
Kinanti diantar ke klinik untuk pengecekan awal. Dokter klinik terkejut dengan tanda yang ada di dada kiri gadis mungil itu yang terlihat hidup dan menjalar seperti akar. Mata dokter itu dikerjap - kerjapkan, kemudian kedua alisnya berkerut melihat tanda itu. Ditatap wajah Kinanti yang masih merasa kesakitan. Dokter wanita itu mengurungkan niat untuk meletakkan stetoskop ke dada Kinanti, dia lebih memilih memakai sarung karet guna menyentuh tanda kutukan itu. Betapa terkejutnya Sang Dokter, ketika dirasa tanda itu menggeliat ditambah Kinanti yang tiba - tiba mengerang kesakitan.
"Akh, sakit, sakit dok...," pekik Kinanti yang kemudian memegangi tangan Sang Dokter secara tiba - tiba.
"Maaf, Mbak Kinanti. Kalau boleh saya tau, tanda bintang dan juluran akarnya apa betul mereka hidup atau saya yang salah liat?" tanya penasaran Sang Dokter.
Kinanti hanya mengangguk pelan, sambil masih menahan rasa sakitnya.
"Iya dok, itu tanda kutukan. Apa julurannya sudah panjang dan menuju kemana dia?" tanya Kinanti.
Dokter wanita itu, kemudian agak menjauh dari tubuh Kinanti. Wajahnya terlihat sangat terkejut dan juga ketakutan, bukan hanya itu dia juga menjadi bingung.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan Mbak? Tentu hal seperti ini tidak bisa disembuhkan dengan teori medis biasa...," tanya dan jelas Sang Dokter.
Kinanti yang masih meringis, kemudian membenahi baju dengan mengancing kembali. Setelahnya dia berushaa untuk bangun, dokter wanita itu sebenarnya ingin membantu namun dia sangat ragu.
"Dok, tolong rahasiakan ini semua. Sekaligus saya minta surat ijin sakit...," ucap Kinanti dengan masih menahan rasa sakit.
Dokter wanita itu lalu mengangguk cepat dan segera memanggil Rasti yang menunggu di luar ruangan, setelahnya dia menuliskan selembar surat ijin. Rasti membantu Kinanti turun dari ranjang periksa, gadis itu sudah membawa juga tas Kinanti. Rasti dan Kinanti kemudian mengucapkan rasa syukurnya pada Sang Dokter dan segera meninggalkan ruang rawat itu.
"Ternyata masih ada aja, hal - hal magis dijaman modern kayak gini...," gumam Sang Dokter sepeninggal Rasti dan Kinanti.
Kedua sahabat itu menuju ke parkiran mobil, Rasti membantu Kinanti masuk ke dalam dengan hati - hati.
"Ki, kayaknya kamu mesti ke rumah sakit deh. Kenapa dokter tadi nggak ngasih resep obat? Malah cuman ngasih surat keterangan sakit. Kita ke rumah sakit dulu ya, baru pulang. Aku nggak tenang ngeliat kamu makin lemes gini...," jelas dan bujuk Rasti sambil menyetir.
Kinanti yang sudah duduk manis di kursi sebelah Sang Sahabat hanya menggeleng pelan.
"Orang rumah baru bisa menyembuhkan aku, Ras. Bukan tim medis, jadi aku mau pulang...," ucap Kinanti dengan lemahnya.
Rasti menoleh sesaat kearah Kinanti dengan wajah sangat cemasnya, lalu gadis tambun itu menghela napas panjang, setelah mendengar jawaban keras kepala Kinanti.
__ADS_1
...----------------...
Darius sendiri, sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya, karena pikirannya ada bersama Kinanti.
"Kinan, udah sampe rumah belum ya? Kalau aku WA pasti nggak bakal di bales, apalagi nelpon. Kalau aku samperin ke rumahnya nanti sore, dia pasti nggak bakal ngusir aku. Pasti orang rumahnya, bakal ngebelain. Iya, jadi pakai rencana awal aja. Langsung ke rumahnya...," gumam Darius dengan serius, sambil mengambil gelas kopinya. Namun, baru dia akan meneguk, ternyata kopi di dalam gelas itu sudah habis.
Dia pun segera berdiri, untuk menuju pantry. Baru melangkah satu pijakan, ponselnya berdering. Dilihat nama penelpon dari layar ponsel pintar yang tergeletak diatas mejanya.
"Kak Mauris...," ucap Darius.
Lalu diambil ponsel itu dan digeser tombol jawabnya.
"Halo, Kak...," ucap Darius.
"Halo, Dek. Kamu lagi di kantor atau lagi makan siang?" tanya Mauris.
"Aku lagi di...," ucapan Darius terhenti, ketika dia membuka pintu ruangannya dan dilihat wajah Sang Kakak tepat berada di balik pintu.
