
Kei sudah selesai mandi, dia mengusap seluruh tubuhnya yang sangat kekar dan terukir sempurna. Lalu dia melingkarkan handuk ke pinggangnya, pria muda itu berdiri di depan wastafel kamar mandi. Dilihat wajahnya di depan cermin tersebut.
"Kamu harus bisa mengontrol dirimu malam ini, Bams. Jangan sentuh Dita lebih. Hanya tidur, hanya tidur berdampingan...," gumam pada dirinya sendiri.
Ditarik napasnya, lalu dihela napas kemudian. Kei membuka pintu kamar mandi itu, dengan rambutnya yang masih lembab dan agak basah, matanya kemudian membulat. Dilihat Dita menunggunya dengan pakaian tidur yang dikenakannya, berupa baju t - shirt kebesaran tanpa celana sebagai bawahannya kulit agak putih namun mulus wanita muda itu dengan jelas. Senyum lebar Dita lalu terkembang di wajahnya, dia berdiri dan berjalan mendekati Sang Kekasih. Tanpa tongkat pembantunya, dia berjalan dengan tangan yang mencoba meraba - raba.
Kei langsung berjalan mendekat dan meraih kedua tangan Dita, diletakkan perlahan di dada bidangnya yang belum di tutupi oleh sehelai benangnya.
"Kei, hanya ada baju kakakku, semoga muat di kamu, tapi kita harus obati lukamu dulu ya. Ayo...," ucap Dita yang sudah menggenggam tangan Keo dan menariknya perlahan kearah sofa.
Pria muda itu berusaha menahan semua hasrat yang sedang bergejolak di sekujur tubuhnya.
Diikuti langkah Sang Kekasih, hingga sampai kembali di sofa ruang keluarga Dita.
Kemudian Kei, mengambil kotak P3K yang ada diatas meja dan sebuah cermin yang sudah disiapkan wanita cantik itu.
Agak mengernyit Kei, berusaha mengobati lukanya. Dita pun hanya terdiam disamping Kei, menemani pria itu.
Setelahnya, pria muda itu berdiri dan mengambil pakaian yang juga sudah disiapkan oleh Dita.
Kei berpindah tempat, saat akan mengganti handuknya.
"Aku sudah selesai...," ucap Kei yang sudah kembali duduk di samping Dita
Senyum Dita terkembang, lalu wanita muda itu meraba wajah Sang Kekasih, memastikan luka - luka di wajah Kei terobati dan memakai plester luka.
"Oke. Kamu sudah siap untuk tidur?" jawab dan tanya Dita dengan senyum lebarnya.
"Ehem, siap...," jawab Kei agak gugup.
__ADS_1
Tawa kecil Dita terdengar.
"Hehehehe. Ayo, aku juga udah ngantuk...," ucap Dita yang kemudian kembali menarik tangan Kei.
Namun, Kei menahannya. Dita terkejut dan menaikkan kedua alisnya.
"Ada apa?" tanya Dita singkat.
Kei tidak menjawab, melainkan berdiri dan tiba - tiba mengangkat tubuh Sang Kekasih. Dita cukup terkejutnya, lalu dipukul pelan dada bidang Kei.
"Kenapa kamu suka sekali menggendongku? Aku ini bukan bayi, Kei...," ucap wanita muda itu dengan wajah agak kesalnya.
"Kamu memang bukan bayi, tapi kamu ratu. Seorang Ratu tidak boleh terlalu banyak jalan, juga terlalu sering mengotori telapak kakinya. Aku sebagai pemuja dan dayangmu, akan menggendongmu setiap kali ada kesempatan seperti ini...," jelas Kei sambil berjalan kearah kamar Dita.
Sesampainya di ruangan cukup besar itu, Dita dibaringkan perlahan. Lalu Kei berjalan kearah satunya, naik keatas ranjang dan menarik tubuh Dita mendekat kearah dadanya. Satu tangan Kei, dijadikan bantal kepala Dita. didekap cukup erat tubuh Dita, sembari ditarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh wanita kesayangannya itu.
"Kei, kenapa kamu nggak bertanya soal kejadian tadi sore?" tanya Dita yang sudah ada di dekapan Sang Kekasih.
"Kamu sudah siap menjelaskannya? Jika belum ataupun tidak mau, juga nggak apa - apa. Aku sebenarnya sudah curiga dari tingkahmu yang aneh, bahkan sampai minta putus. Tapi, aku juga merasa frustasi, aku merasa bersalah dengan diriku sendiri. Aku merasa sangat mencintaimu, Ta. Bahkan dadaku hampir meledak, jika sehari saja tidak bertemu denganmu. Mendengar pernyataanmu, juga permintaanmu untuk putus membuat aku marah. Dadaku sesak, aku merasa apa perhatianku, rasa khawatirku, dan cinta yang sampai bucin ini, malah membuatmu terkekang? Apa masih ada kekurangan diriku yang masih belum pantas untuk mendampingimu? Dan masih banyak pertanyaan lainnya, yang berseliweran tak karuan di dalam kepalaku. Maaf, sungguh maafkan aku. Mulai sekarang, aku akan lebih mementingkan pendapatmu dan selalu berdiskusi dulu denganmu soal apapun...," jelas Kei.
