
Tak...
Tak...
Tak...
Suara sepatu yang berjalan diantara gelapnya sebuah lorong panjang.
Lalu orang itu menghentikan langkahnya, di sebuah pintu gebyok besar dengan ukiran rumit yang menghiasinya.
Grondang...
Krieett...
Bummm...
Suara engsel kunci pintu tersebut setelah digeser, kemudian tuasnya yang diangkat dan daun pintu yang dibuka dengan sekuat tenaga hingga terbentur dinding sebuah ruangan yang dihiasi oleh obor disekelilingnya.
Orang tersebut kemudian berjalan masuk dan melangkah tegap juga tegas ke sebuah cermin bulat besar yang terpajang di dinding ruangan itu.
"Hormat hamba pada master!!" ucap orang tersebut sambil satu kaki yang bersimpuh dan wajah yang ditundukkan.
Tidak lama, sebuah awan hitam pekat muncul dari dalam cermin tersebut.
"Ohhh. Anak didik tersayangku. Mauris" jawab awan hitam itu yang memiliki suara berat juga menggema.
"Bagaimana perkembangan, mangsaku?" tanya awan itu.
Mauris kemudian merubah posisi menjadi berdiri dan melihat sesekali ke arah cermin itu.
"Saya sudah membuat sebuah strategi jitu, untuk menjebak anak itu dan juga kutukan yang telah master tinggalkan, sebagai sebuah hadiah untuknya, juga hadiah untuk keluarga kecil mereka, kutukan itu sangat membantu." jelas Mauris.
Awan tersebut hanya diam sambil terus melayang - layang di dalam cermin.
"Lalu, apa yang membuat hatimu gelisah Mauris?" tanya awan tersebut setelah melihat jauh ke dalam lubuk hati pria muda itu.
Mata Mauris terbelalak.
"Itu. Itu, karena adik hamba master. Darius. Dia, dia terluka parah dan hamba tidak tahu apa penyebabnya. Hamba hanya tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya. jelas terbata Mauris.
__ADS_1
"Hahahaha. Kemari Mauris, mendekatlah." pinta awan itu.
Perlahan dengan kepala yang kembali merunduk, Mauris berjalan mendekat kearah cermin itu.
Blubbb...
Terdengar suara sebuah benda yang keluar dari cermin tersebut.
"Lihatlah Mauris. Apa yang ada di hadapanmu." ucap si Awan.
Mauris pun mendongak. Dilihat lah sebuah botol bulat yang berisi cairan berwarna biru keunguan.
"Ambilah obat itu. Pastikan obat itu masuk ke dalam tubuh Darius melalui nadinya dan langsung tersebar ke seluruh pembuluh darahnya. Namun, semua ingatannya, kecuali tentang dirinya, dirimu dan keadaan saat dia terbangun nanti masih diingatnya. Sisanya, akan terhapus, begitu juga dengan semua penyakit yang diderita akibat kejadian masa lalu itu juga akan sembuh total. Juga, dia akan memiliki sebuah kekuatan supranatural. Namun, tidak ada satupun dari kita yang tahu. Apa kekuatan itu? Karena, masih tersembunyi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Bisa dibilang, Darius seperti manusia kuat yang terlahir kembali." jelas si Awan.
Mauris mengambil botol tersebut, sambil melirik kearah cermin juga mendengarkan dengan seksama semua penjelasan sang Awan. Lalu dipandanginya lama botol tersebut.
"Mengapa kamu ragu Mauris? Mengapa kamu takut? Apa kamu mulai meragukan kekuatan tuanmu ini. Heum?" tanya si Awan dengan nada menyeramkannya.
"Ohhh. Maafkan hamba master. Bukan maksud hamba seperti itu. Hamba hanya takut, Darius akan kesakitan atau bisa saja dia tidak bisa mengontrol dirinya. Jika kekuatan supranatural itu tiba - tiba muncul." jawab Mauris dengan sudah berlutut dengan satu kaki dan wajah yang ditundukkan.
"Hahaha. Ini yang aku suka darimu Mauris. Pria muda penuh ambisi, dengan semangat membara untuk bisa meraih apapun yang kamu inginkan dengan cara apapun. Entah itu baik ataupun dengan cara yang kotor. Juga rasa dendam di dalam dirimu yang sangatlah banyak atas kejadian di masa lalu, membuat sebagian jiwaku yang hidup di dirimu. Terus bertambah kuat. Hingga nanti dia siap, kembali padaku. Setelah kau mendapatkan jiwa anak manis itu. Hehehehe. Well, kamu tenang saja Mauris. Darius tidak seketika akan mendapatkan kekuatan supranaturalnya itu. Dia harus mengikuti suratan takdir yang terlukis untuknya. Sebelum nanti, kekuatan itu akan keluar dengan sendirinya." jelas Si Awan panjang lebar.
"Terimakasih master. Master adalah Sang Maha Agung. Hamba tidak akan pernah mengecewakanmu." jawab Mauris dengan kemudian menundukkan kepalanya, memberi salam hormat.
