#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
32.


__ADS_3

Sarah menikmati sarapannya dengan hening bersama Kevin. Lalu dilirik sesaat lelaki yang berumur lebih tua beberapa tahun darinya itu.


"Enak, kamu jago masak juga." ucap Sarah memuji kelezatan masakan lelaki bertubuh sangat kekar itu.


"Terimakasih, Nona." jawab Kevin kaku dan masih merunduk.


Sarah tersenyum sesaat, lalu memainkan makanannya dan juga kakinya yang terus bergoyang di bawah meja.


Matanya kemudian berselancar ke sekeliling ruangan rumah mungil Kevin.


"Rapi, bersih dan wangi. Ternyata dia seteliti itu dalam menata rumahnya." batin Sarah yang lagi - lagi memuji tatanan perabotan rumah Kevin.


Lalu dilihat kembali wajah Kevin yang masih saja merunduk. Mata Sarah, agak penasaran dengan plester luka yang menempel di pipi lelaki itu.


"Kamu terluka?" tanya Sarah singkat.


"Iya Nona." jawab Kevin yang lalu berdiri, karena sudah menyelesaikan sarapannya.


Lalu dia pergi kearah mini pantry yang ada di belakang meja makannya.


"Kevin, bisakah kita bicara dengan santai. Jangan kaku terus seperti itu, kita kan sudah berteman sangat lama. Kenapa kamu tiba - tiba berubah?" tanya Sarah.


Kevin yang sedang membilas alat makannya, lalu mengibaskan sedikit sisa air yang menempel keatas wastafel, kemudian ditaruhnya dengan pelan alat makan itu. Dilap tangannya ke selembar serbet. Lalu dia berbalik dan menatap kearah majikan kecilnya itu.


"Maaf Nona. Saya rasa posisi kita sekarang, bukanlah seorang teman. Tapi seorang pengawal dan majikannya, saya tidak punya cukup nyali, untuk menganggap nona sebagai teman saya. Maaf sekali." jelas Kevin dengan tubuh yang sedikit membungkuk, setelah permintaan maaf yang di ulangnya.


Sarah kemudian menaruh sendok makannya dan mendorong kursinya, gadis ramping itu kemudian berdiri.


"Baik, kalau itu yang kamu mau. Sekarang antar saya pulang, saya tidak suka lama - lama ditempat sesempit ini." ucap Sarah dengan bahasa kejam dan juga wajahnya yang kesal.


"Baik, Nona." jawab Kevin masih dengan menunduk.


Sarah kemudian berlalu dari hadapan Kevin, dia mengambil tasnya dan keluar dari rumah mungil itu. Kevin mengikutinya setelah mengambil jaketnya.


...----------------...


Plok...


Plok...


Plok...

__ADS_1


Suara tepukan tangan, terdengar dari dalam ruang makan luas nan mewah.


"Wah, wah, wah. Lihat, siapa ini yang baru pulang? Semalaman kamu berada diluar, apakah dengan Darius Kusuma Soetanto? Atau dengan pria hidung belang lainnya?" tanya Sang Ayah pada Sarah.


Sarah yang baru akan naik ke lantai tangga, untuk menuju ke kamarnya. Lalu menghentikan langkahnya dan berbalik, namun ketika dia akan menjawab pertanyaan sindiran dari Sang Ayah. Kevin tiba - tiba muncul di depan Sarah.


"Maaf, Tuan. Ini salah saya, kemarin Nona Sarah kelelahan saat bekerja di kantor lalu ketiduran. Saya tidak tega membangunkannya dan saya biarkan beliau untuk tertidur dengan pengawasan saya. Maaf, karena tidak mengabari Tuan ataupun Nyonya." jelas bohong Kevin.


Sarah yang berada di belakang tubuh pria besar, tinggi dan kekar itu. Sangat terkejut dengan ucapan pengawal pribadinya itu.


"Dia, dia membelaku? Belum pernah ada seorang pun, yang pernah membelaku sebelumnya. Apalagi di depan kedua orang tua laknat itu." ucap Sarah dalam hati.


Ayah Sarah lalu berdiri dan mendekat kearah Kevin yang berdiri tegak namun dengan kepala menunduk. Diambil dagu lelaki muda itu dan ditatapnya dengan mata tajam oleh Ayah Sarah.


"Sejak kapan, kamu mulai membela gadis bodoh di belakangmu, hah? Kamu hanya pengawal bukan guardian angel nya dan jangan bermimpi ketinggian. Kamu dan dia beda level. Sekali lagi, hal ini terjadi. Kamu akan saya penggal." ucap kejam Ayah Sarah sambil memukul pelan pipi Kevin.


Lelaki itu hanya mengangguk pelan. Lalu Ayah Sarah, melirik ke arah Sang Anak yang sedang memandangi Kevin.


