#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
45.


__ADS_3

Wajah Kinanti benar - benar terkejut dengan tempat yang dirinya dan Darius datangi malam itu. Satu alis gadis mungil itu naik, lalu menoleh kearah Sang Atasan.


"Ini nggak salah kan ya? Ini beneran, dia pengen ke tempat ini?" batin Kinanti yang benar - benar masih terheran.


"Pak Darius, beneran Bapak minta di traktir masuk taman hiburan ini?" tanya Kinanti yang berdiri di samping Darius.


Mereka juga sudah berada di depan gapura besar sebuah taman hiburan, yang malam itu lumayan banyak pengunjung. Rata - rata yang datang adalah keluarga.


Darius dengan senyum lebarnya, mengangguk cepat. Lalu ditarik lengan Kinanti untuk masuk dan langkah mereka terhenti tidak jauh dari gapura tadi.


"Beli tiketnya dulu...," ucap Darius yang menunjuk sebuah jejeran loket tiket masuk.


Kinanti yang masih juga terpana pun, berjalan kearah loket pembelian tiket dengan patuh. Setelah dia membeli 2 tiket masuk, satunya diserahkan kepada Darius. Mata pemuda tampan nan gagah itu berbinar, layaknya anak kecil. Lalu dia langsung berlalu dari hadapan Kinanti.


Gadis manis itu kemudian mengikuti langkah cepat Sang Atasan dari belakang. Setelah melalui pintu masuk, mulai terdengar suara sangat ramai. Semua wahana hampir penuh dengan pengunjung dan rata - rata dari mereka adalah anak kecil hingga remaja tanggung.


"Ki, ayo kita naik itu." tunjuk Darius kemudian pada sebuah wahana ekstrem.


Kinanti hanya mengangguk. Darius terlihat tidak seperti dirinya yang biasa, pemuda itu benar - benar sangat riang. Senyum bahagianya tidak putus terkembang di wajah menawan Darius.


"Nggak nyangka aku. Hanya sebuah taman hiburan, bisa membuat Si Yeti benar - benar kayak anak kecil. Ternyata dia benar - benar tampan dan matanya sungguh meneduhkan ketika dia tersenyum." batin Kinanti yang mengagumi Darius dari jarak agak jauh, setelah mereka selesai menaiki sebuah wahan esktrem tadi.


Tiba - tiba Darius menoleh kearah Kinanti, dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya dari pemuda tampan itu. Darius merasa ada yang aneh dengan Kinanti, lalu dia mendekat.


"Belikan saya arum manis...," pinta Darius setelah ada di depan Kinanti.


Kinanti yang sedang memandang tempat lain, lalu menoleh kearah Darius. Satu alisnya naik.


"Hah, apa? Arum manis? Maksudnya permen kapas itu kan? What, seriously?" batin terkejut Kinanti lagi.


Darius tambah bingung melihat tingkah Kinanti yang belum juga beranjak. Lalu pemuda itu bersidekap.


"Ki, beliin saya arum manis...," ucap kencang Darius ke telinga Kinanti.

__ADS_1


Lalu gadis itu mengerutkan kedua alis sambil mengusap telinganya.


"Ck, saya nggak budeg Pak. Iya, saya belikan sekarang. Huh...," jawab Kinanti yang kesal dan langsung berlalu dari hadapan Darius sambil masih mengusap telinganya yang agak berdengung.


Kinanti kemudian memberikan sebuah permen kapas atau arum manis berbentuk Mickey Mouse pada Darius.


"Wah, gede banget. Thank's Ki. Sekarang kita naik bianglala itu." ucap Darius yang lalu meraih dan menggenggam tangan Kinanti.


Dia menarik tangan gadis itu untuk menaiki sebuah wahana bianglala yang tertutup.


Saat mengantri, tatapan Kinanti tidak lepas dari Darius yang sibuk memakan arum manisnya dengan lahap. Senyum miring dan kemudian tawa kecil terdengar dari bibir Kinanti. Darius yang masih mengunyah makanan manis itu, lalu meneguknya dan menatap kearah Kinanti.


"Kamu kenapa Ki? Ketawa - tawa sendiri kayak orang gila...," ucap santai Darius, dengan satu tangan yang masih sibuk menyobek permen kapas itu.


Kinanti kemudian menahan tawanya dan mengibaskan tangannya di depan Darius, tanda tidak apa - apa.


Lalu giliran mereka pun tiba. Darius dan Kinanti naik ke sebuah bianglala tertutup. Kemudian benda itu mulai berjalan berputar mengitari poros hingga sebagian taman hiburan terlihat, juga pemandangan lampu - lampu kota di seberangnya terlihat jelas.


"Indah, bukan...," ucap Darius yang tiba - tiba lembut.


