
Kinanti kini sedang dalam tahap memberikan training hari terakhir pada Paula, besok gadis mungil itu akan segera pindah ke divisi barunya. Kinanti dengan sabar menuntun dan mengajari Paula, walaupun Paula adalah editor senior di Kobuka. Namun, untuk bagian novel, ini kali pertama Paula tangani.
"Oke, Kak Paula. Sesi training kita, akhirnya selesai. Plok. Plok..," ucap Kinanti, lalu terdengar suara tepukkan tangan gadis mungil itu juga Paula.
"Mmm, Ki. Sorry, aku mau tanya. Kamu ada masalah apa sama Pak Darius? Sampe harus di pindahin ke divisi lain. Soalnya, untuk orang se perfeksionis Pak Darius, kamu itu bagus banget loh buat jadi asisten pribadi sekaligus asisten editornya dia. Apa jangan - jangan rumor, yang bilang kalau Pak Darius itu kejam dan egois benar ya?" ucap dan tanya Paula penasaran.
Kinanti hanya tersenyum tipis, sambil membenahi kertas, file juga mematikan komputernya. Lalu dia melirik sesaat kearah Paula.
"Entahlah kak, kayak yang Pak Darius bilang kemarin. Aku ini sering sakit - sakitan, karena selalu lembur. Sedangkan Pak Darius butuhnya orang yang tahan banting. Ya, jadi deh, aku di depak. Lagian, aku emang udah lama ngincer divisi yang akan aku datangi sekarang. No lembur - lembur dan bebean kerja ringan. Hehehehe...," ucap Kinanti santai.
Senyum lebar pun terkembang di wajah Paula. Mereka berdua hari itu sekaligus membereskan meja Kinanti, yang besok akan diisi peralatan Paula. Setelah selesai membereskan semua mejanya, Paula pun pamit pulang. Sedangkan Kinanti masih harus berpamitan dengan teman sedivisinya, terutama Rasti.
"Ck, sekarang kita jadi jauh banget Ki. Aku dilantai 2 kamu di lantai 5. Hehm, nggak ada lagi yang aku rampok camilannya. Ki, jangan pergi ya, kamu coba bujuk Pak Darius. Siapa tau, dia ternyata salah makan sesuatu sampe otaknya keracunan dan nggak sadar udah mindahin kamu secara tiba - tiba, heum?" ucap Rasti sedikit merayu dengan kepala yang direbahkan diatas pundak Kinanti.
Kinanti pun menepuk pelan pipi Sang Sahabat, sambil tersenyum mendengar ucapan tidak masuk akal Rasti.
"Rasti sayang, Pak Darius itu nggak keracunan makanan. Tapi emang akunya yang sering sakit, sampe bikin doi kesel. Kamu masih bisa ambil camilanku kok, pas makan siang mampir aja ke lantai 5. Oke...," jawab Kinanti yang kemudian membuat kepala Rasti yang bersandar kini sudah kembali tegak.
Rasti lalu memeluk erat Kinanti.
"Lagi - lagi kita terpisah jarak ya bestie. Kamu yang baik - baik di lantai 5 ya. Kalau ada junior yang ganteng, jangan di simpen sendiri ya. Langsung calling aku. Mmuach....," ucap Rasti lagi sambil mencium tangannya dan menebarkan ciuman itu di udara untuk Kinanti.
"Cih...," jawab singkat Kinanti yang langsung pergi meninggalkan Rasti untuk pergi ke ruangan Darius.
Ditarik napasnya sesaat, lalu dihembuskan baru kemudian diketuk pintu Sang Atasan. Kinanti masuk, setelah mendapatkan ijin dari Darius.
"Selamat sore Pak. Maaf menganggu...," ucap Kinanti sopan saat sudah berdiri di hadapan Darius.
Tanpa menoleh apalagi menetap wajah Kinanti Darius hanya berdeham sesaat dan masih sibuk mengerjakan lembaran - lembaran file yang menumpuk di atas mejanya.
__ADS_1
"Katakan...," ucapnya kemudian dengan dingin.
Kinanti menahan emosinya dengan menghela napasnya sesaat.
"Begini Pak, Saya sudah menyelesaikan training untuk Kak Paula. Progres Kak Paula sendiri sangatlah bagus, sejalan dengan kinerja Bapak. Saya juga sudah membereskan meja saya, agar bisa langsung diisi barang - barang Kak Paula besok dan yang terakhir, saya ingin mengucapkan maaf atas semua kelakuan juga kinerja saya yang tidak bagus di mata Bapak. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih banyak atas bimbingan serta kebaikan hati Bapak, yang mau menengok saya hingga ke rumah. Sekali lagi, terimakasih Pak Darius. Saya pamit...," jelas Kinanti panjang lebar.
Darius terlihat masih sibuk dengan lembaran kertasnya, reaksinya atas penjelasan panjang lebar Kinanti hanya mengangguk pelan.
"Jika hanya itu saja yang ingin kamu katakan, kamu boleh pulang. Selamat sore...," ucap Darius tanpa melihat kearah Kinanti sedikit pun.
Kinanti pun hanya mengangguk pelan, lalu pergi dari ruangan Darius. Dihampiri sebentar mejanya untuk mengambil kardus berisi semua barangnya, lalu dia melambaikan tangan pada semua teman divisinya. Rasti pun mengantar Kinanti hingga pintu lift.
