#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
19.


__ADS_3

Darius sudah koma selama hampir 2 hari, Mauris pun kemudian masuk ke ruang rawatnya.


"Kalian semua pergi dari sini. Biar malam ini, saya yang menjaga Darius." perintah Mauris kepada seluruh anak buahnya yang berjaga di dalam dan luar ruangan Darius.


"Baik Tuan." jawab singkat anak buah Mauris yang kemudian memberikan kode pada seluruh teman - temannya, untuk segera meninggalkan ruangan Darius.


Mauris menunggu keadaan di sekitarnya benar - benar sepi dulu. Cukup lama dia berdiri di sekitar pintu kamar ruang rawat Sang Adik, hingga akhirnya keadaan menjadi sangat sepi juga hening.


Lalu pria muda itu berjalan ke arah ranjang Darius, kemudian dikeluarkannya botol berisi cairan obat yang dia dapat dari Sang Master. Bersamaan dengan sebuah alat suntik baru.


Mauris kemudian membuka alat suntik itu dari bungkusnya, baru ia membuka tutup botol cairan obat tersebut. Sewaktu Mauris sedang menyedot cairan obat menggunakan jarum suntik, tiba - tiba terdengar suara mengigau Darius tapi sangatlah pelan juga lemah.


"N. N." panggil Darius pada teman khayalan menurut Mauris, secara pelan juga lemah.


Mata Mauris membulat, ketika dia mendengar bahwa Sang Adik akhirnya merespon walaupun belum sadar. Tambah dipercepat proses menyedot obat tersebut.


Setelahnya, pria muda itu bersiap untuk menyuntikkan cairan obat ke tabung infus Sang Adik.


"Darius. Maafkan kakak, kakak nggak mungkin kehilangan kamu untuk kedua kalinya. Setelah ini, kamu akan terlahir kembali dan melupakan semua kejadian yang membuatmu menjadi terluka seperti ini." ucap Mauris dan langsung menyuntikkan obat tersebut.


Setelah obat itu berhasil masuk dan perlahan mengalir ke setiap aliran darah Darius.


Mauris sedikit menjauh karena ingin mengetahui reaksi dari obat tersebut terhadap Darius, sambil membuang botol obat juga jarum suntik bekas ke tempat sampah di dekat kakinya.


"Enghhh. Enghhh. Enghh. Panas. Sakit. Aaaa. Aaaa...," lenguh Darius, kemudian dia merasa suhu badannya naik juga sekujur tubuhnya sakit dan terakhir dia berteriak. Lalu tubuhnya terkapar lemas.


Titttttt....


Suara indikator jantung menunjukkan garis lurus.


Wajah Mauris kemudian berubah panik, didekati tubuh Sang Adik.


"Darius. Darius." panggilnya sambil menggoyangkan tubuh Sang Adik yang masih panas, namun sudah lunglai.


Lalu dia segera beranjak dari sebelah ranjang Darius guna mencari pertolongan medis, namun baru akan dibuka gagang pintu kamar itu.


Indikator denyut jantung Darius kembali berbunyi.


Tit...


Tit...


Tit..


Bunyinya lebih beraturan, hingga membuat Mauris membalik badannya untuk kembali ke ranjang Sang Adik.


Kemudian dilihatnya Darius mulai melakukan pergerakan di kedua jemarinya dan matanya yang perlahan terbuka.


"Darius." panggil Mauris dengan lembut sambil mengusap pelipis Sang Kakak.


Darius kemudian menoleh ke asal suara, ditatapnya agak lama Sang Kakak dengan napasnya yang kini sedikit berderu di dalam tabung oksigen yang dipakainya.


"Kak, Mauris!" tanyanya terbata.

__ADS_1


Senyum bahagia terkembang di wajah pria muda itu.


"Iya Dek. Ini kakak. Terimakasih. Hahahhahaha. Terimakasih, kamu kembali." jawab Mauris dengan tawa bahagia yang mengikutinya.


"Terimakasih master. Saya akan membayar semua kebaikanmu dengan membawa anak itu, segera." batin Mauris.


...----------------...


Beberapa belas tahun kemudian...


Drap...


Drap...


Drap...


