
"Tapi, tapi Kak Marius. Aku, aku udah cukup kuat. Walaupun sesekali, masih sedikit sesak seperti ini. Tapi, tapi aku janji. Aku..." penjelasan Darius yang terbata terpotong.
"Darius. Sekali kakak bilang nggak, ya nggak. Sampe kamu dewasa pun, kamu tetap home schooling." teriak Marius yang kemudian terbangun dari duduknya tiba - tiba dengan mata membelalak ke arah Sang Adik.
Setelah dia sadar akan tingkahnya, Darius kemudian kembali duduk dengan pelan di pinggir ranjang Darius.
"Dek, maaf. Kakak nggak mak..." kini giliran ucapan Marius yang terpotong.
"Aku mau sendiri kak. Terimakasih hadiahnya." ucap dingin Darius yang kemudian menarik selimut dan berbaring dengan memunggungi Sang Kakak.
Tangan Marius kemudian baru akan menyentuh lengan Darius, namun dihentikannya.
"Kakak, pergi dulu. Kalau ada apa - apa, kamu bisa hubungi Pak Wijaya." ucap Marius yang kemudian berdiri kembali dan meninggalkan kamar Darius.
Darius yang tadinya sudah memejamkan matanya, kemudian membukanya kembali saat Sang Kakak pergi.
...----------------...
Tak...
Tak...
Suara sebuah tongkat. Seorang perempuan cantik yang baru keluar dari rumahnya, dia menyusuri jalanan sekitar rumah menuju sebuah persimpangan jalan.
Setelah sampai, lalu perempuan itu berbelok ke salah satu arah di jalanan yang lebih besar. Dia terus berjalan di atas trotoar dengan dibantu tongkatnya.
Perempuan muda itu berjalan hingga, ada sebuah panggilan yang menghentikan langkahnya.
"Dita." panggil seseorang di seberang jalan.
Perempuan muda tersebut lalu tersenyum, ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.
Kemudian orang yang memanggilnya itu menyebrang kearah Dita.
"Hah. Hah." napasnya sedikit tersengal karena agak terburu - buru saat ingin menghampiri perempuan muda itu.
"Pagi Kei. Kenapa kamu ngos - ngosan gitu?!" ucap Dita yang kemudian ingin meraba orang yang sudah berdiri di sampingnya.
Namun orang itu menghindar.
"Hehehehe. Nggak pa - pa. Yuk, masuk kelas." ucap orang tersebut.
Dita hanya tersenyum dan kemudian melanjutkan langkahnya yang kini sudah bersama seorang pemuda kurus tinggi.
"Mmm, Kei. Kamu udah bikin tugas dari Miss Putri?" tanya Dita.
"Hehehehehe. Udah sih Dit, tapi..." jelas Kei tidak lengkap dengan diselingi dengan tawa tengilnya.
"Tapi, kamu mau pinjem punyaku. Soalnya kamu nggak yakin bener apa nggak, gitu kan Kei? Hehmmm." ucap Dita melengkapi kalimat pemuda itu.
"Hehehehhe. Nah, itu kamu tauuu. Kamu memang teman sekelas ku yang paling baik dan pengertian. Mana Dit ? Sebelum Miss Putri dateng." ucap Kei sambil meminta buku tugas Dita.
__ADS_1
"Sampe di kelas, baru aku bakal kasih." jelas Dita dengan jahilnya.
"Hehm." tarik napas pemuda kurus tersebut.
Lalu kedua teman itu berjalan beriringan ke dalam kelas.
"Eheeemmm." suara orang berdeham kepada Kei dan Dita.
Dita kemudian sedikit memfokuskan telinganya kearah asal suara.
Kei yang ada disebelah Dita pun menoleh kearah suara.
"Dit, kamu duluan aja ya ke kelas. Aku masih ada urusan." ucap Kei tiba - tiba.
Dita terdiam, kemudian mengangguk dan langsung melanjutkan langkahnya.
Sedangkan Kei menunggu hingga gadis itu benar - benar masuk ke dalam kelas.
Lalu pria muda itu mendekat kearah asal suara.
"Bicara diluar." ucap Kei yang kembali berjalan keluar, juga diikuti oleh orang yang berdeham tadi.
Mereka berjalan kesebuah gang kecil, di dekat tempat kursus Kei.
"Ada apa?" tanya Kei.
"Pagi Den Bams." sapa orang itu.
"Ba, baik Den. Saya kemari, untuk menyampaikan keadaan Bastian saat ini." jelas orang tersebut yang ternyata orang suruhan dirinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bams.
"Dia sehat dan sangat patuh saat menjalani hukumannya. Juga ini, surat - surat yang ditulisnya untuk Dita." ucap orang tersebut sambil menyerahkan sejumlah lembar amplop kehadapan Bams.
Lalu Bams mengambil amplop tersebut.
"Ada lagi?" tanya Bams kembali.
"Satu lagi. Nyonya dan Tuan hari ini pulang dan Nyonya ingin Den Kei untuk pulang makan malam, karena mereka akan segera berangkat ke Eropa." jawab orang tersebut lagi.
"Katakan pada mereka, saya usahakan. Sekarang kamu bisa pergi dan satu lagi. Jangan muncul tiba - tiba seperti tadi. Saya tidak mau Dita curiga." jawab Bams sambil kemudian meninggalkan orang tersebut untuk segera masuk ke kelasnya.
...----------------...
"Hai Eyang." sapa ceria Mirah saat datang ke kediaman Eyang Lila.
