#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
35.


__ADS_3

Di kamar rawat yang terpisah, Darius pun mengalami sebuah mimpi yang aneh hingga membuat dia akhirnya tersadar. Matanya terbuka dengan tiba - tiba, napasnya tersengal. Lalu pandangannya menyisir ke sekeliling ruangan.


"Akh. Hah. Dimana? Kinanti, ya. Kinan, akh. Dimana dia?" batin Darius sambil masih merasa sedikit sakit di dadanya.


Lelaki muda itu mencoba bangun dari ranjangnya, namun ternyata tenaganya masih belum cukup. Kemudian dia mencoba mencerna dan mengingat ulang kejadian yang menimpa dirinya. Setelahnya dia baru tau bahwa ini di rumah sakit, karena sekali lagi dilihat ke arah tangannya yang sudah bertengger selang infus dan di hidungnya juga sudah bertengger selang oksigen. Kemudian dia mencari sebuah tombol pemanggil tim medis, setelah ditemukan tombol yang bertengger di meja sebelah ranjangnya lalu ditekan sekali. Tidak butuh waktu lama, seorang perawat laki - laki masuk ke dalam ruang rawat Darius.


"Oh, Mas sudah sadar. Baik, sebentar saya cek." ucap perawat itu.


Darius yang masih berbaring pun, terdiam sesaat sambil melirik sesekali kearah perawat laki - laki yang sedang memeriksa ampul infus dan juga kemudian beralih ke lengan Darius untuk mengecek tekanan darahnya.


"Sus, saya mau tanya soal gadis yang mungkin juga datang bersama dengan saya. Sekarang dia dimana?" tanya Darius.


Perawat itu sempat berpikir sebentar.


"Oh iya, mbak yang tadi itu. Sekarang sedang berada di ruang ICU, kondisinya sudah stabil. Namun masih harus diobservasi. Baik, semua sudah normal. Mas, tinggal menunggu dokter yang akan datang besok, untuk memeriksa kondisi anda secara detail. Kalau tidak ada yang mau ditanyakan lagi, saya permisi dan silahkan beristirahat." jelas perawat itu.


"Sementara itu saja sus, terimakasih." jawab Darius.


Perawat itu kemudian keluar dari ruang rawat. Sepeninggal perawat, Darius kembali mencoba untuk bangun secara perlahan. Dengan wajah yang masih mengernyit, dia akhirnya bisa membuat tubuhnya bangun. Didorong tubuhnya ke belakang, untuk dapat bersandar ke dinding brankarnya.


Lalu dia teringat sesuatu.


"Ck, Kakak Mauris. Hah, pasti deh...," belum selesai dia berucap.


Benar saja, pintu ruang rawat Darius terbuka. Langkah cepat Mauris pun terdengar, wajah runcing nan menawannya kini sudah ada di depan ranjang Sang Adik.


"Darius...," panggilnya dengan nada sendu.


"Gimana? Gimana keadaanmu, kenapa - kenapa bisa kamu masuk ke rumah sakit?" tanya Mauris yang sudah ada di samping ranjang Darius dan melihat ke sekeliling tubuh Sang Adik.

__ADS_1


Darius yang masih menggunakan alat bantu oksigen, lalu meraih tangan Sang Kakak.


"Duduk dulu kak, jangan liatin aku kayak anak kecil gitu." ucap Darius yang juga masih lumayan lemah.


Mauris pun menurut. Pria tampan itu, lalu duduk di pinggir ranjang Darius masih sambil menggenggam tangan Sang Adik.


"Kak Mauris tau aku disini, dari siapa?" tanya Darius, walaupun dia sudah tau jawabannya.


"Jonan yang bilang, dia antar kamu dari rumah dengan kondisi, kamu yang terburu - buru. Lalu dia terkejut, kamu keluar dengan seorang gadis sudah dibawa dengan ambulans. Lalu dia menghubungi kakak. Ada apa Dek, kenapa kamu bisa sampai begini? Ada yang sakit atau terluka?" tanya Mauris yang kemudian kembali melihat ke sekeliling tubuh Darius.


Darius kini merasa ragu, dia terdiam sesaat.


"Jika, aku cerita apa yang aku alami hari ini. Dia pasti tidak akan percaya, yang ada nanti bakal banyak pertanyaan yang pastinya malas kujawab." batin Darius.


