#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
85.


__ADS_3

Kinanti yang masih tertidur lelap, ketika Sang Eyang Buyut sampai di kamar gadis mungil itu dengan kekuatan sihir yang sangat jarang digunakannya. Wanita tua yang sudah membawa kalung pemberian Sang Suami, yang serupa dengan kalung penjaga gadis tersebut, hadiah sewaktu dirinya baru lahir. Kalung tersebut terpaksa ditukar oleh Sang Buyut demi keamanannya dan juga sebagai pelacak sumber kekuatan lain yang sedang mengintai Sang Cicit.


"Hehm, maafkan Eyang Yut ya, Kinan. Eyang harus melihat sebentar dalam pikiranmu...," ucap bisik Eyang Lila yang ingin mengetahui kejadian selama Kinanti memakai kalung penjaga tersebut.


Cukup lama wanita tua itu berkonsentrasi, hingga titik keringat terbentuk di garis wajahnya. Tanpa sepengetahuan dirinya, Sang Anak, Bara masuk perlahan ke dalam kamar Sang Anak. Pria muda itu cukup terkejut dengan kehadiran Sang Nenek Mertua.


Bara menutup pintu kamar Kinanti dan menguncinya, lalu dia berjalan ke sisi ranjang satunya.


Dilihat wajah Eyang Lila yang sedang berkonsentrasi dan sesekali juga dipandangi wajah Sang Anak.


"Hah...," suara napas tersengal Eyang Lila dan dibuka perlahan matanya tuanya. Kini giliran Eyang Lila yang terkejut dengan kehadiran Bara.


Bara memberi kode untuk Sang Nenek Mertua tetap diam dengan jari telunjuk yang diletakkan di depan bibirnya. Eyang Lila pun mengangguk pelan.


Kemudian Bara meletakkan dua jarinya ke pelipis Sang Anak, dipejamkan sebentar matanya untuk berkonsentrasi.


"Hupft...," dibuang napasnya pendek, setelah dia membuat Kinanti tidak bisa mendengar suara segaduh apapun, karena tidur lelapnya.


"Bara, kamu. Sejak kapan?" tanya terkejut Eyang Lila.


"Hehehehe. Belum lama ini Eyang, waktu itu, Bara sedang benar - benar kesal pada seseorang di kantor, karena terlalu cerewet. Lalu dengan pandangan mata saja, aku bisa mengontrol agar orang itu tertidur pulas. Lalu hari ini baru aku gunakan lagi, kekuatan baruku...," jelas Bara sambil menggaruk - garuk belakang kepalanya.


Eyang Lila tersenyum miring dan menunjuk - nunjuk Sang Cucu Menantu dengan jari telunjuknya.


"Gunakan dengan bijaksana ya, bukan untuk menjahili orang apalagi sampai menyakitinya...," jelas Eyang Lila dengan suara pelannya.


Bara lalu mengacungkan jempolnya.


"Oh iya, Eyang kenapa bisa sampai disini? Bagaimana cara Eyang dan ada perlu apa dengan Kinanti? Apa jangan - jangan Eyang sudah tau soal tanda kutukan itu yang makin meluas?" cecar Bara.

__ADS_1


Eyang Lila kembali dibuat terkejut oleh, pria muda nan tampan itu. Dengan gerakan perlahan, diterawang dengan mata batinnya, dimana kedua retina mata Eyang Lila berubah menjadi putih transparan, karena ingin melihat sudah seberapa jauh, penyebaran tanda kutukan itu.


Kedua alis wanita tua itu bertaut dan kemudian retina matanya kembali ke warna normal. Lalu dilihat Bara dengan wajah serius.


"Bara, ini sudah terlalu jauh. Sebentar, Eyang harus cepat memasangkan kalung ini...," ucap Eyang Lila sambil memasangkan kembali kalung pelacak tersebut.


"Dengar Bara, Kinanti dan Darius. Iya, pemuda yang ditakdirkan untuk menghilangkan kutukan di tubuh Kinanti adalah Darius, namun, ada langkah yang salah telah terjadi. Seharusnya Darius mengingat siapa Kinanti dulu? Baru kemudian dia bisa jatuh cinta. Tapi, sepertinya terjadi sebaliknya. Eyang juga sedang mencari tau, apa yang harus diingat oleh Darius tentang Kinanti? Apa sebenarnya hubungan yang mengikat mereka? Selain itu, Darius, pemuda itu menyimpan suatu aura kegelapan yang juga sedang Eyang coba selidiki. Bara, jika kamu tidak keberatan. Bisakah kamu dan Ayah Rendra menemui Eyang di rumah, akhir minggu ini? Kita harus membicarakan hal ini dengan serius, juga bawa Bima bersamamu...," jelas Eyang Lila.


