
Regina menghela napasnya sekali, kemudian dia mengusap sisi ranjangnya. Dia membuka matanya perlahan, ketika dia mengetahui Mauris tidak ada disana. Masih dengan tubuh yang ditutupi hanya dengan sehelai selimut, Regina membangunkan dirinya sedikit dan melihat ke sekeliling kamar itu. Dilihat semua pakaian yang dikenakan Mauris masih ada di lantai, lalu perlahan dia turun dari ranjang dan dicari pakaian dalam yang berada di lantai lalu dikenakan juga baju Mauris, yang terlihat sangat kebesaran di tubuh ramping Regina. Wanita muda itu kemudian keluar dari kamar dan disusuri lorong rumahnya sambil memanggil Mauris, namun tidak juga ada jawaban. Hingga dia sampai di dapur dan dilihatnya Mauris yang hanya mengenakan celana pendek, sedang membuat jus. Perlahan Regina mendekat dan memeluk tubuh kekar Mauris dari belakang. Senyum lebar terkembang di wajah pria muda nan kekar itu.
"Siang, My Love. Hungry?" ucap dan tanya Mauris sambil mencium satu jemari Regina.
Wanita yang memejamkan mata sambil masih memeluk tubuh kekar Mauris pun, hanya mengangguk dan berdeham. Lalu Mauris berbalik untuk bisa melihat wajah Sang Kekasih, dipandangi wajah Regina yang sudah tidak lagi pucat. Kemudian disampirkan helaian rambut wanitanya kearah belakang telinga.
"Mmm, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Mauris lagi.
Regina pun masih dengan mengangguk dan menempelkan dagunya di depan perut atletis Mauris.
"Kenapa bisa nggak ada orang di rumah ini? Padahal kemarin masih ada?" tanya Mauris yang sudah berjalan di rumah Regina hampir 2 malam.
"Iya, hari ini memang hari libur semua staff di rumah. Jadi, biasanya aku dan kedua orangtuaku akan menghabiskan waktu di rumah Eyang. Tapi, kini...," penjelasan Regina terhenti, ketik dia kembali mengingat Sang Nenek yang sudah tiada.
Mauris dengan cekat memeluk tubuh mungil Regina. Dihela napasnya dan dielus lembut belakang kepala, ditepuk - tepuk pelan juga punggung Regina untuk mencoba menenangkan wanita itu.
"Maaf, aku nggak bermaksud. Tapi, kini kamu sudah memilikiku, bagaimana kalau habis minum jus. Kita ke rumah orang tuamu dan menghabiskan waktu bersama mereka. Sekaligus aku memperkenalkan diriku, yang kini sebagai pasanganmu. Heum...," ucap Mauris.
Regina lalu melepas pelukkannya dan wajahnya terlihat berseri - seri. Dia mengangguk dengan cepat. Mauris kemudian mengelus pelan pipi Regina, lalu kemudian dia mengambilkan jus yang dibuatnya untuk segera diminum oleh Regina. Wanita itu yang sudah seharian tidak makan apapun karena sibuk bercinta dengan Mauris, menghabiskan dengan cepat jus buatan Sang Kekasih.
"Ah. Enak banget baby. Ja...," ucapan Regina terpotong, ketika Mauris menyerang lembut bibir Regina.
Pria itu melahap pelan jejak jus di pinggir bibir Regina.
"Iya, enak banget. Kamu mau lagi, tapi dengan syarat aku suapin...," ucap nakal Mauris yang juga membersihkan bibirnya dengan ujung lidahnya dan mengerlingkan sebelah matanya.
Regina pun memicingkan mata dan juga memasang wajah menggodanya. Mauris pun mengerti kode dari wanitanya, langsung meminum jus miliknya dan menarik pelan rahang Regina, lalu memasukkan jus melalui mulutnya yang sekaligus mereka berciuman tanpa henti, hingga jus bagian Mauris habis terminum oleh mereka berdua.
...----------------...
Darius membawa Kinanti ke sebuah tempat yang sangat indah. Tempat itu tidaklah jauh dari lokasi pemakaman kedua orang tua Darius. Mata Kinanti benar - benar dimanjakan dengan hamparan lautan biru, disepanjang perjalanan. Lalu gadis mungil itu membuka kaca mobil, karena ingin merasakan hembusan angin laut. Dia juga memainkan jemari tangannya dengan angin yang berhembus. Senyum lebar terlihat jelas di wajahnya. Begitupun Darius yang juga sangat senang melihat Sang Kekasih yang sangat menikmati perjalanan mereka kali ini. Diambil tangan Kinanti yang ditaruh diatas paha gadis itu, lalu dicium Darius sekali, hingga membuat Kinanti terkejut dan langsung menoleh kearah Sang Kekasih.
"Suka?" tanya Darius yang sudah kembali melihat kearah jalan dan masih memegang tangan Kinanti, mendekapnya di depan dadanya.
"Sangat. Mas, ini kita mau ke pantai ya? Udah lama banget aku nggak ke pantai...," jawab dan tanya Kinanti.
__ADS_1
Darius bukannya menjawab, melainkan kembali tersenyum lebar kearah Kinanti dan menciumi jemari tangan gadis mungil itu.
"Cih...," ucap Kinanti dengan mata memicing dan bibir yang agak maju, setelah melihat ekspresi Sang Kekasih.
