
Kini Darius dan Kinanti sudah sampai kembali ke kantor dan ke ruangan masing - masing. Semua teman - teman Kinanti yang juga sudah datang, melihat kedatangan gadis mungil dengan bos ganteng mereka secara bersamaan. Langsung mengetik sesuatu di layar komputer mereka masing - masing. Kinanti yang baru saja, mau mengerjakan kembali file yang diberikan oleh Darius sedikit terkejut dengan sebuah pesan masuk di layar komputernya.
"Hei Ki, habis maksi sama Si Vampir?" tanya Rasti.
"Hah?" jawab Kinanti dengan bingung lengkap dengan emoticon bingungnya.
"Dimana - dimana Ki, maksinya ( makan siang ) sama Si Vampire. Restoran mewah pasti, kok bisa sih?" tanya temannya yang lain.
Kinanti bukannya membalas, malah melirik ke segala arah tempat teman - temannya duduk. Dilihat sesaat kesekeliling, baru kemudian dibalas lagi.
"Si Vampir itu siapa? Aku itu makan siang sama Pak Darius, karena katanya dia nggak mau aku sakit gegara nih. Kalian liat sendiri file - file yang dia kasih, tenggat waktunya sehabis makan siang ini. Udah ah, jangan chating - chating aku lagi. Ntar nggak kelar - kelar lagi nih file. Bye." jawab Kinanti dengan langsung keluar dari obrolan digitalnya siang itu.
"Hehm. Gitu aja ngambek, ya udah pulang kerja kita ngumpul di markas biasa." pinta salah satu temannya.
Kemudian semua teman Kinanti termasuk Kinanti membalas sekali lagi dengan emotikon jempol tanda setuju.
...----------------...
Sarah hari itu sangat kesal, setelah mendengar semua perkataan Darius hingga malamnya dia datang ke sebuah klub malam. Dipesannya sebuah ruangan VIP juga beberapa minuman beralkohol dan juga makanan pendampingnya.
"Nona Sarah, apakah perlu sekali pendamping?" tanya seorang pelayan berjas hitam.
"Tidak, saya ingin sendiri." jawab Sarah datar sambil menuangkan minumannya.
Kemudian perlahan laki - laki itu menundukkan kepalanya sekali dan berbalik untuk pergi.
Segelas demi segala minuman itu diteguk oleh Sarah, hingga akhirnya dia sudah setengah mabuk. Dia tertawa terbahak - bahak sendirian dan kemudian mulai melempari botol minuman keras itu ke seantero ruangan.
"Darius brengsek, sok jual mahal kamu. Hahahaha. Jangan panggil aku Sarah Adyatama, kalau aku sampai tidak bisa membuat kamu jadi milikku. Darius awas kamu. Hahahaha." ucap Sarah dengan keras dan kembali meminum, entah gelas ke berapa?
Tanpa gadis itu ketahui pihak club malam sudah mengubungi seseorang dan orang tersebut sudah sampai, dengan diantar oleh pelayan berjas hitam tersebut. Orang itu, kemudian mengetuk sekali dan langsung masuk.
Prang...
Botol minuman dilempar tepat di dinding sebelah orang itu, hingga serpihannya menggores pipi orang yang ternyata adalah lelaki.
"Hah, Kevin. Sini - sini, kamu harus temenin saya minum. Ayo, saya...," ucapan Sarah yang sudah mabuk terhenti, ketika dia merasa sedikit mual.
__ADS_1
Kevin lalu mendekat kearah dengan cepat, kemudian dibantu bangun majikan kecilnya itu.
"Nona, kita pulang sekarang. Nona sudah mabuk berat." ucap Kevin yang sudah mengalungkan tas juga satu tangan Sarah ke leher kekarnya.
Namun, Sarah yang tidak jadi muntah itu. Mengayunkan jari telunjuknya di depan wajah Kevin.
"No, no. Saya belum mabuk, saya nggak mau pulang. Hiks. Kevin, dirumah itu isinya setan semua. Mereka menjual saya, menjual saya ke pebisnis besar untuk melunasi hutang - hutang mereka. Hiks. Kevin saya nggak mau pulang." ucap Sarah dengan nada mabuk dan tangis pura - puranya.
Kevin melihat sesaat ke wajah Sarah yang sudah merah merona, akibat reaksi minuman beralkohol yang diminumnya.
Lelaki bertubuh sangat kekar itu, lalu melepas pelan tangan Sarah dan lalu mengganti posisinya menjadi gendongan ala bridal style.
