#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
10.


__ADS_3

"Ehehmmm." Kinanti berdeham, ketika makan malam baru akan dimulai.


Mirah yang sedang mengambilkan nasi serta lauk untuk Sang Anak juga suaminya, kemudian melirik kearah gadis kecil itu. Begitupun dengan Bara Sang Ayah.


"Ma." panggil lembut Kinanti pada Sang Ibu.


Mirah yang sudah selesai mengambilkan kedua orang terkasihnya itu menu untuk makan malam, kemudian dia duduk di bangku dan mendekatkan telinganya kearah Sang Anak, seolah wanita itu sudah tahu maksud panggilan Sang Anak dengan nada yang lembut.


"Heummm." jawab berdeham Mirah sambil mendekatkan telinganya, juga menyampirkan helaian rambut ke belakang telinganya.


"Mama. Jail ihhh." ucap Kinanti dengan wajahnya yang agak kesal, karena melihat tingkah Sang Ibu yang memang jahil.


"Hehehehe. Apa sayang? Kamu ya, kalau udah ada maunya. Pasti deh, nadanya lembutttt banget, kayak pengharum baju." jawab Sang Ibu yang kemudian sudah kembali ke posisi normalnya.


Kinanti lalu menaruh kedua tangannya diatas meja dengan posisi terlipat.


"Ma. Hari ini hasil ujian MIPA Kinan udah dibagi, trusss aku dapat nilai 100. Jadi, boleh Kinan minta hadiah?" ucap Kinanti mencoba peruntungannya.


Mirah lalu menaikkan satu alisnya.


"Wahhh. Selamat ya nak. Terimakasih atas kerja kerasmu.Tapi inget, jangan sombong dan terlalu percaya diri dulu. Oke? Mmm, sejak kapan ya? Anak Mama minta sebuah hadiah, karena ulangannya selalu dapat nilai bagus. Bukannya perjanjian kita, kalau kamu selalu ranking 1. Baru bisa minta 1 permohonan." ucap Mirah sambil mengelus belakang kepala anaknya.


Bara hanya memantau percakapan dua perempuan favoritnya itu, sambil menikmati makan malamnya tanpa berkomentar.


"Mmm, kalau gitu. Kinan minta hadiah rankingnya sekarang aja ya Ma. Besok pas kenaikan kelas. Kinan nggak bakal minta hadiah lagi. Boleh ya Ma? Hehhhhummm?" ucap Kinanti sambil merengek.


Mirah yang baru saja mengambil alat makannya dan bersiap untuk memulai menikmati makan malamnya, kemudian diletakkan kembali alat makan tersebut. Satu tangannya di taruh diatas meja makan dengan terlipat, satu lagi tangannya mengelus pipi Sang Anak.


"Hemmmm. Tumben banget anak Mama manja sekali. Ada apa Kinan? Heum?" ucap Mirah.


Ternyata Kinan menyembunyikan surat ijin kamping dari sekolahnya, disaku celana pendek yang dikenakannya.


"Sabtu - Minggu ini, sekolah ngadain kamping buat anak kelas 3 - 6 Ma. Trusss, ini surat ijinnya. Waktu semester 1 kan, aku nggak boleh ikut. Tapi yaang sekarang Kinan, pengen banget ikut Ma. Aku kan udah 8 tahun, jadi udah gede. Teman - temanku semua ikut Ma. Masa sekarang, aku nggak boleh ikut lagi? Boleh ya Ma?" jelas Kinanti dengan memainkan jemarinya dibawah meja.


Mirah kemudian mengambil surat ijin tersebut dan membaca dengan teliti. Setelah selesai membaca, Mirah kembali melipat surat tersebut. Lalu melirik Sang Suami.


"Gimana Pa? Apa sekarang, Kinan boleh ikut acara kamping sekolahnya?" tanya Mirah kepada Bara.


Bara yang sedang minum, kemudian dengan cepat menyelesaikan tegukan terakhirnya. Lalu bersandar di dinding kursinya.

__ADS_1


Pri muda itu, lalu mengambil kertas yang berada di tangan Sang Istri dan membacanya dengan seksama.


Setelah itu masih dengan lembar kertas yang terbuka Bara melirik kearah Kinanti yang sudah memasang wajah harap - harap cemas.


"Mmm, kalau Papa sih boleh. Bener kata Kinan. Sekarang gadis kecil Papa, udah nggak kecil lagi. Buktinya, udah nggak mau di gendong lagi. Nilai - nilainya juga bagus banget? Asal tetap harus berhati - hati. Ma, lagian ini acaranya cuman 2 hari. Kita juga bisa nemenin Kinan, dengan nginep di villa kita. Ya kan?" jelas Bara sambil juga membujuk Sang Istri.


Mirah kemudian memainkan jemarinya diatas meja, sambil berpikir.


Kinanti sekarang menatap lekat wajah sang Ibu, dengan mata berbinar dan memelasnya.


Wanita muda itu kemudian menarik napas pendek.


