ZAHRANA

ZAHRANA
melawan preman


__ADS_3

Zahra tak berhenti mencari bukti, bahwa dirinya tidak bersalah. Perasaan kecewanya menantang Zahra untuk melakukan semua ini sendiri.


Bagaimana tak kecewa, orang yang sangat dia cintai sama sekali tak mempercayainya sedikitpun.Zahra sedang duduk di bangku taman sendirian, dia memutar otak dengan keras untuk mendapatkan CCTV gedung hotel tempat di adakan pesta di malam itu. Zahra yakin, CCTV itu menunjukkan semua kebenarannya.


"Aku akan membantumu, "tukas seseorang yang berada di belakang. Zahra yang semula menyandar di bangku taman, merubah posisi menegakkan tubuhnya.Dia menoleh ke arah belakang.


"Alex? Sedang apa kamu disini? "tanya Zahra mengernyitkan dahinya.Entah, sejak kapan pria itu sudah berdiri di belakangnya.


"Ya, ini aku ...aku bersedia membantumu. Nggak mungkin kamu lupa jika aku dan Ulfa yang menghandle acara pesta ulang tahun adikku sendiri, " jawab Alex dengan muka datar.Entah ada angin apa, Alex tiba-tiba ada di belakangnya.


Zahra semakin bingung, mengapa Alex terlihat sekali ingin membantunya.Padahal, Alex belum sama sekali mengenal Zahra.


"Kenapa kamu ingin sekali membantuku? kamu bahkan tidak mengenalmu? " tanya Zahra lagi.Dirinya penasaran sekali, Alex bersikap baik kepada dia yang baru kenal.


Alex tersenyum simpul, ia duduk di sebelah Zahra, "Tidak, aku hanya ingin membantumu saja, " jawab Alex sembari membakar rokoknya, menghisap dalam-dalam dan menyembulkan ke udara.Asap rokok Alex membuat Zahra sesak untuk bernafas.


Tak ada salahnya jika Zahra setuju, dia membutuhkan bantuan Alex untuk saat ini. "Baiklah...." ujar Zahra Alex tersenyum simpul.


"Tidak ada yang gratis nona...sebagai imbalan, kamu harus kerja di kantorku sementara ini. Bagaimana? apakah kamu setuju? " tanya Alex meminta Zahra memikirkannya lagi.


Mendengar itu, Zahra tentu kaget bukan main.Bagaimanapun juga, dia masih tetap tunangan Devan.Tujuannya saat ini, untuk membuktikan pada Devan jika dirinya tak bersalah.Dia tidak mau dengan adanya Alex, urusannya akan semakin panjang.


"Tidak! aku bisa sendiri mendapatkan CCTV itutanpa perlu bantuanmu... aku pikir kamu tulus membantuku, ternyata malam membuat semuanya menjadi rumit! "


Zahra kesal mendengar syarat yang di ajukan Alex. Dia berdiri dari tempat duduknya.Kemudian, pergi tinggalkan Alex sendirian di taman


"Ck! dasar angkuh! " gerutu Alex mendecak sebal.Dia tak menyangka Zahra menolaknya. Jarang sekali dia menawarkan bantuan tanpa diminta seperti ini.Tapi gadis itu, sengaja melewatkan kesempatan emas yang Alex berikan.


\=\=\=oooOooo\=\=\=


Zahra datang ke gedung hotel itu. Dia akan ngecek sendiri, tanpa sepengetahuan staff dan karyawan hotel. Zahra menyamar jadi cleaning service di hotel itu, ia akan masuk ke ruang CCTV ketika petugas keamanan pergi.

__ADS_1


petugas keamanan itu memperhatikan gerak-gerik Zahra yang sedang menyapu lantai.Tiba-tiba saja, perutnya mendadak sakit.Dengan terpaksa, dia harus meninggalkan ruang CCTV itu.


"Kesempatan emas..." batin Zahra tersenyum simpul.


Zahra mengambil kunci yang di letakkan di sebuah meja.Dia berusaha membuka pintu ruangan itu.Setelah pintu berhasil terbuka, Zahra segera masuk sebelum ketahuan.



\=\=\=oooOooo\=\=\=


Zahra mengecek komputer untuk mencari rekaman CCTV tepat di tanggal ulang tahun Abi.


Zahra terkejut melihat Friska dan Hilda mencampuri obat ke dalam gelas minumannya.Friska juga yang beritahu Devan, jika Zahra sedang berduaan dengan Alex.


