
Tak...
Tak...
Tak...
Suara sepatu Mami Bara melewati lobi sekolah Sang Cucu.
Wanita agak tua itu, berjalan dengan wajah angkuh dan juga sedikit kesalnya.
Dia sudah memiliki janji untuk bertemu dengan kepala sekolah Kinanti Sang Cucu hari itu, namun karena belum mengetahui keberadaan ruang kepala sekolah tersebut. Mami Bara lalu menuju ke meja informasi yang terletak di dalam lobi sekolah.
"Selamat Pagi. Saya dengan Nadia wali murid atas nama Kinanti Bulan Putri Bara.
Sesuai rencana, saya ada temu janji dengan Bapak Mustika hari ini. Bisa disampaikan bahwa saya sudah tiba dan juga saya belum tahu dimana ruang kepala sekolahnya?" jelas Ibu Nadia.
"Selamat Pagi Ibu Nadia. Baik, ditunggu sebentar Ibu. Saya konfirmasi sebentar ke Bapak Mustika." jawab petugas dengan sopan dan penuh senyum ramah.
Lalu petugas menghubungi Sang Kepala Sekolah, tidak membutuhkan waktu lama setelah sambungan telepon ditutup dan Bapak Mustika sudah siap menerima kedatangan Ibu Nadia. Sang Petugas langsung mengantarkan Ibu Nadia ke ruangan Bapak Mustika.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara ketukkan pintu.
"Masuk." jawab Bapak Mustika dari dalam.
Ceklek...
Suara gagang pintu yang dibuka, kemudian petugas yang juga diikuti oleh Ibu Nadia masuk.
"Silahkan Ibu." ucap petugas itu mempersilahkan Ibu Nadia untuk masuk, setelahnya dia langsung keluar ruangan.
Ibu Nadia pun hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Selamat Pagi. Ibu Nadia. Perkenalkan saya Bapak Mustika Priambodo, Kepala Sekolah disini." ucap pria berpostur tubuh tinggi, besar dan tegap tersebut sambil menjulurkan tangannya kehadapan Ibu Nadia.
Ibu Nadia sendiri sudah berganti mimik wajah ke wajah angkuh dan kesalnya, lalu dijabat tangan kepala sekolah tersebut tanpa berkata apapun.
"Silahkan Ibu." ucap Pak Mustika yang mempersilahkan Ibu Nadia untuk duduk di sofa ruangannya.
__ADS_1
Ibu Nadia berjalan kearah sofa dan kemudian dengan tegak dan anggunnya.
"Ada yang bisa saya bantu hari ini Ibu?" tanya Pak Mustika yang sudah duduk berhadapan dengan Ibu Nadia.
Alih - alih menjawab pertanyaan, yang menurut Ibu Nadia adalah sebuah basa - basi. Wanita tua itu langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu meletakkan di tengah - tengah meja.
"Saya datang kesini. Untuk menuntun keadilan pada cucu kesayangan saya Kinanti Bulan Putri Bara. Di depan Bapak adalah sejumlah nama siswi yang satu tim sewaktu jejak malam, dengan Kinan. Beserta semua kronologi kejadiannya. Saya tahu sekolah ini, sedang melakukan investigasi, namun menurut saya terlalu lamban. Karena cucu saya, pergi dengan cantik, pulang - pulang babak belur bahkan kakinya sampai saat ini masih pincang. Saya ingin bertemu semua para pelaku yang tidak bertanggung jawab itu sekarang atau saya akan sebarkan ke media bahwa sekolah mahal ini, benar - benar tidak becus dalam menjaga keselamatan para siswanya. Saya rasa Bapak kenal kan siapa saya?" jelas Ibu Nadia dengan wajah menyeramkan dan ucapan mengancamnya.
Degh...
Bapak Mustika sangat terkejut dengan ucapan Nenek Kinan tersebut, sambil menelan salivanya dan membuka semua bukti yang dibawa oleh Ibu Nadia.
Dilihat dan dibaca semua file juga foto - foto yang ada di hadapannya tersebut.
"Semua buktinya sangat detail, hampir sama dengan semua file bukti yang saya miliki, hanya yang ini. Versi detail dan lengkapnya." batin Pak Mustika terheran dengan semua hal yang sedang dibacanya.
Kemudian dirapikan file - file itu dan dimasukkan kembali ke dalam amplop besar di atas meja, sebelum akhirnya dia mengucapkan sesuatu.
"Baik Ibu Nadia. Kebetulan memang hari ini, saya akan memanggil beberapa siswi yang menurut saya adalah otak dari kejadian yang menimpa Kinanti. Saya harap Ibu bersedia menunggu sebentar, saya akan langsung memanggil siswi yang bersangkutan." jelas Pak Mustika dengan wajahnya yang sangat cemas.
Lalu Bapak Mustika berdiri dan langsung menelepon seseorang melalui telepon di ruang kerjanya itu.
Selesai menelepon, Bapak Mustika kembali duduk di hadapan Ibu Nadia dan berusaha memulai percakapan dengan topik lain.
"Silahkan Masuk." jawabnya lagi.
Lalu seorang wanita muda dan juga 2 orang siswinya mengikuti di belakang.