Dita mempererat pelukkannya.
"Aku hanya merasa rendah diri, Kei. Aku merasa, aku yang tidak pantas menjadi pendampingmu. Banyak kekurangan di diriku tanpa adanya kelebihan. Aku sangat mencintaimu, tapi ada jurang pemisah diantara kita. Aku sudah memutuskan membuat jembatan untuk bisa sampai terus berdampingan denganmu. Maaf, aku tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya, aku tidak mau kamu membenci kedua orang tuamu, jika kamu tau, mereka ingin kita berpisah...," batin Dita.
Kei kemudian memegang dagu Sang Kekasih untuk bisa melihat wajah manis Dita.
"Aku siap kehilangan semuanya, tapi tidak denganmu Dita Kartasasmita. Aku benar - benar akan mati, jika hal ini sampai terulang lagi...," ucap Kei yang kemudian mencium hangat dan panas bibir Dita.
Dita pun menyambut ciuman Sang Kekasih dengan lembut.
__ADS_1
Malam itu mereka habiskan dengan berciuman mesra hingga kemudian keduanya tertidur lelap.
...----------------...
Darius membawa Kinanti ke sebuah museum yang baru saja selesai menggelar perhelatan pameran seni. Kinanti agak bingung. Darius masih terus menggendong Kinanti untuk masuk ke dalam museum seni itu, berjalan ke arah belakang gedung. Lalu masuk ke sebuah gedung lumayan besar, yang terpisah dengan bangunan Museum. Terdapat tulisan di depan pintunya, "Dilarang Masuk".
"Pak, kok Bapak bisa masuk. Tadi kan ada tulisan 'Dilarang Masuk'...," tanya Kinanti di dalam gendongan Darius.
Darius hanya tersenyum tipis. Lalu setelah masuk hingga kebelakang gedung kosong itu, dia membuka sebuah pintu lagi yang didalamnya terdapat tangga putar. Darius naik dengan cukup cepat. Mata Kinanti membulat, ketika dilihat sebuah kamar mewah dengan fasilitas lengkap. Darius membuka pintu kamar itu, dengan sebuah aplikasi yang tersimpan di ponselnya.
Lalu dia berjalan ke sebuah tempat duduk custom yang empuk. Diturunkan tubuh mungil Kinanti disana.
"Kamu tunggu saya sebentar, saya ambilkan kamu minum...," ucap Darius.
Kinanti mengangguk. Darius mengacak pelan rambut gadis mungil itu. Gadis itu kemudian melihat ke sekeliling kamar mewah yang temboknya adalah jajaran kaca besar nan tinggi.
"Kamu minum dulu ya...," ucap Darius yang menyerahkan sebuah gelas berisi air pada Kinanti.
Gadis berambut panjang itu, lalu meminumnya perlahan. Setelah itu diletakkan gelas diatas meja dan perlahan Darius memeluk Kinanti dari arah samping. Gadis itu pun pasrah dan menaruh wajah serta satu telinganya di dada bidang Kinanti.
"Apa begini cukup?" tanya Darius.
"Iya, sangat cukup Pak...," jawab Kinanti.
Senyum lebar Darius terkembang.
"Tapi, Pak. Saya merasa jadi, pelakor. Bapak sudah memiliki pasangan hidup, lalu Bapak sepertinya sangat menyukai Kak Paula. Maaf ya Pak, Bapak benar - benar palyboy. Saya juga merasa kesal, karena merasa nyaman dalam dekapan Bapak...," ucap Kinanti sangat gamblang.
Darius menghela napasnya sesaat. Lalu dia mendorong tubuh Kinanti untuk melihat wajah gadis mungil itu. Ditatap lekat wajah Kinanti, hingga membuat gadis manis itu salah tingkah dan tersipu malu. Tiba - tiba, lagi - lagi ciuman lembut mendarat ke bibir Kinanti. Mata Kinanti membulat. Dia mencoba mendorong tubuh Darius, namun kedua tangan gadis itu ditahan. Darius terus melakukan penyerangan terhadap bibir merekah Kinanti. Hingga akhirnya, gadis itu menyerah dan juga menikmati ciuman lembut Sang Atasan.
__ADS_1
"Kamu, kenapa? Kenapa aku selalu terlena olehmu...," batin Kinanti dengan perasaan yang lagi - lagi tidak karuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...