
Eyang Lila sedang bersiap akan mengunjungi rumah Sang Cucu, Mirah. Namun, tiba - tiba baru saja selesai membenahi penampilannya sekali lagi dan akan mengambil tas tangan kesayangannya. Wanita tua itu kemudian merasa ada sesuatu yang mendekat kearahnya melalui jendela, dengan sigap Eyang Lila menoleh kearah jendela kamarnya, begitu dia menoleh kembali ke arah depan. Wanita tua itu sudah berpindah alam. Dia berdiri tepat diatas sebuah batu yang melayang lengkap dengan awan - awan putih agak tebal menemaninya di sekeliling. Senyum manis wanita itu terkembang.
"Jadi, ceritanya suami tercintaku sedang pamer kekuasaan sekarang?" ucap Eyang Lila dengan tangan yang bersidekap dan satu alis yang dinaikkan.
Suara tawa menggelegarnya terdengar, lalu dari arah depan, perlahan muncul sosok pria tua berjanggut tipis berwarna putih menggunakan setelan hitam putih dan rambut klimis berubannya. Pria itu pun menaiki sebuah batu mendekat kearah Eyang Lila.
"Lama tidak berjumpa sayangku, Lila. Apa kabarmu, heum? Apa obat - obatanmu selalu rutin kau minum?" tanya pria tua itu pada Eyang Lila, sambil menjulurkan tangannya.
Eyang Lila kemudian meraih tangan pria itu dan berpindah ke pijakan batunya. Wanita tua itu lalu mengangguk pelan, menjawab pertanyaan dari pria tua itu. Lalu mereka bergandengan dan perlahan batu yang mereka pihak berjalan menyibak awan - awan putih disekitar.
"Aku baik dan sehat, Kian. Hehm, kapan ya terakhir kali kau mendapatkan ijin istimewa seperti ini dan membawaku berkeliling tempatmu bertugas? Sepertinya saat Kinanti baru lahir. Wah sudah lama juga ya. Lihat dirimu, tidak ada perubahan sama sekali. Hidup abadi memang tujuan akhir kita sebagai makhluk hidup, namun juga awal sebuah kehidupan baru...," ucap Eyang Lila pada pria tua yang ternyata Sang Suami.
Sedikit cerita soal Eyang Kakung Kian.
Pria tua yang juga memiliki keistimewaan seperti Sang Istri, hanya lebih hebat. Kenapa?
Eyang Kakung Kian, bisa berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Bisa dibilang pria tinggi kurus itu, salah satu malaikat kepercayaan Sang Pencipta. Eyang Kakung Kian diturunkan ke dunia, awalnya untuk mengawal jiwa - jiwa tersesat yang hampir dilupakan oleh sanak keluarganya atau bahkan sudah dilupakan hingga mereka berkeliaran di dunia manusia dan kebanyakan diantaranya suka mengganggu keseimbangan ekosistem manusia, tugas Eyang Kakung Kian mengawal jiwa - jiwa itu untuk kembali ke Sang Pencipta.
Namun saat sedang bertugas di dunia, Eyang Kakung Kian tidak sengaja bertemu dan langsung jatuh cinta dengan Eyang Lila pada saat, wanita tua itu menggunakan kemampuan istimewanya untuk membantu sesama.
__ADS_1
Singkat cerita mereka menikah dan lahirlah Ayah Rendra. Eyang Kakung Kian tahu, Sang Pencipta tahu, dia sudah melakukan sebuah dosa, karena menikahi seorang manusia. Namun, karena Eyang Kakung Kian jujur dan selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia diberi waktu cukup panjang oleh Sang Pencipta untuk tetap tinggal di dunia manusia, hidup layaknya manusia dan menjadi tua seperti manusia. Hingga saat umurnya mencapai 50 tahun, dia harus kembali bertugas ke kahyangan mendampingi Sang Pencipta, meninggalkan Sang Istri yang juga kala itu sudah mulai menua dan Ayah Rendra yang baru saja dikarunia anak yaitu Mama Mirah.
"Hehehehe. Maafkan aku sayang, di kahyangan akhir - akhir ini banyak terjadi kekacauan terutama akibat desas - desus kembalinya Reo Si Iblis. Oh iya, untuk pertanyaanmu waktu itu soal kutukan cicit kita, Kinanti. Sang Pencipta tidak memberi respon apapun, yang dimana bisanya jika seperti itu. Kau juga Rendra harus bekerja ekstra...," jelas Eyang Kakung Kian.