Bara terdiam sesaat, namun kemudian dia mengangguk cepat.


"Bima?" tanya Bara dalam hati yang bingung.


...----------------...


Kevin dan Sarah sedang menikmati kencan mereka hari itu. Mereka mengendarai mobil ke sebuah pedesaan jauh dari kota tempat mereka tinggal. Sarah sangat menyukai suasana damai sebuah pedesaan, hamparan ladang, indahnya terasering terlihat memanjakan matanya. Senyum terus mengembang di wajah cantiknya, Sarah membuka kaca mobil yang dikemudikan oleh Kevin untuk merasakan terpaan angin sejuk bebas polusi disekitarnya.


Kevin sendiri sesekali melihat kearah Sarah yang terlihat sangat bahagia. Lalu mereka memasuki sebuah halaman luas nan asri, di depan mereka terlihat rumah sederhana berdiri tegak lengkap dengan pemandangan danau kecil di depannya.


"Rahasia kecil yang ingin aku beritahu. Bersedia untuk melihat - lihat?" ucap dan tanya Kevin dengan tatapan menggodanya.


Sarah kemudian mendekat kearah wajah Kevin dengan wajah tidak kalah menggoda.


"Boleh, apa kita hanya sekedar mampir untuk mengetahui cerita dibalik rahasiamu ini atau...," ucap Sarah yang memainkan jemari tangannya di kancing baju baju Kevin yang berusaha dibukanya satu persatu.


Kevin kemudian tersenyum lebar dan mengecup kening Sarah dengan hangat. Lalu dielus pelan satu pipi halus Sarah.


"Kita lihat nanti. Apa aku bisa menahan godaanmu atau tidak?" jawab nakal Kevin.


Sarah yang awalnya tertegun dengan sikap romantis Kevin, kemudian memukul dada pemuda besar nan kekar itu karena merasa dipermainkan.

__ADS_1


Tawa terbahak Kevin terdengar renyah.


"Ayo, sebaiknya kita keluar sekarang...," ucap Kevin menyudahi kegiatan saling goda mereka di dalam mobil.


Sarah pun turun dan diikuti oleh Kevin. Gadis seksi itu berlari kegirangan melihat pemandangan di depannya.


"Wah, segar dan indah sekali Kev. Hah...," ucap Sarah sambil kemudian menjatuhkan dirinya keatas rerumputan yang rimbun.


Kevin tertawa kecil melihat tingkah gadis pujaannya itu. Lalu dia menyusul dan berbaring disebelah Sarah.


Mereka sesaat menikmati birunya langit diatas mereka, hingga tiba - tiba Sarah membalik tubuhnya dan mendekat kearah Kevin. Pemuda itu mengetahui tingkah Sarah yang kembali menggodanya, lalu dengan cepat ditarik lengan gadis itu hingga kini tubuhnya dan Sarah sudah menempel satu sama lain. Satu tangan Kevin dijulurkan untuk menjadi bantal kepala Sarah.


"Hehm, mau tidur siang atau mau mendengarkan cerita tentang tempat ini?" tanya Kevin.


Sarah yang sudah berada dalam dekapan pemuda yang sangat dicintainya itu kemudian memeluk erat tubuh kekar Kevin sambil meletakkan telinganya tepat di posisi jantung pemuda itu berada. Hingga terdengar detakan teratur jantung Kevin yang membuat Sarah sangat nyaman.


"Ceritakan semuanya rahasiamu itu...," ucap Sarah yang masih membuka matanya.


Kevin kemudian menghela napas sesaat sambil kemudian satu tangannya mulai memeluk sedikit tubuh Sarah sambil mengelus pelan lengan gadis ramping itu.


"Rumah beserta pemandangan ini ku beli untukmu...," ucap cukup singkat Kevin.


Sarah kemudian membulatkan matanya dan kemudian agak menjauh dari dekapan Kevin dan terbangun sedikit. Kedua alisnya agak berkerut dan dia menggelengkan kepalanya sekali, karena dia sangat terkejut dengan pernyataan Kevin.


Senyum Kevin terkembang, lalu ditarik kembali Sarah untuk didekapnya erat. Lalu dicium hangat puncak kepala gadis yang masih penasaran dengan ucapan Kevin tersebut.


"Mau dengar keseluruhan kisahnya?" ucap Kevin lagi.


Sarah tambah erat mendekap Kevin dan mengangguk dengan cepat, saking penasarannya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2