
Masih di masa lalu Mauris...
Mbah Karimun kemudian perlahan berdiri, namun masih tertunduk. Mauris dengan wajah takjubnya kemudian perlahan menurunkan kedua tangannya yang sempat bersidekap.
"Master, selamat datang kembali...," ucap Mbah Karimun.
Tawa menggelegarnya sebuah suara berat terdengar bergema.
"Karimun muridku yang setia, jadi kau menggunakan tenaga terakhirmu untuk mengeluarkan ku dari paling laut dan juga jimat sialan Si Tua Bangka Lila juga anak bodohnya, Rendra. Hehm, aku juga mencium aroma wangi aura kegelapan disini. Oh, kaku rupanya membawa seorang tamu istimewa Karimun...," ucap Reo dari dalam kantung yang kembali melayang - layang rendah di hadapan Mbah Karimun.
Kepala dukun tua itu mengangguk - angguk dan kemudian dia menoleh kearah Mauris, memberi kode dengan jemarinya agar pria muda itu lebih mendekat.
Mauris kini merasa sedikit ketakutan, namun ini semua dilakukan untuk Sang Adik Darius. Setelah berdiri berdampingan dengan Mbah Karimun, dukun tua itu lagi - lagi memberi kode agar Mauris menundukkan kepalanya.
"Hehehehe. Kegelisahan, ketakutan, ambisi dan kesedihan. Hehm, kau paket lengkap pemuda tampan. Jadi, apa yang bisa kau berikan padaku untuk mengembalikan jiwa adikmu yang kini sudah sampai di pintu nirwana? Masih ada waktu untuk menarik jiwa adik kecilmu itu, sebelum malaikat - malaikat munafik nirwana membawanya pergi..." ucap Reo dengan tawa, nada licik juga bahas penawaran yang membuat Mauris bertambah kalut.
Dalam tunduknya Mauris menghela napas sekali, lalu mendongakkan kepalanya.
"Hah, saya tidak tau, kau apa atau darimana, karena saya tidak peduli. Apapun akan saya berikan, asal saya bisa menyelematkan Darius adik saya. Apalagi, anda mengatakan jiwa adik saya sudah sampai nirwana...." jawab Mauris.
Tawa menggelegar Reo, sekali lagi terdengar memenuhi area lautan itu.
"Hahahaha, Mauris. Baru pertama kali kita bertemu, tapi aku sudah menyukaimu. Karimun, sepertinya dia adalah penerusmu. Baik, Mauris my little boy. Aku mau kau menjadi bagian dariku, aku akan membagi jiwaku ke seorang inang yang kuat dan itu adalah kau. Lalu bawa sisa jiwaku dan sembunyikan disebuah cermin yang akan tersimpan disebuah tempat tersembunyi. Bagaimana?" jelas dan tanya balik Reo.
Mauris mengernyitkan alisnya, kini wajahnya tidak lagi dalam keadaan takut ataupun ragu. Dia kemudian mendekat kearah Reo.
"Jika aku lakukan semua yang kau mau. Apa Adikku, Darius benar - benar bisa kembali hidup dan hidup normal seperti sedia kala? Aku akan melakukan semua pintamu, setelah kau, mewujudkan semua keinginanku...," ucap Mauris dengan tegas.
__ADS_1
Lagi - lagi tawa dari suara berat Reo terdengar bergema.
"Aku menyukaimu Mauris, kau memang seorang murid teladan. Tentu, tunggulah disini sebentar...," ucap Reo yang tiba - tiba menghilang dari hadapan Mbak Karimun juga Mauris.
Namun, tidak butuh lama. kantung kecil yang menyimpan jiwa Reo kemudian kembali dan terlihat berasap. Terdengar suara batuk dari kantung tersebut.
"Uhhuukkk. Uhhhuk, sekarang lihat baik - baik...," ucap Reo kemudian.
Kemudian dari dalam kantung, Reo memakai sisa - sisa tenaganya untuk memperlihatkan sesuatu pada Mauris. Sinar kemerahan memenuhi langit diatas mereka, sebuah gambaran layaknya video, memperlihatkan wajah Darius yang masih memakai alat bantu medis untuk terus hidup, perlahan terlihat jemari tangannya mulai bergerak dan perlahan kedua matanya bisa dibuka perlahan.
"Darius...," gumam pelan Mauris dengan mata berbinarnya.
Mauris mendekat kearah Reo dengan tatapan yang masih menengadah ke langit malam yang berubah menjadi merah.
