
Ibu Debora lalu mendekat ke benda yang ternyata adalah kanvas lukisan Sarah. Walaupun sudah basah oleh air hujan, namun masih terlihat cukup jelas gambar Kevin yang sedang menyirami tanaman di halaman belakang villa itu.
"Jadi, Kevin. Hah? Kamu tau, kenapa dia bisa jadi pengawal kamu? Kamu tau, Kevin itu sebenarnya siapa?" ucap dan tanya Ibu Debora.
Sarah terus terdiam, sambil menatap lurus ke mata Sang Ibu.
Ibu Debora lalu bersidekap, dia berjalan pelan kearah Sang Anak. Wanita itu lalu sedikit membungkuk dan mengelus pipi Sarah yang terlihat, beberapa lebam juga luka - luka kecil menghiasi kulit agak putihnya.
"Kevin, dia adalah pengutang. Kalian memang bersama dan berteman semasa kecil, tapi kemudian keluarganya banyak sekali berhutang pada keluarga kita. Jadi, dia harus membayar semua hutang itu lunas dengan pengabdiannya. Kamu jangan salah paham, Sarah anakku. Kevin, tidak pernah memiliki perasaan lebih padamu, yang dia lakukan semata - mata hanya untuk melunasi hutang keluarganya. Sekarang, fokuslah pada penyembuhan mu. Mama, tidak mau keluarga Soetanto kecewa karena semua luka yang ada di tubuhmu. Sore ini, kita kembali. Kamu harus segera dirawat secara intensif." jelas Ibu Debora yang kemudian berdiri tegak kembali dan akan meninggalkan kamar Sang Anak.
"Lepaskan Kevin, jangan sakiti dia. Baru aku akan menuruti semua ucapan kalian. Jika tidak, kalian tau apa yang bisa aku perbuat? Aku berbeda dengan Nami, yang sangat penurut." ucap Sarah yang masih terus menatap kearah Sang Ibu dan tetesan air mata, tiba - tiba mengalir dari sudut matanya.
Ibu Debora melirik sedikit kearah Sarah, lalu senyum miring terkembang di wajahnya. Alih - alih menjawab, Ibu Debora terus berjalan keluar kamar Sang Anak.
Sarah meremas kain seprai ranjangnya, tangisnya pecah hingga gadis itu terlihat sesegukan.
...----------------...
Kinanti meregangkan tubuhnya sesaat, lalu diraba tempat tidur sampingnya. Dirasa Sang Adik masih tertidur, dengan perlahan dibuka matanya dan ditatap Bima.
Senyum lebar terkembang di wajah putih Kinanti, lalu dielus rambut Bima yang sedikit berponi.
"Anak nakal, bisa juga dia nangis. Hehehe. Jangan cepet gede ya, dek. Kamu masih sangat lucu...," gumam pelan Kinanti.
Saat dia sedang menatap dan membelai lembut wajah Sang Adik, ponselnya kemudian berdering. Lalu dia sedikit bangun dan dengan gerakan perlahan dia membalik tubuhnya. Dibenahi letak selimut Bima, kemudian dia turun dengan pelan dari atas ranjang. Dia berjalan, mengarah ke tasnya yang sudah diletakkan di atas meja belajar.
Dirogoh benda agak besar itu, dikeluarkan ponselnya. Lalu dibaca nama penelepon. Sambil sedikit berdeham, lalu digeser tombol jawab.
__ADS_1
"Halo. Selamat pagi, Pak." jawab Kinanti.
"Pagi Kinan. Mmm, bagaimana keadaanmu?" tanya Darius dari seberang telepon.
"Saya sudah baikan. Oh iya Pak, saya ingin mengucapkan terimakasih. Terimakasih atas bantuan Bapak, tapi Pak. Bagaimana Bapak, bisa tau saya terjebak di dalam lift?" jawab dan tanya Kinanti kemudian dengan rasa penasarannya.
Darius terdiam sesaat, dia sedang berpikir mencari sebuah jawaban yang masuk akal. Dia masih mondar - mandir di dalam kamar rawatnya.
"Halo, Pak. Pak Darius? Bapak masih disana?" tanya Kinanti.
Darius yang sedang berpikir cukup kerasa, lalu tersadar akibat panggilan Kinanti.
"Iya, saya masih disini. Kebetulan saya, mau mencari berkas yang ketinggalan kemarin. Lalu saat saya, akan memakai lift. Ternyata liftnya rusak, kemudian saat saya mengecek di ruang keamanan. Terlihat kamu terjebak disana, ya sudah. Saya dan beberapa petugas keamanan langsung nolong kamu." jelas Darius dengan cerita yang agak dipaksakan.