"Jadi...ini ulah mereka berdua! liat aja nanti, pelajaran apa yang akan aku berikan untuk dua manusia ular itu! " Zahra membatin kesal dalam hati.


Yang lebih mengejutkan lagi, saat Devan turun dari mobil melihat Zahra pingsan.Di gendongnya Zahra hingga ke dalam mobil.


Dengan cepat secepat mungkin Zahra bergegas keluar dari ruangan itu.Lalu, mengunci ruangan itu sebelum petugas keamanan itu datang.


\=\=\=oooOooo\=\=\=


Zahra mengganti pakaiannya. Dia cepat menemui Devan di kantornya.Walau Devan marah padanya, dia harus membuktikan bahwa tidak niatan sama sekali untukberkhianat pada Devan.Dirinya bukanlah mahluk lemah yang bisa di tuduh seenaknya.


\=\=\=oooOooo\=\=\=


"Hey tunggu! " Seorang pria paruh baya memanggil Zahra. Dia adalah orang suruhan Hilda dan Friska untuk menghancurkan bukti apapun yang Zahra bawa.


Langkah Zahra terhenti, pria paruh baya itu merebut ponsel Zahra.Tak tinggal diam, Zahra memegang erat ponsel itu.Dia tidak akan pernah membiarkan siapapun juga menghancurkan bukti yang ada di ponsel itu.


"Berikan ponsel itu padaku! " bentak pria paruh baya itu, melotot ke Zahra.Bukannya takut, Zahra malah menertawai pria itu.

__ADS_1


"Kenapa tertawa? kamu tidak takut padaku? " tanya pria paruh baya itu keheranan.Baru kali ini, dia di tertawai oleh seorang perempuan.


Zahra terus tertawa terbahak-bahak buat pria itu semakin bingung. "Gimana aku takut.. aku aku malah takut melihat ulat bulu yang ada di bajumu tuan! " jawab Zahra cekikikan.


Mungkin, semesta sedang berpihak pada Zahra.Dirinya melihat seekor ulat bulu jatuh mengenai punggung pria itu.Zahra sengaja membiarkannya, agar dapat lari dari pria paruh baya itu.


Pria itu jelas merasa geli.Dia melompat kesana-kemari membuat Zahra makin keras tertawa. "Huh! keliatannya aja garang...sama ulat bulu aja takut! "Zahra meledek pria itu sembari berkacak pinggang.


"Tolong! ambilkan ulat bulu itu dari bajuku! sebelum badanku gatal semua! " teriak pria itu menggeliat- liat karna badannya sudah gatal.


"Ok! tapi kamu harus ngaku...siapa yang menyuruhmu mengambil ponselku! " tukas Zahra.Dia mencari kesempatan agar pria itu mengakui semua kejahatannya pada Zahra.


"Hilda dan Friska! mereka yang meminta aku untuk mengambil ponselmu.." jawab pria itu.


Dia terus menggeliat-geliat, tubuhnya sudah panas dan gatal karena ulat bulu itu sudah masuk ke dalam bajunya.


Zahra mengepalkan tangan.Begitu tega Friska melakukan ini, tak cukup hanya memfitnahnya saja.Zahra berlalu pergi tanpa mempedulikan pria itu lagi.


"Hey! tolong aku! semua tubuhku sudah memerah dan gatal semua! " panggil pria itu melambaikan tangannya.


Dari kejauhan Zahra menoleh.Dia sengaja menjulurkan lidahnya ke pria paruh baya itu. "Makanya! jangan main-main denganku! tau sendiri kan akibatnya! " teriak Zahra dari kejauhan.


"Dasar! wanita memang selalu benar! " pria itu ngedumel terus sembari menggaruk-garuk punggungnya.


Zahra hanya tertawa kegirangan Dia bukan hanya memberi pelajaran pada Friska, tapi juga pada pria itu.


Pria itu memberi tahu Friska dan Hilda jika gagal menghancurkan ponsel Zahra. "Apa! bagaimana bisa gagal! "Friska mengamuk.Kegagalan pria itu, pasti akan membuatnya di pecat dari kantor.



"Maaf bos...ini semua gara-gara ulat bulu aneh itu " jawab pria itu menunjuk ke arah ulat bulu yang sudah di injaknya tadi.

__ADS_1


__ADS_2