#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
76.


__ADS_3

Mata membulat Regina terbentuk dengan perlahan dia menjauh dari wajah Mauris.


Kedua alisnya bertaut dan baru akan meninggalkan pria kekar itu, tangan gadis anggun nan cantik itu ditahan.


"Maaf, Gin, bukan maksud aku...," ucap lemah Mauris.


Gina dengan wajah terkejut dan juga gelengan kepalanya, melepas tangan Mauris dengan pelan.


"Apa maksud ucapanmu tadi? Bercinta denganmu? Mauris kita baru berkenalan beberapa minggu dan kau sudah ingin bercinta denganku, apa hubungan kondisimu dengan...," ucapan Regina terhenti, ketika dilihat lampunya berkedip - kedip dan beberapa barangnya terbang melayang.


Mulut Regina terbuka sangat lebar dan mulai merasa takut.


Dia menatap kearah Mauris, yang terlihat hanya mengangkat tangannya sedikit untuk mengendalikan barang - barang di sekitar ruangan kamar itu.


"Please, jangan pergi. Ijinkan aku menceritakan ini semua, tolong Gina. I really need you, please...." ucap memelas Mauris dengan wajah pucatnya kearah Regina.


Regina yang sudah agak jauh dari sisi ranjang Mauris lalu mengatur napasnya agar lebih tenang.


"Oke, tell me. What's the hell is that...," ucap Regina dengan wajah yang masih sangat takut.


Mauris kemudian mencoba bangun dan bersandar di dinding ranjang. Dengan napas tersengalnya, dia kemudian menatap kearah Regina sambil menjulurkan tangannya.


"Boleh tolong, sambil kamu duduk di sampingku. Aku nggak akan melakukan apapun tanpa ijin darimu...," jelas Mauris.


Regina mengerutkan alisnya, dengan perasaan ragu namun penasaran lalu dia memutuskan meraih jabatan tangan Mauris dan duduk disebelah pria kekar itu dan berhadapan langsung dengan kedua mata Mauris.


Mauris meneguk salivanya sekali dan sambil menggenggam satu tangan Regina juga mengelusnya dengan pelan.


"Beberapa tahun yang lalu, kedua orang tua dan adikku Darius mengalami sebuah kecelakaan. Dalam kecelakaan itu, kedua orang tua kami tewas ditempat, sedangkan Darius bisa diselamatkan dengan luka berat di sekujur tubuhnya. Aku pikir dengan beberapa operasi dan juga perawatan yang intensif dengan teknologi canggih dari rumah sakit yang ada di Jerman, dia bisa benar - benar diselamatkan. Namun, ternyata tidak. Darius meninggal setelah kurang lebih 3 bulan koma setelah semua operasi dan tindakan medis yang diberikan padanya. Akh, aku tidak bisa terima. Lalu tubuh Darius aku bawa kembali ke sini, dengan semua alat medis yang masih bisa membuat dia terlihat hidup. Hah. Hah....," jelas Mauris yang sesekali terdengar meringis kesakitan dan napasnya yang tersengal.

__ADS_1


Genggaman tangannya melemah, namun giliran Regina yang menggenggam tangan Mauris dengan erat. Wajah tertunduk Mauris yang menahan sakit kemudian mendongak dan senyum tipis terkembang kearah Regina.


"Lalu...," ucap pelan Regina.


"Akh, sesampainya disini. Aku mencari semua informasi metode penyembuhan dari secara logika manusia hingga metode penyembuhan yang tidak pernah terbersit sedikit pun olehku...," jelas terhenti Mauris yang mulai mengingat kejadian waktu itu.


Beberapa Tahun Sebelum Hari Ini...


Mauris dan beberapa pengawalnya terlihat sedang dalam perjalanan ke sebuah tempat, jalan yang mereka lalui terlihat hamparan lautan lepas dengan ombaknya yang cukup galak. Mauris berjalan kearah sebuah dermaga, sesampainya disana. Pria muda itu sudah ditunggu oleh seseorang, orang itu mengenakan pakaian serba putih.


Mauris belum juga turun dari dalam mobilnya, dilihat dengan seksama orang yang sedang berdiri membelakangi iring - iringan mobilnya. Lalu dia menelepon seseorang sambil masih menatap orang tersebut.


"Halo...," ucap Mauris.


"Halo, Selamat Malam Tuan Mauris...," jawab orang tersebut diseberang.


"Apa ciri - ciri orang yang kau maksud, berperawakan kurus dan berpakaian serba putih?" tanya Mauris dengan alis yang agak berkerut.


Mauris hanya mengangguk tanpa menjawab lagi, pria itu langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Kita keluar sekarang...," ucap Mauris pada semua pengawalnya.