Kinanti mengangguk cepat tanpa memandang Darius. Darius pun terus memandang keluar, kemudian dia menunduk memandangi arum manis yang masih dipegangnya.


"Kamu tau, kenapa saya ajak kesini dan minta dibelikan arum manis?" tanya Darius yang masih merunduk.


Kinanti lalu mengalihkan pandangan ke arah pemuda tampan itu. Dia kemudian memperhatikan raut wajah Darius yang berubah menjadi sendu.


"Tidak, Pak." jawab singkat Kinanti.


Karena disini, tempat kenangan terakhir saya bersama kedua orang tua saya. Mereka meninggal saat perjalanan pulang kami dari taman hiburan, karena kecelakaan lalu lintas dan saya menjadi orang satu - satunya yang selamat dari kecelakaan itu. Darius kemudian mendongakkan kepalanya, menatap Kinanti dengan air mata yang berkumpul di pelupuk matanya.


Dengan refleks, Kinanti berpindah tempat duduk dan merangkul Sang Atasan. Lalu menepuk pelan punggung Darius.


"Maaf, Pak. Tadi, saya pikir Bapak sangat konyol. Saya tidak tahu, kalau tempat ini punya kenangan tersendiri untuk Bapak dan kedua orang tua Bapak." ucap lembut Kinanti penuh sesal.

__ADS_1


Darius kemudian mengusap kedua matanya dan tawa kecil terdengar dari mulutnya.


"Hehehe. Nggak pa - pa, Ki. Saya tau, pasti siapapun yang melihat tingkah saya tadi. Berpikir saya memiliki masa kecil kurang bahagia. Tapi mereka betul, saya memang kurang bahagia karena tidak adanya kedua orang tua saya. Saya hanya hidup berdua dengan seorang kakak laki - laki. Hehehe. Saya sangat merindukan kedua orangtua saya, setiap hari, Ki...," jelas Darius sambil kembali merunduk.


Lalu tanpa sadar Kinanti merebahkan kepalanya di lengan Darius dan masih mengelus punggung lelaki itu, juga satu tangannya memegang tangan Darius.


"Kalau saya boleh saran, Pak. Jika Bapak merindukan kedua orang tua Bapak. Kirimkan lah sebuah doa untuk mereka. Karena doa dapat meringankan jalan mereka mencapai surga dan niscaya kedua orang tua Bapak, akan selalu menjaga, mengingat dan terus mengirimkan banyak cinta dari atas sana...," ucap Kinanti.


Darius tersenyum saat mendengar ucapan asistennya itu.


"Ki, terimakasih untuk malam ini. Rasa rindu saya terobati...," ucap dalam hati Darius.


Lalu mereka menikmati pemandangan luar biasa dari dalam bianglala, dengan sangat dekat.


...----------------...


Setelah cukup lama bermain di taman hiburan, Darius kemudian mengantarkan Kinanti pulang. Namun lagi - lagi Kinanti tertidur pulas karena kelelahan bekerja juga menemani Darius bermain malam itu. Setelah sampai di ujung jalan dekat rumah gadis itu, Darius yang kebingungan mencari rumah Kinanti pun, lalu menoleh bermaksud ingin bertanya. Baru dia akan membuka mulutnya, dilihat Kinanti sudah tertidur pulas.


"Hehm. Kasian dia, seharian udah kerja. Pake acara nemenin aku ke taman hiburan." gumam Darius.


Lalu satu tangan Darius perlahan mendekat kearah pipi Kinanti. Dia ingin menyampirkan helaian rambut panjang gadis itu yang nampak akan menganggu tidur pulasnya. Namun karena jemari Darius yang tidak sengaja menyentuh kulit pipi gadis mungil itu, Kinanti jadi membuka matanya tiba - tiba.


Darius dengan cepat menarik tangannya dan merubah posisi kembali ke depan setir.


"Oh, Eh. Maaf - maaf Pak. Saya ketiduran lagi. Ini, di...," ucap Kinanti yang mengusap pelan pipi nya yang tadi disentuh oleh Darius.


"Oh, sudah dekat. Sampai disini saja, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, karena terus ketiduran saat Bapak menyetir. Terimakasih banyak atas tumpangannya. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Hati - hati menyetirnya, Pak. Selamat Malam...," ucap Kinanti, sambil agak menundukkan kepalanya.


Lalu saat dia akan membuka pintu mobil, pintu itu ternyata masih di kunci oleh Darius. Kemudian Kinanti menoleh secara tiba - tiba. Hingga tidak sengaja bibirnya dan bibir Darius menempel, karena wajah Darius yang juga tiba - tiba mendekat kearah Kinanti, karena dia ingin mengatakan sesuatu.


Mata mereka terbelalak, Kinanti lalu dengan cepat ingin melepas bibirnya, namun tangan Darius menahan belakang kepala Kinanti. Wajah Kinanti menjadi merah merona dan mulai panas dirasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2