"Tetap kita hari keluar dari sini, tempat ini tidak pantas untuk Nona." jawab Kevin yang lalu membawa Sarah keluar dari ruangannya.
Di depan pintu, dia bertemu dengan pelayan laki - laki tadi, langkah Kevin terhenti.
"Seperti biasa." ucap Kevin.
Lalu pelayan itu mengangguk dan menunduk sesaat.
Kevin lalu melanjutkan jalannya, dia membawa Sarah masuk ke dalam mobil gadis itu. Dipasangkan sabuk pengaman.
Kevin yang sudah ada dibalik kemudi, melihat sesaat kearah Sarah dan kemudian menjalankan mobil itu.
...----------------...
Di sebuah ruangan dengan lampu temaram, bertengger sebuah cermin besar. Di dalamnya adalah tempat tinggal Reo awan hitam Si Raja Iblis, dia nampak gelisah.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa, energiku bukannya bertambah. Namun seperti terkuras, Mauris juga semakin jarang berkunjung. Apa terjadi sesuatu?" ucapnya dengan suara bergemanya.
Lalu awan hitam itu berkonsentrasi untuk mendeteksi keberadaan Mauris. Namun dicobanya berkali - kali, tidaklah berhasil.
"Sial, kenapa ini? Apa kekuatanku sudah mulai menurun? Mana janji Mauris yang mau segera membawa anak itu? Bagaimana caranya aku bisa memanggil dia, kalau kekuatan telepati dan lainnya tidak bekerja?" ucap kesal Reo.
Disamping itu, Mauris yang sudah keluar dari rumahnya dan baru akan naik ke dalam mobilnya, tiba - tiba dia merasa sakit di bagian dadanya.
"Akh." pekiknya sesaat sambil memegang tengah dadanya.
__ADS_1
Seketika para pengawalnya langsung berhambur mendekat ke pria kekar itu.
"Tuan." ucap semua pengawalnya, sambil akan meraih tubuh Mauris. Namun ditolak oleh pria itu.
"Saya tidak apa - apa. Kita berangkat sekarang." ucap Mauris yang kemudian langsung masuk dan masih mengurut pelan tengah dadanya.
"Perasaan apa ini? Padahal aku baru makan kemarin dan kekuatanku juga masih stabil. Apa mungkin master memanggilku? Tapi kenapa tumben tidak terdengar olehku?Aku belum bisa menemuinya sekarang, karena aku belum bertemu lagi dengan gadis kecil itu. Ditambah lagi, dia sekarang berada dekat dengan Darius. Aku hanya perlu memastikan agar mereka, tetap tidak dekat." pikir Mauris.
Wajah Mauris agak mengernyit di sepanjang perjalanan menuju kantornya.
...----------------...
Sarah sedikit bergerak diatas tempat tidur dan berusaha untuk bangun. Namun, saat matanya akan terbuka. Tiba - tiba dirasa kepalanya sangat sakit.
"Akh. Sakit." gumamnya pelan dengan suara seraknya.
Lalu dipaksa matanya terbuka, dengan pandangan yang masih cukup buram dia mengerjapkannya sesaat.
Sarah kemudian mengerutkan kedua alisnya dan kembali mengerjapkan matanya.
"Dimana ini?" tanyanya dalam hati.
Lalu dia mencoba untuk bangun, walau masih dirasa pening hebat di kepalanya. Namun tubuhnya agak tertahan, ketika dirasa ada yang menahan selimutnya. Lalu dia menoleh ke sebelah kiri tubuhnya.
"Kevin?" ucapnya pelan.
Kemudian Kevin pun terbangun, ketika dirasa ada yang bergerak dari atas kasur.
"Nona, anda sudah bangun? Sebentar saya buatkan minuman anti pengar dulu." ucap lelaki besar nan kekar yang langsung duduk tegak di samping Sarah.
"Ini, dimana Kevin?" tanya Sarah.
"Maaf nona. Ini di rumah saya, maaf kalau tempat tidur dan selimutnya juga seprainya sedikit kotor dan tidak wangi. Kemarin nona, sangat mabuk dan menolak untuk pulang ke rumah. Kebetulan letak klub malam itu dekat dengan rumah saya. Jadi saya memutuskan, membawa anda kemari. Sehabis sarapan, saya akan mengantar Nona Sarah kembali ke rumah." jelas Kevin yang langsung berdiri dan pergi keluar kamarnya.
Sarah lalu menaikkan kedua kakinya setinggi wajah dan membaringkan wajahnya di atas lutut, sambil melihat punggung Kevin yang menjauh.
Matanya memandang lekat Kevin hingga lelaki itu tidak terlihat lagi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...