#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
25.


__ADS_3

"Hangat, wangi. Heummm. Benar - benar menenangkan. Ternyata, bantalku senyaman ini." batin Dita yang merasa nyaman.


Perempuan itu mengira dia sedang memeluk sebuah bantal yang ada di dalam kamarnya.


"Tapi, kenapa semakin aku raba, semakin berotot. Agak keras, tapi ada beberapa bagiannya yang lembut dan empuk?" pikir Dita kemudian.


Lalu dirasa ada yang aneh, dia pun membuka matanya perlahan dengan kemudian meraba serius yang dikiranya bantal.


"Engh." lenguh Kei sesaat, lalu dia membuka matanya. Ketika di rasa Dita mengelus punggungnya, lalu dia melihat kearah bawah.


Betul saja, perempuan itu sudah terbangun. Lalu dengan gerakan cepat pula dia menjauhkan tubuhnya.


"Ta, maaf. Kemarin, kemarin kamu demam. Obat kamu habis. Aku, aku nggak ada maksud apa - apa. Beneran Ta." ucap gugup Kei yang sudah menjauhi tubuhnya dan baru akan mencoba bangun, Dita menahan lengan kekarnya.


"Peluk. Tolong, peluk aku lagi Kei. Aku mohon. Aku....," ucapan Dita terpotong, karena tiba - tiba air matanya mengalir menahan ucapannya.


Dengan cepat pula, Kei kembali membaringkan tubuhnya dan menarik Dita kembali ke dalam dekapannya.


"Shuuutt, shuuuttt. Aku disini. Maaf aku, terlambat datang kemarin!" ucap Kei mencoba menenangkan Dita.


Perempuan itu lalu menggelengkan kepalanya dan memeluk erat Kei, sambil masih terus menangis.


"Dita, mulai sekarang. Aku bakal jaga kamu 24 jam, juga bakal aku cari orang yang udah jahat sama kamu." batin Kei sambil mencium puncak kepala Dita.


...----------------...


Ciittt...


Ciittt...


Suara burung yang berkicau. Tangan Kei mulai bergerak dan meraba samping ranjang Dita, betapa terkejut dirinya ternyata perempuan itu, tidak ada di pembaringannya. Mata Kei kemudian terbuka dengan cepat, dia lalu membangunkan dirinya sedikit.


"Dita." gumamnya, dengan cepat pula dia turun dari ranjang perempuan itu, masih dengan bertelanjang dada dan juga keluar dari dalam kamar Dita. Begitu dia mencium aroma masakan, dia tahu posisi perempuan itu. Dengan cepat dia berjalan kearah dapur, dilihatnya Dita sedang berdiri di depan kompor membelakangi dirinya.


Lalu dengan cepat dipeluknya Dita dari belakang.


Perempuan itu terkejut sesaat dan akhirnya tersenyum.


"Hehehehe. Pagi." sapanya pada Kei, sambil mengelus tangan kekar Kei yang sudah berada di perutnya dengan tawa cerianya.


"Hehmmm. Aku pikir kamu kemana? Mulai sekarang, aku harus tau kamu pergi kemana aja dan sama siapa aja? Aku adalah full time bodyguardmu." ucap Kei yang tambah memeluk erat tubuh Dita.


Degh...


Degh...


Degh...

__ADS_1


Suara debaran jantung Dita.


Plak...


Lalu dipukul tangan Kei, saking gugupnya.


"Hei. Hei. Kita ini nggak dalam hubungan seperti itu Kei. Kita bukan pasangan kekasih." ucap Dita yang kemudian berusaha melepas tangan Kei.


Namun Kei malah memutar tubuh perempuan itu, lalu wajahnya menunduk. Dia mencium singkat bibir Dita.


"Cup. Kita udah resmi pacaran sekarang. Cup. Ini tanda resminya. Cup. Ini juga untuk luka di pipi mulusmu." ucap Kei seenaknya.


"Kei." pekik Dita dengan wajah yang langsung memerah.


"Suka nggak suka dan kamu harus mau. Sekarang, kamu adalah kekasihku. Jadi aku bisa menjagamu, sepenuhnya." ucap Kei lalu menarik tubuh Dita dalam pelukannya.


Plak...


"Dasar egois." ucap Dita sambil memukul pelan punggung Kei dan kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria muda itu, sambil tersenyum.


