
Darius baru saja selesai mandi, lelaki itu lalu mengenakan pakaiannya dengan masih sesekali mengeringkan rambutnya yang basah dengan selembar handuk. Ketika dia akan keluar dari ruangan wardrobe nya, tiba - tiba lelaki muda itu merasa sakit yang hebat di dada sebelah kirinya.
"Akh. Sakit, kenapa lagi i...," ucapan Darius terhenti, sambil dia menahan sakit dan tiba - tiba pula, lelaki muda itu mendengar sebuah suara bergema di telinganya.
"Darius. Tolong. Kinanti. Lift. Tolong." suara itu terus berulang menyebutkan hal yang sama ke telinga Darius.
Kini lelaki muda itu sudah jatuh terduduk didepan salah satu lemari pakaiannya. Dia juga menggeleng - gelengkan kepalanya, karena merasa ada sebuah visual sebuah kejadian yang terus berkelebat di kepalanya.
"Kinanti? Akh. Kenapa dia? Akh, dimana? Apa itu benar?" ucap Darius tidak karuan sambil menahan sakit di dadanya yang semakin menjadi, juga panas yang sekarang dirasa juga di dada itu.
Perlahan dengan memaksakan diri, dia bangun, kakinya bergetar. Lalu perlahan lelaki muda itu dengan langkah yang tertatih, dia mencari keberadaan ponselnya yang terletak cukup jauh dari posisi berdirinya. Setelah ditemukan dan diraih, lalu dia memencet sebuah tombol. Seseorang menjawab dari seberang dan diapun memerintahkan sesuatu. Setelahnya, dia langsung keluar dari kamar, masih dengan tertatih dia kemudian menuju pintu depan rumah. Mobil dan satu pengawal sekaligus supir pribadinya sudah siap.
"Tuan Darius, apa anda...," pertanyaan supirnya terpotong.
"Kantor, antar saya ke sana. Sekarang." ucap Darius dengan tertatih, keringat yang sudah membasahi pelipisnya dan juga wajahnya yang mulai pucat.
Dengan cepat pula, supir tersebut membukakan pintu untuk Darius dan setelahnya dia langsung masuk ke balik kemudi.
Kecepatan mobil yang disetirnya pun cukup tinggi, hingga dia sampai dengan cepat di gedung Kobuka Corporation.
Darius dengan cukup cepat, keluar dari dalam mobil. Dia kemudian menuju ke ruang keamanan CCTV dengan larinya yang masih dengan merasakan sakit di dada.
Di pihak lain.
Orang yang berbicara dari balik pengeras suara lift, merasa ada sebuah kekuatan besar yang mendekat. Dia yang awalnya akan melakukan meditasi dan masuk ke alam mimpi Kinanti untuk mengambil jiwa gadis itu , mengurungkan niatnya.
"Apa ini? Kenapa ada kekuatan sebesar dan sekuat ini? Siapa? Siapa?" batin orang itu penasaran.
Lalu dia kemudian berkonsentrasi dalam duduknya. Dia mencari tahu asal kekuatan yang dirasakannya.
Orang itu berselancar dengan indra keenamnya ke seantero lorong gedung Kobuka.
__ADS_1
Hingga dia melihat sosok Darius yang sedang berlari menuju kearah ruangan tempat dia berada.
"Darius? Kekuatan ini, berasal darinya? Kenapa? Kenapa bisa?" ucap orang itu tidak percaya.
Lalu dengan cepat dia mengembalikan kesadaran dan segera berdiri. Lalu dengan jentikkan tangannya, dia membuat semua petugas keamanan yang awalnya dibuat pingsan dengan sihirnya. Perlahan semua petugas itu tersadar, dengan dibarengi orang itu menghilangkan diri dengan kekuatan sihirnya.
Brak...
Suara pintu yang di buka dengan kasar.
Napas tersengal Darius juga wajahnya yang menegang serta sakit di dada yang ditahannya. Dia lalu berjalan ke salah satu petugas yang baru tersadar. Diraih kerah baju petugas itu dengan napas tersengalnya.
"Hah. Periksa, periksa CCTV semua lift. Hah. Kinanti, dia terjebak disana. Cepat, cepat." ucap Darius dengan napas tersengalnya dan kemudian melepas keran baju petugas itu, lalu membalik kursinya untuk menghadap ke layar pemantau guna mencari keberadaan Kinanti.
Petugas itu lalu mencari keberadaan orang yang disebutkan oleh Darius, dia memutar semua CCTV di semua lift gedung Kobuka dan benar saja. Kinanti terlihat sedang bersandar di salah satu dinding lift, dilantai dekat dengan kantor mereka.