"Hehm, ngapain nelpon sih kalau udah di depan pintu. Buang - buang pulsa aja, bukannya ketuk pintu...," ucap Darius sambil berlalu dari hadapan Sang Kakak.
Mauris yang sudah tersenyum lebar, lalu mengikuti langkah Sang Adik dan berjalan berdampingan. Kedua tangannya tersampir ke belakang punggung tegal nan berototnya.
"Ck, kamu nggak di rumah, nggak di kantor. Brrr, komentarmu dingin kayak freezer...," ejek Mauris.
Darius tidak menanggapi sama sekali, sesampianya mereka di pantry. Darius lalu mengambil kopi instan yang kemudian dimasukkan ke dalam Coffe Maker kemudian dia menghadap samping, bersandar pada buffer kayu dengan kedua tangan yang bersidekap di depan dada bidangnya.
"Seorang Mauris Kusuma Soetanto, nggak mungkin jauh - jauh nyamperin adik kecilnya, kalau tidak ada maksud yang ingin disampaikan. Kali ini apa?" ucap dan tanya Darius yang sudah siap mendengar permintaan Sang Kakak.
Plok...
Plok...
__ADS_1
Plok...
Suara tepukan tangan pria muda nan menawan itu terdengar nyaring. Diikuti dengan tawa terbahak nya.
"Memang kamu pantas dilahirkan di keluarga besar Soetanto, sekian cerdas kamu memang pintar membaca juga mengingat kebiasaan seseorang. Hehm, sebaiknya kakak langsung saja. Apa kamu pernah berhubungan dengan Sarah Adyatama yang tempo hari sempat Kakak perkenalkan sebagai calon istrimu?" ucap Mauris bangga terhadap kemampuan tajam Darius, sekaligus bertanya.
Darius mengalihkan perhatiannya sejenak, ke alat kopi tadi dan diangkat gelasnya yang sudah penuh dengan kopi panas. Ditiup kopi itu, lalu diteguk sedikit karena masih panas.
"Tidak sama sekali, nomernya malah aku blok. Oh, bukan aku yang mengubungi. Tapi dia yang menghubungi dan aku tidak suka, trus aku blok deh...," jawab Darius dengan santainya.
Wajah Mauris berubah datar, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Helaan napas kasar terdengar jelas.
"Why, Darius? Sarah hanya berusaha untuk dekat denganmu, kenapa kamu menolaknya? Kamu tau, gadis malang itu sekarang ada di rumah sakit. Orang tuanya sangat sedih melihat keputusasaan Saran dalam mendekatimu. Kami sudah memutuskan, secepatnya kamu dan Sarah akan bertunangan. Suka tidak suka, mau tidak mau keluarga Soetanto akan menjadi besan dari keluarga Adyatama. Jika kami bersikeras menolak, bereskan semua barangmu dari rumah, hari ini juga kamu kakak keluarkan dari kartu keluarga...," jelas tegas Mauris tanpa basa - basi.
Darius merasa heran dengan tingkah Sang Kakak yang hanya bengong di hadapannya. Dilambaikan tangannya ke depan wajah Mauris.
"Woi, kakak. Kakak Mauris...," ucap keras Darius sambil menggoyangkan lengan Sang Kakak.
Ternyata semua ucapannya tegasnya tadi, hanya di dalam khayalan batinnya. Mauris bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya diam sambil termangu memandangi Sang Adik.
"Oh, itu. Mmm, Sarah. Sarah sekarang ada di rumah sakit. Kalau kamu ada waktu, luangkanlah menengok dia. Gitu - gitu dia kan calon istri kamu...," jelas Mauris yang tidak berani terlalu tegas pada Darius.
Darius malah melengos pergi meninggalkan Sang Kakak dengan wajah datar dan kini ditambah masam, setelah mendengar pernyataan Sang Kakak.
"Hei, hei Darius. Kamu dengar apa kata kakak, kan? Hanya Sarah yang akan kakak, aku akui sebagai calon istrimu...," teriak Mauris dari dalam pantry.
"Jangan teriak - teriak kak, sebentar lagi staff kantor yang lain datang dari istirahat makan siang. Kakak hati - hati pas pulangnya. Bye...," jawab Darius dengan santai sambil melambaikan tangannya dan terus berjalan kearah ruangannya.
Mauris kemudian terdiam, dilihat punggung Sang Adik.
"Aura Darius berubah, aura apa itu? Aku tidak mungkin memaksakan kehendak ku mulai sekarang, karena jika sampai Darius melawan, aku tidak tau seberapa besar dia bisa mengontrol emosi dan kekuatan apa yang akan dia keluarkan nanti. Aku pun tidak tau...," gumam Mauris yang penasaran dan khawatir.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...