
Kevin terlihat sangat khawatir, diluar kamar pribadi Sarah, pemuda kekar itu mondar - mandir dengan melepas alat bantu komunikasi di telinganya juga kemudian memijit pelipisnya yang berkedut. Anak buahnya yang lain, diperintahkan untuk berjaga diluar bangunan. Saat itu, Sarah sedang diperiksa oleh dokter pribadi keluarga Adyatama. Cukup lama proses pemeriksaan yang dilakukan. Ketika Kevin baru bersandar di salah satu dinding luar kamar, pintu kamar terbuka. Dengan cepat Kevin mendekat kearah Sang Dokter dan juga Perawat.
"Bagaimana Dok?" tanya khawatir Kevin.
Dokter wanita paruh baya itu menghela napas dan melihat kearah Kevin.
"Apa kedua orang tuanya ada di rumah, Kev?" tanya dokter itu.
Kevin menggelengkan kepalanya.
"Tuan dan Nyonya saat ini sedang berada di Eropa selama 3 bulan ke depan. Apa keadaan Nona Sarah menurun lagi, Dok?" jelas dan tanya Kevin.
Dokter itu kemudian menggiring Kevin agak menjauh dari pintu kamar Sarah.
"Sarah terlalu memaksakan dirinya, selain keadaannya yang belum stabil. Ada tanda - tanda penyakit lain yang saya temukan. Suara belum bisa mengkonfirmasinya, karena kami baru saja mengambil sampel darah. Saya minta tolong Kevin, jika memungkinkan. Saya ingin bicara dengan salah satu dari orang tua Sarah...," jelas Dokter tersebut.
Kevin terkejut dengan pernyataan dari Sang Dokter, namun dia mencoba untuk tetap tenang. Pemuda itu kemudian mengangguk dengan cepat.
Setelah mendapatkan jawaban dari Kevin, tim medis Keluarga Adyatama itu pun lalu bergegas pergi.
Tanpa sepengetahuan Kevin, jiwa Sarah kini sudah sampai di alam mimpi. Namun, mimpi Sarah kali ini cukup unik dan tidak sekelam mimpi sebelumnya. Jiwa Sarah diterbangkan oleh sesuatu ke sebuah gua yang cukup terang. Dimana sumber cahayanya berasal dari beberapa jajaran obor. Sarah terbaring diatas jalan setapak berpaving, sebuah suara bisikkan membangunkan dirinya. Kedua alis yang berkerut dan tiba - tiba kedua matanya terbuka. Dengan dada yang baik turun karena napas tersengalnya, dia langsung menoleh ke kanan dan kiri, dilihat sebuah dinding batu bata panjang membentengi lorong gua itu.
"Ini, dimana? Aku, bukannya aku harusnya ada di ruang latihan. Kevin, iya Kevin...," batinnya yang kemudian perlahan bangun.
Mata Sarah kembali dibuat bingung dengan baju yang dikenakannya. Lebih tepatnya bukan baju, melainkan gaun panjang berwarna biru laut. Gaun yang indah tanpa lengan itu sangat panjang hingga jatuh ke bawah paving dengan juntaian ekor yang cukup panjang menghiasi belakang gaun itu. Ketika Sarah ingin melangkah, dia harus mengangkat sedikit gaun tersebut. Terlihat seorang kakinya yang tidak menggunakan alas kaki. Namun, dengan cepat perhatiannya teralihkan dengan sebuah suara bisikkan dia orang yang sedang bercakap - cakap dengan sangat serius. Sarah mencari asal suara itu, dia bingung karena ada dua pilihan arah.
"Hehm, kalau di film - film action yang sering aku tonton. Biasanya suara - suara terdengar dari dalam, jadi sebaiknya aku memilih arah ini..." gumamnya sendiri.
__ADS_1
Dengan percaya diri, dia berjalan. Sarah tidak merasa takut, tapi lebih ke penasaran. Perasaannya mengatakan, mimpi kali ini berbeda dari mimpi terdahulunya. Dia berjalan masuk cukup dalam, hingga dilihatnya sebuah pintu dengan sorot sinar yang sedikit keluar dari celahnya terbuka. Langkah kaki Sarah menjadi lebih lambat dan dengan berhati - hati diintipnya ke dalam melalui celah tersebut.
"Benar, ini suara berbisik yang aku dengar. Tapi siapa mereka, aku tidak..., " batin Sarah terhenti, ketika awalnya dia tidak bisa melihat orang yang ada di dalam ruangan itu. Kini matanya membulat, karena dia bisa melihat jelas wajah orang itu.
"Kevin...," batinnya.
Namun belum habis rasa terkejutnya, tiba - tiba terdengar suara tembakan dari dalam ruangan dan dengan kedua matanya, Sarah melihat salah satu diantara orang itu jatuh tersungkur, darah perlahan mengalir. Saran dengan refleks, membuka langsung pintu yang terbuat dari batu itu dengan sekuat tenaga.