Eyang Lila pun mengangguk tanda mengerti, kemudian senyum cerah terkembang di wajah keriputnya.
"Aku mengerti...," jawab Eyang Lila.
...----------------...
Kinanti terus - menerus menghindari Darius yang mencoba ingin berbicara dengannya. Tingkah keduanya terlihat jelas oleh staff lainnya. Rasti kemudian menarik tangan Kinanti, saat gadis itu baru akan meninggalkan mejanya untuk makan siang.
Rasti ternyata membawa Kinanti mengantri di kantin karyawan. Mata gadis mungil itu berputar, dengan napasnya yang tersengal. Lalu dipukul agak keras tangan Rasti yang masih menggenggam tangan kurusnya.
"Kirain kemana? Ngantri di kantin aja, buru - buru banget. Cih...," ucap Kinanti dengan sedikit kesal dan mengelus tangannya yang dirasa cukup sakit.
Rasti yang bertubuh tambun pun menoleh kearah Kinanti dan membuat senyum lebar, sambil mengeluarkan tawa recehnya. Mereka mengantri dengan tertib, kemudian mencari tempat agak dipojok agar leluasa saat berbincang siang.
"Ki, sebenernya aku narik kamu kayak tadi. Bukan cuman biar nggak kehabisan menu makan siang bento chicken katsu ini aja, tapi sebenernya aku penasaran setengah mati sama hubungan kamu dan Pak Darius. Kamu tau nggak, anak - anak pada udah mulai ngegosipin kamu. Aku nggak bisa bela, karena memang belum tau cerita aslinya. Jadi, beneran kamu ada hubungan istimewa sama Si Freezer itu?" ucap Rasti yang kemudian menyendokkan suapan besar ke dalam mulut kecilnya.
__ADS_1
Kinanti terdiam sambil memotong ayamnya. Lalu dia menyuap dengan santainya dan menatap kearah Rasti.
"Nggak. Kami nggak ada hubungan istimewa, Pak Darius itu udah punya pacar. Anak - anak lain pernah liat pacarnya Pak Darius. Jadi, kenapa malah nge gosipin aku sama Pak Darius?" ucap santai Kinanti sambil balik bertanya pada Rasti.
Rasti meneguk es tehnya, sebelum menjawab.
"Mmm, maksud kamu. Mbak - mbak seksi yang katanya pernah ciuman panas sama Pak Darius di depan pintu office? Mm, aku kasih tau kamu jangan marah ya. Kamu di gosipinnya jadi pelakor...," tanya dan ucap Rasti lagi agak ragu juga takut.
Kinanti yang sedang menyedot minumannya pun hampir tersedak. Wajahnya terkejut dan kedua alis yang berkerut.
"Apa pelakor? Aku? Sialan itu anak - anak. Berani aja ngomong di depanku, aku giling satu - satu. Denger ya Ras, tolong disampein juga sama anak - anak mulut ember itu. Aku itu nggak ada hubungan apapun sama Pak Darius, aku itu nggak pernah suka sama dia. Kamu tau kan, dia suka nindas aku lebih dari Ibu Stella. Jadi mana mungkin aku bakalan suka sama cowok kayak gitu. Dan iya, pacarnya Pak Darius yang diajak ciuman mesum di depan office beberapa hari yang lalu...," jelas Kinanti berapi - api.
Rasti Sang Sahabat pun hanya mengangguk - angguk sambil sesekali mengelus - elus lembut tangan Kinanti, untuk meredakan sedikit emosi gadis mungil itu.
Di lain sisi, tanpa sepengetahuan mereka. Darius yang sedang memegang baik makan siangnya, berdiri terpaku di arah seberang. Pemuda itu menatap lekat kearah Kinanti dan mendengar semua ucapan gadis mungil itu. Jantungnya berdegup kencang, tangannya memegang erat sisi - sisi baki.
"Jadi, itu isi hati kamu Ki. Jadi, sebenarnya kamu nggak pernah suka sama aku. Jadi ciuman kita waktu tidak ada artinya sama sekali buat kamu?" batin sangat kecewa Darius.
Lalu pemuda itu berbalik dan menaruh bakinya di sembarang meja, kemudian pergi berlalu dari kantin karyawan dengan sedikit tertunduk.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...