#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
51.


__ADS_3

Darius sudah memasuki gedung kantor Kobuka, dia membenahi penampilannya sesaat di dalam lift. Hatinya terasa sangat senang hari itu, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kinanti.


"Rambut oke, baju oke. Muka. Ck, selalu oke. Hehm, Kinanti aku datang...," gumam Darius yang memuji penampilannya dan juga dia bersiap untuk bertemu dengan Kinanti.


Ting...


Suara pintu lift yang terbuka, lalu Darius keluar dengan percaya diri. Dia melangkah dengan sambil bersenandung kecil, namun seketika dia berhenti bersenandung juga menghentikan langkahnya. Matanya langsung berputar sesaat, satu tangan dimasukkan ke dalam kantung celana dan memasang wajah angkuh juga datarnya. Dia berjalan dengan tegap, melewati Sarah yang sudah menunggu dengan kacamata hitam yang dikenakan gadis berpenampilan seksi itu. Gadis itu menunggu di salah satu dinding dekat pintu masuk ruang divisi Darius.


"Hei, kamu. Mau kemana? Kenapa jutek gitu sih?" ucap Sarah yang langsung melesat seperti angin ke hadapan Darius.


Kedua alis pemuda itu bertaut, dia terkejut dengan aksi Sarah.


"Sejak kapan gerakan dia segesit itu?" pikir Darius terheran.


Sarah lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Darius. Pemuda itu kemudian berusaha melepas, namun dia juga merasa Sarah sangat kuat juga kokoh.


"Akh, kenapa gadis ini? Kenapa dia begitu kuat?" pikir Darius dengan tangan yang berusaha menyingkirkan kedua tangan Sarah dari lehernya, tapi percuma.


Gadis seksi itu kemudian tersenyum miring, lalu di dorong tubuh Darius hingga menabrak dinding dekat pintu ruang divisinya.


"Akh...," pekik Darius yang merasa sedikit sakit.


"Hei, Kak. Jangan terus - terusan sok jual mahal. Aku sarapan dulu ya...," ucap Sarah sambil menahan tubuh Darius di dinding dan langsung mendorong belakang kepala Darius hingga bibir mereka saling menempel.


Perlahan Sarah mencium bibir Darius, membuat pemuda itu sangat terkejut. Darius berusaha melepas ciuman hangat dan bergairah Sarah. Namun, lagi - lagi percuma. Mereka berciuman, hingga terdengar suara benda terjatuh. Sarah mengehentikan aksi panasnya dan melirik dari lensa kacamatanya. Senyum miring terkembang, Darius mengatur napasnya dan kemudian mendorong tubuh Sarah menjauh.


"Ck, sayang. Sorry, next time. Kita ngelakuinnya di hotel langganan aja ya. Aku udah selesai sarapan, ciumanmu sungguh manis dan nikmat, seperti biasa. Kamu hari ini yang semangat ya. Bye, Kak Darius." ucap Sarah sambil memainkan dasi Darius dengan manja dan berlalu dari hadapan pemuda itu.


Darius lalu menoleh kearah perginya Sarah dengan wajah emosi. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Kinanti dan beberapa staff nya berdiri mematung setelah melihat kejadian panas tadi. Juga dilihat segelas es kopi yang jatuh berserakan.


"Astaga, dia pasti salah paham. Sarah, brengsek. Dasar gadis murahan...," umpat Darius dalam hati, sambil mengusap bibir luarnya.


"Pagi...," sapa Darius berusaha se tenang mungkin.


Beberapa staff hanya mengangguk dan kemudian berjalan melewati dirinya. Sedangkan Kinanti, terdiam di tempatnya. Kemudian dia menunduk untuk membersihkan tumpahan es kopinya. Darius mendekat dan baru akan berjongkok, namun terhenti.


"Saya bisa sendiri, Pak. Silahkan Bapak masuk duluan...," ucap Kinanti tanpa melihat kearah Darius.


Degh...


Degh...

__ADS_1


Lagi - lagi Darius merasa debaran aneh di dadanya.


Namun, kali ini dia merasa sikap dingin dari Kinanti pemicunya.


Darius lalu mengikuti permintaan Kinanti, walaupun dia tau gadis itu dalam keadaan terkejut juga salah paham.


Dia berlalu dari hadapan Kinanti dengan langkah ragu, sesekali dia melihat ke belakang, kearah gadis mungil itu.


"Aku harap kamu mau mendengar penjelasanku, Ki...," gumam Darius.


...----------------...


