#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
71.


__ADS_3

Dita dan Kei sudah sampai di dalam rumah. Kei menurunkan tubuh Dita perlahan diatas sofa di ruang keluarganya. Lalu pria muda itu duduk disebelah Sang Kekasih. Tangan Dita perlahan meraba lengan lalu naik keatas wajah Kei.


"Akh...," Kei meringis.


Dita terkejut dan kemudian menjauhkan tangannya. Dia juga merasa ada sebuah cairan agak kental di ujung jarinya, lalu dicium cairan itu.


"Darah. Kei, kenapa kamu berdarah? Apa darahnya banyak? Tadi kamu jatuh ya? Kamu juga tadi belum jawab pertanyaanku, ternyata karena kamu memang terluka. Kita ke klinik, kita harus ke...," tanya dan ucap khawatir Dita, sambil dia ingin berdiri.


Tangan Kei menahannya, lalu diusap kepala belakang Dita, didorong kearah wajahnya lalu ciuman lembut mendarat sesaat ke bibir merekah wanita muda itu.


"Mmmoooccchhh. Cup. Aku baik - baik saja, kamu selalu mengkhawatirkan orang lain. Kamu sendiri, gimana? Kepala yang sempat terbentur gimana? Pasti sakit kan? Apa kamu udah periksa ke dokter?" kini giliran Kei yang mencecar.


Dita tidak menjawab apapun, dia terdiam dan langsung memeluk erat tubuh Kei. Gelengan kepala yang kuat diberikan, tanda bahwa dia baik - baik saja. Senyum pria muda itu terkembang, dibalas kemudian pelukkan Sang Kekasih.


"Sayang, aku ingin bertanya hal lain? Tapi, aku rasa ini sudah terlalu malam. Kamu pergi istirahat ya, aku tidur di sofa ini untuk menjagamu. Besok baru kita lanjutkan ngobrolnya. Oke...," jelas Kei, sambil mengelus punggung Sang Kekasih.


Perlahan Dita melepas pelukkannya, lalu dicoba meraih kedua pipi Kei dengan lembut. Dielusnya, dengan senyum yang terkembang.


"Mmm. Di sofa pasti tidak nyaman, bagaimana kita tidur bersama di kamarku...," ucap Dita dengan wajah tersipunya.


Mata Kei membulat. Jantungnya berdebar, walaupun ini bukan kali pertama mereka tidur bersama.


"Kamu yakin, sayang? Nggak pa - pa di sofa juga nyaman, kok...," tanya dan jawab Kei agak ragu.


Dita melepas pegangan tangan di kedua pipi pria muda itu.


"Tentu aku yakin. Malam ini aku nggak mau sendirian ada di ranjang besar itu, ditambah aku merasa sangat merindukanmu setelah pertengkaran hebat kita. Jadi, kamu mau menemaniku?" jelas dan tanya kembali Dita.


Kei meneguk salivanya sekali, lalu dia berdiri secara tiba - tiba.


"A, aku mandi dulu. Tubuhku penuh peluh, kotor dan bau alkohol. Kamu, kamu pergi duluan nanti aku nyusul...," ucapan terbata Kei dan ekspresi kikuknya yang lucu terlihat jelas.

__ADS_1


Pria muda itu lalu berjalan kearah kamar mandi, tawa kecil terdengar dari mulut Dita.


"Hehehehe. Nada suaranya lucu sekali, dia malu - malu. Hehm, aku benar - benar tidak bisa melepaskan Kei. Aku tau, aku sudah mengingkari janjiku. Aku harus siap dengan konsekuensinya...," batin Dita.


...----------------...


Darius yang masih menggendong Kinanti dan berjalan kearah mobilnya, kemudian memegang erat kemeja Sang Atasan dan kemudian menepuk lembut dada Darius dengan ujung jemarinya. Darius kemudian menghentikan langkahnya.


"Ki, kamu kenapa?" tanya Darius lembut.


"Mmm, Pak. Saya sudah baikan, tapi...," ucap ragu Kinanti.


"Tapi...," ucap ulang Darius.


"Saya boleh minta satu permintaan yang sangat - sangat tidak masuk akal dan juga nakal?" tanya Kinanti dengan rasa ragu.


Darius menaikkan kedua alisnya, lalu mengangguk pelan.


