
Darius menghela napas pendek, ketika dia sudah mendengar suara penelepon.
"Halo. Halo. Kak Darius." panggil orang tersebut dalam sambungan telepon.
"Darimana kamu dapet nomer saya?" tanya Darius dingin, sambil dia mulai membaca beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
"Ck. Pagi - pagi udah panas aja. Jangan judes - judes gitu kakak ganteng. Emang Kak Darius tau siapa aku?" tanya Sang Penelepon dengan suara dan nada menggoda.
Lagi - lagi Darius menghela napas, namun kini dengan lumayan panjang.
Klik...
Langsung di tutup begitu saja, sambungan telepon itu. Lalu dengan wajah seriusnya dia membaca kembali semua pekerjaannya hari itu.
Sedangkan Si Penelepon, membeku ketika di dengar teleponnya diputus begitu saja oleh Darius.
Prang...
Prang...
Prang...
Dia kemudian melempari semua pajangan kaca yang ada di dekatnya.
"Aargh. Aargh. Dasar brengsek. Awas kamu Darius." teriak orang tersebut dengan masih melempari semua pajangan kaca di seluruh ruangan tempatnya berada.
Tok...
Tok...
Tok...
Ceklek...
Suara ketukan dan pintu ruangan itu dibuka.
"Non Sarah." panggil seorang laki - laki tinggi nan mempesona, sambil kemudian menundukkan kepalanya.
Sarah dengan seluruh tubuhnya yang masih bergetar, mata dan wajah yang memerah karena emosinya. Setelah teleponnya diputus oleh Darius, lalu dengan napas tersengal, dia membenahi piyama tipis yang dikenakannya juga sambil menyampirkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya.
"Hah. Hah. Bereskan." perintah Sarah.
Lelaki itu hanya mengangguk.
__ADS_1
Sarah lalu berlalu pergi dari ruangan itu, dia menggeser dinding ruangan itu yang terhubung langsung dengan kamar pribadinya.
Gadis angkuh nan anggun itu, lalu bersiap. Dengan memoles wajahnya dengan dandanan natural, pilihan baju minimalis namun anggun selalu membuat penampilannya tetap terlihat modis di tubuh rampingnya. Begitupun tatanan rambut yang dibiarkan tergerai dengan sebuah bandana penghiasnya, kemudian dia berjalan keluar kamar dan menuju ke arah ruang makan.
"Pagi, Pa. Ma." sapa gadis itu, sambil duduk di kursinya.
Kedua orang tuanya yang tidak melihat kearahnya sama sekali, karena sibuk dengan kegiatannya masing - masing walau sudah berada di atas meja makan, hanya melirik sesaat.
"Pagi." jawab mereka bersamaan.
"Sarah. Mama harap, jika kamu sudah menikah nanti. Sifat emosian mu, bisa berkurang. Mama nggak mau terima, kalau sampai kamu di buang oleh suamimu kelak karena Mama dan Papa mu, tidak mau menampung anak gagal seperti kamu. Keluarga kita, tidak pernah mengenal kata gagal ataupun kalah. Mengerti?" jelas Sang Ibu, sambil sibuk mengetik di depan komputer portabel miliknya.
Sarah kemudian meneguk jusnya, setelah menghabiskan semua makan paginya. Tanpa menanggapi sama sekali perkataan Sang Ibu, lalu dia berdiri dan beranjak dari ruangan itu. Namun langkah gadis itu terhenti di samping Sang Ibu.
"Sarah. Jika kali ini kamu gagal. Semua saham akan Mama tarik dan kamu, harus langsung angkat kaki dari rumah ini. Kamu harusnya malu sama adik kamu yang sangat lihai." ucap Sang Ibu, masih tanpa memandang wajah Sarah.
Sarah sudah berusaha menahan emosinya, dengan mengepalkan satu tangannya.
"Kalian tidak usah khawatir. Ingat, jika aku berhasil. Semua saham harus menjadi milikku, juga rumah ini. Kalian yang harus angkat kaki, bukan aku." ucap dingin Sarah dengan mata tajamnya melihat kearah kedua orang tuanya sesaat, kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu.