"Lalu kamu, Sarah. Sekali lagi terjadi hal seperti ini, kamu tidak pulang bukan karena tidur bersama Darius, tapi melainkan menginap ke rumah hidung belang. Papa akan langsung mengirimi ke pengasingan seperti dulu." jawab Sang Ayah dengan mata kejamnya, yang juga kembali melihat kearah Kevin baru kemudian dia berbalik kembali ke kursinya.


Sarah lalu membelalak, tubuhnya bergetar saat mendengar kata - kata pengasingan. Kevin berbalik kearah Sarah.


"Mari Nona, saya bantu untuk naik ke kamar." ucap Kevin yang kemudian sedikit memapah tubuh Sarah yang masih bergetar karena terkejut.


...----------------...


Sesudah pintu lift terbuka, gadis mungil itu kemudian masuk.


"Hah, Pak Darius. Apanya yang toleransi? File buat tanda tangan kontrak aja, aku ngulang buat sampe ribuan kali. Titik komanya salah lah, tanda seru nggak perlu di isilah dan bla, bla, bla....," keluh Kinanti selama ada di lift.


Disaat yang bersamaan, tiba - tiba lift yang ditumpangi oleh gadis itu memberi tanda kerusakan. Lampu di dalamnya tiba - tiba berkedip - kedip seperti akan mati dan kemudian terjadi guncangan hebat. Kinanti sangat panik dan ketakutan. Dia yang tadinya berdiri dengan santai di tengah, kemudian perlahan berpindah ke sudut belakang agar bisa berpegang pada pegangan besok yang mengitari dinding samping lift tersebut.


Mata Kinanti terpejam ketika terjadinya guncangan. Sambil dia berdoa.


"Ya Tuhan, hamba belum mau mati. Ya Leluhur, hamba masih banyak dosa yang harus ditebus. Hamba mohon jangan sampai lift ini jatuh." doanya dalam hati.


Lift masih berguncang hebat dan disaat bersama pula, tanda kutukan di dada Kinanti bersinar sehingga mengakibatkan rasa sakit yang amat sangat menyiksanya.


"Akh, kenapa? Sakit, kenapa lagi ini? Akh. Tolong, siapapun. Siapapun, tolong Kinanti? Sakit, sakit." rintih Kinanti kesakitan disaat lift masih terus berguncang.


Hingga akhirnya lift tersebut berhenti berguncang. Napas Kinanti sudah tersengal dan wajahnya memerah. Disaat gadis itu mencoba, untuk tetap sadar. Tiba - tiba terdengar sebuah suara melengking dari sebuah pengeras suara yang ada di dalam lift tersebut.

__ADS_1


Tiiiiittttt....


Suara melengking itu memekakkan telinga Kinanti.


"Akh." rintih Kinanti yang menutup kedua telinganya.


"Hehehehhehe. Hai, gadis kecil. Apa kabarmu?" sebuah suara keluar dari pengeras suara itu.


Kinanti mengernyit, dengan kesadaran yang sudah tidak penuh ditambah sakit di dada yang terus menyiksanya.


"Hah. Hah. Siapa? Siapa disana? Tolong, saya. Tolong...," jawab Kinanti terputus - putus.


"Oh, gadis kecilku kesakitan rupanya. Ck, ck. Kasihan. Oke, aku akan melakukan penawaran padamu. Aku bisa membuat rasa sakit itu hilang, sekaligus menolong mu keluar dari kotak besi itu. Bagaimana?" ucap suara itu lagi.


Kinanti bertambah bingung, dia kemudian berusaha untuk bangun tanpa menghiraukan perkataan suara aneh itu.


Dia kemudian berjalan ke dekat pintu lift, dengan sedikit menyeret kakinya.


Bugh...


Bugh...


Dipukul - pukulnya pintu lift itu.


"Tolong, tolong. Ada yang terjebak di lift." teriaknya.


Lalu dia juga mengangkat gagang telepon untuk mengubungi petugas yang berjaga, namun sia - sia. Telepon itu terputus.


"Ayolah gadis kecil, jangan keras kepala seperti itu. Dengarkan dulu penawaran dariku, heum? Hehehe." ucap suara itu lagi.


Kinanti pun lagi - lagi terdiam dan kembali kearah pintu lift. Dia mengulangi hal yang sama, hingga tiba - tiba rasa sakit di dadanya bertambah hebat.


"Akh. Akh. Akh. Sakit, sakit." rintihnya yang lagi - lagi membuat tubuhnya terjatuh.


Lalu dia bersandar di dinding samping dekat tombol lift.


Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya, pandangan matanya kini semakin buram.


"Da. Rius. Tolong, aku. Sakit...," rintih Kinanti yang akhirnya jatuh pingsan.


"Hahahahaha. Rasakan, tidak ada yang akan menemukanmu disini. Aku hanya tinggal menunggu kau semakin lemah lagi, baru aku akan mengambil jiwamu." ucap suara itu yang lalu tiba - tiba menghilang.

__ADS_1


Tubuh Kinanti makin melemah, napasnya pun semakin lama terdengar semakin terputus - putus.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2