#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
36.


__ADS_3

Saat subuh, Darius yang masih tertidur lelap dan Mauris masih juga setia mendampingi, kini perlahan melepas pegangan tangannya pada Sang Adik dengan perlahan. Lalu ditatap lekat sekali lagi wajah tampan Darius, sebelum secara perlahan pria itu keluar dari kamar rawat Sang Adik.


Dua penjaga dengan badan yang cukup kekar, sudah berjaga sejak semalaman. Mereka mengangguk dan menunduk ketika Muris keluar dari kamar rawat Darius. Pria itu berbelok ke kiri untuk menuju ke ruang ICU, tempat Kinanti di rawat. Dia mengetahui hal itu, sesaat sebelum menemui Darius di kamarnya. Mauris berjalan dengan tegap dan wajah datar.


"Aku harus melihat bagaimana, kondisinya kali ini. Jika beruntung, aku bisa sekalian menyapanya." batin licik Mauris.


Setelah berbelok ke kanan di ujung lorong. Mauris melihat sebuah tanda pengarah yang cukup besar, tidak jauh dari tanda itu pintu ruang ICU pun terlihat.


Mauris mempercepat langkahnya, namun suatu keanehan terjadi. Dia tidak dapat menggapai gagang pintu ruang ICU apalagi mendekat kearah benda tinggi yang dilapisi sebagian kaca itu. Sebuah pelindung tidak kasat mata, sudah melapisinya.


"Apa ini, kenapa bisa ada pembatas begini? Siapa yang...," pikir Mauris sambil melihat ke sekitar, hingga matanya sedikit terbelalak, ketika dia melihat Bara sudah berjalan mendekat kearah pintu ruang ICU. Mauris kemudian dengan langkah super cepat, pergi menjauh dari sana. Dia bersembunyi di sebuah dinding, namun masih bisa memantau pergerakan di depan ruang itu. Dilihatnya Bara masuk dengan santainya ke ruang ICU itu, tanpa ada halangan sedikit pun.


"Ck, siapa yang membuat tameng itu? Kenapa hanya aku yang tidak bisa masuk?" tanyanya lagi dalam hati.


Dengan alisnya yang berkerut, akhirnya Mauris memutuskan untuk segera pergi dari sana.


...----------------...


Kinanti yang tiba - tiba bangun dan terkejut dengan situasi disekelilingnya, kemudian dilihatnya perlahan ruangan yang tidak familiar. Hingga dia teringat sendiri dengan kejadian yang menimpanya. Kemudian dia melihat kearah samping ranjangnya, Mirah, Sang Ibu menemaninya hingga ketiduran.


Kinanti masih merasa lemas dan kemudian dia meraba tanda yang ada di dadanya. Sedikit rasa sakit yang tersisa.


"Kenapa tanda ini terasa panas? Kenapa aku merasa, di waktu - waktu tertentu tanda ini membuat aku sangat kesakitan dan tersiksa?" pikir Kinanti.


"Mimpi itu, kenapa? Kenapa domba berubah dan sinar, ya sinar itu? Akh, kenapa banyak sekali pertanyaan di kepalaku?" batin Kinanti sambil memijit pelipisnya yang mulai sakit.


Saat dia sedang memijit dan kembali memejamkan matanya, Sang Ayah, Bara tiba - tiba datang dan menyingkap tirai bilik tempat Sang Anak Gadis masih berada. Betapa terkejut dan senangnya dia, melihat Kinanti yang sudah sadar.


"Kinan, sayang...," pekik Bara yang langsung menghampiri ranjang Kinanti.


Mirah yang sedang tertidur pun kemudian terbangun dan langsung mengarahkan pandangan ke ranjang Kinanti.


"Kinanti sayang, kamu udah bangun?" pekik Mirah sambil kemudian berdiri, guna melihat dengan jelas wajah Sang Anak.

__ADS_1


Bara kemudian mengusap puncak kepala Kinanti.


"Kepalamu sakit, nak? Sebentar ya, Papa panggil dokter dulu ya...," ucap Bara, namun dengan cepat gerakannya ditahan oleh Kinanti.


Gadis itu hanya menggeleng.


"Pa, Kinanti udah nggak pa - pa. Pa, Pak Darius. Apa Papa ada bertemu dengannya?" tanya Kinanti dari balik tabung oksigennya.


"Darius?" ucap Bara sambil kemudian berpikir dengan dua alis yang berkerut.


"Sayang, Papa hanya melihat dua penjaga kantormu saja yang berdiri diluar ruangan. Siapa Darius?" jelas dan tanya Bara.


Baru Kinanti akan menjawab, tirainya kembali tersingkap. Masuklah sepasang tim medis. Kemudian dokter dan juga perawat itu mempersilahkan Bara juga Mirah untuk segera keluar.


