#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
50.


__ADS_3

Sarah tenggelam, dia memasrahkan dalam dan dinginnya air laut melahap tubuh mungil nan rampingnya. Kesadaran Sarah menghilang total. Namun, tiba - tiba dia merasakan sesuatu yang hangat juga lembut menyentuh tubuhnya. Dia membuka matanya perlahan, samar pandangan Sarah dirasa.


"Dimana? Apa aku sudah mencapai nirwana?" batin Sarah yang merasa kelelahan juga lemas.


Kedua matanya dikerjapkan dengan perlahan, lalu gadis itu mencoba bangun, namun tidak bisa. Sekujur tubuhnya tertahan oleh sesuatu, Sarah melihat ke sekitar tubuhnya, dia pikir ada yang mengikat tangan dan kakinya hingga membuat dirinya tidak bisa bergerak.


"Kenapa? Kenapa? Suaraku, suaraku juga hilang...," pikir Sarah yang mencoba mengeluarkan suara, namun tidak ada yang terdengar.


Sarah berada di sebuah tempat luas, hening juga sekelilingnya tampak gelap namun ada kabut tipis juga terlihat menghiasi tempat itu. Gadis itu merasa hangat diawal, namun kemudian hawa dingin tiba - tiba datang menerpa sekujur tubuhnya. Dia mulai sedikit menggigil, disaat bersamaan suara langkah sepatu terdengar jelas mendekat kearahnya.


Mata Sarah memicing, telinganya pun berkonsentrasi.


Setelah suara langkah sepatu, kini terdengar suara tawa kecil bergema.


"Hehehehe. Hai, Sarah...," sapa suara itu.


Sarah kemudian menoleh ke kanan dan kiri dengan matanya yang juga bergerilya.


"Oh, maaf. Kamu tidak bisa bersuara ya. Hehehehe. Ya, memang kamu tidak perlu mengeluarkan suara apapun atau menjawab apapun. Kamu hanya perlu mendengarkan yang akan aku katakan...," ucap suara itu.


Sarah mencoba menggeliat, namun percuma. Kini, semakin dia aktif bergerak, tenaganya semakin terkuras. Deru napasnya terdengar semakin melemah.


"Siapa? Siapa dia? Kenapa, kenapa aku jadi begini?" batin Sarah.

__ADS_1


"Hehehe. Aku, kamu tanya siapa aku? Baik, aku akan memperkenalkan diriku. Sarah, namaku Reo. Aku adalah Raja Iblis yang sedang tertahan di sebuah tempat dan kamu adalah salah satu jalan keluar ku. Auramu sangat menggoda, ditambah kamu mencoba bunuh diri tepat di atas tempat aku dulu sempat dikurung. Oke, cukup untuk perkenalannya. Kini, aku langsung saja ke inti pembicaraan." jelas Reo dalam kegelapan.


Suara derap langkah kakinya terdengar jelas, mondar - mandir di dekat Sarah. Mata gadis itu, terus dalam mode waspada.


"Iblis? Ternyata aku memang sudah meninggal dan ini, ini adalah neraka...," batin Sarah.


Tawa terbahak Reo bergema seantero ruangan.


"Neraka. Hahahaha, gadis bodoh. Hehm, selain aura negatif yang kamu miliki sangat kuat, aura kesepian yang kamu miliki pun sangat dalam. Aku sangat menyukainya. Sarah, kamu adalah inang yang sempurna untukku. Jadi bersiaplah, menerima ku di seluruh tubuhmu...," ucap Reo yang sangat senang.


Lalu tubuh Sarah, menjadi kaku. Perlahan namun pasti, mulutnya terbuka. Mata gadis itu terbelalak. Reo Si Awan, masuk perlahan ke tubuh Sarah melalui mulut gadis itu. Seketika tubuh Sarah menjadi kejang beberapa saat dan dia pun kehilangan kesadarannya.


...----------------...


Setelah membaringkan tubuh basah dan dingin Sarah di bangku penumpang belakang, Kevin lalu tancap gas, menuju rumah sakit.


"Sarah, tolong. Jangan buat aku khawatir begini, tidak cukupkah kejadian di bukit belakang yang melukai kakimu. Kamu harus sadar. Tolong...," batin Kevin dengan wajah sedih bercampur khawatir dan juga menyesalnya.


