
Kinanti benar - benar terkejut dengan ciuman hangat nan lembut yang diberikan oleh Darius. Hingga mata Kinanti terpejam dan kedua tangannya perlahan dikalungkan ke leher Darius.
Senyum disudut bibir Darius terbentuk, desiran aneh yang selalu dirasakan ketika berada dekat dengan gadis mungil di hadapannya sirna. Berubah menjadi suatu perasaan nyaman, hangat dan membuatnya tenang.
Namun, tiba - tiba sekelebat siluet aneh muncul di kepala Darius. Membuat tautan bibir mereka terlepas dan lelaki itu memegang pelipisnya menahan rasa sakit. Kinanti yang melihat hal itu, lalu melepas kalungan tangannya dan memegang tangan Darius.
"Pak, Bapak tidak apa - apa? Kepala Bapak sakit? Sebaiknya kita ke..." ucapan Kinanti terhenti, saat tangannya dipegang dan dielus oleh Darius.
"Saya, akh. Nggak pa - pa, maaf saya mengantarmu sampai sini, sampai ketemu besok Ki. Cup, selamat malam...," ucap Darius yang kemudian mengecup sesaat kening Kinanti dan membuka kunci pintu mobilnya.
Gadis mungil itu mengerti arti ucapan Sang Atasan, lalu membuka pintu mobil dan perlahan turun. Dia kemudian berjalan sedikit menjauh dari mobil Darius dan kemudian menunggu sampai mobil pemuda itu pergi dan menghilang di ujung jalan.
Kinanti melanjutkan perjalanannya, dengan perasaan yang sangat khawatir. Lalu dia merogoh kantung tasnya, diambil ponselnya. Kemudian dia mengirim pesan singkat, pada Darius.
"Malam Pak. Pak, kalau Bapak sudah sampai di rumah dan membaca pesan ini. Tolong untuk segera membalas pesan saya ini, perasaan saya masih belum tenang. Saat melihat keadaan Bapak barusan." isi pesan gadis mungil itu.
Setelahnya dia terus berjalan hingga sampai di rumah.
...----------------...
Darius sangat beruntung, walaupun kepalanya dirasa sangat sakit, pemuda itu berhasil sampai ke rumahnya dengan selamat. Dia keluar dari dalam mobilnya dengan sempoyongan. Penjaga di depan rumahnya pun tidak mengetahui keadaan Darius yang kesakitan. Dia berjalan agak cepat, melalui pintu belakang. Kemudian naik tangga belakang, agar lebih cepat sampai ke salah satu kamar di rumahnya. Kamar itu selalu dia datangi, ketika keadaannya seperti sekarang. Rasa sakit yang datang tiba - tiba, baik dari kepala ataupun jantungnya.
Ditutup pintu kamar itu, lalu masih dengan sempoyongan dicari obat penahan rasa sakit sekaligus obat pusing. Dengan tangannya yang mulai bergetar, dia menarik laci rak dekat ranjangnya.
Tubuhnya kemudian jatuh terduduk dan dia bergeser ke dinding kamar itu. Napas yang tersengal, keringat mulai muncul di pelipisnya. Ditarik dasi yang terasa mencekik lehernya.
Obat yang terletak di sebuah botol kecil itu, lalu ditelannya tanpa bantuan air.
"Akh. Hah. Hah. Siapa, siapa dia? Siapa anak kecil i...," ucapan Darius terhenti ketika pandangannya mulai terasa sangat buram, tubuhnya pun perlahan jatuh ke samping.
"Siapa...," ucapnya lagi dengan mata yang langsung tertutup.
Darius ternyata jatuh pingsan, akibat menahan rasa sakit juga efek dari obat yang diminumnya.
Di alam mimpi...
Desiran angin menyentuh lembut wajah juga rambut lurus kaku Darius. Pemuda itu memasuki alam mimpi, yang sama yaitu sebuah padang rumput luas nan indah. Suara burung - burung yang bertengger di beberapa pohon besar, membuat mata Darius terbuka.
__ADS_1
"Hah. Ini dimana?" tanyanya dalam hati. Ketika dilihat sebuah pemandangan padang rumput dan juga hutan cukup lebat di depannya.
Dia memcoba untuk bangun, rasa pening di kepalanya masih tersisa sedikit. Selain itu juga dia melihat seekor domba yang sudah mati, ada di dekat sebuah pohon besar.
Perlahan namun pasti, dia berjalan dengan tertatih. Dia berjalan kearah Padang rumput menjauhi hutan. Hingga tiba - tiba sebuah sinar putih sangat terang, menyorotnya dan membuat matanya silau.