"Hah? Kenapa bisa? Lift itu rusak?" ucap petugas tadi merasa heran, setelah dilihat lampu indikator lift berwarna merah. Tanda salah satu lift mengalami kerusakan.
Lelaki itu diikuti oleh beberapa petugas keamanan dari belakang. Kemudian dia sampai di lantai tempat Kinanti terjebak.
Dengan dibantu beberapa petugas yang sudah membawa linggis untuk membuka pintu lift tersebut, Darius kemudian melihat Kinanti betul - betul dalam keadaan tidak sadarkan diri, ketika pintu lift berhasil dibuka.
Lalu Darius turun ke bawah dan dia mencoba membangunkan Kinanti, dengan menepuk - nepuk pipi gadis mungil itu. Namun tidak berhasil. Lalu dia memberitahu petugas keamanan untuk segera menghubungi ambulans. Dengan sigap petugas lalu melakukan hal yang dipinta oleh Darius.
"Ki, ayo. Sadarlah, ini saya. Darius." ucap Darius yang kini sudah menggendong Kinanti untuk segera diangkatnya keatas agar dapat diraih oleh petugas keamanan diatas.
Setelah tubuh Kinanti berhasil dievakuasi, lalu Darius pun dibantu naik.
Kinanti di dudukkan di salah satu dinding dekat lift, lalu salah seorang petugas mengayunkan obat angin ke hidung gadis itu. Bertujuan untuk membuat agar Kinanti cepat tersadar dan betul adanya perlahan suara melenguh terdengar juga kedua bola mata gadis itu bergerak. Kelopak matanya pun perlahan dibuka, dengan pandangan mata yang masih buram. Dia mencoba mengenali orang di dekatnya.
"Siapa? Siapa? Hah. Kinanti sakit, dada Kinanti sakit. Hah." ucap sesaat Kinanti dengan suara sangat pelan sebelum, akhirnya kembali pingsan.
__ADS_1
Darius yang ingin mendengar yang diucapkan oleh Kinanti pun, mendekatkan sedikit telinganya. Namun terlambat, dia mendapati Kinanti kembali jatuh pingsan.
"Akh. Hah. Hah." Darius pun semakin merasa nyeri di dadanya dan akhirnya tidak bisa menahan rasa sakit itu. Dia kemudian juga terjatuh di pangkuan Kinanti.
Seluruh petugas yang ada disana, menjadi panik. Karena di hadapan mereka ada 2 orang yang tidak sadarkan diri. Diwaktu bersamaan, datanglah tim medis dari salah satu rumah sakit yang ditelepon oleh petugas keamanan Kobuka. Dengan cekatan diangkat kedua tubuh karyawan Kobuka itu ke atas brankar. Lalu mereka langsung dibawa ke rumah sakit yang ternyata dekat dengan gedung kantor itu.
...----------------...
Hati Mirah gelisah, ketika dilihat jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 11 malam dan belum ada tanda - tanda juga yang menandakan kepulangan Sang Anak Gadis. Akhirnya Mirah menelepon ponsel Kinanti, beberapa kali panggilan tidak juga kunjung diangkat. Hingga akhirnya sebuah kotak suara yang menjawab. Bara yang melihat tingkah Sang Istri, lalu berjalan mendekat.
"Ma, ada apa?" tanyanya santai.
"Pa, ini. Kinan, nggak biasanya lembur tapi nggak kasih kabar. Trus, Mama telepon juga nggak diangkat. Entah kenapa, malam ini hati Mama nggak enak?" jelas Mirah dengan perasaan cemasnya.
Lalu Bara mengambil ponsel Sang Istri dan kembali melakukan panggilan pada ponsel Sang Anak.
Tuttt..
Suara panggilan ke ponsel Kinanti.
"Halo, Selamat malam...," jawab seseorang dari seberang.
Bara mengernyitkan dahi, ketika di dengar suara asing yang mengangkat ponsel putrinya.
"Halo, Selamat malam. Betul ini dengan ponsel Kinanti?" tanya Bara masih dengan wajah curiganya.
"Betul, Bapak. Maaf saya bicara dengan anggota keluarga Mbak Kinanti?. Begini Pak, saya ingin mengabarkan kalau sekarang, Mbak Kinanti sedang ada di Rumah Sakit Budi Mulya. Keadaan Mbak Kinanti, kami belum tau karena sedang ditangani oleh dokter. Apakah Bapak bisa segera datang kesini?" jelas dan tanya orang itu.
Mata Bara terbelalak dengan sesekali menoleh kearah Mirah. Lalu dengan cepat dijawabnya pertanyaan orang itu. Pria tampan itu, kemudian mematikan ponsel milik istrinya dan langsung menceritakan keadaan Kinanti. Mirah pun sangat terkejut dan hampir pingsan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1