#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
54.


__ADS_3

Kei tiba - tiba sudah berada di belakang Jimie. Dengan jaket kulit, sarung tangan kulit juga helm full face yang dibawanya, dia menepuk ujung pundak Jimie. Hingga membuat pemuda itu sedikit terkejut.


"Oh, Hai Kei...," sapa ramah dan santai Jimie.


Wajah Kei terlihat sangat datar, mengarah ke kesal.


"Lagi ngapain kamu disini?" tanya Kei langsung.


Jimie sedikit bingung, sambil celingukan.


"Ya, duduk sambil ngadem...," jawab santai Jimie.


Kei menghela napas, dia mencoba tetap tenang.


"Sungguh, cuman duduk dan ngadem? Bukan lagi nungguin Dita selesai ngajar?" tanya Kei dengan nada yang terdengar mulai kesal.


Jimie menatap lekat wajah Kei, lalu dia tersenyum lebar.


"Sini Kei, ikutan duduk. Kita ngobrol, kalau kamu nya berdiri. Aku jadi nggak enak hati. Sini...," ucap bersahabat Jimie yang kemudian menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang untuk Kei dapat duduk.


Kei juga menatap datar wajah Jimie dan menuruti permintaan pemuda ramah itu.


"Jadi gini, Kei. Aku kan mau pindah kost - kost an. Nah, maunya nyari yang deket sama kafe tempatku kerja. Jadi, tadi pas banget ketemu sama Dita. Kita janjian, buat cari apartemen atau rumah kontrakan yang deket - deket sini...," jelas Jimie.


Baru saja Kei akan menjawab, tiba - tiba dilihat Sang Kekasih sudah keluar dari area sekolahnya. Dia menuju ke taman tempat Kei juga Jimie sedang duduk.


Wanita itu tersenyum lebar, namun kemudian berubah bingung ketika dia mencium aroma lain di dekat Jimie.


"Kei?" ucap Dita.


Pria muda itu pun tersenyum dan bangun, lalu menghampiri dirinya. Ditarik pinggang Dita, lalu dicium singkat bibir peach Sang Kekasih.


"Cup. Kamu udah selesai ngajar?" tanya lembut Kei, sambil memandangi wajah manis Dita.

__ADS_1


Senyum tipisnya pun mengembang.


"Aku udah selesai ngajar. Ck, kamu main cium - cium aja. Aku malu sama Jimie...," ucap Dita sambil memeluk pelan dada Kei.


Wajah Kei berubah sedikit masam, ketika mendengar nama Kei.


"Hehm, kata dia kalian mau cari kost - kost an deket sini ya? Biar aku ban...," ucapan Kei terpotong, ketika sebuah panggilan telepon terdengar.


"Biar aku bantu carikan. Aku...," lagi - lagi ucapan Kei terpotong, kini oleh Dita.


"Angkat dulu, mana tau penting. Heum?" ucap Dita.


Kei menghela napas pendek, lalu melepas pelukkannya dari Dita dan merogoh kantung jaket kulitnya. Setelah ponsel itu ada di tangannya, di baca nama penelepon. Alis Kei agak berkerut. Dita sendiri lalu berjalan menghampiri Jimie yang sedang duduk dan kembali bermain ponsel.


"Hei, Dit. Udah selesai ngajarnya?" tanya Jimie dengan tersenyum.


"Udah, ternyata hari ini hanya 2 jam pelajaran. Karena anak - anak ada latihan untuk persiapan festival sekolah. Mmm, kita nanti nyarinya mulai dari sekitar sekolah ini gimana, Jim?" jelas dan tanya Dita.


Jimie berpikir sesaat dan mengangguk pelan.


Dita pun memandang kearah aroma parfum Sang Kekasih, lalu dia mencuri dengar Kei yang sedang dalam panggilan telepon.


"Tumben banget, Mi. Bukannya Mami harusnya udah berangkat keluar negeri lagi. Aku masih ada janji sama Dita, pulangnya pun malam. Mami sama Papi ajalah yang ketemuan sama mereka, lagian tiap bulan aku juga udan pasti ketemu sama Eyang...," jelas kesal Kei yang diminta segera pulang, karena kedua orang tuanya ingin menjenguk Sang Kakek yang tinggal agak jauh dari kediaman mereka.


Dita pun berdiri dan mendekat kearah Kei. Disaat bersamaan, pria muda itu pun baru saja selesai menerima telepon tersebut dan kemudian berbalik kearah belakang.