Darius sendiri, tiba - tiba menghentikan kegiatan dengan lembaran kertas - kertasnya. Dia lalu bersandar di dinding kursi dan menetap ke arah meja Kinanti yang kini kosong.
"Semoga dengan kepergianmu, aku tidak merasakan hal - hal aneh lagi di dadaku juga kamu bisa bernapas lega, karena tidak lagi merasa terintimidasi olehku, Ki...," batin Darius.
"Walaupun sebenarnya aku sakit hati, tapi aku rasa ini yang terbaik...," gumamnya kemudian.
Dita ternyata bertemu dengan Jimie, mereka janjian untuk makan malam bersama. Wanita muda itu, merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Jimie.
"Dit, sungguh. Aku nggak apa - apa, seberapa juga aku yang salah. Harusnya aku bisa jaga jarak, sikap Kei itu wajar. Aku pun kalau punya kekasih secantik, pekerja keras, lembut dan baik hati kayak kamu, bakal melakukan hal sama jika wanitaku di dekati oleh lelaki lain. Luka - luka kau juga cuman luka kecil dan sudah kering juga sembuh. Jadi, gimana kalau sekarang kita pulang? Aku nggak mau memperkeruh suasana...," jelas Jimie yang agak khawatir.
Dita menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.
"Kei bukan lagi kekasihku, tepat di hari dia memukulimu tanpa sebab, saat itu juga aku minta putus. Sesungguhnya sudah sedari lama, aku ingin berpisah darinya. Karena aku menyukai orang lain...," jawab Dita.
Jimie merasa terkejut dengan ucapan Dita. Matanya membulat dan alisnya sedikit berkerut.
"Hah? Kamu suka sama cowok lain? Sorry, siapa Dit? Kamu yakin?" cecar Jimie yang masih terkejut.
__ADS_1
Dita berjalan mendekat kearah Jimie, lalu wanita muda itu memiringkan wajahnya kearah kuping pemuda lumayan tinggi itu.
"Kamu...," bisik Dita dengan seruan napasnya yang menyentuh leher Jimie.
Pemuda itu agak bergidik. Matanya kini bukan hanya membulat, tapi juga terbelalak.
"Aku suka kamu Jimie. Kamu itu orang yang baik, lucu dan bertanggung jawab. Jika aku di dekatmu, aku selalu merasa nyaman dan bahagia. Berbeda sekali jika aku bersama Kei. Aku selalu merasa was - was dan khawatir. Aku tidak nyaman...," jelas Dita dengan senyum manis yang terkembang kemudian.
Baru Jimie akan menjawab kembali ucapan wanita itu, Kei tiba - tiba datang dari arah samping mereka.
"Apa Ta? Apa yang kamu bilang barusan? Coba ulangi sekali lagi?" ucap Kei dengan wajah datar dan emosinya yang mulai naik.
Dita kemudian merubah mimik wajahnya, menjadi datar dan dingin. Dia mengikuti aroma parfum Kei, berjalan ke hadapan pria muda itu.
"Aku sudah tidak nyaman bersamamu. Aku menyukai Jimie. Dia lelaki yang jauh lebih baik darimu, Kei. Jadi, sudah jelas bukan alasan kita putus selain sikap kasarmu. Aku menyukai orang lain, aku menyukai Jimie...," ucap Dita tegas tepat di hadapan Kei.
Kei menggigit giginya hingga berbunyi gemeretak. Kedua tangannya dikepalkan. Setelah dia beradu pandang dengan Dita, pria muda itu lalu melihat kearah Kei dengan tatapan seriusnya.
"Jadi, maksud kamu. Selama ini kedekatan kalian ternyata lebih dari teman, iya? Jadi kamu sudah selingkuhi aku, Ta? Benar begitu?" tanya cecar Kei.
Tawa kecil Dita terdengar di telinga Kei juga Jimie.
"Benar Kei. Masa kamu tidak bertanya - tanya, kenapa aku sulit dihubungi akhir - akhir ini? Masa anak buah yang sudah kamu sebar di sekitarku, tidak memberitahumu? Harusnya kamu pecat mereka semua, karena bodoh...," jawab Dita dengan sedikit angkuh.
Kei mengangguk - angguk dan juga terdengar tawa kecil darinya.
"Baik. Hahahaha. Tidak aku sangka, aku mencintaimu dengan tulus, kedua orang tuaku menyambut mu dengan baik juga hangat. Lihat sekarang balasanmu, kau selingkuhi aku. Baik, putus? Itu mau mu, baik. Mulai hari ini kita putus, aku tidak akan mau tau soal urusan apapun menyangkut dirimu. Silahkan kalian lanjutkan adegan bermesraan kalian tadi. Selamat Dita Kartasasmita, kau tahu menemukan lelaki dambaanmu dan Selamat Tinggal...," ucap Kei dengan wajah sangat marahnya dan langsung berlalu dari hadapan Jimie juga Dita.
Setelah Kei meninggalkan mereka berdua, Dita perlahan jatuh terduduk. Jimie pun kemudian menghampiri wanita muda yang terlihat lemas dengan bersimpuh di hadapan Dita.
__ADS_1
"Kei...," panggil Dita dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...