"Ckckckck. Debora. Debora. Kamu hanya membuang waktu kita. Keluarga Soetanto, selain terkenal penguasa di semua bidang usaha. Anak bungsu mereka yang bernama siapa? Darius? Terkenal akan keangkuhan juga berhati dingin. Sarah, dia harus mempunyai jurus jitu untuk bisa meluluhkan Darius, sebelum akhirnya bisa menikahi bocah tengik itu. Lalu perusahaan kita, bisa merger dengan salah satu perusahaan mereka. Hah, dan kita bisa segera terbebas dari semua krisis ini. Sebaiknya, kamu bantu gadis bodohmu itu." ucap Sang Suami dengan sinisnya sambil melirik sesaat kearah Sang Istri, lalu kembali membaca koran elektroniknya. Ketika dilihat Sang Istri tidak bereaksi sama sekali.
...----------------...
Dita dan Kei sedang duduk bersantai di sebuah kursi panjang, di taman seberang lingkungan rumah Dita. Kei menatap keatas pohon besar yang melindungi mereka dari teriknya sinar matahari siang itu.
Dita yang ada di sampingnya, tidak bergeming. Gadis itu terus membaca bukunya.
Hingga membuat Kei harus menoleh pada gadis itu.
"Sayang." panggil Kei lagi, kini dengan menatap lekat Dita.
Lagi - lagi gadis cantik itu tidak bergeming. Lalu Kei mendekat ke arah telinga Dita.
"Sayang. Cintaku. Kekasihku." bisik jahil Kei.
Dita terlonjak dan menggeliat sesaat.
"Kei." teriak Dita sambil mengusap telinganya dengan lengan karena geli yang dirasa.
"Kamu manggil aku ternyata. Sayang?" ucap bingung Dita.
Kei lalu lebih menggeser tubuhnya dan memeluk Dita dari samping.
__ADS_1
"Kita kan udah resmi pacaran. Mulai sekarang, aku bakal manggil kamu dengan sebutan sayang, my love, baby dan masih banyak sebutin cinta lainnya. Cup." jelas Kei dengan mesra sambil, melihat lekat ke setiap lekuk wajah perempuannya dan mendaratkan kecupan singkat di pipi putih Dita.
Dita kemudian menutup bukunya dan membalikkan tubuhnya hingga wajahnya dan wajah Kei sangat dekat.
Perlahan dinaikkan kedua tangan Dita, untuk meraba wajah Kei. Setelah dipegang kedua pipi pria muda itu, diraba pelan dan ditutup matanya.
"Jidatnya tidak lebar, alisnya lumayan tebal, matanya besar dan sepertinya indah. Bulu mata yang lentik, untuk ukuran seorang laki - laki. Hidungnya mancung, kulit wajahnya lumayan halus." batin Dita.
Lalu dia membuka mata, sambil tersenyum lebar.
"Ternyata, laki - laki yang memaksa aku jadi kekasih ini. Lumayan tampan. Hehehehe. Mmm, aku jadi takut dia bakal diambil oleh gadis lain, yang lebih segalanya dariku." ucap Dita sambil tertawa sesaat dan menurunkan tangannya perlahan.
Dengan gerakan cepat, Kei meraih kedua tangan kurus Dita.
"Cup. Cup." Kei mengecup kedua tangan itu.
Lalu dia menarik tubuh Dita ke dalam dekapannya.
"Aku hanya milikmu dan wajahku tidak se tampan bayanganmu. Tidak ada perempuan lain yang mau sama aku, selain kamu. Kamu bisa dengarkan, di tempat kursus kita, mana pernah ada siswi yang mendekatiku. Hehmmm, aku malah yang harus waspada...karena banyak sekali, laki - laki hidung belang di tempat kursus kita yang mau mendekatimu. Untung, aku udah jadi pacarmu. Jadi, aku bisa jagain kamu terus." jelas posesif Kei sambil mempererat pelukannya.
Dita tersenyum dalam dekapan Kei.
"Cih. Pacar posesif yang pintar ngeles. Plak." ucap Dita kemudian sambil memukul pelan punggung pria macho itu.
"Sayang." panggil Kei lagi.
"Heummm." jawab Dita.
"Kamu, udah mau cerita. Soal kejadian kemarin? Siapa yang melakukan hal itu?" tanya pelan Kei.
Dita kemudian melepas pelukan Kei secara perlahan dan memainkan kedua jemarinya diatas rok yang digunakannya sambil menundukkan kepala.
"Aku, mau cerita sesuatu. Tapi...," ucapan Dita terhenti.
"Tapi?" ucap ulang Kei.
"Tapi, setelah mendengar ini. Kalau kamu mau kita putus. Aku bakal ngerti. Aku nggak mau, ada kebohongan di hubungan kita." ucap Dita yang masih ragu.
Degh...
Degh..
Degh..
__ADS_1
Suara debaran jantung Kei meningkat, ketika dia mendengar ucapan Sang Kekasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...