...----------------...
Keluarga kecil Kinanti akhirnya kembali ke kediaman mereka sore itu.
"Oh My God. Cucu Tita. Kenapa ini? Hah?" teriak Mami Bara, setelah melihat Sang Cucu dengan kakinya yang masih agak pincang dan juga beberapa luka yang terlukis di beberapa bagian kulit putihnya.
Kinanti yang sudah duduk di sofa ruang keluarga Oma dan Opa nya pun, tersentak mendengar suara Sang Nenek.
Mami Bara kemudian mendekat kearah Kinanti dan duduk secara hati - hati disebelah gadis kecil itu.
"Sayang. Pasti sakit ya? Kenapa Kinan? Ada apa? Mirah, Bara. Coba jelaskan pada Mami. Kenapa cucu Mami bisa babak belur begini, pulang kemping?" ucap Mami Bara yang mengelus - elus pelan luka di sekujur tubuh Kinanti, lalu menatap tajam kedua orang tua gadis itu.
"Tita. Ini semua kecerobohan Kinanti. Kinan yang nggak lihat kalau ada jurang kecil, karena kabut tebal sehingga jatuh ke dalamnya. Jadi, maaf ya Tita. Kinanti nggak bisa jaga diri, padahal udah gede." ucap Kinanti yang langsung memeluk Sang Nenek dan mengelus lembut punggungnya.
Mami Bara pun menghela napas panjang.
__ADS_1
"Issshhh. Siapa bilang Kinan udah gede? Kinan itu masih kecil, jadi masih harus terus diawasin. Sampe gede nanti pun, Tita bakal sewa penjaga buat ngejagain kamu. Biar hal - hal seperti ini nggak akan terjadi lagi. Huhu. Cucu Tita, pasti kamu kesakitan ya nak? jawab Mami Bara yang sangat memanjakan Kinanti.
Kinanti pun menghela napas panjang setelah mendengar ucapan Sang Nenek.
"Mi, Kinan udah nggak pa - pa. Kakinya juga udah nggak bengkak. Luka - lukanya juga udah kering." ucap Bara Sang Ayah.
Lalu Mami nya melepas pelan pelukkannya pada sang Cucu.
"Bara, kamu ini santai banget jadi Bapak. Kamu udah interogasi, belum Wali Kelas dan juga Kepala Sekolah Kinan? Kenapa cucu kesayangan Mami, sampe kayak gini? Siapa yang bertanggung jawab, hah? Ini termasuk kelalaian sekolah. Anak kelas 3 SD, kok dibiarin keliaran sendiri tanpa pengawasan guru atau orang dewasa disana. Besok Mami bakal ketemu Kepala Sekolah Kinan. Bakal Mami tuntut." ucap marah Sang Ibu dengan nada tingginya.
Mirah yang mendengar Sang Mertua sangat emosi, lalu memberikan secangkir teh chamomile.
"Mi, diminum dulu. Biar tenangan, kalau Mami udah tenang. Nanti Mirah bakal cerita kronologi kenapa Kinanti bisa kayak gini." ucap lembut Mirah sambil menyerahkan secangkir teh pada Sang Mertua.
Lalu wanita muda itu menarik sebuah kursi untuk duduk menghadap kearah Kinanti dan juga Sang Mertua.
Lalu wanita paruh baya itu menatap Mirah sesaat, lalu mengambil cangkir teh tersebut.
Mami Bara kemudian meneguk teh itu beberapa kali. Hingga akhirnya tenang.
"Mirah, kamu memang menantu idaman Mami." ucap Sang Mertua sambil tersenyum dan menggenggam tangan Sang Menantu yang duduk di hadapannya.
Mirah melihat situasinya sudah kondusif, kemudian dengan perlahan wanita muda itu mulai menjelaskan.
Cukup lama dia bercerita ditambah beberapa kali, lagi - lagi Sang Mertua naik pitam karena mendengar beberapa cerita Mirah yang sangat mengejutkannya.
"Siapa nama anak jahanam itu?" tanya Mami tiba - tiba.
"Mi, tapi ini masih diselidiki pihak sekolah. Jadi, mereka belum bisa dimintai pertanggung jawaban atas kejadian yang dialami Kinan." ucap Mirah kembali, mencoba menenangkan Sang Mertua.
Lalu dengan tiba - tiba pula, Sang Mertua berdiri.
"Kalau menunggu investigasi sekolah, terlalu lama. Biarkan masalah ini, Mami yang akan menyelesaikannya. Mami mau, cucu kesayangan Mami mendapatkan keadilan." jelas tegas Mami yang langsung berlalu dari hadapan keluarga kecil Sang Anak.
Bara benar - benar hanya terdiam, setelah mendengar ucapan dan juga langkah tegas yang diambil Sang Ibu.
Sedangkan Kinan hanya bisa tertunduk lemas sambil menarik napas pendeknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1