devan memiliki solusi.


  Devan mengepal tangan dengan erat, dia berdiri dari duduknya, tergesa-gesa keluar rumah "Mau kemana kamu Van? "tanya Pak Jefri, takut Devan akan berbuat nekat dan brutal.


 "Mau nyamperin si Alex di rumah Abi Pa, dia gak bisa mutusin kontrak kerjanya gitu aja, " jawab Devan menatap pak Jefri, Devan tidak bisa membiarkan papanya sendirian hadapi masalah.


 "Harus semalam ini kah? " tanya Pak Jefri menghampiri Devan, pasti keributan akan terjadi.


Devan memegang tangan pak Jefri "Pa, papa jangan khawatir, biar Devan yang selesaikan ini semua, " jawab Devan menenangkan pak Jefri.


Pak Jefri mengulum senyum. "Papa sudah percayakan ini semua kepadamu nak, tolong pertahankan perusahaan warisan kakekmu, " kata Pak Jefri , sama sekali tak meragukan Devan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 "Devan Arprana, apa kabarmu? aku rasa kamu masih tidak lupa kejadian dua tahun yang lalu, " tukas Alex, tersenyum sinis.


"Waw, rupanya sombong sekarang ya lex, mempermainkan perusahaanku yang hampir bangkrut, " cela Devan menatap tajam ke arah Alex.


"Aku lakukan ini hanya demi Zahra Van, iya! aku menyukai Zahra sejak di pesta itu, hatiku sakit ketika mendengar Zahra sutunangan denganmu, " kata Alex, matanya memerah menahan amarah pada Devan.


 "Apa maksudmu! Zahra tunanganku, dia tak akan mungkin mau denganmu! " bentak Devan ikutan geram, selicik ini cara Alex mendapatkan Zahra.


 "Aku tak ingin berdebat Devan, aku akan melanjutkan kontrak kerjasamaku dengan perusahaanmu asal kamu meninggalkan Zahra, " ujar Alex duduk kembali di sofa.


"Kamu tidak akan bisa membuatku untuk meninggalkan Zahra sekalipun dengan cara ini Alex! camkan itu! " bentak Devan lantang, kesabarannya benar-benar terkuras habis.

__ADS_1


"Terserah! itu berarti, kamu merelakan jika perusahaan papamu itu bangkrut! "ketus Alex Mandengar kata bangkrut, membuat Devan semakin merasa bersalah dalam benaknya.


 Devan berfikir sejenak melupakan semua kemarahannya, tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan "Ok aku setuju, " celetuk Devan terpaksa, semua Devan lakukan untuk papanya.


"Tanda tangani ini jika kamu setuju, " Alex melempar selembar kertas dan ballpoint ke Devan.


 Devan mengambil kertas dan ballpoint itu bermaksud ingin menandatangani suratnya.


 "Tunggu dulu! saya yang akan melanjutkan kontrak kerjasama itu! " teriak seorang pria yang sudah familiar sekali di telinga Devan.


  Devan menoleh ke belakang sejenak "Gino_," ucap Devan


  "Iya pak, ini aku si Gino, sekertaris paling guanteng dewe iku, lali karo aku toh Pak? " tanya Gino, Devan hanya melongo kaget


"Terima kasih gin, kamu udah datang di saat yang tepat, " ucap Devan tersenyum lebar, tak sangka Gino sudah sesukses ini sekarang.


"Sama-sama Pak.., namanya pahlawan yo gini, datang di saat yang tepat, " kata Gino, dengan nada agak sedikit bercanda.


Gino menatap Alex sejenak "Kamu kan selingkuhannya mbak Dita itu Yo, waduh! beraninya, gak bahaya tah! " cela Gino menyindir Alex


Alex terdiam membisu melihat Gino, gagal sudah rencananya tuk men dapatkan Zahra.