Mauris lalu mengibaskan tangannya ke depan wajah Darius.


Lalu senyum tipis tergurat di wajah Darius, kemudian dia kembali mendorong tubuhnya agar terbaring dan dipejamkan matanya.


Mauris memandangi wajah Sang Adik.


"Kekuatan apa yang kamu miliki sebenarnya Darius? Kakak penasaran, tapi tidak mungkin aku bertemu dengan Master saat ini untuk bertanya. Apalagi, kegagalanku untuk mendapatkan jiwa gadis itu. Oh iya, gadis itu. Aku harus memeriksa keadaannya, setelah Darius benar - benar tertidur. Maafkan kakak Darius, bukan maksud kakak ingin membuatmu jadi seperti ini. Harusnya gadis itu saja yang terluka." batin Mauris dengan kedua alisnya yang agak berkerut.


Dia menemani Darius hingga, lelaki itu kembali tertidur pulas.


...----------------...


Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, hingga sampai di depan pintu gerbang rumah Sang Eyang Mertua. Lalu setelah melapor kepada penjaga pintu gerbang, Bara bisa masuk ke halaman rumah Eyang Lila.


Dengan sedikit terburu - buru, Bara langsung turun dari mobilnya dan melangkah panjang. Namun, saat akan mengetuk pintu rumah Eyang Lila. Tiba - tiba pintunya sudah terbuka sendiri, sosok Eyang Lila keluar dengan busana tidurnya yang panjang dibalut dengan sehelai scarf yang menutupi pundak juga kedua lengannya.

__ADS_1


"Malam Eyang, maaf Bara tiba - tiba datang." sapa Bara sambil mencium punggung tangan wanita tua itu dan mengecup kedua pipinya.


Eyang Lila terdiam dan hanya tersenyum, lalu digandeng lengan Bara untuk masuk. Setelah melalui ruang tamu dan ruang keluarga. Mereka sekarang sudah berada di beranda belakang rumah Eyang Lila yang merupakan spot favoritnya.


"Duduk Bara....," ucap Eyang Lila yang kemudian menuangkan teh chamomile kesukaannya.


Bara pun menurut, dia duduk dengan mengatur perasaannya setenang mungkin.


Eyang Lila lalu menyuguhkan teh itu di atas meja, samping tempat duduk Bara.


"Minum...," ucap Eyang kembali.


Bara pun kembali mengikuti arahan Eyang Lila.


Setelahnya, wanita tua itu menaruh cangkir teh miliknya dan memperhatikan Bara.


"Reo, dia memiliki anak buah. Kekuatannya hampir mirip dengan kekuatan Reo, lebih tepatnya. Reo membagi jiwa juga kekuatannya pada orang itu. Perburuan atas Kinanti kini sudah dimulai, apalagi beberapa bulan lagi. Usia cicit manisku itu akan berumur 21 tahun dan belum ada tanda - tanda, orang yang ditakdirkan untuknya datang. Segel pelindung yang Eyang berikan berupa kalung, kekuatannya mulai memudar. Besok Eyang akan mencoba memperbaharui segelnya dengan kekuatan Eyang. Namun Bara, kali ini Eyang tidak janji segel itu akan bertahan lama bisa melindungi Kinanti. Mimpi, hanya mimpi Kinanti petunjuknya juga orang yang ditakdirkan untuknya merupakan kunci utama agar kutukan itu bisa hilang. Eyang sedang berpikir cara, untuk menemukan orang itu dan juga masuk ke mimpi Kinanti." jelas Eyang.


Bara kemudian mengusap wajahnya dengan satu tangannya.


"Bagaimana, bagaimana jika orang itu tidak kita temukan Eyang? Apa ada jalan keluar lain? Seperti misalnya, memindahkan kutukan itu ke tubuhku?" tanya Bara yang mulai pesimis.


Eyang Lila terdiam, lalu dengan perlahan diraih tangan Bara.


"Bara, Eyang tau kamu pasti sangat mencemaskan Kinanti. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya. Kamu yang tenang ya. Ingat, kita tidak diam. Tuhan dan leluhur tau itu. Kita sudah dan akan melakukan berbagai cara, agar Kinanti terbebas dari kutukan Reo. Jadi, masih ada harapan. Teruslah berdoa ya, nak." jelas Eyang Lila mencoba menenangkan Bara.


Bara pun mengangguk dan tersenyum tipis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2