
Jiwa Reo menjadi gelisah ketika dia terus saja mendengar suara tawa itu.
"Hah. Sofia...," gumamnya dan langsung tersadar karena konsentrasinya yang pecah.
Lalu Reo tiba - tiba berubah wujud dari gumpalan awan hitam menjadi sosok aslinya. Seorang lelaki tinggi, kekar dan berjubah hitam keemasan. Namun, terlihat wajahnya nya pucat juga lemah.
"Aku tidak bisa terlalu sering memakai wujud asliku. Kekuatan dan aura jiwaku akan semakin terkuras, namun hari ini, hari ini pengecualian. Aku ingin melihat Sofia sebentar saja...," ucap Reo yang kemudian menghilang dari tempat persembunyian.
Dalam hitungan detik, Reo sudah sampai di hutan bayangan Kahyangan. Hutan perbatasan jalur Kahyangan menuju area Surga dan Neraka. Sesampainya disana, Reo merasa sedikit pusing dan langsung berpegang pada batang pohon besar. Dia menyandarkan tubuhnya yang lemah, karena untuk sampai ke Kahyangan, dia harus memakai beberapa ilmu sihir tingkat tinggi untuk bisa mengelabui para penjaga langit juga Malaikat Perang yang selalu berpatroli di semua penjuru mata angin. Mereka selalu berjaga, agar makhluk astral tidak bisa sembarangan masuk dan mengganggu keseimbangan Kahyangan, Surga juga Neraka.
"Akh, sialan. Tameng itu, semakin hari dibuat semakin kuat. Pak Tua Kian, memang selalu sempurna dalam membuat perlindungan untuk tempat terkutuk ini. Sofia, apa dia masih sering ke kolam itu? Sebaiknya aku coba peruntunganku yang terakhir ini...," gumam Reo.
Dia kemudian berusaha berjalan perlahan dan kembali menggunakan sihirnya, untuk membuat dirinya tidak dapat terlihat oleh para penghuni Kahyangan. Dia berjalan perlahan, sesekali dia berpapasan dengan para Malaikat yang sedang melintas dan sebisa mungkin dia menghindar. Dengan susah payah, akhirnya dia sampai di sebuah kolam bunga teratai yang luas dan berair jernih, hingga ikan - ikan di dalam kolam itu terlihat jelas. Benar saja, Malaikat Sofia terlihat sedang duduk di sebuah gazebo kecil sambil membaca beberapa perkamen yang dibawanya.
"Sofia...," batin Reo yang sangat senang melihat Malaikat Cantik itu.
Lalu dia mencoba berjalan mendekat kearah Malaikat Sofia. Malaikat perempuan itu yang awalnya sedang berkonsentrasi membaca perkamen, kemudian menghentikan tangannya yang baru akan membalik lembar perkamen selanjutnya yang akan di baca oleh Malaikat cantik itu.
"Reo...," batin Malaikat Sofia yang kemudian langsung membalik tubuhnya.
Reo sendiri cukup terkejut dengan tingkah Malaikat Sofia. Baru saja Sofia ingin memanggil anak Reo, tiba - tiba dari kejauhan soso Malaikat tampan lainnya memanggil namanya, namun wajah malas Malaikat Sofia terbentuk. Dihela napasnya dan dia pun kembali duduk, membaca perkamen.
"Selamat Pagi Malaikat Sofia. Senang bisa melihatmu kembali. Bagaimana wilayah Selatan?" tanya Malaikat Tampan yang bernama Paris.
"Selamat Pagi juga, Malaikat Paris. Selatan baik - baik saja...," jawab dingin Malaikat Sofia.
Namun, Malaikat Paris pantang menyerah. Dia kemudian mendekat kearah meja dan duduk disalah satu ujungnya untuk bisa melihat wajah cantik Malaikat Sofia.
__ADS_1
"Mmm, sore nanti. Apa kau ada waktu Malaikat Sofia? Kau tau kan, hari ini ada Festival Langit Jingga, bagaimana kalau...," ucapan Malaikat Paris terpotong.
"Hehm, maaf Malaikat Paris, aku tidak tertarik melihat Festival Langit Jingga. Sepulang dari Selatan, pekerjaanku jadi menumpuk. Jadi, bisa tolong tinggalkan aku sendiri dan coba tawari Malaikat lain yang pasti bersedia untuk menemanimu?" ucap tegas Malaikat Sofia, setelah menghela napasnya dengan kasar.
Senyum lebar terkembang di wajah Reo, yang sempat merasa kesal saat Malaikat Paris mendekati perempuan pujaannya.
Malaikat Paris mengangguk - anggukkan kepalanya dan perlahan berdiri.