Darius menatap sesaat kearah gadis dalam gendongannya, dia terdiam. Kinanti pun merasa kikuk setelahnya, karena tidak keluar sepatah kata pun dari mulut pemuda tampan.


"Maaf, Pak. Saya memang sudah gila. Sepertinya ada yang salah dengan kepalanya, karena dada saya yang nyeri. Saya turun se...," ucapan Kinanti terpotong.


"Mmmoccchhh. Mmmoochhh. Saya bilang diam, ternyata kamu nggak mau diam. Jadi, saya harus nyium kamu supaya kamu diam...," potong Darius yang mencium lembut bibir Kinanti, hingga membuat gadis mungil itu membeku dengan kembali menatap kearah Darius.


Pemuda itu melanjutkan langkahnya, hingga sampai di depan pintu mobilnya. Dibuka kemudian di dudukkan Kinanti di kursi depan.


Lalu dengan cepat ditutup kembali pintu mobil, Darius berlari kecil untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Setelah memakaikan sabuk pengaman pada Kinanti yang masih membeku dan benar - benar diam dan juga dirinya. Mobil Darius keluar dari area Kobuka.


"Saya nggak mau meluk kamu di area kantor. Saya akan membawamu ke tempat lebih nyaman. Tapi, boleh saya pinjam ponselmu dulu...," ucap Darius sambil melirik sesaat kearah Kinanti.


Kinanti kemudian tersadar dari sikap membekunya, masih terdiam, Kinanti mencari ponsel di dalam tasnya. Lalu diserahkan kepada Darius tanpa bertanya apapun.

__ADS_1


Senyum Darius terkembang, diambil ponsel tersebut lalu diacak lembut rambut gadis manis dan mungil disebelahnya.


"Boleh tau, nama panggilan dari Tante Mirah. Kamu simpan apa disini?" tanya Darius setelah meletakkan ponsel itu di gantungan ponsel di atas dashboard.


"Mama. Bapak, mau telepon Ibu saya?" tanya Kinanti dengan bingungnya.


"Tentu saja, saya bawa kamu ke tempat saya. Tentu orang tuamu harus tau, supaya mereka tidak khawatir...," jawab Darius sambil mencari nomer telepon Mirah.


Tutt...


Suara sambungan telepon terdengar seantero ruang mobil.


"Halo sayang. Kamu udah sampe mana?" suara khas Mirah terdengar dari seberang.


"Halo, Selamat Sore. Maaf betul dengan Tante Mirah? Ini saya Darius, Tante...," jawab Darius.


Mirah yang sedang menaruh piring buah untuk Bara pun cukup terkejut mendengar suara pemuda tampan itu, sambil memandang kearah Sang Suami yang duduk di sebuah kursi ruang tamu rumah mereka.


"Oh, halo Darius. Kenapa bisa hp Kinanti ada di Nak Darius? Apa ada sesuatu terjadi pada Kinanti?" tanya khawatir Kinanti.


Bara pun kemudian berdiri tegak, karena pertanyaan dari Sang Istri pad sambungan telepon yang didengarnya.


"Oh, Kinanti baik - baik saja, Tante. Maaf, saya menelepon Tante menggunakan ponsel Kinanti. Saya mau minta ijin, maaf juga atas ketidak sopanan saya, karena meminta ijin melalui telepon. Begini, Tante, saya mau mengajak Kinanti pergi untuk melihat pameran seni dan pulangnya mungkin sedikit terlambat. Apa tidak apa - apa, Tante? Saya usahakan jam 9 malam, paling terlambat Kinanti sudah sampai lagi di rumah..," jelas Darius dengan sangat sopan.


Senyum Mirah terkembang, lalu wanita muda itu duduk dengan perlahan di samping Sang Suami.


"Tentu, Darius. Tante, hanya minta tolong jaga Kinanti dengan baik dan hati - hati dijalan. Tante tunggu di rumah jam 9...," jawab Mirah tegas dengan senyum merekah terukir di wajahnya.


Darius pun tersenyum, Kinanti kembali dibuat terkesima dengan perkataan Sang Atasan juga reaksi Sang Ibu.


"Ini orang, ternyata bisa bicara semanis dan sesopan itu ternyata. Tapi, apa? Pameran seni? Dia bohong sama Mama? Ngapain mau bawa aku ke pameran seni?" batin Kinanti dengan semua rasa penasaran di dalam hatinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2