Suara langkah kaki berlari dari arah belakang rumah.


"Hah. Pagi Tita, Opa. Hah, Papa. Cup. Cup. Cup." ucap Kinanti dengan napas tersengalnya dan menciumi pipi setiap anggota keluarganya yang sedang duduk untuk sarapan


"Dan juga, Cup. Mamaku tersayang." ucapnya kembali setelah mencari Sang Ibu di dalam dapur juga mencium pipinya.


Mirah kemudian menarik napas panjangnya.


Sambil membalik badan, untuk berjalan kearah meja makan.


Kepalanya pun menggeleng, ketika dilihat Sang Anak yang sangat terburu - buru mengambil roti dan langsung melahapnya dengan tangan yang mengikat rambut panjangnya, namun kesulitan.


"Makasi Mama." jawab Kinan dengan mulut yang penuh dengan roti.


"Cucu Opa, pelan - pelan makannya sayang. Nanti kamu bisa sakit perut loh." ingat Sang Kakek.


Dengan senyum lebarnya kearah Sang Kakek, lalu Kinanti meneguk jus apelnya, untuk mendorong roti yang di konsumsinya.


"Kinan sayang, kamu kesiangan lagi? Heum?" tanya Sang Ayah sambil mengelus puncak kepala Sang Anak.


"Heheheheehe. Iya Pa, habis. Bos di kantor itu, orangnya perfeksionis banget Pa. Kinan jadi pusing, ngedenger semua permintaannya, apalagi bentar lagi bakal ada penulis baru yang masuk. Terkenal lagi, beeeuuhhh. Itu sih udah pasti, ruangan Kinan di kantor, aku pindahin ke rumah ini. Kinan harus banyak banget ngedit tulisan - tulisan mereka." jelas Kinanti yang semalam harus begadang untuk menyelesaikan editan buku - buku baru dari para penulis di kantornya.


Kinanti Bulan Putri Bara kini sudah berusia 20 tahun, setelah kejadian tidak menyenangkan sewaktu di duduk di bangku sekolah dasar, Kinanti akhirnya dipindahkan, karena Sang Nenek takut akan terjadi kejadian yang sama atau malah lebih parah. Kinanti kemudian diputuskan untuk home schooling, hingga tamat SMA. Lalu dia mengambil kuliah di jurusan jurnalis dan sebagai salah satu mahasiswi cerdas, dia dapat menyelesaikan masa studinya selama 2,5 tahun dengan IPK cumlaude. Lalu kini, gadis ramping namun pendek itu sudah bekerja di salah perusahaan percetakan terbesar di kotanya sebagai seorang asisten editor.


"Ck. Kinan sayang, liat tuh mata kamu. Kayak mata panda, trus kamu nggak pernah Tita liat pake make up. Ayolah, cantik. Dandan dikit ya. Biar kamu punya pacar, masa pacaran melulu sama buku dan laptop?" nasihat dan bujuk Sang Nenek, sambil membenahi poni Kinanti.


Kinanti sedikit mengerutkan dahinya, dengan mulutnya yang kembali terisi penuh roti. Lalu diambilnya jus apel didepannya lagi, kemudian diteguk hingga habis.


"Aaahhh, Tita. Kinan itu masih muda, baru juga masuk 20 tahun. Jadi, masih banyak kesempatan buat cari cowok. Nanti, kalau Kinan udah jadi kepala editor. Nah, disitu baru aku bakal cari cowok. Suami malah, nggak perlu dandan Tita, gini aja aku udah mempesona kok. Oke - oke, my dearest Tita." jawab jahil Kinanti sambil diakhiri dengan kerlingan matanya.


"Oke. Keluargaku yang budiman, aku berangkat dulu. Sampe ketemu nanti malam." ucap pamit Kinanti dengan kemudian berdiri dan membungkukkan tubuhnya. Lalu dia melambai untuk terus keluar dari rumahnya.


Seluruh anggota keluarganya tersenyum melihat tingkah gadis imut itu.


"Ck. Memang anaknya Bara Adi Putra. Tengilnya sama, pekerja kerasnya juga sama. Sama kayak Bapaknya." ucap Mami Bara sambil melirik kearah Sang Anak.