"Hallo cucu cantikku. Masuk - masuk. Kamu sama siapa?" ucap dan tanya Eyang Lila yang sedikit celingukan ke belakang Mirah.
"Hehmmm, tadi aku diantar supir, aku lagi nungguin jam pulangnya Kinan. Karena masih lama, jadi aku putusin sekalian nengokin Eyang. Sekalian, ada yang mau aku ceritain ke Eyang." jelas Mirah sesaat setelah mereka duduk di ruang keluarga Eyang Lila.
"Sambil diminum. Kamu mau cerita apa?" ucap Eyang Lila sambil menawarkan secangkir teh hangat yang selalu tersaji di meja tamunya.
__ADS_1
"Mmm, gini Eyang. Waktu ulang tahun Kinan kemarin, dia tiba - tiba cerita. Kalau dia punya teman baru, di alam mimpi dan temannya itu perempuan. Lalu tadi subuh, aku coba memasuki alam mimpinya. Ternyata aku tidak bertemu dengan anak yang dimaksud Kinan. Apa itu hanya mimpi biasa atau trik Reo lagi, atau kemampuan ilusi Kinan? Atau efek dari kutukan yang ada ditubuhnya? Bagaimana menurut Eyang?" jelas Mirah dengan segudang pertanyaan juga dugaannya.
Eyang Lila meneguk tehnya, kemudian terdiam sesaat.
"Mmm, kutukan yang diberikan Reo pada Kinan. Berbeda dengan yang diberikannya padamu Mirah. Eyang pun hampir setiap malam, mencoba melihat masa depan Kinan lagi. Sekaligus mencoba mencari penawar kutukan, selain itu memastikan pula. Apakah jodoh Kinanti yang Eyang jelaskan sebelumnya, ada hubungannya dengan kutukan itu atau memang hanya seorang lelaki yang memiliki kelebihan seperti Bara, yang bisa mematahkan kutukan tersebut atau malah sebaliknya. Dia adalah sumber kutukan itu?" jelas Eyang Lila yang penuh keraguan.
"Untuk mimpi yang dialami Kinan. Menurut Eyang, itu hanya ilusinya. Juga teman khayalan yang biasa dimiliki oleh anak - anak seusianya. Jadi tidak berbahaya Mirah, asal. Kamu harus pantau terus ya nak, dan untuk penjelasan Eyang barusan. Kamu jangan terlalu pikirkan ya. Itu baru spekulasi Eyang saja dan juga kita semua pasti akan menjaga Kinan dari mara bahaya apapun. Eyang juga Ayahmu, kami akan terus berusaha mencari jawaban atas teka - teki permainan Reo ini." jelas Eyang sambil kemudian mengambil jemari Sang Cucu dan mengelusnya pelan.
"Iya Eyang. Mirah dan Bara, pasti akan menjaga Kinan. Terimakasih banyak Eyang." ucap Mirah dengan senyum yang terkembang di wajahnya.
...----------------...
Di pinggiran jalan terparkirlah sebuah mobil sedan mewah berwarna putih. Kaca yang sangat gelap, menyelimuti beberapa bagian mobil tersebut. Ada beberapa orang di dalamnya yang sedang berbincang.
"Kamu yakin, dia anaknya?" tanya Mauris pada seseorang di kursi penumpang di depannya.
"Tentu Bos. Kinanti Bulan Putri Bara, anak semata wayang Bapak Bara Adi Putra!" jelas orang tersebut lagi.
Mauris memandang jauh ke seberang, tepatnya ke sebuah toko buku kecil. Pria muda itu menatap lekat setiap gerakan dari Kinanti, yang berada di dalam toko tersebut.
Lalu Mauris keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah sebuah toko buku.
Gadis kecil tersebut terlihat sedang memilih buku di dalamnya.
Tringgg...
Suara lonceng di pintu toko buku tersebut.
Mauris kemudian perlahan berjalan mendekat kearah Kinanti berada, sambil sesekali berpura - pura seperti memilih - milih pajangan buku di depannya.
Lalu dengan sengaja dia berjalan kearah Kinanti yang sedang membawa tumpukan buku.
Dugh...
Suara buku yang terjatuh.
"Ohhh. Maaf, maaf Om. Kinan nggak lihat." ucap Kinanti saat tidak sengaja menabrak Mauris dengan sejumlah buku yang dibawanya, dengan wajah yang terkejut.
"Tidak apa - apa dik. Om juga yang salah. Ini, buku kamu. Kenapa buuku yang kamu bawa banyak sekali? Om bantu bawa ya? Ini, mau kamu baca disini atau langsung dibeli?" cecar Mauris ramah, sambil membantu memunguti buku - buku yang terjatuh.
"Terimakasih banyak Om. Mmm, rencananya Kinan mau baca dulu di sana. Sambil nunggu Papa yang ada di toko disebelah. Nanti kalau Papa sudah datang, baru Kinan beli." jelas Kinanti polos, sambil juga membenahi beberapa buku yang ada ditangannya.
"Ya sudah. Ayo, Om temenin kamu nunggu Papamu sekalian baca buku." ucap Mauris lagi dengan baiknya.
Kinanti pun mengangguk dan tersenyum senang.
Lalu mereka menuju ke sebuah meja agak besar, Mauris duduk di depan Kinanti. Setelah dia meletakkan beberapa buku Kinanti, lalu dipandangi gadis kecil itu dengan seksama.
"Hehehhehehe. Memang dia yang aku cari." batin Mauris dengan wajah menyeringainya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1