"Maaf sudah menganggu waktu bekerjamu. Tapi Malaikat Sofia, saranku, jangan terus terbelenggu oleh kenangan masa lalu. Reo adalah seorang pengkhianat, dia hampir membuat Kahyangan runtuh akibat keserakahannya. Kau harus tau Sofia, aku bisa mencintaimu lebih besar dari cinta Reo. Aku pamit, semoga harimu selalu menyenangkan...," ucap Malaikat Paris sebelum akhirnya dia meninggalkan Malaikat Sofia.
Mata Malaikat Sofia terpejam sesaat dan saat dia membuka matanya, air mata sudah terkumpul di sudut matanya. Tanpa sadar, dia meremas kertas perkamen itu.
"Reo, bukan pengkhianat, dia pasti punya alasan. Aku harus mencari Ayah lagi, aku harus memastikan bahwa kejadian beberapa puluh tahun lalu, salah...," batin Malaikat Sofia yang langsung membereskan semua kertas pekerjaannya dan pergi dari gazebo itu.
Reo melihat kepergian Sofia, saat berpapasan dengan Reo. Sofia mengentikan langkahnya, karena lagi - lagi dia merasakan kehadiran Reo. Namun, dia ragu. Setelah menoleh sesaat kearah tempat Reo berdiri, Malaikat Cantik itu menggeleng - gelengkan kepalanya.
Sepeninggal Malaikat Sofia, Reo baru berani memunculkan dirinya.
"Akh, Uhuk. Sofia, hehehehe. Kau masih galak seperti dulu dan aku senang melihatmu kini sudah sehat juga hidup dengan normal...," ucap Reo sambil mulai merasa bertambah sakit di bagian dadanya. Dipegangi dadanya, sambil dipandangi Malaikat Sofia yang sudah sangat jauh. Lalu dengan cepat dia memutuskan untuk kembali, karena kondisinya yang kembali menjadi buruk.
...----------------...
Saat sudah puas mendaki, Kei dan Dita kemudian turun untuk merasakan pengalaman berkemah di tempat yang sama. Namun, sebelum mereka menuju ke tempat berkemah, Dita terlebih dahulu ijin ke toilet dan Kei mengambil semua barang mereka di dalam mobil. Setelah mengambil tas di dalam bagasi, Kei memutuskan untuk menyusul Sang Kekasih. Saat dia sedang menunggu di depan toilet sambil memainkan ponselnya, Kei dikejutkan dengan pelukkan seseorang dari samping.
"Ma Bro, Bams...," teriak seorang pemuda agak pendek dan kurus yang langsung memeluk dan memukul lengan Kei.
Seketika mata Kei terbelalak kearah pemuda yang ternyata adalah teman satu geng motornya sewaktu SMA dulu. Baru pemuda itu akan berbicara lagi, seketika tangan Kei membekap mulutnya dan menggiringnya menjauhi toilet.
__ADS_1
"Mmmm, mmmpuaah. Hei, Bro kenapa sih? Mulut aku sampe dibekap begitu?" tanya pemuda itu yang akhirnya diberi udara bebas setelah dibekap sesaat oleh Kei.
Dengan celingukan sesaat, Kei kemudian memegang kedua lengan temannya itu.
"Do, jangan panggil aku Bams. Namaku Kei sekarang, aku udah ganti nama. Oke...," ucap berbisik Kei dengan napas tersengalnya.
Edo nama temannya tersebut, kemudian mengerutkan kedua alisnya.
"Well, oke - oke. Bams, ups, sorry. Kei, aku tadi liat kamu sama cewek cantik? Itu siapa Bro? hah, hah hah. Sekarang mainan kamu sama cewek - cewek disabilitas, heum...," goda Edo.
Kei menggeleng dan kemudian dilepas pegangan tangannya dari Edo.
"Dita Kartasasmita adik Bastian Kartasasmita...," jawab Kei sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku tangannya.
Mata terbelalak dan mulut Edo yang menganga tidak percaya. Lalu mata pemuda itu mengarah ke toilet.
"No way, dia kan cewek yang waktu itu, kamu...," ucapan Edo tidak lengkap sambil menunjuk kearah toilet.
Kei mengangguk.
"Aku perkosa dan kini, aku memacarinya. Aku jatuh cinta sama dia, Do. Aku ingin menebus semua dosaku, pada wanita yang tidak berdosa. Jadi, please Do, jangan pernah manggil aku, Bams. Tolong kasih tau juga anak - anak yang lain, Oke...," ucap Kei dengan sungguh - sungguh.
Kini giliran Edo yang menepuk ujung pundak Kei.
"Bro, aku pengen kasih kamu selamat, karena akhirnya Kei Si Bajingan dan PlayBoy, kini se bucin itu sama adik Si Brengsek Bastian. Tapi inget, Bro, jangan terlalu lama berbohong, jika memang kamu cinta sama dia. Segeralah mengaku, kalau tidak, perempuan itu akan semakin terluka ketika tau yang sebenarnya...," ucap Edo mengingatkan.
Kei meneguk salivanya sekali, dalam diam dipandangi kearah toilet.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...