#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
78.


__ADS_3

Malaikat Sofia mengikuti langkah Sang Pencipta yang saat itu sedang berwujud lelaki yang sangat tampan. Cukup lama mereka berjalan, hingga Sang Pencipta berhenti ditengah - tengah ladang gandum yang kebetulan sudah menguning dan siap untuk dipanen. Sang Pencipta berdiri membelakangi Malaikat Sofia dengan kedua tangan yang tersampir ke belakang tubuhnya. Terlihat dari kejauhan sebuah pohon apel yang sangat besar lengkap dengan buah - buahnya yang sudah ranum dan seolah - olah memanggil - manggil untuk dipanen.


"Dahulu, aku menemukan seorang anak asuh yang masih bayi. Aku menemukannya tepat dibawah pohon apel itu. Dari awal kutemukan, dia terus menangis sedih. Semua hal sudah coba kulakukan untuk membuatnya berhenti menangis, karena aku sangat khawatir, dia menangis hingga air matanya kering dan suaranya menghilang. Dia menangis tanpa mengenal lelah. Kau tau, Nak. Apa yang membuat akhirnya bisa tenang?" cerita dan tanya Sang Pencipta kehadapan Malaikat Sofia ketika dia sudah berbalik menatap kearah Malaikat manis itu.


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak mengetahuinya dan apabila Hamba boleh serakah, apa yang membuat bayi malang itu berhenti menangis?" jawab sopan Malaikat Sofia.


Samb Pencipta berjalan kearah samping sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak perlu minta maaf, Nak. Keingintahuan bukan sebuah keserakahan. Keingintahuan bisa berubah menjadi keserakahan, jika setiap pertanyaan serta jawaban yang kau dapat, tidak pernah menghapus dahagamu akan keingintahuan itu sendiri. Nafsu, akan menguasai. Sofia, anakku. Bayi itu berhenti menangis ketika, dia kuberikan sebuah jiwa suci. Jiwa suci yang dibawa oleh para Malaikat Penjaga Jiwa di alam manusia. Dahagaku akan keingintahuan soal anak itu, membuatku mengambil sebuah keputusan yang salah. Reo, aku memberi nama anak itu....," jelas lanjut Sang Pencipta dan membuat Malaikat Sofia terkejut setangh mati, tiba - tiba dia merasa seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak.


Sang Pencipta lalu kembali menoleh kearah Malaikat Sofia.


"Dia bukan Reo Si Malaikat Baik lagi Nak. Aku sebagai orang yang bertanggung jawab atas semuanya pun sedang dalam memburunya. Jadi, jika kau mengetahui keberadaannya, sebaiknya segera untuk memberi tau pasukan langit. Lebih cepat, lebih baik...," ucap akhir Sang Pencipta.


Malaikat Sofia pun hanya bisa mengangguk, dia tidak menyangka hal baru dia dengar.


...----------------...


Regina sudah melucuti semua pakaiannya dan tersisa hanya pakaian dalam seksi. Mauris meneguk salivanya, dia merasa sangat gugup, padahal ini bukan kali pertama di melakukan hubungan intim. Namun, yang membuat berbeda adalah karena Regina adalah gadis pertama yang disukainya dan sangat ingin dia lindungi.


Mauris tersenyum bahkan hampir tertawa melihat tingkah kaku Regina. Hingga membuat gadis itu salah tingkah.


"Ada apa? Aku, aku terlihat aneh ya?" tanya terbata dan polos Regina yang sedaritadi hanya berdiri di samping ranjang, tanpa melakukan apapun.

__ADS_1


Mauris kemudian meraih satu tangan Regina dan memberi kode agar naik keatas pahanya. Posisi Mauris sedang duduk bersandar dengan kaki selonjor nya. Regina pun menurut, dia naik perlahan dan sudah ada dipangkuan Mauris dengan kedua tangan dikalungkan ke leher pria muda itu.


"Mauris boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Regina.


"Tentu, sayang. Apa?" jawab Mauris yang masih lemah, sambil menyampirkan helaian rambut Regina ke belakang telinganya.


"Mmm, sudah berapa banyak wanita yang kau kencani atau tiduri untuk mengambil jiwa mereka?" tanya Regina yang tidak merasakan takut sama sekali.


Mauris menghela napasnya. Lalu dielus pipi lembut Regina.


"Mmm, beberapa. Maaf, Regina jika kamu memang tidak siap, sungguh. Aku baik - baik saja, aku bisa mengusahakan hal lain. Aku sangat menyukaimu, aku, aku benar - benar tidak mau kau terluka....," jelas Mauris sepenuh hati.


Regina lalu mengambil kedua pipi Mauris dan membuat mata mereka saling beradu pandang.


