#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
11.


__ADS_3

Beberapa mobil hitam mewah, beriringan berjalan menyusuri perkebunan teh yang sangat luas. Di salah satu mobil tersebut, Darius sedang duduk dengan memandang keluar, terkagum dengan hamparan karpet hijau di depan matanya.


Mobil - mobil itu terus berjalan, hingga masuk ke sebuah halaman sebuah villa yang sangat besar, luas dan juga megah. Villa itu dikelilingi oleh perbukitan juga kebun teh yang sempat dilihat oleh Darius tadi.


"Silahkan Den." ucap seorang penjaga yang sudah membuka pintu mobil untuk anak lelaki tinggi itu, ketika mobil tersebut sudah terparkir di halaman villa.


Secara perlahan Darius keluar dengan wajahnya yang masih terkagum dengan pemandangan di sekitarnya.


Dengan langkah pelan, anak itu mulai menaiki tangga villa milik keluarganya itu.


Pintu depan tiba - tiba terbuka.


Krrrieeettt...


Suara pintu kayu yang cukup khas, dengan beberapa pelayan sudah berjajar untuk menyambut Darius.


"Selamat Datang Den Darius. Saya dengan Sulastri, saya kepala pelayan di villa ini. Mari Den, saya antar ke kamar." jelas Ibu Sulastri.


"Terimakasih Bu." jawab sopan Darius yang kemudian mengikuti langkah wanita agak tua itu.


Pandang mata Darius bergerilya ke segala arah di setiap sudut villa itu, sekelebat sebuah kenangan di masa kecilnya mulai muncul. Langkahnya terhenti, ketika dilihat sebuah pigura yang memajang foto keluarganya.


Darius kemudian membalik badannya, guna menatap dengan jelas foto itu.


Senyum tipis muncul di wajahnya.


"Hai Mom, Dad. Aku datang. Miss you guys." ucap Darius.


Setelahnya anak lelaki itu melanjutkan langkahnya dan menaiki sebuah tangga, menuju ke lantai dua bangunan itu.


Ibu Sulastri lalu membuka pintu sebuah kamar yang sangat luas dengan interior klasik nan mewah, yang menghiasinya.


"Hemmm, sudah sangat lama." batin Darius sambil melihat ke seantero kamarnya.


"Den Darius, silahkan beristirahat dulu, jika ada yang ingin aden makan, minum atau apapun keperluan yang Den Darius inginkan. Tinggal memencet tombol ini, kami akan segera menghampiri aden. Para penjaga juga akan ada di depan kamar Den Darius untuk melakukan penjagaan, bukan untuk mengekang gerak aden selama ada disini. Namun, kemanapun Den Darius ingin pergi harus dikawal oleh mereka. Ini perintah Tuan Mauris dan satu lagi Den, Tuan Mauris paling cepat baru akan datang besok lusa. Beliau berpesan..." penjelasan Ibu Sulastri yang panjang lebar itu terpotong.


"Agar saya tidak bertindak ceroboh. Selama Kak Mauris belum datang. Betul kan Bu?" lanjut Darius sambil kemudian melihat kearah wanita agak tua itu dengan senyum ramah yang terkembang di wajah putihnya.


Senyum tipis terkembang di wajah Ibu Sulastri.


"Baik. Saya pikir, Aden sudah mengerti semua permintaan Tuan Mauris. Kalau begitu saya permisi dulu Den. Sekali lagi selamat datang dan selamat menikmati waktu bersantai di villa ini." ucap Ibu Sulastri, lalu wanita itu langsung keluar dari kamar Darius.


"Terimakasih Bu." jawab Darius setelah Ibu Sulastri tidak ada di kamarnya lagi.


Perlahan anak lelaki itu berjalan menuju pintu kaca, yang akan membawanya ke balkon kamar mewah itu.


Setelah sampai di dinding pembatas balkon, dipejamkan kedua matanya dan dihirup dalam - dalam udara yang menyejukkan disekitar kawasan hijau itu.


"Hah, segar sekali. Wah..." pekik Darius yang merasa sangat tenang juga bebas.

__ADS_1


Dinikmati udara serta keheningan sesaat di sekitar villa itu, karena tiba - tiba telinganya mendengar suara riuh rendah dari sebuah tempat yang cukup dekat dengan villanya.


Suara riuh itu bergema, hingga kedua mata Darius terbuka karena penasaran dengan suara tersebut.


Lalu dengan cepat Darius keluar kamar dan menuruni tangga dengan agak cepat.


Dua penjaga yang sudah berjaga di depan pintu kamar anak lelaki itu, kemudian mengikuti langkah Darius.


