
Mauris mengalami mimpi buruk semalam, pagi ini pria muda itu terlihat begitu berantakan. Matanya memiliki jantung besar dan hitam layaknya seekor panda. Dia berjalan gontai menuju ke ruang makan di apartemennya.
"Sialan. Mimpi itu, kenapa hampir setiap hari, aku bermimpi hal yang sama? Hah, aku terlalu lemah untuk mengetahuinya siapa dia?" batin Darius yang kesal, namun penasaran.
Dia menarik kursi meja makan, lalu duduk. Diambil susu rendah protein yang sudah tersaji, juga roti gandum diatas piring makan sambil terus menatap lurus ke jendela besar yang tepat berada dihadapannya.
Saat pria itu sedang menikmati sarapannya, kedamaian pagi itu diusik dengan dering teleponnya yang sangat nyaring. Kedua alis Mauris berkernyit. Wajahnya yang sudah kacau, kini menjadi masam dan penuh emosi. Dengan gerakan cepat diambil ponsel dari dalam saku jasnya, tanpa melihat nama penelepon langsung digeser tombol jawab benda pintar itu.
"Halo...," ucap Mauris.
"Selamat Pagi Tuan. Wijaya disini...," jawab Pak Wijaya di seberang.
Hela napas panjang Mauris sambil memijit pelipisnya.
"Hehm, kenapa pagi - pagi gini sudah mengangguk?" jawab kesal Mauris.
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya ingin memberi tahu soal proposal kerjasama kita dengan perusahaan Ibu Yuna, yang lagi - lagi ditolak...," jelas Pak Wijaya.
Brak...
Suara meja yang dipukul cukup keras oleh Mauris. Kini wajahnya memasang mimik menyeramkan dengan satu tangannya yang terkepal.
"Wanita tua sialan itu. Wijaya, hari ini saya tidak masuk kantor. Ambil alih semua jadwal sayang hingga besok. Saya akan membuat perhitungan dengan Yuna Si ****** itu...," ucap Mauris yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Setelah itu Mauris menarik dan menghembuskan napasnya, dicoba mengatur emosinya. Dipejamkan matanya, setelah dirasa semua terkendali. Mauris kembali memainkan jari lentiknya di layar sentuh ponsel pintar itu.
Sebuah pesan singkat dikirim pria tampan nan kejam itu dan tidak butuh lama pesan balasan pun diterima olehnya.
Kini senyum menyeringai terbentuk diwajah putih dan lancip Mauris, dengan tawa licik yang terdengar renyah membahana seantero ruang makan apartemen itu.
...----------------...
Seorang gadis anggun berjalan di sebuah lorong menuju acara pesta. Dengan gaun shoulder crop yang dikenakan, kalung berlian yang menghiasi leher jenjangnya, dia berjalan berlenggak - lenggok dengan kesan seksi nan glamor. Sang Penjaga pintu menunduk sesaat sebelum membuka pintu tempat pesta untuk gadis itu, senyum gadis anggun itu pun terkembang. Pintu dibuka dan seketika terdengar suara riuh sesaat, yang kemudian berganti dengan sunyi dan kemudian tepukan tangan untuk menyambut gadis anggun nan seksi yang kemudian masuk, dengan melihat sekeliling, mengangguk pada semua tamu undangan dengan senyum lebar yang di tebarnya.
Diujung langkahnya, seorang wanita agak tua menyambut gadis itu dengan ukuran tangan kulit sawo matang yang nampak sudah keriput.
"Selamat Malam Oma...," sapa gadis itu.
__ADS_1
"Selama Malam Regina Cantik, mari...," jawab wanita tua itu yang menggiring tubuh gadis seksi nan anggun itu untuk naik keatas panggung.
Seorang pembawa acara kemudian agak mundur, sambil kemudian menyerahkan mic kepada wanita tua dan Sang Gadis yang mendampinginya.
"Selamat Malam para hadirin...," ucap wanita tua itu.
"Selamat Malam...," jawab semua tamu undangan malam itu.
"Pada Malam Hari ini, saya begitu senang bukan hanya karena DAMIKA, tbk sudah mencapai usia ke 52 tahun. Tapi juga karena cucu kesayangan sekaligus penerus perusahaan ini, sudah kembali. Saya perkenalkan Regina Putri Damika...," jelas wanita tua itu.
Riuh tepukan tangan menyambut keduanya.
Regina lalu mencium kedua pipi Sang Nenek, lalu mengambil mic dan memberi beberapa kata sambutan. Setelahnya, mereka berdua turun dari atas panggung untuk berkeliling menyapa semua tamu undangan. Setelah cukup lama mengikuti Sang Nenek untuk menyapa semua kolega juga para staff yang hadir, Regina perlahan menepi mencari ruang yang lebih sepi jauh dari keramaian pesta. Dengan membawa minuman beralkoholnya, gadis itu kemudian membuka sebuah pintu kaca besar.
"Hehm. Segarnya...," ucap Regina merasa sangat nyaman, ketika mendapat udara segar juga angin semilir menerpa wajah dan rambut sebahunya, dipejamkan mata agak sipit Regina sambil mendekatkan bibir gelas yang dibawanya, ketika sedang meneguk minuman beralkohol itu, Regina hampir tersedak, ketika sebuah suara mengejutkannya.
