
Eyang Lila, tiba - tiba membuka matanya saat sedang terlelap tidur. Napasnya berderu, dihadapannya terlihat kalung melayang. Lalu wanita tua itu perlahan mencoba bangun dari posisi tidurnya. Matanya memicing dan alisnya berkerut.
"Kenapa? Kenapa ini?" gumam Eyang Lila yang lalu menadahkan tangannya untuk menangkap kalung yang kemudian terjatuh diatas telapak tangannya.
Lalu digenggam erat kalung itu, dengan cepat wanita tua itu menyingkap selimutnya dan menuju ke ruang meditasi untuk menemui Sang Suami, Eyang Kian yang ada di Kahyangan.
Setelah sampai di ruangan yang temaram, Eyang Lila lai menghidupkan beberapa dupa, kemudian dia duduk di atas sebuah bantal dengan kaki bersila. Eyang Lila kemudian membuat posisi untuk tangannya, dipejamkan kedua matanya sambil mengatur napas. Lalu dia mulai memusatkan pikiran. Tidak butuh waktu lama, jiwa Eyang Lila sudah terlepas dari raganya. Masih dengan mata terpejam, jiwanya melesat dengan cepat dan tiba di Kahyangan, lebih tepatnya di depan kediaman Sang Suami. Perlahan dibuka mata Eyang Lila, ketika dia sudah merasakan aura berbeda dari dunia manusia.
Dengan langkah cepat dia menuju untuk membunyikan bel, namun ternyata, Eyang Kian sudah tahu kedatangan Sang Istri.
"Lila sayang, ada apa?" tanya Eyang Kian dengan khawatirnya, setelah menjemput Sang Istri lalu memegang kedua tangan wanita tua itu.
Eyang Lila tidak menjawab, dia hanya membuka telapak tangannya dan memperlihatkan kalung milik Kinanti yang juga jimat pelindungnya.
Eyang Kian cukup terkejut, dengan sedikit melihat ke sekitar, pria tua itu lalu menggiring Sang Istri untuk masuk ke dalam kediamannya. Sesampainya di dalam, Eyang Kian lalu menutup semua pintu yang mengelilingi rumah sederhana dengan sekali jentikan jemarinya. Lalu dia duduk disamping Sang Istri.
"Lila, atur napasmu, tenangkan dirimu. Baru dengan perlahan ceritakan padaku...," ucap lembut Eyang Kian sambil memeluk tubuh Eyang Lila dari samping.
Wanita tua yang masih mengenakan jubah tidurnya, lalu mengikuti semua saran Sang Suami. Setelah dirasa lebih tenang, Eyang Lila mengubah posisi berhadapan dengan Sang Suami.
"Tadi aku sedang tidur dan tiba - tiba saja aku terbangun. Lalu kalung ini, kalung ini melayang dihadapan ku. Kian, ada apa ini? Aku bahkan tidak merasakan ada aura jahat Reo ada disekitar Kinanti. Lalu kenapa, kenapa kalung ini bisa kembali dengan sendirinya?" jelas Eyang Lila, untuk pertama kali terdengar dan terlihat juga raut wajah paniknya.
Eyang Kian dengan satu tangan lainnya, lalu menggenggam tangan Sang Istri dan mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
"Boleh, aku pegang untuk membaca aura kalung ini?" tanya Eyang Kian lembut.
Eyang Lila dengan cepat, lalu memberikan kalung tersebut. Eyang Kian lalu mengambil dan menggenggam kalung tersebut, dilihat sesaat kalung itu, kemudian dipejamkan kedua matanya.
Eyang Lila masih dengan perasaan khawatirnya, menunggu dengan sabar Sang Suami yang sedang mencoba merasakan dan membaca kalung tersebut.
"Akh. Hah. Hah...," Eyang Kian kemudian membuka mata dan merasakan sakit di telapak tangannya, dengan juga napas yang tersengal.
Sang Istri kemudian memegang lengan Malaikat Tua itu dengan wajah yang semakin khawatir.
"Kian, apa? Kenapa? Apa kamu baik - baik saja?" tanya Eyang Lila dengan nada takutnya.
Eyang Kian terdiam sambil membuka genggaman tangannya pada kalung tersebut. Mata Eyang Lila terbelalak ketika dilihat telapak tangan Sang Suami memerah seperti terbakar, sedangkan bentuk kalung tersebut tidak berubah kecuali bandulnya yang berubah menjadi hitam keemasan.
