#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
57.


__ADS_3

Bima mengerutkan kedua alisnya, kedua tangan mungilnya pun digenggam erat oleh Eyang Lila juga Ayah Rendra Sang Kakek. Keringat pemuda cilik itu diusap oleh Ibu Nara Sang Nenek.


"Hah. Hah..." sengal napas Bima saat sudah membuka matanya dengan tiba - tiba.


Mata pemuda cilik itu pun kemudian berputar kearah Sang Kakek.


"Eyang Ren, Tante tadi siapa? Kenapa dia nggak mau nyebutin namanya? Hah, hah...," tanya polos Bima.


Eyang Lila dan Ayah Rendra pun saling tatap dan kemudian mengangguk pelan.


"Tante itu harus kita tolong, Nak. Dia sedang dikejar - kerja oleh Iblis. Bima capek sekali, pasti? Sekarang kamu istirahat dulu ya...," jelas Sang Kakek.


Bima mengangguk pelan, lalu dia pun dibantu bangun oleh Sang Kakek juga Sang Nenek. Namun baru beberapa langkah, Bima kembali menoleh kearah Eyang Lila juga Ayah Rendra.


"Eyang Yut, Eyang Ren, Eyang Rara jangan kasih tau Mama, Papa juga Kak Kinan ya. Soal kemampuanku, aku benar - benar mau bantu kak Kinanti menghilangkan tanda kutukan itu. Jadi, please...," jelas pemuda kecil itu dan memohon dengan ekspresi lucunya.


Ke 3 orang dewasa yang ada disana pun tersenyum lebar, Ayah Rendra pun kemudian berdiri dan berjalan kearah cucu kecilnya dan berjongkok di hadapannya.


"Apakah Bima benar - benar mau melindungi Kak Kinan?" tanya pria yang sudah mulai menua itu, sambil menoel hidung mancung pemuda kecil manis dihadapannya.


Bima mengangguk dengan cepat dan wajahnya yang berubah serius, dia melepas pegangan tangan Bunda Nara. Ditatap tajam wajah Sang Kakek.


"Iya, Bima akan melindungi Kak Kinanti dari Iblis jahat itu. Walaupun tubuh Bima masih kecil, tapi kelebihan yang aku miliki cukup untuk membuat Iblis itu kalah...," jawab tegas Bima.


Tawa kecil terdengar dari ke 3 orang dewasa disana. Ayah Rendra pun sangat bangga dengan cucu lelaki kecilnya yang pemberani itu, sambil menggoyangkan puncak kepala Bima.


...----------------...


Kinanti sudah sampai di rumahnya, Sang Ibu, Mirah sangat khawatir dengan keadaan Sang Anak. Kinanti terbaring lemah di tempat tidur, dia sedang tertidur pulas. Mirah perlahan membuka pakaian bagian depan Sang Anak, wanita muda itu ingin memeriksa kondisi tanda kutukan yang masih berada disana. Betapa terkejutnya Mirah, ketika dilihat tanda bintang kutukan itu sudah berbentuk akar dan menjalar ke arah bagian pundaknya. Tangan Mirah gemetaran saat ingin memegang tanda kutukan yang kini terus berwarna merah membara.


"Sudah secepat ini? Maafkan Mama, Nak. Ini semua salah Mama. Mama janji, akan mencari cara untuk menghilangkan kutukan ini, selama kamu belum bertemu dengan orang yang ditakdirkan untuk bisa menghilangkan tanda ini, pasti ada cara lain...," batin Mirah dengan air mata yang sudah mulai mengalir di kedua pipinya, dengan cepat diusap air mata itu, sambil dibenahi kembali pakaian Sang Anak.


Mirah lalai mengecup kening Kinanti dengan lembut dan mengelusnya pelan. Ditatap lekat wajah Sang Anak, hingga suara bel rumahnya terdengar. Wanita muda itu lalu perlahan keluar dari kamar Kinanti.

__ADS_1


Bel rumah itu berdenting beberapa kali. Lalu pintu pun dibuka.


"Selamat sore, Om mau cari siapa?" tanya Bima dengan sopan.


Tamu yang datang ternyata adalah Darius, senyum menawannya terkembang. Lalu pemuda itu pun sedikit berjongkok di hadapan Bima yang terlihat setinggi lututnya.


"Selamat sore, pria muda. Nama Om Darius. Mmm, mungkin lebih tepatnya kamu bisa memanggilku kakak, karena aku belum se tua itu...," ucap Darius ramah, sambil mengacak - acak lembut rambut lurus pendek Bima.


Bima tidak berekspresi di awal hingga dia tiba - tiba tersenyum lebar saat memandang lekat wajah Darius.