"Hai, cantik...," panggil suara itu.
"Uhuuuk...," batuk sesaat Regina dengan sedikit minumannya tumpah keluar dari mulutnya dan membasahi sedikit dadanya.
"Oh, maaf Nona. Saya tidak bermaksud mengejutkanmu...," ucap orang itu.
"Ehem, tidak apa - apa. Terimakasih...," jawab Regina yang menerima sapu tangan pemberian orang itu.
Setelah membersihkan dada dan dagunya dari berkas minuman, Regina menatap kearah orang tadi.
"Mauris Soetanto...," ucap orang tadi yang ternyata adalah Mauris, pria itu menjulurkan tangannya.
Senyum tipis terkembang di wajah Regina, lalu dia menerima juluran tangan Mauris. Pria itu bukan hanya menjabat, namun langsung mencium punggung tangan Regina.
Gadis langsung itu sedikit terkejut dan wajahnya merona merah.
"Maaf, saya lancang dengan memanggil Anda cantik juga mencium tangan lembut anda, dipertemuan pertama kita ini. Saya sudah mengagumi Nona Regina, saat saya melihat anda masuk ke dalam hotel...," ucap berkelas dan sangat sopan Mauris.
Tawa kecil dan singkat Regina terdengar, sambil tangan mereka yang masih saling bertaut.
Mauris melihat sesaat kearah jemari tangan Regina dan mengelusnya lembut.
__ADS_1
"Apa Nona Regina, bersedia berjalan - jalan sesaat dengan saya? Kebetulan, saya tau sebuah tempat rahasia disini yang sangat indah...," ucap Mauris yang mencoba membujuk Regina.
Gadis itu berpikir sejenak, lalu perlahan dianggukkan kepalanya.
"Tapi, saya tidak bisa berlama - lama, sebentar lagi saya sudah harus meninggalkan tempat ini...," ucap Regina.
Senyum lebar terkembang di wajah Mauris, lalu ditarik tangan Regina dan dikalungkan ke lengannya. Lagi - lagi Regina dibuat terkejut sekaligus tersipu malu, dengan sikap gentleman Mauris.
Mereka berjalan keluar area bangunan hotel, menyusuri taman indah dikawasan hotel tersebut hingga sampai diujung jalan setapak yang sedaritadi mereka lalui.
"Welcome to paradise, Nona Regina...," ucap Mauris, ketika mereka sampai di hamparan pantai dengan air laut yang tenang.
Regina sangat terkesima dan secara tidak sadar sudah berjalan ke depan, namun langkahnya terhenti, karena tangannya ditarik oleh Mauris.
"Harus bertelanjang kaki, jika ingin bermain pasir dan air laut, jangan lupa nanti singsing kan gaun panjang anda agar tidak basah oleh air laut...," ucap Mauris yang kemudian berjongkok dan membantu Regina melepas sandal hak yang dikenakannya.
Degh...
Degh...
Degh...
Suara debaran jantung gadis itu meningkat, melihat perlakuan Mauris malam itu. Tubuhnya membeku dan terus menatap ke arah wajah Mauris, dia melupakan sejenak keinginan untuk bermain dengan pasir pantai dan air laut.
"Kenapa kamu melakukan semua hal manis ini kepada saya? Sudah berapa banyak, gadis yang kamu percaya dengan sikap gentleman mu ini?" tanya Regina tiba - tiba, yang merasa sangat penasaran.
Mata Mauris membulat sesaat, lalu tawa agak terbahaknya keluar begitu saja. Setelah itu dia mendekat kearah tubuh Regina.
"Bohong kalau saya bilang, bahwa Nona Regina, gadis pertama yang saya perlakukan seperti ini. Tapi, satu yang bisa saya pastikan, bahwa Nona Regina adalah gadis pertama yang mempertanyakan soal sikap manis saya? Karena biasanya, gadis - gadis lain, langsung tersipu malu dan menerima semua perlakuan baik dan sopan saya, tanpa mempertanyakan hal lain. Jadi, apa boleh saya menemani Nona Regina, bermain disana, sebelum waktu kepergian anda?" jelas dan tanya Mauris.
Senyum lebar Regina lagi - lagi terkembang.
"Jika, Tuan Mauris tidak keberatan...," jawab Regina.
Mauris kini menggenggam erat tangan Regina dan membawa gadis itu menyusuri bibir pantai, dengan ditemani oleh sinar rembulan.
"Santapan lezat yang berkualitas. Hehehehe, aku harus lebih sabar kali ini...," batin Mauris yang menganggap Regina tidak lebih dari santap malamnya.
__ADS_1
"Laki - laki yang menarik. Cukup jujur, dengan wajah tampan yang mungkin sudah dipuja oleh ribuan wanita. Mauris, haruskah aku mengenalmu lebih dalam lagi atau malah sebaliknya?" batin Regina yang sedikit waspada, sambil mengikuti langkah Mauris di belakang yang terus menggenggam tangannya erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...