Sesampainya di rumah sakit, Sarah langsung ditangani oleh tim medis. Namun, belum sempat alat - alat medis di pasangkan ke tubuhnya. Mata Sarah seketika terbuka lebar, kemudian dia menyisir ke sekitar. Hingga membuat para perawat dan juga dokter yang menanganinya terkejut.


"Mbak, bagaimana...," ucapan dokter tersebut terhenti ketika, Sarah juga tiba - tiba bangun dari posisi tidurnya.


Lalu dia mengangkat kedua tangannya dan dipandangi dengan mata terbelalak. Sesaat kemudian terlihat senyum lebar dan tawa kecil yang mengiringinya.

__ADS_1


"Hahhahahaha. Berhasil. Hahahaha. Aku berhasil...," tawa terbahak Sarah, kemudian di menatap tajam semua petugas medis di ruangan UGD tersebut.


Lalu Sarah, melepas paksa selang infus yang sudah bertengger di nadinya. Beberapa perawat terkejut, kemudian sebagian lagi mencoba menahan tindakan Sarah. Gadis itu terlihat sangat emosi, dia kemudian mendorong perawat yang berusaha menahannya. Seketika tubuh perawat - perawat itu terhempas dan menabrak alat - alat medis yang berada di ruangan itu. Hingga membuat suara gaduh yang sangat keras. Kevin yang sedang sangat ketakutan di luar ruangan, kini sangat terkejut dengan suara yang terdengar dari dalam ruangan UGD. Ditambah dia melihat Sarah yang tiba - tiba keluar dan berjalan dengan cepat berlalu dari hadapannya. Kevin sesaat tertegun, lalu dia tersadar dengan cepat. Pemuda itu berlari mengejar langkah Sarah, namun lagi - lagi dia dibuat takjub. Sarah sudah menghilang, Kevin kemudian berkeliling ke sekitar area rumah sakit. Tidak ditemukan jejak Sarah.


"Hah. Hah. Sarah, dia. Dia kenapa, begitu cepat jalannya? Dia terlihat seperti orang lain tadi...," gumam Kevin sambil melonggarkan kancing kemeja yang dikenakannya dengan napas tersengal.


Lalu dia mengambil ponsel dari dalam kantung celananya, dengan cepat Kevin menghubungi seseorang untuk meminta pertolongan.


"Sarah, kamu kemana lagi?" batin Kevin dengan wajah lelah dan khawatir yang belum hilang.


...----------------...


Eyang Lila sedang membuat tehnya, ketika dia akan memindahkan cangkir itu ke baki. Tiba - tiba cangkir teh itu terlepas dari genggamannya, wajah dan tangannya berubah kaku. Ketika wanita tua itu mendapatkan sebuah visual, dari wajahnya tergurat keterkejutannya.


"Reo...," ucapnya pelan.


Lalu dia pergi dengan cepat kearah telepon rumahnya berada. Dipencet nomer Sang Anak, lalu dia menceritakan semua yang berhasil dilihatnya. Setelahnya dia memejamkan mata, sambil menghela napas panjangnya.


Lalu Eyang Lila berdiri, dia berjalan dengan pelan menuju ruang meditasi. Ditutup ruangan itu, dinyalakan beberapa lilin dan dia duduk di atas lantai beralaskan bantal. Memandang lurus ke depan untuk memfokuskan pikiran, lalu perlahan dipejamkan matanya. Dia mencoba mencari keberadaan Reo, karena visual yang dilihatnya barusan hanya sekelebat dan tidak begitu jelas terlihat olehnya. Cukup lama, dia melacak keberadaan Reo. Tetesan keringat mulai membasahi pelipis yang kemudian mengalir ke pipi. Kedua alisnya pun bertaut, dengan sesekali kepalanya bergoyang.


"Hah. Hah. Dia, kenapa? Kekuatannya melebihi kekuatan yang pernah dia miliki, siapa inang barunya? Kenapa auranya terasa di tempat yang berbeda - beda? Akh, apalagi kali ini Reo....," pikir Eyang Lila, setelah matanya terbuka dengan napas yang tersengal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2