Mobil Darius masuk ke sebuah kawasan pelabuhan kecil. Terlihat banyak terparkir boat dan juga yacht pribadi dari orang - orang kaya di kota tempat mereka tinggal.
"Mas, kamu mau nyulik aku, terus bawa aku kabur ke negara lain?" tanya Kinanti yang langsung melepas genggaman tangan dari Darius sambil menutup bagian depan tubuhnya, lengkap dengan posisi duduk yang dirubahnya, dia menjauh dari Darius menempelkan dirinya ke pintu mobil.
Tawa Darius menggelegar, kemudian dia mendekat kearah Kinanti dengan wajah jahilnya.
"Mmm, jadi kamu mau aku culik, heum. Trus kita...," ucapan Darius terhenti dengan gerakan mata naik turunnya yang jahil.
"Mas...," teriak Kinanti, lalu mendorong wajah jahil Darius.
Lagi - lagi tawa menggelegar Darius terdengar jelas. Lalu dia mengusap pelan puncak kepala Kinanti dan memandangi wajah Sang Kekasih dengan lekat.
"Hehm, inginku kita bisa pergi traveling mengelilingi dunia ini berdua. Tapi, aku harus bersabar. Jadi, untuk saat ini, aku dan kamu cukup makan siang diatas yacht ku dengan pemandangan lautan lepas. Juga nanti aku akan mengajarimu memancing, serta aku akan memperlihatkan mu, sunset yang sangat indah di sebuah teluk penuh legenda...," jelas Darius.
Perlahan Kinanti kembali ke posisi semula, lalu kedua alisnya naik.
Darius mengangguk cepat. Lalu lagi - lagi dia membuat wajah menggoda kearah Kinanti.
"Penasaran? Kamu mau turun sekarang atau...," ucap Darius lagi dengan nada menggoda dan tatapan naik turunnya.
Kinanti dengan cepat membuka pintu mobil
"Penasaran banget, ayo kita turun...," jawab cepat Kinanti sambil langsung turun dan menutup pintu mobil.
Senyum puas Darius terlihat jelas, saat dia lagi - lagi berhasil menggoda Kinanti.
"Hufht, Mas Darius hobi barunya doyan banget godain aku. Hehm, untung aku kuat iman. Kalo nggak...," ucapan Kinanti terhenti ketika tiba - tiba dia melihat pemandangan tidak biasa dan juga menakjubkan.
Saking terkagumnya dia, hingga dia tidak sadar Darius sudah memeluk pinggangnya dari samping.
"Indah bukan?" tanya Darius.
__ADS_1
"Itu benaran pelangi, Mas? Itu kenapa bisa ada di tengah - tengah begitu?" tanya Kinanti yang terkagum dengan pemandangan di hadapannya sekaligus susah untuk mendeskripsikan letak dari sebuah pelangi yang tidak biasa itu.
Darius lalu melepas pelukkannya dan menarik sedikit tangan Kinanti.
"Aku akan menceritakannya sembari kita makan siang. Ayo...," ucap Mauris.
Lalu Kinanti pun mengikuti langkah Darius, mereka sudah naik dan jalan di jalan setapak kayu. Tidak begitu lama berjalan, mereka kemudian berhenti di sebuah yacht cukup besar. Darius secara tiba - tiba menggendong kembali tubuh mungil Sang Kekasih, untuk naik dan masuk ke dalam yacht itu.
Sesampainya di dalam yacht, mata Kinanti lagi - lagi dibuat terbelalak dengan dekorasi yang ternyata sudah dipersiapkan oleh Darius.
"Silahkan masuk, Nona Kinanti...," ucap Bara sambil sedikit menunduk mempersilahkan Kinanti untuk masuk ke dalam salah satu ruangan di yacht itu.
Kinanti memandangi sekeliling yacht itu, lalu dengan wajah terkejutnya dia memandang kembali Darius.
"Mas, kamu. Kapan nyiapin ini semua?" tanya Kinanti.
Darius kemudian mendekat dan memeluk tubuh Kinanti.
"Bukan aku yang nyiapin, tapi aku minta tolong salah satu staff yang kerja disini. Buat mendekorasi ruangan ini, karena aku akan membawa calon permaisuri ku untuk jalan - jalan sambil menikmati laut hari ini. Bisa kita mulai jalan?" jelas dan tanyanya Darius.
Kinanti tersenyum dengan mata berbinar-binarnya.
"Terimakasih ya Mas. Aku nggak tau, harus bilang apa lagi, selain terimakasih. Aku belum tentu bisa kasih kamu hadiah yang sepadan dengan ini...," ucap Kinanti yang merasa agak rendah diri.
Darius menggeleng sesaat, lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Kinanti. Menatap kedua retina gadis itu, lalu perlahan mencium bibir merekah Kinanti dengan mesra.
"Kamu nggak perlu merasa rendah diri begitu. Dengan kamu bersedia menerima cintaku saja, sudah lebih dari cukup buatku Kinan. Kini giliranku membuat kamu bahagia, bentuk penebusan dosaku karena sudah sering menindasmu di kantor...," jelas Darius.
Kinanti lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Darius dan kembali mencium sesaat bibir pemuda tampan itu.
"I love you Mas...," ucap Kinanti.
Senyum Darius tersenyum lebar.
"I love you more, sayang...," jawab Darius sambil kembali mencium hangat bibir Kinanti.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...