"Halo, anak muda...," sebuah suara bergema terdengar.
Darius dengan satu mata yang ditutup kemudian menoleh kesana kemari mencari asal suara.
Setelahnya terdengar suara tawa kecil.
"Hehehe. Tidak usah bingung, aku diatas sini...," ucap suara itu.
"Siapa? Siapa kamu?" ucap Darius yang masih berdiri dengan disoroti cahaya putih itu.
"Aku, bisa dibilang aku adalah seseorang yang memberimu kesempatan hidup kedua." jelasnya singkat.
Darius kemudian menaikkan satu alisnya. Dia merasa sangat bingung.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." tanya Darius.
"Suatu saat nanti, kamu akan mengerti. Aku menemui mu ingin menyampaikan, tolong jaga gadis kecil itu. Hanya kamu harapannya. Aku harap kamu, harus cepat mengingat gadis kecil itu. Darius kamulah harapannya." ucap sinar itu.
Darius bertambah bingung.
"Jangan sampai kamu terlambat, nyawanya sedang terancam. Jangan terlambat Darius...," ucap terakhir sinar itu.
Perlahan sinar itu mulai menghilang. Darius terkejut, lalu dia mengikuti gerakan sinar yang mulai menjauhi dirinya dan mulai memudar.
"Hei, hei. Apa maksudmu? Gadis kecil, gadis kecil siapa? Hei...," teriak Darius sambil berlari kecil.
Namun tidak ada jawaban apapun lagi dan sinar itu pun benar - benar menghilang. Angin pun kembali berdesir, membelai sekujur tubuh pemuda itu.
"Akh. Akh...," pekik Darius yang merasa sakit di dadanya.
Dia terjatuh sambil memegang dadanya.
__ADS_1
"Gadis kecil? Kinanti. Kinan...," gumamnya yang tiba - tiba memejamkan matanya.
Di dalam kamar Darius...
Darius menggeliat di lantai, tangannya mengepal, alisnya berkerut.
"Kinan. Kinan. Kinanti...," gumamnya mengigau.
Matanya terbuka tiba - tiba, napasnya tersengal. Lalu dengan cepat Darius bangun dan kembali menyandarkan dirinya di dinding kamar itu.
"Mimpi. Ternyata itu hanya mimpi..." gumamnya lagi.
"Tapi, kenapa aku tiba - tiba teringat Kinanti. Oh iya, dia pasti khawatir. Sebaiknya aku menghubunginya." ucap Darius yang sudah merasa lebih baik dan kemudian merogoh kantung di dalam jas nya.
Dibuka sebuah pesan yang dikirim oleh Kinanti. Senyum terkembang di wajah pemuda itu. Lalu dia membalas pesan itu. Setelahnya dia menatap lurus ke depan.
"Kinanti, Kinanti. Ciuman itu, juga berada di dekatnya benar - benar hangat. Kerinduanku akan sesuatu, langsung memudar karena bisa sedekat itu dengannya. Kenapa ya? Dia gadis yang menarik...," ucap Darius yang mulai menyukai Kinanti.
Lalu dia terdiam lagi, ketika dia mulai mengingat siluet yang sempat terlintas di kepalanya dan juga suara di mimpinya yang sangat aneh.
Lalu dia menggeleng kepalanya dengan cepat.
"Akh. Mungkin itu hanya efek dari kelelahan ku, lagipula itu hanya mimpi. Tidak ada artinya." ucap Darius lagi.
Kemudian dia mencoba berdiri perlahan dan memutuskan untuk keluar dari kamar itu, setelah menyimpan obatnya.
...----------------...
Di dalam cermin awan hitam Reo, merasa sedikit kesakitan. Dia merasa ada sesuatu yang mengancam dirinya terjadi.
"Akh. Akh. Hah. Hah. Apa ini? Kenapa terasa sakit? Ck, Mauris. Aku harus segera memanggilnya...," ucap Reo.
Kemudian dia berkonsentrasi, menggunakan seluruh tenaganya yang ada untuk memberi sinyal pada Mauris. Karena dia sudah tidak bisa menggunakan telepati.
Mauris yang sedang berada di dalam ruangannya dan sedang mengerjakan beberapa file, tiba - tiba merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Lalu telinganya berdengung, hingga matanya terpejam untuk menahan suara dengungan itu. Tiba - tiba pikirannya tertuju pada ruang temaram di tempat rahasianya.
"Master...," ucapnya kemudian sambil membuka mata dan menatap tajam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...