#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
38.


__ADS_3

Kevin sudah berada di dalam villa, lalu masuk ke kamarnya. Ditutup pintu kamar itu, lalu dia bersandar di balik pintu kayu. Lelaki kekar dan bertubuh tinggi besar itu, lalu menghela napasnya. Dia memegangi dadanya, dirasa perih dan sakit ketika diingat ucapan terakhir dari Sarah. Dengan wajah sendunya, dia berjalan mendekat ke dalam lemari baju. Disingkap tumpukan bajunya dan ditarik sebuah kotak kayu. Setelahnya dia duduk dibawah lantai dengan bersandar di pintu lemari itu. Diputar kunci kotak itu, lalu dibuka perlahan.


Tangan Kevin mengambil selembar foto, senyum terkembang di wajahnya.


Dielus sesosok wajah yang berada di foto itu.


"Maafkan aku. Aku juga merindukanmu, tapi...," gumam Kevin terpotong, yang berbicara dengan foto ditangannya.


Setelah itu dikeluarkan sebuah kotak musik, diputar tuasnya. Lalu terdengar sebuah alunan musik klasik, disandarkan kepalanya di daun pintu lemari. Kemudian dipejamkan matanya untuk menikmati alunan musik itu.


Hingga ketukkan di pintu kamar mengejutkannya.


Dorr...


Dorr...


"Kev. Kevin, apa kamu ada di dalam?" ucap seseorang dari luar kamarnya dengan nada tinggi dan ketukkan nya terdengar kencang juga terburu - buru.


Lalu Kevin membuka matanya, dimatikan alunan musik di kotak musik itu dan dimasukkan semuanya kembali ke dalam kotak kayu. Kevin langsung berdiri dan memasukkan juga kebawah susunan bajunya. Ditutup pintu lemari itu, lalu dia dengan cepat membuka pintu kamarnya kemudian.


"Ada apa Sul?" tanya Kevin dengan alisnya yang agak berkerut.


"Hah. Kev, Nona Sarah. Nona Sarah, dia menghilang. Kami sudah mencari kemanapun, disekitar villa. Tapi nggak ketemu. Kami coba menelepon, ternyata ponselnya diletakkan di dekat kanvasnya." jelas Sulaiman sambil memperlihatkan ponsel milik Sarah.


Kevin sangat terkejut, namun dia harus tetap tenang. Saat lelaki itu sedang berpikir, tiba - tiba terdengar suara gledek yang sangat besar.


"Kalian berpencar di bukit samping, aku akan mencari di bukit belakang villa. Sekarang." perintah Kevin yang langsung berlari keluar villa.


Hujan rintik - rintik mulai turun, Kevin dan semua penjaga langsung berpencar. Sedangkan Sarah, sudah mulai kedinginan juga kehujanan di dalam perangkap itu. Dipeluk dirinya erat dengan kedua tangannya, tubuhnya menggigil. Selain hujan, kabut tipis pun sudah turun sedaritadi.

__ADS_1


"Heerrgh. Dingin. Hiks, tolong aku. Dingin, sakit...," gumam Sarah yang sangat kedinginan dan juga rasa sakit di kakinya yang semakin menjadi. Darah segar terus keluar dari lukanya yang tambah membesar.


"Uhuuk. Uhuuk." Sarah pun terbatuk, wajahnya mulai pucat, pandangannya perlahan kabur.


"Kevin. Kevin...," ucapan terkahir yang keluar dari mulutnya, sebelum akhirnya dia jatuh pingsan.


Kevin dengan langkah cepat dan baju yang mulai basah kuyup, terus mendaki naik di bukit belakang. Langkahnya terhenti ketika dilihatnya ada sebuah lubang cukup besar.


"Ini kan jebakan babi hutan. Jangan - jangan...," batin Kevin yang langsung berlari kearah lubang besar itu.


Benar saja, ketika dia mendongak ke bawah. Dilihatnya Sarah sudah terkulai lemas.


"Sarah...," gumamnya.


Kevin lalu mencari akar pohon yang terlilit dan terbentang di beberapa pohon besar di sekitarnya. Dicari yang sekiranya kuat, lalu dijulurkan ke bawah lubang itu. Dicoba ditarik dengan sekuat tenaga, dikira - kira untuk bisa menarik tubuh Sarah dan juga dirinya. Setelah dikiranya akar itu mampu akan menopang 2 tubuh, Kevin lalu turun perlahan ke bawah.


Tubuhnya dan Sarah sudah basah kuyup. Setelah sampai di samping Sarah, Kevin mencoba membangunkan gadis itu dengan menepuk pelan pipi halusnya.


Mata Sarah terbuka sedikit, pandangannya benar - benar kabur.