"Memang aku egois juga jahat Ta. Aku tau, ini hanya sementara. Tapi, biarkan aku memiliki dan mencintaimu walaupun hanya sesaat. Aku juga tau, suatu saat nanti semua penyamaranku akan terbongkar. Jika hari itu tiba. Kamu akan benar - benar membenci sosok Kei sama seperti rasa benci mu pada diriku yang asli, Bams!" batin Kei sambil memejamkan mata dan tambah erat memeluk Dita.


...----------------...


Dap...


Dap...


"Selamat Pagi Pak." sapa beberapa staff Kobuka, ketika berpapasan dengan Darius.


"Pagi." jawab Darius dengan senyum tipisnya mengembang.


Mata semua staff tersebut tidak bisa lepas dari paras tampan nan dingin Darius, ketika lelaki muda itu melintas di hadapan mereka.


"Ckckckckck. Hari yang cerah di Kobuka. Sudah di suguhi pula menu pembuka yang, manis - manis kayak Pak Darius. Hehm, akhirnya ada juga pemandangan indah di sini. Setelah sekian purnama." ucap seorang staff Kobuka Corporation.


Pemuda itu lalu menaiki lift, untuk langsung menuju ke ruangannya.


"Kinan, ke ruangan saya sekarang." ucap Darius sambil melewati meja Kinanti.


Dengan wajah terkejutnya, gadis berkuncir kuda itu lalu mengambil buku catatan untuk hal penting yang selalu di bawanya.


Semua teman se divisinya pun melirik kearah gadis mungil itu.


"Ki, semangat." ucap bisik Rasti.


Kinanti yang mendengar ucapan Sang Sahabat, hanya tersenyum dan langsung menyusul Sang Atasan.

__ADS_1


Darius yang sudah duduk di kursinya, lalu melihat kearah Kinanti.


Sedangkan Kinanti baru akan menutup pintu ruangan Sang Atasan Baru.


Zlleeeppp...


Zlleeepp...


Tiba - tiba sebuah kenangan akan sesuatu, muncul di kepala Darius. Hingga membuat lelaki tampan itu, menggeleng sejenak kepala juga mengerjap - ngerjapkan kedua matanya.


Hingga dia tidak mendengar sama sekali panggilan dari Kinanti.


"Pak, Pak Darius? Bapak, kenapa? Apa Bapak sakit?" tanya Kinanti yang sudah berdiri di dekat meja Darius dengan mengikuti arah gerakan kepala lelaki muda itu.


"Ohhh, tidak. Saya tidak apa - apa." jawab Darius yang akhirnya tersadar, namun kini memijit pelipisnya.


"Bapak mau saya ambilkan obat?" tanya Kinanti.


"Tidak. Terimakasih." jawab Darius sambil mengayunkan tangannya tanda penolakan pada Kinanti.


Kinanti pun hanya mengangguk. Ditunggunya beberapa saat Sang Atasan, hingga Darius merasa lebih baik.


"Ohhh, maaf Kinan. Mmm, saya mau kamu memberikan data lengkap selama periode Ibu Stella. Sudah berapa novel dan komik yang terbit di Kobuka, juga sekarang ini, berapa novel dan komik yang sedang kalian edit?" jelas Darius sambil menatap kearah Kinanti.


Gadis manis itu mencatat semua kebutuhan Sang Atasan.


"Baik. Ada lagi Pak?" tanya Kinanti sambil masih akan menulis.


Darius terdiam sesaat, sambil mengecek layar komputernya.


"Saya rasa, itu dulu." jawab Darius kemudian.


"Baik. Kalau begitu, saya permisi dulu. Data - data ini segera saya kirim ke email Bapak. Sebelum makan siang. Tapi Pak, boleh sekalian minta alamat emailnya?" jawab dan tanya Kinanti.


Darius kemudian mengangguk dan memberitahu alamat surelnya, untuk mempermudah Kinanti.


Setelah itu, gadis ramping itu keluar dari ruangan Sang Atasan.


"Siapa Kinan, ini? Kenapa, aku benar - benar pernah bertemu dengannya dan kenapa dengan ingatan tadi? Aku seperti pernah mengalaminya, tapi apa iya?" batin Darius dengan penuh pertanyaan di kepalanya.


Semua lamunan pertanyaannya kepada Kinanti terpecahkan, oleh getar ponselnya. Diambil benda kecil itu dari saku jasnya. Dipandangi sesaat, sebelum akhirnya dijawab panggilan telepon itu.


"Halo, Selamat pagi, dengan Darius." jawab Darius.


Lalu beberapa saat orang diseberang menjawab, hingga membuat mata lelaki tampan itu membulat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2