Sambil diperiksa dengan teliti, Kinanti berpikir,


"Kemana perginya Pak Darius? Kenapa dia bisa tau, aku terjebak di dalam lift?" banyak pertanyaan kembali muncul di dalam kepala Kinanti.


Cukup lama Kinanti diperiksa, hingga kemudian dokter pergi keluar ruangan untuk menemui Bara juga Mirah, selepas memeriksa gadis mungil itu. Dokter menjelaskan, saat ini keadaan Kinanti sudah baik - baik saja dan tergolong stabil. Lalu dokter itu, menyerahkan selembar kertas resep dan juga mengatakan bahwa Kinanti sudah bisa dibawa pulang, setelah nanti ampul infusnya habis.


...----------------...


Dita berjalan di trotoar untuk menuju pulang, selepas dia selesai PKL ( Praktek Kerja Lapangan ). Kemudian langkahnya terhenti, ketika dia mencium aroma yang dikenalnya. Perlahan wajahnya berubah mulai panik, kedua tangannya pun mulai bergetar. Bola mata Dita bergerak ke kanan dan kiri dengan cepat.


"Bau parfum ini, ini. Dia, dia orang yang...," batin tidak karuan Dita.


"Siapa? Siapa disana?" ucap gadis itu sambil mengayunkan tongkat pemandunya ke bagian depan.


Memang benar ada seseorang yang sedang berada di dekat Dita, namun bukan di depan melainkan dibelakangnya.


"Bams, ini bau parfum Bams. Orang yang sudah memperkosamu gadis buta." ucap orang itu berbisik di telinga Dita.


Brugh...

__ADS_1


Tubuh Dita jatuh ke samping karena terkejut dan juga rasa panik yang menyerangnya.


Lalu dia menggeser tubuhnya yang terjatuh, mencoba menjauh dari asal suara itu.


"Pergi, pergi. Jangan, jangan dekati saya. Ampun, ampun. Saya, saya tidak melakukan apapun sungguh, saya juga tidak akan berteriak. Jadi, pergi ...," ucap Dita sambil mencakupkan tangannya di depan wajah.


Orang itu, kemudian berjongkok di sebelah Dita. Dielus rambut agak bergelombang Dita.


"Hihihi. Melihatmu ketakutan seperti ini, merupakan sebuah pemandangan indah. Hei, gadis buta ini peringatan terakhir. Jika kau masih berada dekat - dekat dengan Bams, aku akan memastikan kejadian di masa lalu mu bisa terulang lagi. Bahkan akan lebih parah, aku bisa menjual kamu pada om - om hidung belang diluar sana. Ngerti?" ucap pelan orang itu, sambil mengambil dagu Dita.


Gadis buta itu, menggangguk dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya juga tubuhnya masih sangat bergetar.


"Oh Iya, satu lagi. Ingat namaku, Karla. Ingat namaku dengan baik. Sampai bertemu lagi buta. Aku harap di pertemuan selanjutnya, Bams sudah tidak bersamamu lagi." ucap orang itu yang ternyata adalah Karla.


Lalu Karla bangun dari posisinya dan berjalan menjauh. Sedangkan Dita masih terus menangis dan tubuhnya yang juga masih ada diatas trotoar dekat rumahnya.


"Bams? Kenapa Karla selalu mengatakan, laki - laki itu ada di dekatku? Aku bahkan tidak pernah bertemu lagi dengannya setelah kejadian itu. Kenapa?" batin Dita yang sedikit kesal sambil memukul - mukul trotoar.


Gadis itu mencoba untuk bangun, namun tenangnya belum terkumpul. Hingga sebuah panggilan dari Kei membuatnya terkejut.


"Sayang...," panggil Kei yang berada di seberang jalan dan masih berada diatas motornya.


Pria itu kemudian mendongkrak motor dan menaruh helm diatas spion motornya. Dia menyebrang ketika sudah tidak ada kendaraan berlalu - lalang.


"Kei...," jawab Dita lemah.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu jatuh? Mana yang sakit?" cecar Kei dengan sangat khawatir.


Alih - alih menjawab pertanyaan Sang Kekasih, Dita lalu menarik tubuh Kei dan memeluknya erat.


"Karla, Karla. Dia datang lagi, dia lagi - lagi menyebutkan nama Bams. Sungguh Kei, aku, aku nggak pernah ketemu dia lagi. Tapi kenapa? Kenapa Karla tidak percaya? Hiks. Hiks." jelas Dita dengan tangis histerisnya di pelukkan Kei.


Kei sangat terkejut dengan semua penjelasan Dita. Pria itu terus memeluk Dita, mengelus - elus punggung gadis itu untuk menenangkannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2