Salah satu pengawal itu, langsung keluar dan membukakan pintu untuk Sang Majikan. Mauris lalu keluar dan membenahi jasnya. Dia berjalan kearah pria kurus yang ada masih tetap membelakangi dirinya.


"Mauris Kusuma Soetanto. Pengusaha muda yang sedang mencari obat untuk membuat Sang Adik Darius Kusuma Soetanto bisa hidup kembali...," ucap orang yang bernama Mbah Karimun itu dan kemudian berbalik badan untuk melihat wajah Mauris.


Terlihat senyum lebar nan menyejukkan terukir di wajah keriputnya. Rambut putih Mbah Karimun tertata rapi dan terlihat klimis.


"Dari mana kau bisa tau semuanya dengan detail?" tanya Mauris dengan nada sarkasmenya dan satu alis yang naik.

__ADS_1


Tawa singkat terdengar dari mulut Mbah Karimun.


"Master yang memberitahuku semalam. Oh ya, aku rasa tidak perlu memperkenalkan namaku lagi, karena kau pasti sudah tahu nama dan juga kemampuanku. Jadi, tanpa membuat waktu lagi, bisa kita berangkat sebelum fajar menyingsing...," jelas Mbah Karimun yang kemudian menaiki tangga meninggalkan Mauris untuk menuju boat yang akan membawa mereka ke suatu tempat.


Mauris pun mengikuti Mbah Karimun dengan diikuti beberapa pengawalnya. Masih dengan banyaknya pertanyaan dan rasa penasaran juga tidak sabarnya yang bercampur aduk, Mauris berhenti di dekat sebuah boat cukup besar dengan daya laju yang sangat cepat.


"'Ck, ayolah Nak. Kau tidak membutuhkan mereka. Hanya aku dan dirimu yang akan menemui Master, jika kau tidak mau. Maka aku batalkan saja...," ucap Mbah Karimun yang menolak Mauris membawa beberapa pengawal bersamanya.


Mauris menghela napas untuk menahan emosinya, setelah terus menerus diatur oleh pria sangat tua itu. Dengan satu tangannya, Mauris mengusir semua pengawalnya dan diapun langsung naik keatas boat itu bersama Mbah Karimun. Tanpa menunggu lama, pria tua itu langsung menjalankan boat miliknya.


Perjalan ditempuh selama 30 menit, hingga boat tersebut dihentikan oleh Mbah Karimun tepat ditengah - tengah lautan lepas dengan ombak yang tenang dan tidak terdengar satu pun suara selain suara mesin boat yang kini sudah dimatikan. Mbak Karimun keluar dari ruang kemudian dan menghampiri Mauris yang sedari berangkat terus duduk dengan santai di anjungan boat tersebut.


"Selamat Datang di wilayah kekuasaan Master. Master kami bernama Reo, Master akan memberimu petunjuk juga obat untuk adik kesayanganmu. Namun ada beberapa hal yang perlu kau tau juga penuhi agar semua permintaanmu itu, bisa terwujud. Bagaimana Mauris, apakah kau sudah siap?" jelas dan tanya Mbah Karimun.


Mauris bersidekap dengan wajahnya yang masih angkuh.


"Bagaimana aku bisa percaya dengan semua ucapanmu? Apa jaminan kalian untuk kesembuhan Darius? Dimana Mastermu, aku bahkan tidak bisa melihatnya?" cecar Mauris alih - alih menjawab ucapan Mbah Karimun.


Tawa menggelegar Mbah Karimun terdengar dan bergema.


"Hahahaha. Kau benar - benar cerdas Mauris dan bersiaplah untuk bertemu dengan Master dengan tubuhmu...," ucap Mbah Karimun yang kemudian duduk dibawah dengan kaki yang bersila.


Dia memejamkan matanya dan memfokuskan pikirannya. Mauris yang berdiri agak jauh di belakang tempat Mbah Karimun yang duduk, tiba - tiba melihat sebuah sinar terpancar dari dalam lautan tenang itu. Sinar menyilaukan yang ternyata menarik sesuatu keatas. Mata Mauris memicing, benda yang seperti kantung dan berbentuk kecil mendekat kearah mereka. Kemudian terjatuh tepat di depan Mbah Karimun.


Terdengar suara helaan napas Mbah Karimun dan kemudian hembuskan napasnya pelan dihembuskan dari dalam mulutnya.


Setelahnya dia merubah posisi duduknya menjadi bersujud di depan kantung kecil itu.


"Selamat Datang kembali, Master...," ucap Mbah Karimun dalam sujudnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2