Bara pun menarik napas panjang dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Berarti DNA aku bagus Mi. Sayang, kita buat adik untuk Kinan sama Bima lagi yuk. Biar rumah ini tambah rame." ucap Bara yang kemudian menggoda Sang Istri yang sedang memilih dasi untuknya.


"Ck, ishhh. Udah tua Pa, kan udah ada Bima." jawab Mirah.


Bima adalah anak kedua Bara dan Mirah yang terpaut usia cukup jauh dengan Kinanti, anak itu berjenis kelamin laki - laki dan baru saja masuk ke bangku Sekolah Dasar.


"Oahem. Selamat pagi...," salam Bima sambil berjalan dengan mata masih tertutup, namun dia tahu keberadaan Sang Kakek. Lalu dia menarik - narik lengan baju lelaki tua itu.


"Waduh, cucu Opa. Minta dipangku dia. Ayo, ayo." jawab Papi Bara sambil kemudian menggendong cucu keduanya untuk kemudian dipangku di salah satu pahanya.


"Adek, Opa kan nanti berat? Ayo turun, duduk di kursi sendiri." ucap Mirah sambil mau mengambil Sang Anak dari pangkuan Sang Mertua.


"Nggak pa - pa Mir, nggak berat juga kok." jawab menolak Papi Bara.


"Tuh, Ma. Opa aku kan paling kuat memang. Cup. Bima sayang, Opa." jawab Bima yang tidak kalah jahilnya dengan Sang Kakak, sambil mengecup pipi Sang Kakek.


"Oh, jadi sayangnya cuman sama Opa, Tita nggak nih?" ucap manja Sang Nenek.


"Ck. Tita - Tita. Dikit - dikit ngambek, dikit - dikit ngambek. Iya deh sayang Tita juga. Cup." jawab lelaki kecil itu sambil tiba - tiba mencium sebelah pipi Ibu Nadia.


"Hahahaha." tawa bahagia pecah dari semua anggota keluarga Bara melihat tingkah lucu Bima.


...----------------...


Titt...


Suara deteksi kartu tanda pengenal karyawan yang ditempelkan Kinanti pada kunci pintu ruangan kantornya.


"Hah, nice. Untung masih ada 2 menit." ucapnya tersengal, setelah melihat jam tangannya memastikan dia tidak terlambat untuk absen.


"Chamomile tea. Buat Ibu Asisten Editor kita yang kerjaannya hampir telat setiap hari." ucap seorang gadis tinggi besar sambil menyodorkan mug berisi teh kesukaan Kinanti.


"Oh, Rasti. My best ever friend. Thank's Babe." jawab Kinanti pada teman baiknya sedari SD itu.


"Mmm, Ki. Udah tau desas - desus penulis baru yang bakal tanda tangan kontrak ama perusahaan kita ini nggak?" tanya Rasti selesai meneguk kopinya.


"Heumm? Desas - desus? Apaan? Nggak, Bu Stella nggak ada kasih info yang aneh - aneh soal dia." jawab Kinanti sambil masih menikmati tehnya.


"Denger - denger, dia bakal gantiin posisinya Bu Stella. Jadi kepala editor, bukan sebagai penulis. Karena katanya Bu Stella mau resign, mau ikut suaminya tugas keluar negeri." jelas Rasti.


Saat mereka sedang berbincang, tiba - tiba terlihat seseorang melintas di luar kantor mereka. Lelaki kurus tinggi, dengan rambut lurus lemas yang agak panjang, wajah tirus dan kulit putih pucatnya. Dia berjalan dengan tegap, satu tangan masuk ke dalam saku celananya. Pandangan Rasti dan Kinanti kemudian beralih pada pintu kaca yang terbentang lebar di hadapan mereka, melihat visual lelaki muda tampan itu yang sedang berjalan mendekat kearah pintu masuk kantor mereka.


Zreeekkk...


Suara pintu kaca kantor yang digeser.


Lelaki muda itu kemudian masuk dan ketika dia melihat wajah Kinanti, langkahnya terhenti.


Kedua mata mereka saling beradu.


"Siapa dia? Seperti pernah bertemu?" batin Kinanti dan lelaki muda itu bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2