#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
34.


__ADS_3

Mauris yang sekarang sudah berada di rooftop gedung Kobuka, merasa sedikit aneh. Setelah dia merasakan sebuah kekuatan besar yang berada dari jiwa Darius, Sang Adik.


Dia berdiri menghadap ke pemandangan gedung - gedung pencakar langit yang mengelilingi Kobuka. Pria itu berpikir sesaat, hingga sebuah penglihatan dirasa berkelebat di kepalanya.


Dipejamkan matanya sesaat, karena dia berkonsentrasi melihat sebuah visual yang diperlihatkan padanya.


Cukup lama dia terpejam dan sesekali mengernyit, lalu perlahan dibuka matanya dengan napas yang sedikit tersengal.


"Cukup aneh, jika tiba - tiba aku muncul di rumah sakit tempat Darius dibawa bersama gadis itu. Aku harus menelepon seseorang untuk memantau keadaan disana." pikirnya.


Pria yang berpakaian serba hitam itu, lalu mengambil ponselnya dan melalukan panggilan cepat.


Setelah dia tersambung dengan seseorang di seberang, Mauris lalu memerintahkan orang itu sejumlah pekerjaan.


Dia nampak mengangguk sesaat, hingga akhirnya ditutup teleponnya.


Lalu dengan kekuatan sihirnya, lagi - lagi dia menghilang seperti angin meninggalkan gedung Kobuka.


...----------------...


Derap langkah cepat terdengar di lorong rumah sakit. Bara juga Mirah terlihat sangat khawatir, terlebih Mirah bukan hanya panik. Matanya sudah basah oleh air mata. Tangannya tidak dilepas oleh Bara hingga akhirnya dia sampai di depan ruang ICU, mereka bertanya soal keberadaan Sang Anak di meja perawat yang berjaga.


Lalu perawat itu menjelaskan, bahwa saat ini Kinanti masih di periksa oleh beberapa dokter.


Disaat yang bersamaan, kedua pasangan suami istri itu didekati oleh beberapa petugas Kobuka.


"Selamat malam, betul dengan keluarga Mbak Kinanti?" tanya salah seorang dari mereka.


Bara juga Mirah lalu menoleh ke belakang. Mata Bara menatap kedua penjaga itu.


"Betul. Maaf bapak - bapak ini...," ucap Bara.


"Ah, kami adalah penjaga keamanan Kobuka Corporation Pak. Ini tas Mbak Kinanti, lalu kami ingin menjelaskan sedikit soal kronologi kejadian naas yang menimpa Mbak Kinanti." ucap petugas tersebut.


Lalu mereka mulai bercerita, soal saat kejadian mereka seperti ada yang menidurkan hingga satu kantor penjaga terdiri sangat lelap. Sehingga tidak menyadari kejadian kerusakan lift yang menjebak Kinanti di dalamnya. Lalu Darius yang menyelamatkan Kinanti.


Bara bukan hanya berkonsentrasi pada cerita para penjaga, namun dia juga melihat di sekeliling tubuh penjaga itu penuh dengan ilmu sihir. Hingga membuat Bara percaya dengan cerita sedikit tidak masuk akal mereka diawal.

__ADS_1


"Sekarang Mbak Kinanti sedang ditangani oleh tim medis. Jika Bapak dan Ibu tidak memiliki pertanyaan lain. Kami pamit undur diri dulu. Selamat Malam." ucap penjaga itu.


Lalu Bara mengucapkan rasa syukurnya kepada kedua penjaga yang sudah membawa Kinanti ke rumah sakit itu.


Mirah yang baru akan bertanya pada Bara pun, mengurungkan niatnya setelah seorang dokter perempuan keluar dari ruang ICU dan bertanya soal wali pasien atas nama anak mereka.


"Selamat Malam dok. Saya Bara Adi Putra, Ayah dari Kinanti. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Bara dengan wajah sedihnya.


"Oh, selamat malam Bapak. Mari, saya ingin menunjukkan sesuatu pada Bapak." ucap dokter tersebut sambil menggiring Bara ke dalam rumah ICU.


Bara lalu menggandeng kembali tangan Mirah. Mereka mengikuti langkah Sang Dokter hingga sampai disebuah bilik dengan tirai warna pink pastel menutupinya.


Dokter tersebut menyingkap dan membuka sedikit tirai itu, agar Bara dan Mirah bisa masuk.


Mata Mirah berbinar setelah melihat Sang Anak yang tergeletak lemah dengan selang oksigen bertengger di wajahnya.


"Begini Pak. Dari hasil pemeriksaan kami sementara, sepertinya anak Bapak mengalami serangan jantung ringan. Karena saat dibawa kemari, Mbak Kinanti dalam kondisi napas yang hampir putus juga detakan jantung yang sangat lemah. Kemudian ada sebuah tanda aneh yang berada di dadanya, apakah ini tanda lahir atau apa? Silahkan Bapak periksa." jelas dokter itu, sambil kemudian membuka sedikit baju Kinanti dan menunjuk kearah tanda kutukan Sang Anak.