Namun, gambaran Darius yang berhasil kembali hidup tiba - tiba menghilang, kala keadaan Reo yang melemah. Kantung kecil yang menjadi rumah Reo perlahan akan terjatuh. Mbak Karimun lalu menangkap jantung tersebut.
Lalu Karimun yang masih memegang kantung yang berisi Sang Majikan, lalu berjalan mendekat kearah Mauris.
"Ini waktunya. Bersiaplah, Master sudah tidak punya banyak tenaga...," ucap Mbah Karimun yang langsung menggeret agak kasar tubuh Mauris dan kemudian memaksa tubuhnya agar bersimpuh di hadapannya.
Mauris yang baru akan melawan, tiba - tiba tubuhnya terkunci. Dia benar - benar tidak bisa bergerak.
"Sial, kenapa badanku? Akh, sakit. Kenapa? Arrgh....," batin kesakitan Mauris yang kemudian diikuti oleh teriakannya yang sangat kencang.
Kemudian awan hitam keluarga dari kantung kecil Reo, lalu masuk kedalam mulut Mauris dan langsung memenuhi seluruh tubuh pria muda itu. Setengah dari jiwa Reo berhasil masuk dan secara bertahap menyatu dengan jiwa Mauris. Rasa sakit yang dirasakan Mauris diawal perlahan memudar dan juga dia terlihat kelelahan, setelahnya Mauris tertunduk lemas. Mbah Karimun pun yang sedaritadi mengucapkan beberapa mantra pelepasan segel Reo, kemudian kembali mengatur napasnya.
"Huh, fiuh. Master...," ucap Mbah Karimun kehadapan Mauris.
__ADS_1
Cukup lama Mauris masih terdiam dengan tetap bersimpuh dan tertunduk. Kantung yang dibawa oleh Mbah Karimun pun terdiam, tidak ada suara apapun dan membuat pria tua itu menjadi khawatir. Baru dia akan mencoba membangunkan Mauris, tiba - tiba tubuh pria muda itu menggeliat dan tawa geli keluar dari mulut Mauris.
"Hahahaha. Karimun..," panggil Mauris dengan tawa gelinya.
Mbah Karimun lalu mengernyitkan dahinya dan agak mundur sedikit.
"Mas. Ter?" Mbah Karimun memanggil nama Sang Majikan dengan sedikit ragu.
Lalu Mauris terlihat meregangkan lehernya sedikit, sebel akhirnya dia mendongakkan kepala dan memandang wajah Mbah Karimun dengan senyum miring juga retina matanya yang berubah merah keemasan. Mbah Karimun sendiri yang mengenali retina itu, lalu dengan cepat bersujud memberi hormat.
Jiwa Mauris dan 1/2 jiwa Reo sudah berhasil menyatu hingga hari ini.
Kembali ke masa kini...
Regina masih terdiam dengan meneguk salivanya, dia lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya dan merunduk dengan kemudian menggenggam satu tangan Mauris yang mulai menjadi dingin dengan kedua tangannya.
"Kamu menjual jiwamu untuk keselamatan adikmu, Mauris itu. Itu sungguh kisah yang sangat menyayat hati. Walaupun aku masih mencoba mencerna, tapi aku menjadi saksi mata yang melihatmu sekarang, dengan celah berubah pucat. Kita lakukan. Aku mau membantumu, mari kita bercinta...," ucap Regina yang baru mau melepas pegangan tangannya untuk membuka seluruh bajunya, namun lagi - lagi tangan gadis anggun nan cantik itu ditahan oleh Mauris.
"Ada satu lagi, bukan hanya tubuh dan hati kita yang menyatu. Akh, namun jiwa. Aku harus menghisap, bukan maksudku kekuatan Master yang ada di jiwaku harus menghisap jiwamu. Aku, aku rasa, aku tidak sanggup melakukannya. Hah, Regina sebaiknya kamu tinggalkan aku sebentar, aku hanya butuh...," ucapan Mauris dipotong oleh Regina
"Hisap, hisap semuanya. Aku siap, aku, aku rasa aku menyukaimu Mauris. Aku, aku nggak sanggup melihat kamu tersiksa begini. Jadi, bisa kita mulai sekarang...," jawab Regina sambil menatap ke retina Mauris.
Mauris sebenarnya sudah merasa sangat ragu, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain.
"Jika, kau tau yang sudah membunuh nenekmu adalah aku. Aku yakin Regina, kau akan langsung meninggalkanku dan menjebloskan aku ke penjara...," batin Mauris yang juga menatap lekat wajah Regina dan mengelus pipi gadis anggun itu dengan lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1