"Siap pak! ayo keluar pak, kita udah gak ada urusan lagi disini, " ajak Gino, di balasnya denga anggukan kepala oleh Devan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tunggu! " panggil Devan, Gino pun berhenti dan menoleh ke arah Devan yang sedang menghampirinya.


"Bagaimana kamu tahu, kalau perusahaan saya sedang mengalami masalah? " tanya Devan


"Saya dengar dari pak Jefri, beliau menelfon saya jika perusahaan ada masalah pak, " jawab Gino menatap ke arah Devan.


Gino memang sudah mengenal pak Jefri sejak dia masih menjadi staff di kantor itu. "Papa saya bilang apa ke kamu?" Devan mencecar Gino dengan pertanyaan, ingin mengetahui sedekat apa Gino dengan papanya itu.


"Nggak kok pak, beliau hanya meminta saya menolong bapak, " jawab Gino gugup.


Devan mengangguk mengerti. "Sekali lagi, terima kasih ya..., kamu bukan hanya nolongin saya, tapi juga menolong masa depan semua karyawan di kantor saya, " Devan tak ada hentinya mengucapkan terima kasih pada Gino.

__ADS_1


"Sama-sama pak, " jawab Gino, dia senang bisa membantu Devan.Kalau dulu Devan yang membantu dia, kini dialah yang gantian balas semua perbuatan baik Devan pada dirinya.


*FLASBACK ON*


"Pergi kalian dari rumah ini! " usir ibu pemilik kontrakan, Gino dan keluarganya sudah menunggak uang kontrakan selama tiga bulan.


"Tolong Bu, berikan saya waktu.., saya janji, kalo ada uang tak lunasi kontan Bu, gajiku untuk biaya operasi ayah tadi, " mohon Gino mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Itu bukan urusan saya, waktunya bayar ya bayar, nunggak terus! pokoknya, kalo nggak bayar sekarang, pergi dari kontrakan saya! " bentak ibu pemilik kontrakan dengan tatapan


nyalang.


"Saya akan membayar lunas uang kontrakan mereka, " celetuk Devan tiba-tiba datang.


"Mana cepat! tiga juta! " gertak ibu pemilik kontrakan itu, Devan memberikan sejumlah uang di dalam amplop kepada ibu pemilik kontrakan itu.


Ibu pemilik kontrakan sibuk menghitung uang dalam amplop "Uangnya lebih lima juta Pak, " kata ibu pemilik kontrakan itu, berniat mengembalikan sisa uang kontrakannya.


"Anggap aja itu untuk membayar uang kontrakan bulan depan, " tukas Devan.



"Ya udah, kalau gitu saya permisi dulu semuanya, " pamit ibu itu berlalu pergi meninggalkan mereka semua yang disitu.


Gino hendak menghampiri Devan, namun Devan mengangkat tangannya ke depan menghentikan Gino "Tidak usah berterima kasih pada saya, " kata Devan tanpa menoleh Gino. Devan pun bergegas pergi dari rumah Gino.


*FLASHBACK OFF*


Devan mengulum senyum ke Gino "Saya tulus menolongmu waktu itu, " ucap Devan,ia tak mengharap balasan apapun dari Gino, karna telah menolong Gino pada waktu itu.



"Dulu bapak benci sekali ucapan terima kasih, tapi nggak ada hentinya bapak berjasa buat keluarga saya, " tukas Gino, tak pernah lupa siapa yang menolongnya di saat susah.


"Dulu saya sulit sekali berkomunikasi dengan banyak orang ..., semenjak bertemu Zahra, saya menemukan jati diri saya kembali setelah di tolak Viola.hanya Zahra yang berani melempar saya dengan sepatunya " Devan tertawa sendiri mengingat awal pertemuan dirinya dengan Zahra.


"Zahra mah orangnya sedikit absurd Pak, " timpal Gino ikut tersenyum mendengarnya

__ADS_1


_Bersambung_


"


__ADS_2