"Siapa? Siapa disana? Sakit...," batin Sarah yang sudah tidak kuasa untuk berbicara.


Lalu gadis itu kembali terkulai lemas. Kevin, lalu melepas kemeja yang dikenakannya. Ditutupi bagian depan tubuh Sarah. Lalu dicoba berdiri kan tubuh gadis ramping itu, untuk kemudian dia melilitkan akar pohon tadi.


"Astaga, kakinya terluka cukup parah. Aku harus cepat." gumam Kevin setelah melihat luka panjang di kaki Sarah.


Setelah dia berhasil mengikat akar itu di tubuh Sarah dan juga dirinya. Dia kemudian menarik perlahan akar itu, dengan kedua kakinya yang merangkak di dinding lubang. Diawal cukup sulit, karena tanah yang mulai lembek akibat air hujan yang mulai membanjiri lubang itu. Namun dengan tekad yang kuat dan semua tenaga dikeluarkan oleh lelaki kekar itu. Perlahan namun pasti, Kevin membawa tubuh Sarah naik hingga mencapai atas.


"Hah. Hah. Kita berhasil, sebentar. Tahan sebentar lagi Sarah. Aku akan membawamu kembali ke villa." jelas Kevin sambil melepas ikatan akar tersebut.

__ADS_1


Namun hujan semakin lebar, petir pun mulai menyambar. Saat Kevin akan menggendong tubuh Sarah di belakang punggungnya. Mata Kevin tertuju pada sebuah pohon cemara besar yang tersambar petir, lalu ranting besarnya roboh. Ranting tersebut mengarah ke Sarah, namun dengan cepat Kevin melindungi Sarah dengan tubuhnya.


Srrraaakkk....


Bruuukkk...


Suara patahan pohon.


"Akh...," pekik Kevin.


Lalu tidak terdengar suara apapun selain kilatan petir dan juga derasnya hujan. Namun perlahan terlihat gerakan di bawah ranting pohon itu, tiba - tiba ranting itu berpindah tempat. Kevin dengan badan dan kekuatan besarnya, mengangkat ranting pohon itu, lalu melemparnya cukup jauh.


Napasnya tersengal, bajunya terkoyak dan tubuh juga wajahnya penuh luka sayatan. Lalu lelaki kekar itu, kembali berjongkok untuk segera membawa tubuh Sarah ke belakang punggungnya. Setelah berhasil menggendongnya, Kevin berjalan perlahan karena tanah sekitar mulai licin dan beberapa sudah mulai longsor. Benar saja, baru berjalan beberapa langkah. Tanah di depan mereka longsor, untung Kevin dengan gerakan cepat mundur ke belakang.


"Sial. Hah. Hah." umpat Kevin dengan napas tersengalnya. Lalu dia mencoba melihat ke sekitar dengan mata memicing nya


"Kalau tidak salah, di sekitar sini ada sebuah. Ah, ketemu...," gumam Kevin.


Dengan agak berlari Kevin menuju arah samping hutan, dilihatnya sebuah gubuk petani yang biasa dijadikan tempat peristirahatan para petani di bukit sekitar.


Dibuka pintu kayu yang memiliki bunyi khas. Lalu dilihat sekeliling gubuk reyot itu, ternyata terdapat dipan kecil yang beralaskan tikar.


Kevin kemudian menurunkan dan membaringkan tubuh Sarah. Lalu dia mengarah pada tungku pemanas yang tidak jauh dari dipan itu, beruntungnya masih ada jejak sisa abu yang cukup panas dan juga beberapa batang kayu. Dengan ketrampilannya, Kevin menggosok satu batang kayu yang ukurannya cukup kecil hingga timbul asap dan kemudian api. Setelahnya Kevin kembali kearah Sarah, dibuka kemeja yang menutupi tubuh Sarah. Lalu dilihat luka di kaki gadis itu. Kevin lalu, membuka kaosnya yang sudah koyak. Dirobeknya, untuk membalut luka sepanjang kaki Sarah.


Setelahnya dia merobek kemejanya untuk dijadikan handuk kompres. Diambil sebuah batok kelapa yang teronggok di dekat perapian, lalu lelaki itu keluar dari dalam gubuk untuk mengumpulkan air hujan. Setelah dirasa cukup, dia kembali ke dalam dan ditutup pintu gubuk itu. Kevin mulai mengompres pelipis Sarah.


"Sarah, kamu harus kuat. Aku ada disini, di sampingmu. Aku mohon, buka matamu. Aku mohon Sarah...," gumam Kevin sambil mengelus pipi Sarah lembut.


Kevin terus mengompres dan menjaga Sarah semalaman, hingga akhirnya Kevin ikut tertidur pulas disamping ranjang Sarah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2