Kinanti pun hanya mengangguk - angguk.
Jantung Darius kemudian berdetak dengan cepat. Lagi - lagi dia bingung, dengan mengelus belakang kepalanya. Dia berhenti di hadapan jendela kamar rawatnya.
"Tentu saya mau memberikan tugas tambahan buat kamu, karena saya pikir pasti kamu sudah baik - baik saja." ucap asal Darius sambil memejamkan matanya. Lalu dipukul pelan mulutnya yang dirasa sangat sadis itu.
Kinanti lalu menghela napasnya pelan.
"Iya Pak, bisa tolong nanti dikirim bahannya dan tenggat waktunya. Ada lagi Pak Darius?" jawab dan tanya Kinanti.
"Tidak itu saja, saya harap kamu istirahat yang baik. Agar besok bisa beraktivitas seperti biasa. Selamat Pagi." ucap Darius yang langsung menutup sambungan teleponnya.
Kemudian pemuda tampan itu memukul - mukul pelan bibirnya.
__ADS_1
"Ck, apa sih yang aku katakan. Padahal bukan itu maksudku. Kenapa sih, aku akhir - akhir ini? Jantungku terus berdebar aneh setiap berinteraksi dengannya, kini lain dipikiran lain dihati lain di ucapan. Astaga, lupa pula aku bertanya kenapa dia bisa pingsan? Hah. Darius, Darius. Kenapa hanya dengan Kinanti kamu jadi bodoh begini?" gumam pemuda tampan itu, yang merasa heran terhadap dirinya sendiri.
Kembali ke Kinanti yang masih berada di dalam kamarnya.
Lalu dia berjalan kearah meja belajar untuk langsung mulai bekerja.
"Huh. Kirain udah mulai perhatian ama karyawannya. Ck, ternyata...," ucap keluh Kinanti sambil memangku dagunya dengan satu telapak tangan dan memandangi layar laptopnya.
...----------------...
Disebuah klub malam dengan dentuman keras dari suara musik, seorang gadis sintal berjalan dengan gaya seksi menyisir lorong dimana kanan dan di kirinya, terdapat ruangan VIP. Lalu dia memasuki salah satu ruangan itu, terlihat diatas meja sudah tersedia beberapa makanan ringan, buah juga beberapa botol minuman keras. Dia lalu duduk di tengah - tengah sofa panjang. Tatapannya menatap lurus, sambil satu tangannya menelpon seseorang.
Gadis itu kemudian mengambil satu biji buah anggur, dimasukkan ke bibirnya yang berwarna merah. Saat sedang menikmati. udah itu, tiba - tiba pintu ruangannya dibuka. Beberapa pria berbadan kekar masuk dengan memakai pakaian serba hitam. Senyum miring terkembang di wajah gadis itu, sambil masih mengunyah sisa - sisa buah dalam mulutnya.
"Nona Karla...," ucap salah satu pria kekar.
"Iya. Jadi, kalian yang akan menemani dan memuaskan ku malam ini? Padahal aku hanya menginginkan satu orang, tapi lihat...," ucap angkuh Karla dengan satu kakinya yang dinaikkan dan bertumpu di kaki satunya.
Lalu satu tangannya digerakkan, dipanggil para pria yang berdiri di hadapan mereka seperti orang rendahan. Pria - pria itu kemudian jalan mendekat dengan sudah menahan emosi. Kemudian satu diantara mereka berjalan ke arah Karla, duduk perlahan dan menggeser langsung ke dekat tubuh gadis seksi itu. Setelah benar - benar dekat, lalu satu tangan pria itu membelai wajah Karla. Mata Karla terpejam, untuk menikmati belaian pria kekar itu. Namun, kemudian matanya terbelalak ketika dirasa kedua pipinya dicengkeram kuat oleh pria disebelahnya.
"Hei. Apa, apa yang kamu lakukan? Lepas, lepas. Sakit...," pekik Karla dengan merasa kesakitan di rahang wajahnya. Ditepuk - tepuk keras tangan kekar pria itu.
Wajah pria itu berubah bengis, sedangkan pria lainnya mulai mengelilingi meja dan juga satu diantarnya lagi mendekat kearah Karla.
Tubuh Karla tiba - tiba menjadi gemetaran dan bola matanya bergerak dengan cepat, sesak juga sakit dirasa dalam dadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1