"Justru aku melakukan ini agar, kau tidak lagi menyentuh tubuh gadis lain. Apalagi memakan jiwa mereka. Aku ingin hanya aku yang memenuhi tubuhmu Mauris...," ucap lembut Regina.


Pria muda itu merasakan ada degupan lain di dadanya. Namun, dengan cepat dikontrolnya agar Reo tidak dapat merasakan apa yang Mauris katakan.


Kemudian pria muda itu memulai dengan ciuman singkat di bibir Regina, senyum terkembang di wajah cantik gadis itu. Lalu dia membalas ciuman Mauris dengan ciuman dalam dan hangatnya. Regina yang masih berada diatas pangkuan Mauris kemudian perlahan membantu membuka pakaian pria muda itu, sambil bibir mereka masih saling bertaut. Suara - suara erotis mulai terdengar, ketika posisi mereka berubah. Mauris sudah mendominasi Regina yang ternyata belum memiliki pengalaman apapun soal hubungan intim. Sentuhan - sentuhan lembut namun merangsang Mauris membuat Regina merasakan kenikmatan yang memuncak. Peluh keduanya sudah membanjiri tubuh mereka, ketika Mauris sudah melakukan penyatuan ke dalam inti Regina. Ranjang besar nan mewah itu sudah terlihat berantakan, setelah gerakan - gerakan liar yang mereka lakukan hampir sepanjang malam. Napas tersengal mereka terdengar saling bersahutan, dengan senyum menawannya Mauris kemudian mencium kening Regina ketika mereka beristirahat sejenak, setelah olahraga cukup panjang yang mereka lakukan.


"Boleh aku lakukan sekarang?" tanya ragu Mauris dengan napas tersengalnya.


Regina mengangguk dengan napas yang juga tersengal dan sambil meneguk salivanya.

__ADS_1


"Tuntun aku, caranya seperti kamu menuntunku tadi...," ucap Regina.


Mauris mengangguk dan kemudian kembali mengalungkan kedua tangan wanita muda itu ke lehernya.


"Buka mulut sedikit. Setelah itu pejamkan matamu, buat dirimu senyaman mungkin seperti tadi. Aku tidak akan menghisap semua jiwamu, sayang. Aku akan mengambil sedikit dan menukarnya dengan darahku. Aku nggak mau kamu kenapa - napa. Mengerti?" ucap Mauris yang menatap lekat mata Regina.


Senyum kaku Regina yang cukup gugup terlihat, kemudian Mauris mencium kening wanitanya sekali lagi. Sebelum akhirnya dia memulai aksinya. Mata Regina terpejam dan mulutnya terbuka, Mauris kemudian mendekatkan bibirnya dan melakukan gerakan menghirup. Dari lubang mulut Regina keluar asap putih yang bergerak kearah lubang mulut Mauris. Wanita itu mulai merasa agak sesak dan juga sakit di dadanya. Kedua tangannya yang sedang dikalungkan ke leher Mauris pun semakin kuat memegang kulit pria muda itu.


Kemudian Mauris mengangkat tubuh Regina yang awalnya terbaring menjadi kini bergelendotan di tubuhnya yang juga berubah posisi menjadi duduk.


"Hah. Cukup, Regina sudah hampir pingsan. Sekarang waktunya aku harus memberinya darahku...," gumam pelan Mauris yang sudah selesai menghisap jiwa Regina dan kemudian melukai nadinya dengan menggigitnya.


Darah segar muncrat dari celah nadinya yang terluka. Lalu dengan cepat diberikan kedalam mulut Regina.


"Hisap sayang, minumlah. Minumlah yang banyak agar tenaga dan jiwamu kembali untuk. Aku nggak mau kehilangan kamu, Regina...," bisik Mauris ke telinga wanitanya


Regina yang memiliki penglihatan buram, mencium aroma darah yang kuat dan merasa cairan kental itu sudah menempel di bibirnya. Lalu dengan perlahan dia mengikuti arahan Mauris untuk mulai menghisap dan meminum darah pria itu.


Diperhatikan dengan lekat dan dibantu untuk menyeka rambut panjang Regina, ketika wanita muda itu sedang meminum darahnya.


"Reo tidak tau, aku mempunyai kekuatan untuk memanipulasi koneksi jiwanya dan juga jiwaku. Jadi, selama aku tidak bereaksi terlalu berlebihan terhadap tingkah lucu dan menggemaskan wanitaku, dia tidak akan tau bahwa aku memiliki hubungan perasaan dengan Regina. Aku akan menjagamu dengan nyawaku sama seperti Darius. Aku mencintaimu Regina...," batin Mauris yang memang melatih beberapa kekuatan barunya tanpa sepengetahuan Reo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2