"Selamat Pagi Bapak. Saya sudah membawa Nami Adyatama siswi kelas 3 dan Sarah Adyatama siswi kelas 6. Mereka adalah para siswi yang bapak panggil, kebetulan juga mereka ini bersaudara." terang sesaat guru pendamping yang merupakan guru BK.
"Selamat Pagi Ibu Nilam. Terimakasih atas penjelasannya. Mari Nami dan Sarah, kalian duduk di sebelah sini." ucap dan panggil Pak Mustika.
Lalu kedua gadis itu duduk di sofa depan antara Pak Mustika dan juga Ibu Nadia.
"Begini Nami dan Sarah. Apakah betul, kalian waktu kegiatan kemping kemarin adalah teman satu tim dari Kinanti Bulan Putri Bara anak kelas 3B?" tanya Pak Mustika.
Sarah dan Nami saling meneguk saliva, tangan Nami sudah meremas rok sekolahnya di depan lututnya karena tegang. Sedangkan Sarah bersikap se tenang mungkin, agar tidak ketahuan soal perbuatan mereka itu.
Pak Mustika yang sudah bisa membaca gerak - gerik Nami yang sangat gugup pun, sudah yakin bahwa mereka memang pelakunya.
"Iya Pak." jawab Sarah tegas sambil melihat kearah retina mata Pak Mustika dengan berani.
"Baik. Apakah kalian juga tau, kalau jalan yang kamu putuskan ambil adalah jalan yang salah Sarah, Nami?" tanya Pak Mustika lagi.
__ADS_1
Nami dan Sarah lagi - lagi terdiam.
Kali ini Pak Mustika menatap wajah Nami dengan intens.
"Nami?" panggil lembut Pak Mustika.
Nami kemudian terlonjak sedikit dengan jemarinya masih terus meremas rok sekolahnya.
Lalu gadis bertubuh tinggi kurus itu, tiba - tiba menoleh kearah Sang Kakak dengan raut wajah memelas meminta pertolongan.
"Nami? Kenapa kamu melihat ke arah Sarah? Saya yang bertanya padamu. Oke, kalau dari kalian tidak ada yang mau mengaku. Terpaksa bapak langsung memberikan surat pemanggilan orang tu..." ucapan Pak Mustika terhenti.
"Maaf Pak Mus. Hiks, sungguh saya dan Kak Sarah hanya bermaksud becanda. Dengan melewati jalan penuh kabut itu. Tolong, tolong jangan, jangan panggil Orang Tua kami. Tolong. Hiks." jawab Nami sambil berteriak dan menangis, karena terlalu ketakutannya sambil memelasnya.
Sedangkan Sarah langsung menatap tajam kearah Sang Adik karena kesal, aksi mereka dibongkar sendiri oleh Nami.
Ibu Nadia kemudian menarik napas panjang dan menetap kearah Pak Mustika.
Lelaki paruh baya itupun menarik napas pendek, setelah mendengar penjelasan salah satu siswi terbaiknya itu.
"Baik Nami. Saya rasa, kamu dan Sarah bukan bermaksud becanda, tetapi memang sengaja jalan kearah itu. Sehingga mengakibatkan Kinanti terjatuh ke jurang, juga mengakibatkan teman kalian itu mengalami sejumlah luka yang cukup serius. Kalian pasti terkejut, darimana Bapak tahu. Tentu saja dari teman satu tim mu yang lain." jelas Pak Mustika yang membeberkan fakta - fakta yang telah mereka kumpulkan.
Nami yang masih juga menangis, kemudian menatap kearah Sang Kakak.
Sarah masih juga menatap dengan tatapan tajam, hingga suara Ibu Nadia mengalihkan pandangan Sarah.
"Sarah dan Nami bukan? Saya adalah nenek dari Kinanti, saya ingin kalian berdua di skorsing dari sekolah, karena tindakan kalian kepada cucu saya termasuk tindak kriminal. Bukan begitu Pak Mustika?" ucap Ibu Nadia sambil menatap tajam kearah Sarah.
Sarah pun mengerutkan keningnya dan mengepal salah satu tangan karena menahan emosinya.
"Begini Ibu Nadia, sebelum keluarnya surat skorsing. Kami, pihak sekolah terlebih dahulu harus memanggil kedua orang tua mereka. Menjelaskan duduk perkara, baru kemudian hukuman skorsing tersebut dapat kami berikan. Ibu Nilam segera untuk diproses surat pemanggilan kedua orang tua mereka." ucap Pak Mustika.
"Baik Pak." jawab Ibu Nami singkat.
Nami juga Sarah tidak bisa berkata apapun lagi. Karena semua bukti sudah ada di tangan Pak Mustika, juga karena ulah Nami yang tidak sengaja membocorkan informasi, walaupun informasinya juga sedikit berbohong.
"Kalian masih kecil saja sudah pintar ngelakuin tindak kriminal. Gimana gedenya nanti?" batin Ibu Nadia sambil memandang kedua kakak beradik itu.
Sedangkan Sarah kini sudah tertunduk.
"Awas kamu Kinanti. Aku bakal balas semua perbuatan kamu, pada kami." batin dendam Sarah dalam tunduknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1