Dita sedang berada di dalam sebuah kafe yang ramah dengan penyandang disabilitas. Dia duduk sendirian, sambil membaca sebuah buku. Hingga seorang pemuda lumayan tampan mendekati mejanya dan meletakkan sebuah piring berisi sepotong kue wortel. Dita kemudian sedikit menoleh kearah aroma kue itu.


"Maaf, tapi saya tidak ada memesan kue wortel ini...," ucap Dita.


Pemuda itu sangat terkesima. Matanya membulat, mulutnya membentuk huruf O.


"Wow. Kamu hebat, kelebihan kamu pasti di indra penciuman. Kenalin aku James, anak - anak sini biasa manggil aku Jimie. Kamu?" ucap Jimie yang langsung meraih dan menggenggam tangan Dita.


Wanita muda itu, terlihat sedikit terkejut. Saat dia akan melepas genggaman tangan Jimie, namun diurungkannya.


Tanpa melepas genggaman tangan Dita, Jimie kemudian menarik satu kursi dan duduk di sebelah wanita cantik itu.


"Ini bonus buat kamu Dita, karena aku liat hampir setiap hari kamu hanya minum black tea less sugar. Kebetulan ini adalah menu baru kami, jadi anggap aja kamu customer beruntung yang mencobanya. Semoga suka dan satu lagi, bisa nggak kita ngobrolnya jangan terlalu kaku dan formil. Karena kayaknya seumuran...," jelas Jimie detail.


Dita menghela napas sesaat.


"Boleh, tangan saya dilepas dulu...," pinta Dita.


"Eh, sorry. Hehehhe...," jawab Jimie yang lupa akan genggaman tangannya pada Dita.


Tanpa menjawab, Dita lalu meraih gelas teh dan meneguknya.


Jimie memperhatikan dengan lekat setiap gerakan Dita.


"Hehm, diam berarti setuju ya...," ucap Jimie.


Dita menaikkan satu alisnya, sambil menaruh gelas tehnya kembali.


"Soal...," ucap Dita yang bingung mendengar pernyataan Jimie.

__ADS_1


"Ngobrol dengan bahasa santai dan jangan kaku. Tambahannya, aku mau jadi teman kamu....," ucap percaya diri Jimie.


Tawa Dita secara tiba - tiba.


"Hahahaha. Kamu lucu ya, Jimie. Hahahaha...," jawab Dita dengan tawa terbahaknya.


Kini giliran Jimie yang bingung dengan pernyataan gadis berambut agak pendek itu.


"Hah? Apa nya yang lucu Dit?" tanya Jimie.


Dita kemudian menghentikan tawa, sambil kemudian menahannya.


"Iya, baru kenalan sekarang. Sudah kasih saya bonus kue yang kebetulan memang kesukaan saya. Terus, minta jadi temen saya tanpa menunggu jawaban dari saya. Baru pertama kali, saya ketemu orang baru se unik kamu. Ucapan dan penjelasan yang lugas tanpa basa - basi. Menarik...," jelas Dita dengan masih tersenyum.


Tawa kecil terdengar dari arah Jimie.


"Oke. Sorry lagi, aku tanya sekali lagi ya. Mau jadi temen ku?" tanya ulang Jimie.


Dita terdiam sesaat dan kemudian mengangguk perlahan.


"Boleh...," jawab wanita muda itu kemudian.


Jimie terlihat sangat senang, bukan hanya berkenalan dan jadi teman. Dita juga bertukar nomer telepon. Setelahnya mereka berbincang sesaat, sebelum tiba - tiba Kei masuk ke dalam kafe tersebut dan berjalan dengan wajah angkuh dan datarnya ke meja Sang Kekasih.


"Sayang...," panggil Kei yang langsung mencium pipi Dita, setelah menyapanya.


Dita pun terkejut, namun senyum lebar terkembang di wajahnya setelah itu.


"Hei, kok kamu bisa tau aku disini?" tanya Dita.


Kei bukannya menjawab pertanyaan Dita, dia malah menatap tajam kearah Jimie. Pemuda berambut cepak itu, lalu menggeser kursi dan berdiri. Kemudian menjulurkan tangan, pemuda itu pun ingin berkenalan dengan Kei. Pria itu menjabatnya dengan erat, hingga terlihat wajah Jimie menahan rasa sakit.


"Mmm, Dit dan Kei. Kalau gitu, aku balik kerja dulu. Dit, nanti aku kabarin ya...," ucap terakhir Jimie sebelum berlalu dari hadapan kedua sejoli itu.


Dita masih tersenyum memandang kearah suara Jimie.


Sedangkan Kei melihat sekilas kearah Sang Kekasih yang masih terus tersenyum, lalu pria itu memandang kearah Jimie.


"Ck, ada yang nggak beres...," batin posesif Kei.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2