"Kei, sebaiknya kamu pulang. Kamu jarang kan, bisa sama - sama kedu orang tuamu. Sedangkan sama aku, hampir setiap hari kita bersama. Apalagi, mau nengokin Eyang kamu. Jimie orang yang bisa dipercaya, kamu tau kan. Aku nggak pernah salah nilai orang. Heum...," ucap Dita yang juga mencoba membujuk pria macho itu.


Kei memandang sesaat wajah Dita, lalu memandang kearah Jimie. Alih - alih menjawab ucapan Sang Kekasih, pria muda itu malah berjalan kearah Jimie.


"Saya titip Dita. Jangan pergi sampe malam, kalaupun terpaksa jangan sampai Dita lupa makan malam. Tapi, malamnya hanya sampai jam 7 malam. Bagi nomer WA kamu, nanti saya bakal VC buat ngecek keadaan. Kalau sampai calon istri saya ke gores sedikit aja, saya bakal bikin perhitungan sama kamu. Anak buah saya ada dimana - mana, jadi jangan macam - macam...," jelas Kei sambil memandang wajah Jimie dengan tajam.


Bukannya merasa tegang, Jimie malah bangun dan tersenyum ceria.

__ADS_1


"Tentu. Tenang saja, terimakasih banyak ya Kei. Ini scan aja...," jawab Jimie yang selalu santai, sambil memperlihatkan sebuah barcode.


Kei lalu memindainya dan melihat sekilas ke arah Jimie, kemudian berbalik kembali kearah Dita. Dipegang satu pipi Sang Kekasih, dielusnya lembut dengan senyum menawannya.


"Kamu yang hati - hati. Hanya kali ini, aku mau mengalah kamu jalan sama cowok lain dan nggak ada lagi besok - besok. Hanya kali ini saja, kalau dia mau buat janji lagi sama kamu, aku harus ikut. Oke?" jelas posesif Kei.


Senyum miring Dita muncul di wajahnya dengan helaan napas pendeknya.


"Kalau kamu nggak mau ngabulin permintaanku. Hari ini aku nggak akan pergi ke rumah Eyang dan nemenin kalian jalan...," jelas Kei lagi yang tidak menerima reaksi Dita sebelumnya.


"Oke - oke. Ya udah, kamu buruan berangkat. Kasian orang tuamu nunggu kelamaan. Kamu yang hati - hati ya...," jawab Dita.


Kei lalu mencium singkat kembali bibir peach Dita.


"Cup. Nanti aku telepon. Bye, sayang...," ucap Kei yang langsung pergi.


Sepeninggal Kei, Dita dan Jimie langsung pergi untuk mencari tempat tinggal baru untuk pemuda itu.


...----------------...


Eyang Lila juga Ayah Rendra baru saja selesai bermeditasi di ruangan suci dalam rumah Sang Ibu. Mereka terlihat agak kelelahan, setelah berhasil mengusir Reo dari dalam tubuh Sarah. Mereka berdua lalu menarik napas dan menghembuskannya.


Dibuka perlahan kedua mata mereka, kemudian.


"Bagaimana Rendra?" tanya Eyang Lila.


Ayah Rendra terdiam sesaat, sambil mengatur napasnya.


"Jiwa Reo ada pada seorang lelaki muda, walaupun terasa sangat lemah di lelaki itu. Untuk di tubuh gadis tadi, sisa jiwa Reo yang berkekuatan lumayan besar terasa sangat jelas. Mantra yang kita kumandangkan di telinga gadis itu. Tapi Bu, aku penasaran dengan lelaki mud itu. Siapa dia? Wajahnya tidak begitu terlihat jelas, begitu juga dengan wajah gadis yang dirasuki oleh Reo...," jelas Ayah Rendra yang merasa tidak puas.


Eyang Lila pun terdiam mendengar penjelasan Sang Anak.


"Betul Rendra, Ibu pun merasa aneh. Bagaimana bisa Reo terlepas dari segel itu dan dia bis ditemukan lalu ditarik kembali ke daratan? Berarti orang tersebut, juga memiliki kekuatan yang sama hebatnya dengan Reo. Jika itu benar, kita harus lebih waspada. Reo memiliki anak buah, yang bisa mengancam kehidupan cucu - cucu ku dan cicit - cicit ku." ucap Eyang Lila yang mulai khawatir.

__ADS_1


Ayah Rendra terdiam sesaat, hingga dia menemukan sebuah ide. Lalu pria yang sudah mulai menua itu, mendekat kearah Sang Ibu dan membisikkan sesuatu. Eyang Lila sangat terkejut dengan ide yang diberikan oleh Sang Anak, hingga dipandangi wajah Ayah Rendra kemudian senyum lebar terkembang di wajah keriputnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2