Eyang Kian kemudian tiba - tiba berdiri, alih - alih menjawab pertanyaan Sang Istri. Dia pergi ke dalam salah satu ruangan di dalam rumahnya dan kembali keluar sambil membawa kalung serupa tapi tak sama.
"Lila, pemuda itu. Pemuda itu yang akan membantu menghancurkan kutukan pada Kinanti. Dia belum mengingat siapa Kinanti, namun, dia sudah menaruh hati pada cicit kita. Itu berbahaya, kalung Kinanti ini, berusaha menetralkan suatu kekuatan hitam yang menempel pada pemuda itu, hingga kini kalung itu tidak mampu lagi menanggungnya dan kembali padamu. Ini, aku berikan kalung yang hampir sama, namun kalung ini berfungsi untuk melacak sumber kekuatan hitam pada pemuda itu...," jelas Eyang Kian.
Eyang Lila sedikit bingung dengan penjelasan Sang Suami, sambil mengambil kalung yang diserahkan oleh Malaikat tua itu.
"Kian, bukankah tujuan pemuda itu mengingat Kinanti untuk segera mencintai cicit kita, lalu kutukan itu akan hancur dengan sendirinya?" tanya Eyang Lila.
Eyang Kian menggeleng dan menunduk sesaat memandang kalung asli Kinanti yang sudah berubah wujud.
__ADS_1
"Cinta adalah sebuah hasrat. Cinta bisa memudar seiring berjalannya waktu. Namun ingatan, tidak akan pernah lekang oleh waktu. Sekalipun manusia mengidap penyakit paling mematikan, ingatan alam bawah sadar mereka akan tetap ada. Cinta tanpa ingatan sama dengan kepalsuan. Kutukan Reo, bisa dimusnahkan jika, memang betul pemuda itu yang kita cari selama ini, seharusnya dia bisa mengingat Kinanti dan seiring berjalannya waktu setelah kutukan itu musnah maka cinta baru timbul. Namun, ini yang terjadi kebalikannya. Lila, sebaiknya kamu cepat kembali dan memasangkan kalung ini lagi tanpa sepengetahuannya...," jelas Eyang Kian.
Eyang Lila mengangguk dengan cepat dan dengan jentikan hari Sang Suami. Wanita tua itu sudah menghilang dari hadapannya
"Hehm, Reo kamu memang benar - benar cerdas...," batin Eyang Kian memuji dengan rasa marah di dirinya.
...----------------...
Karla sedang duduk di dalam kamarnya, dia tersenyum sangat lebar sambil melihat beberapa foto yang ada di dalam ponselnya.
"Hehehehe. Kalian sangat mesra. Namun, sebentar lagi, Bams. Wanita murahan, kesayanganmu akan benar - benar membencimu juga meninggalkanmu. Apa yang sudah kamu perbuat padaku, waktu itu akan sekaligus kau bayar dan juga kau akan segera kembali ke pelukkanku lagi...," ucap Karla dengan tatapan tajamnya.
Setelah itu, dia menandai semua foto tersebut dan mengirimnya langsung ke ponsel Ibu Manda, yang tidak lain adalah Ibunda Bams atau yang kini dipanggil Kei. Setelahnya gadis seksi dan berwajah angkuh itu, berdiri sambil kemudian melakukan peregangan pada tubuh ramping nan menggodanya.
"Hehm, ketika kau kembali nanti Bams, akan aku buat kau menjadi lelakiku dan tidak ada lagi yang bisa merebut mu dariku, lalu wanita buta mu itu, akan segera aku singkirkan hingga siapapun tidak bisa menemukan jejaknya. Hehehehe...," gumam Karla dengan tawa menyeringainya.
Dilain sisi, tepatnya di kediaman Keluarga Tio Hartanto, nama Ayah Kei. Ibu Manda yang baru saja selesai memainkan pianonya, mengalihkan pandangan dari bunyi notifikasi di ponsel yang diletakkan tidak jauh dari posisinya duduk.
"Karla...," ucapnya sambil tersenyum.
Namun, senyum itu segera memudar, ketika dilihat pesan yang dikirim oleh gadis yang rencananya akan dijodohkan oleh Sang Anak. Dengan wajah yang menjadi kaku, juga alis yang tiba - tiba berkerut. Wanita cantik paruh baya itu menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Nggak. Ternyata dia gadis pembohong dan juga suka ingkar janji. Aku harus mengambil tindakan...," ucap Ibu Manda dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...