"Iya, Kak Darius. Mari masuk, kakak pasti mau bertemu dengan Kakak ku Kinanti...," ucap Bima bersemangat.


Degh...


Darius sungguh terkejut dengan ucapan Bima.


"Bagaimana dia tau? Padahal aku belum mengatakan apapun...," batin Darius yang sangat terheran.


"Apa mungkin Kinanti pernah bercerita tentangku pada keluarganya?" batin Darius kembali.


"Bima, sayang. Oh, maaf anda siapa ya?" tanya Mirah kemudian.


Darius pun tersenyum lebar sambil agak mengangguk.


"Selamat sore Tante. Perkenalkan saya Darius, maaf saya lancang langsung masuk karena adik kecil ini langsung mempersilahkan dan menarik saya untuk masuk." jelas Darius sambil mengarahkan pandangan sesaat kearah adik kecil Kinanti itu.


Bima yang masih menggandeng tangan Darius lalu melepasnya dan mendekat kearah Sang Ibu.


"Mama, kakak ini bosnya Kak Kinan. Ganteng ya, Ma...," ucap polos Bima.


Lagi - lagi Darius dibuat terkejut dengan ucapan Bima.


Mirah pun tersenyum kearah Bima sambil mengelus puncak kepala pemuda cilik itu.

__ADS_1


"Apa betul yang dikatakan oleh anak saya, Nak Darius?" tanya Mirah.


Darius yang masih terperana melihat kearah Bima pun, kemudian mengarahkan pandangannya kearah Mirah. Lalu pemuda itu mengangguk pelan.


"Betul. Tante...," ucap terbata Darius.


Lalu Mirah menggiring Darius untuk duduk di ruang tamu rumahnya. Bima kemudian duduk di sebelah Darius, dia kembali menatap.lekat kearah Darius.


"Aura kakak ini, sangat cerah sebenarnya. Jika saja, aura hitam tipis di belakangnya tidak mengikuti. Sepertinya dia ini, orang yang Eyang Yut sering katakan. Tapi...," pikiran Bima terhenti, ketika Sang Ibu menegurnya.


"Bima sayang. Kak Darius nya jangan kamu tempelin gitu sayang, lihat tempat duduk Kak Darius jadi sempit. Bukannya kamu masih ada PR yang belum dikerjakan, ayo kembali ke kamarmu...," ucap Sang Ibu.


Bima pun tersenyum dengan menampakan semua giginya, lalu dia turun dari sofa dengan perlahan.


"Kak Darius ganteng, aku pamit dulu ya. Suatu hari nanti kita pasti ketemu lagi. Bye - bye...," ucap Bima yang lalai berlalu dari hadapan Darius.


Darius pun melambaikan tangan pada lelaki cilik itu. Mirah kemudian mempersilahkan Darius untuk meminum jus jeruk yang disuguhkan.


"Mmm, kalau saya boleh tau. Maksud kedatangan Nak Darius kesini, untuk...," ucap Mirah.


Darius meletakkan gelasnya dan kemudian meneguk cepat jus di dalam mulutnya, sebelum akhirnya menjawab.


"Saya ingin mengetahui keadaan Kinanti, Tante. Karena tadi, Rasti datang dengan membawa surat ijin sakit dan kebetulan saya sempat berpapasan dengan Kinanti yang terlihat kesakitan. Bagiamana keadaan Kinanti sekarang, Tante?" jelas dan tanya Darius.


Mirah mengangguk pelan saat mendengar penjelasan dari Darius.


"Keadaan Kinanti sampe sekarang sudah baikan. Kebetulan, dia tidak begitu cocok dengan obat - obatan kimia. Jadi, kami selalu membuatkan ramuan herbal untuknya. Terimakasih banyak atas perhatian Nak Darius sampai jauh - jauh menengok Kinanti." ucap Mirah.


Darius pun tersenyum ramah dan kemudian mereka melanjutkan percakapan ringan, hingga akhirnya Darius pamit untuk pulang tanpa bisa menemui Kinanti, karena memang gadis itu sedang beristirahat.


"Ki, semoga kamu cepat sembuh. Aku sebenarnya, ingin melihat keadaanmu dan menjelaskan semuanya. Tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat...," batin Darius.


Pemuda itu juga merasa ada yang aneh di dadanya, setiap kali Kinanti jatuh sakit. Dia seperti biasa merasakan kesakitan yang sedang dialami gadis mungil itu. Namun, Darius selalu tidak yakin dengan perasaannya, ditambah ingatannya tentang masa lalu dan kecilnya bersama Kinanti telah hilang dan belum bisa kembali lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2