Setelah melewati anak tangga terakhir, Darius langsung membuka pintu villanya dengan terburu - buru, hingga dia tidak menyadari kehadiran Ibu Sulastri yang baru akan menuju kamarnya dan menghentikan langkahnya di dekat tangga karena melihat tingkah majikan kecilnya.


"Den..." teriak Ibu Sulastri.


Namun teriakannya tidak terdengar oleh Darius yang sudah melesat kearah pintu keluar.


"Ck, mau kemana dia?" gumam Ibu Sulastri yang sangat khawatir.


Sedangkan Darius sendiri, kini sudah ada di halaman villa tersebut.


"Antar saya ke asal suara - suara itu." pinta Darius pada pengawalnya.


Semua pengawal lalu saling bertatapan, karena sedikit bingung.


Darius yang sudah berjalan ke dekat pintu mobilnya dan membuka pintu tersebut, namun tidak bisa karena masih terkunci.


"Ayo, cepetan." pekiknya.


Seketika semua penjaganya berhamburan ke pintu mobil mereka masing - masing, juga membuka pintu mobil untuk Darius.


"Cari bumi perkemahan terdekat." perintah Darius alih - alih menjawab pertanyaan dari Si Penjaga.


Lalu dengan segera para penjaga di mobil Darius mengangguk dan semua mobil, kemudian berjalan mencari bumi perkemahan yang jaraknya terdekat dari villa itu.


Tidak butuh lama, Darius juga para penjaganya sudah sampai di sebuah bukit.


Darius yang sedari tadi sudah membuka jendela, untuk bisa mendeteksi suara riuh itu kemudian memerintahkan agar mobil berhenti.


"Stop." pekiknya.


Lalu dengan tiba - tiba semua mobil terhenti.


Darius kemudian turun dan pandangan mata yang tertuju kearah bawah bukit tempat dia berhenti adalah sebuah lembah, yang juga merupakan sebuah bumi perkemahan.


"Den, apa kita akan turun ke sana?" ucap penjaga tadi.


Darius menggeleng.


"Tidak. Kita disini saja. Saya hanya ingin melihat aktivitas mereka dari jauh." jelas Darius dengan mata berbinar dan senyum yang terkembang.


...----------------...

__ADS_1


Rombongan sekolah Kinanti akhirnya sampai di Bumi Perkemahan Lembah Pelangi. Setelah semua siswa turun dan juga berbaris sesuai dengan kelas mereka masing - masing. Para wali kelas, kemudian mulai meng absen siswa didiknya satu per satu.


Kinanti sedari turun dari bus sekolah hingga sudah berbaris, tidak henti - hentinya mengagumi pemandangan perbukitan yang terhampar di sekelilingnya.


Lalu pandangan matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Darius yang sedang berdiri dan juga memandang lurus kearah matanya.


Degh...


Degh...


Degh...


Suara debaran jantung Kinanti.


"Kenapa aku deh - degan?" batin Kinanti saat matanya dan Darius masih saling bertaut dengan sesekali berkedip.


"Kinanti Bulan Putri Bara." panggil Ibu Erika pada Kinanti saat mengabsen kelasnya.


Namun tidak ada jawaban dari Kinanti karena pandangannya masih tertuju pada Darius.


"Kinan. Heh, Kinan." dorong Rasti pelan yang berdiri di belakangnya.


"Hah? Kenapa - kenapa Ras?" ucap Kinan yang akhirnya tersadar akibat goyangan dari Rasti dan kemudian menatap kebelakang tubuhnya.


"Absen, kita lagi absen." bisik Rasti sambil menunjuk ke arah Ibu Erika.


"Kinanti? Kenapa kamu malah bengong nak?" tanya Ibu Erika dari depan.


Gadis kecil itu langsung membalik kembali tubuhnya menghadap ke depan barisan, dengan wajah terkejutnya.


"Ma, maaf Bu." jawab Kinanti terbata kemudian.


"Hehmmm, ingat semuanya. Kalian harus tetap konsentrasi ya, karena ini alam liar. Jadi apapun bisa terjadi, mengerti semua? Kinanti mengerti?" jelas Ibu Erika dengan napas panjangnya dan kemudian bertanya kembali pada semua murid termasuk Kinanti.


"Mengerti Ibu Erika." jawab semua teman Kinanti.


"Mengerti Ibu Erika." jawab Kinanti sambil menunduk, karena merasa malu juga bersalah.


Lalu Ibu Erika melanjutkan mengabsen semua siswa kelasnya hingga selesai.


Setelah itu, Kinanti beserta teman - temannya melakukan pembagian tenda.


Disisi Darius, anak lelaki itu saat matanya dengan mata Kinanti bertemu juga merasakan debaran jantung yang sama.


Degh...


Degh...


Degh...

__ADS_1


"Siapa dia?" batin Kinanti dan Darius bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2