"Kevin...," teriaknya.
Ketika itu, tiba - tiba dirinya yang di dunia nyata membuka mata dan napasnya pun terdengar berderu dan sengal. Dilirik cepat sekelilingnya, Kevin yang juga terkejut dengan reaksi tiba - tiba tubuh Sarah langsung ingin berdiri dari duduknya. Namun belum sempat dia berdiri, Sarah bangun dengan cepat dan memeluk tubuh Kevin dengan erat.
"Kevin. Kevin, kamu nggak pa - pada kan? Kamu, darah. Kamu nggak berdarah kan?" cecar Sarah dengan masih memeluk erat tubuh besar nan kekar Kevin.
Kedua tangan Kevin perlahan memeluk dan mengelus belakang kepala Sarah.
"Aku baik - baik saja. Kamu yang tenang ya, aku juga nggak berdarah. Semuanya baik - baik saja, Sarah. Tarik napas lalu hembuskan pelan. Ayo ikuti aku, tarik - hembuskan...," ucap Kevin yang kemudian berniat mendorong sedikit tubuh Sarah untuk melihat wajah gadis bertubuh sintal itu. Namun ditahan oleh Sarah.
Senyum pertama Kevin terkembang, lalu dia mengangguk dan kembali memeluk serta mengelus belakang kepala Sarah dengan lembut.
Sarah pun mengikuti instruksi Kevin dengan mengatur napasnya sambil juga memejamkan matanya dalam pelukkan hangat Kevin.
...----------------...
Mauris kini sudah berada di depan kediaman Damika guna menjemput Regina. Mereka semakin hari semakin dekat. Mauris pun semakin hari semakin menyukai Regina, hingga membuat dirinya menjadi ragu akan Reo, Sang Majikan. Setiap kali Mauris ingin bertemu dengan Regina, dia pasti mengunci keterikatannya dengan jiwa Reo dengan seluruh tenaga dalam dan auranya, hingga semakin hari Mauris terlihat semakin pucat dan juga lemas, sama seperti hari ini pria muda itu tampak sangat lelah. Namun, dia memaksakan dirinya.
"Hah. Hah. Aku semakin lemah, sudah lama aku tidak makan. Aku juga terlalu sering menggunakan tenaga dalam dan aura jiwaku sendiri. Hah. Hah...," ucapnya dengan langkah gontai.
__ADS_1
Brugh...
Akhirnya tubuh Mauris ambruk. Beberapa pekerja rumah Regina yang melihat hal itu, terlihat panik dan langsung membopong Mauris untuk masuk.ke dalam rumah.
Regina yang kebetulan sedang berada di rumah sendirian dan baru akan membuka pintu, sangat terkejut melihat tubuh Mauris dibopong.
"Mauris. Ada apa?" tanya Regina dengan paniknya.
"Maaf Nona, kami juga tidak tau, karena Tuan Mauris terjatuh tepat di halaman rumah. Nona, sebaiknya Tuan Mauris kami baringkan di ranjang ruang tamu dulu...," ucap salah satu pekerja itu.
Regina yang sedaritadi sudah melihat kearah wajah pucat Mauris dan mengelus lembut kulit wajahnya yang terasa panas.
"Oh, iya - iya. Ayo...," ucap Regina yang memimpin jalan menuju kamar tamu, membukakan pintu dan dengan segera tubuh tinggi nan kekar Mauris dibaringkan dengan perlahan dibaringkan. Kemudian para pekerja itu keluar dari kamar Regina dan gadis anggun itu mendekat kearah ranjang Mauris.
"Dokter, aku harus menelepon Dokter...," gumam pelan Regina, baru akan bangun dan mengambil tasnya, tangan Regina ditahan oleh Mauris.
"Gin...," ucapnya perlahan dan terdengar lemah.
"Mauris. Kamu jangan banyak bicara dulu, biar aku panggilkan dokter...", ucap Regina sambil mengelus lembut tangan Mauris.
Namun, pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Bukan dokter, tim medis tidak akan bisa menyembuhkan ku. Tapi kamu...," ucap Mauris yang kini sudah bisa membuka sedikit matanya untuk melihat kearah wajah Regina.
Regina mengerutkan kedua alisnya, dengan wajahnya yang bingung. Mauris tersenyum kaku, sambil mengelus pipi putih Regina.
"Aku, bagaimana caranya aku bisa membantumu Mauris?" tanya bingung Regina.
__ADS_1
Mauris lalu memberi kode agar, Regina menunduk dan mendekat ke telinganya. Mauris kemudian membisikkan sesuatu kepada gadis cantik itu dan mata membulat Regina terbentuk dengan debaran jantung yang berpacu dengan cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...