Bara dan juga Mirah mendekat, kearah tanda kutukan Sang Anak. Mata kedua orang tua Kinanti terbelalak, Mirah lalu menutup mulutnya dengan satu tangan dan juga menggeleng. Genggaman tangan Bara makin erat.


"Tanda itu makin melebar. Eyang Lila, iya. Aku harus bertemu dengan Eyang Lila." batin Bara.


Lalu dengan gerakan cepat Bara menoleh kearah dokter tadi.


"Iya dok, ini adalah tanda lahir anak kami. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Bara cepat.


Dokter perempuan itu sedikit melirik kearah Kinanti.


Lalu kembali menatap kedua orang tua gadis mungil itu.


"Saat ini, keadaannya sudah stabil. Kami juga sudah memberikan suntikan obat, termasuk obat penenang. Besok, kami akan melanjutkan pemeriksaan secara detail. Untuk sementara, Mbak Kinanti akan tetap berada di ICU. Hanya satu orang yang bisa menemani. Ada yang mau ditanyakan lagi?" jelas dan tanya dokter tersebut.


Bara kemudian melihat kearah Sang Istri yang terus menatap lekat Kinanti.


"Sementara itu saja dok. Terimakasih." jawab Bara.


Lalu dokter tersebut ijin undur diri. Mirah kemudian melepas genggaman tangan Sang Suami dengan perlahan, dia mendekat kearah ranjang Kinanti. Air mata mulai mengalir dari kedua matanya. Bara pun mendekat kearah Sang Istri.

__ADS_1


"Biar aku yang jaga Kinan. Kak Bara, pulang aja." ucap Mirah dengan air mata yang masih mengalir.


Bara kemudian mengecup singkat kepala Mirah.


Lalu dia menarikkan satu bangku dan dibantu duduk Sang Istri.


Kemudian dia berjalan ke sisi ranjang satunya.


Dikecup kening Kinanti, kemudian ditatap dengan dekat juga lekat wajah gadis mungil itu.


"Papa, pergi sebentar. Kamu harus bertahan ya, sayang. Papa pasti akan melenyapkan kutukan itu darimu. Papa janji." ucap Bara dalam hati.


Lalu pria muda itu pergi meninggalkan ruang ICU dan menuju ke tempat Eyang Lila.


Sedangkan Mirah, terus menggenggam tangan Kinanti sambil kemudian berdoa hingga dia jatuh tertidur di sebelah Sang Anak, karena kelelahan.


...----------------...


Di alam mimpi...


Kinanti membuka matanya dan dia berada di sebuah ladang rumput tempat pondok juga hewan - hewan peliharaannya berada.


"Kenapa perasaanku tidak enak begini? Dadaku juga terasa sedikit nyeri." ucapnya sambil kemudian perlahan bangun dari atas ladang rumput itu.


Saat dia sedang membenahi dan juga membersihkan baju yang dikenakan. Lalu seekor domba dengan bulu yang sangat lebat mendekatinya. Senyum manis terkembang di wajah Kinanti, baru dia akan meraih kepala domba tersebut. Tiba - tiba domba tersebut berubah mengerikan, matanya memerah dan hewan itu tersenyum menyeringai dengan gigi taring runcing yang ditonjolkannya.


Wajah Kinanti berubah sangat terkejut, lalu gadis itu mundur teratur. Domba itu pun mengikuti gerakannya, hewan itu tambah mendekat kearah Kinanti. Lalu gadis itu langsung berbalik dan berlari menjauh dari pondok juga domba itu. Dia lari dengan cepat, Kinanti berlari membabi buta. Sesekali dia melihat kebelakang, domba itu juga menambah kecepatannya dan hampir menyusul Kinanti.


Namun, tiba - tiba tubuh Kinanti sedikit terbang. Dia jatuh terjerembab, lalu dengan cepat dia membalik tubuhnya dan dengan kedua tangannya dia merangkak ke belakang hingga tubuhnya menabrak pohon.


"Hah. Hah. Kenapa? Kenapa dia berubah seperti monster? Ada apa ini?" batin Kinanti dengan napasnya yang berderu.


Kemudian tanpa aba - aba, domba itu langsung akan menerkam Kinanti. Mata gadis itu langsung tertutup dengan kedua tangan yang berusaha menghalangi bagian tubuh depannya, dari serangan domba ganas itu. Namun tiba - tiba muncul sinar keputihan yang menyilaukan dan domba itu berubah menjadi kepingan - kepingan debu, setelah terkena sinar itu. Kinanti yang merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh kulitnya, perlahan membuka matanya.


"Hah. Hah. Aku, aku dimana?" batin Kinanti yang kebingungan dengan napas yang masih tersengal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2