"Oke. Mama ijinin. Tapi, Mama sama Papa ikut ke sana, buat jagain kamu." jelas Mirah dengan wajahnya yang sudah didekatkan kearah Kinanti.


Senyum merekah terkembang di wajah gadis berkulit putih gading itu.


"Yeeeaaayyy. Makasi Ma, Pa. Cup. Cup." teriak Kinanti sambil kemudian berdiri kegirangan dan mencium kedua orang tuanya.


Bara kemudian mengerlingkan matanya pada Sang Istri, sebagai rasa terimakasih atas ijin Mirah pada Sang Anak.


Mirah pun tersenyum sambil melihat kearah Kinanti yang masih mengumbar senyum cerianya.


...----------------...


"Kinan." teriak seorang temannya.


Kinan yang baru turun dari mobilnya, tersenyum. Temannya langsung menghampiri gadis kecil itu.


"Selamat Pagi Om, Tante." sapa anak itu.


Bara dan Mirah yang sedang membantu Kinanti menurunkan tasnya, kemudian menoleh kearah asal suara.


"Selamat Pagi Rasti. Kamu cantik sekali dan sangat berwarna?" ucap Bara.


"Iya sayang dan kamu harum." ucap Mirah menambahkan saat memuji gadis tinggi besar itu.


Rasti yang menerima pujian dari dua orang dewasa di depannya, lalu tersipu malu.


dengan senyumnya yang manis.

__ADS_1


"Makasi Om, Tante. Kinanti juga cantik. jawab Rasti dengan malu - malu dan menoel tangan sahabatnya itu.


Lalu Mirah menyerahkan tas gendong Kinanti juga sebuah tas jinjing. Wanita muda itu lalu berjongkok di depan Sang Anak.


"Kamu harus selalu perhatiin aba - aba dari Ibu Erika juga guru yang lain, jangan pergi kemana - mana sendiri. Minimal berdua sama Rasti. Kalau ada apa - apa, langsung minta bantuan sama guru, satu lagi, Mama sama Papa ada di villa nanti, nggak sampe 5 menit buat bisa ke lokasi kamping kalian. Langsung hubungi kami, kalau ada apa - apa. Oke nak?" nasihat Mirah panjang lebar pada gadis kecilnya.


Kinanti lalu memeluk Sang Ibu.


"Iya Ma. Kinanti inget semuanya." jawab Kinanti sambil mengelus punggung Sang Ibu.


Mirah memeluk Kinanti dengan erat sebelum akhirnya dilepaskan dan memandang sekali lagi wajah Kinanti sambil tersenyum.


"Papa belum dikasih kiss goodbye nya. Mana?" ucap Bara yang juga kemudian berjongkok sambil memejamkan mata dan menyerahkan sebelah pipinya.


Kinanti lalu memutar bola matanya dan berjalan kearah Sang Ayah.


"Cup. Kinanti pergi kamping dulu ya Pa." ucap pamit Kinanti sambil mengecup singkat pipi Sang Ayah.


Bara kemudian membuka matanya dan memandang wajah Kinanti sambil tersenyum.


"Iya sayang. Mama sama Papa selalu ada di dekatmu. Rasti, titip Kinanti ya, dan kamu juga selalu hati - hati ya." jawab Bara pada Sang Anak dan juga memberi sedikit nasihat pada Rasti sambil juga membelai lembut rambut gadis tinggi tersebut.


Gadis tinggi besar itu kemudian menjawab,


"Pasti Om. Badan aku kan lebih besar dari Kinan, pasti aku jagain." jelas Rasti percaya diri.


"Ya udah. Ma, Pa. Kita naik ke bus dulu. Papa nyetirnya yang hati - hati ya. Sampe ketemu disana. Bye. Yuk Ras." ucap Kinanti sambil berlalu dan melambaikan tangan kearah kedua orang tuanya yang sudah berdiri


"Aku juga pamit ya Om, Tante." ucap Rasti juga sambil mencium tangan Bara dan Mirah.


Lalu kedua anak kelas 3 SD itu berlari kearah bus sekolah yang akan mengantar mereka ke bumi perkemahan, tempat mereka akan menginap selama 2 hari 1 malam itu.


Mirah mendekat kearah Bara. Lalu Bara memeluk sang Istri dari samping, sambil mata mereka menatap kearah gerombolan anak - anak sekolah Kinanti beserta para orang tua yang juga mengantar kepergian anak - anak mereka.


"Hehmmm. Nggak kerasa ya Pa, anak kita ternyata udah gede. Mama kangen, masa - masa dia masih bayi dulu." ucap Mirah yang kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Bara.


"Hehehehehe. Iya Ma, mulai sekarang kita jangan terlalu mengekang Kinan. Kita harus membimbing dia jauh lebih bijaksana, agar dia nggak merasa dikekang...!" jelas Bara.


Mirah pun mengangguk pelan. Mereka terus melihat kearah anak - anak itu, hingga bus - bus yang mereka tumpangi akhirnya mulai bergerak.

__ADS_1


Kedua orang tua Kinanti pun, mengikuti dari belakang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2